Work Text:
Tumpukan dokumen, deretan nomor telefon, Google Calendar, dan kopi yang mulai kehilangan asap. Jisung ingin muntah.
“Jisung, bisa minta tolong masuk sebentar.”
Nafas ia simpan sementara di paru-paru sebelum pelepasan berat diikuti dengan badan Jisung yang berdiri dan berjalan untuk memasuki ruang dimana namanya terpanggil. Alat tulis dan buku siap di tangan, dia tau apa yang akan datang disaat kaki telah sampai di depan meja kerja dimana Minho berada. Mata atasannya itu masih belum terangkat dari kertas yang ada di tangan tetapi meski begitu, Jisung tidak harus melakukan apapun untuk mengambil perhatian karena Minho telah menyadarinya.
“Untuk task hari ini, saya minta tolong untuk kirim beberapa data operasional untuk projek bulan lalu. Saya dapat laporan bahwa ada beberapa data yang masih mengambang dan butuh revisi pembenahan tapi mereka kurang tau asalnya dari mana jadi tolong untuk bantu review kasar sebelum kirim ke saya,” Semuanya cepat, jemari Jisung bergerak mencoba untuk menulis semua. “Selain itu, saya juga minta kirimkan overview meeting kita kemarin—”
“Meeting dengan klien Jerman itu, pak?” Akhirnya, mata Minho terangkat untuk melihat ke arah Jisung dengan tatapan tajam. Pertanyaan bodoh yang ia baru utarakan kepada COO tersebut, seharusnya ia tau itu. “T-Tentu, pak. Akan saya segera kirimkan.”
Helaan berat diikuti dengan gelengan kepala Minho itu bagai sebuah pemberat di hati Jisung, sebuah konfirmasi akan kinerja yang jelas belum memuaskan atasan yang dia pun telah bekerja bersama dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Jisung seharusnya sudah dapat melakukan semua ini dengan mudah, mengikuti perintah dengan pintar tetapi disinilah dia..
“Saya menghargai kamu memiliki pertanyaan dan menyampaikannya, Jisung. Tetapi untuk pertanyaan seperti itu..” Geraman kesal dan Jisung pun menggigit bibir bawahnya penuh akan kekhawatiran. “Iya, klien Jerman karena kita hanya melakukan meeting dengan mereka, tidak dengan siapa-siapa lagi kemarin.”
Jantung berdetak kencang, Jisung benar tidak tau apa ia akan terbiasa. “Baik, Pak Minho.”
Sesaat, hening mengisi. Jisung masih mencoba menuliskan semua perintah Minho di atas kertas yang memang membutuhkan waktu sedikit untuknya memastikan semua jelas dan tepat seperti yang diminta. Bukanlah hal yang baru memang untuk dia memakan waktu seperti ini dan bukan hal baru juga untuk Minho yang menatapnya diam, menunggu lelaki tersebut selesai menulis di tengah ruang kerja yang dipercantik dengan sofa dan deretan buku yang entah dibaca atau tidak oleh Minho meski Jisung selalu ingin menanyakannya, sebuah keingin tahuan belaka.
Selagi tatapan Minho diam, akhirnya Jisung selesai dan ketika ia mengangkat kepala, mata mereka bertemu sekejap. Sebuah kebiasaan kecil yang sedikit menurunkan beban pundak karena meski Jisung dapat merasakan ekspektasi di luar masuk akal yang datang dari atasannya tersebut, momen kecil ketika Minho menunggunya seperti ini terasa bagai ia memberikan Jisung waktu dan ruang untuk terus belajar, membiasakan diri dengan kesempurnaan yang Minho selalu minta.
Jisung menghargai tampang lembut yang sesekali terlihat dibalik tegas sikap Minho. Ia memang terkenal di kalangan kantor sebagai chief yang paling tegas di perusahaan Maxident Corporation. Tidak heran juga mengetahui pengalaman dan semua kontribusi yang ia berhasil bawa ke dalam perkembangan perusahaan dalam jangka waktu beberapa tahun belakang ia telah menjabat. Kenaikan margin 15% dalam kurun waktu 1 tahun bukanlah hal yang mudah dicapai tapi disinilah dia. Apa yang Jisung rasakan kepada Minho pun terasa lebih dari sekedar kehormatan, dia tidak tau bagaimana menjelaskannya.
Selain semua alasan profesional itu juga, Jisung cukup beruntung untuk terus berhadapan dengan lelaki berupa setampan Minho. Hidung yang tinggi, setelan baju yang selalu rapih, berbagai macam jam tangan yang Jisung bahkan tidak dapat bayangkan harganya, hingga cara bicara yang selalu stabil dan penuh otoritas.
Tidak heran kalau Minho memang berhasil menaiki tangga perusahaan semudah itu dan kekaguman Jisung ini mungkin dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih jika otaknya tidak sibuk untuk memuaskan semua ekspektasi pekerjaan dari Minho dan juga perusahaan. Dia tidak memiliki waktu untuk berfantasi ketika semua dokumennya itu membutuhkan perhatian.
“Sudah?” Bukan cemooh, sekedar memastikan. Tetapi otak Jisung jahat dan dia merasa kecil hanya karena pertanyaan sederhana.
“Sudah, Pak Minho.”
“Ya sudah, itu dulu aja. Deadline EOD dan sekalian saya baru delivery ice americano, nanti kalau datang kasih saya.”
“Baik pak, akan saya segera kerjakan. Terima kasih banyak.”
“Terima kasih, Jisung.” Dengan itu, Jisung menggangguk dan sedikit menunduk sebelum akhirnya memutar badan dan keluar dari ruang kantor tersebut dengan berbagai tugas yang harus ia selesaikan hari ini. Mereka tidak sebegitu berat kalau Jisung bisa berbicara jujur tetapi tugas terberatnya adalah memastikan bahwa semua tugas ini terselesaikan dengan sempurna. Standar Minho terhadapnya cukup tinggi dan memang, dia tersanjung akan hal itu yang berarti Minho tau akan skill yang ia punya, tidak jarang juga Jisung kewalahan dengan semuanya.
Lelah terasa di punggung dan jemari dan ketika geraman kecil lepas dari mulut disaat ia melempar diri untuk duduk di kursi kerja, Jisung tau bahwa hari panjangnya telah dimulai.
—
“Beneran baru ini kayanya punya bos yang beneran sesusah itu,” Keluhan Jisung itu bercampur dengan musik hening yang memenuhi kafe dimana dia dan Felix sedang meluangkan jam makan siang mereka bersama. “Lo tau sendiri kan kalau gue sama bos lama gue tuh masih santai, ya masih profesional tapi gak sekaku itu tapi kalau sama Minho nih dia gak bisa banget diolengin. Setiap gue laporan atau setor tuh pasti rasanya kaya ada aja yang masih kurang pas.”
Felix yang sedari tadi mengaduk kopi di mejanya itu hanya bersandar ke belakang kursi. “Dia jatuhnya jadi kaya bos yang model mesin gitu gak sih? Yang gak bisa dipegang?”
“Iya! Dan gue udah kerja berbulan-bulan sama dia tapi dia gak ada warm up sama sekali gitu rasanya, capek banget serius.”
“Sama sekali? Lo gak pernah sama sekali gitu lihat dia jadi manusia biasa? Atau sekedar senyum gitu?”
Sebelum menjawab, Jisung meluangkan waktu untuk sedikit mengolah dan memikirkan pertanyaan tersebut. Minho menjadi manusia biasa yang tidak dibalut profesionalisme, sedikit aneh didengar tetapi beberapa kali ia menyadari akan setiap pandangan lelaki tersebut yang menghalus disaat Jisung memberikan dokumen yang diminta jauh lebih cepat dari deadline yang diberikan, atau mungkin ketika emosi jauh lebih tampak di dahi yang mengerut diwaktu Jisung membawa kopi yang diminta selagi ia sibuk membaca kertas di tangan.
“Well, maybe? Gak senyum yang gimana gitu dan gak kasih ekspresi yang normal lah tapi beberapa kali tuh kelihatan banget capeknya? Tapi sekilas doang gitu, kaya waktu lagi review dokumen atau ngapain dan ya balik kaku lagi. Gak tau sih, mungkin gue ngigo aja.”
Jisung menyeruput gelas kecil berisi latte yang sudah bersuhu ruangan, terlantar sejak ada di atas meja akan sibuknya ia menjelaskan situasi kerja saat ini kepada Felix, teman lama yang sudah melihat Jisung melalui berbagai macam model kehidupan yang harus ia jalani. Tidak heran kalau dia memang senyaman itu melepaskan semua keluhan penuh penat itu kepada Felix yang sekarang pun hanya mengangkat ujung bibir, memberikan Jisung sebuah senyuman kecil penuh akan kenakalan, Jisung tau itu.
Bahkan belum sempat Felix mengutarakan apa yang ada di kepala sebelum Jisung menaruh kembali gelasnya dan menggelengkan kepala. “Enggak, gak usah mikir aneh-aneh.”
Tawaan kecil pun lepas dari Felix, “Apaan? Gue belum ngomong apa-apa!”
“Gue tau lo bakal ada nyuruh aneh-aneh, gak usah dah.”
“Jisung, ayolah. Lo masa gak kepo sedikit gitu sih. Gak mau apa lu mecahin dindingnya? Siapa tau kalau berhasil juga nanti lo bisa lebih enjoy nanti kalau kerja, gue liat-liat itu kantung mata lu makin item juga.”
Mendengar ini, Jisung hanya memajukan bibir selagi jari pun ia pindahkan ke bawah kantung mata. Ya, dia sadar akan sedikit perubahaannya dan itu pun dia tidak dapat menyalahkan Minho. Meski dengan tegas dan ketatnya sistem pekerjaan Minho, ia masih memanusiakan Jisung dengan mengingatkan dia setiap jam kerja mereka selesai tetapi ini pun bukan berarti Jisung mendengarkan perintah atasan tersebut.
Tidak jarang dia akan masih sibuk dengan pekerjaannya hingga malam menyapa dan meski ini bukan sesuatu yang Jisung banggakan, dia hanya melihat bagaimana Minho juga sering melakukan hal yang sama. Beberapa kali, ketika Jisung lupa akan waktu, Minho yang menyempatkan diri keluar dari ruangannya itu akan mengingatkan Jisung untuk pulan tetapi setelah itu, ia akan kembali masuk dan melanjutkan apapun tugas yang masih ia kerjakan. Ia tidak pernah tau kapan Minho pulang di saat seperti itu karena selama ini pun dia tidak pernah melihat Minho mendahului dia dalam penyelesaian tugas.
Itu juga salah satu mengapa meski dengan semua dinding yang membuat Minho hampir tidak dapat Jisung sentuh, kekaguman akan dedikasi lelaki itu selagi masih dapat mempresentasikan diri sehari-hari seperti itu adalah sesuatu yang Jisung tidak tau bagaimana Minho dapat melakukan hal tersebut.
“Terus lo nyuruh gue apa? Bercandain sampai dia ketawa gitu?”
“Umm, maybe?”
“Lah orang gila. Gak!”
Tawaan mereka pun menyatu sekarang, gambaran akan retakan dari gambaran seorang COO handal, Lee Minho itu bagai sebuah mimpi belaka. Jisung bahkan tidak tau bagaimana senyuman penuh terlihat di wajah lelaki tersebut, apalagi sebuah tawaan yang tidak sekedar formalitas di tengah meeting kantor mereka.
“Okay okay, gini deh. Gimana kalau cuman sekedar cari tau aja apa dia beneran manusia gitu dibalik cover COO-nya. Get under his skin a little,” Felix berbisik pelan untuk kalimat terakhir itu, bagai sedang membagi sebuah rahasia yang Jisung hanya pandang selagi menahan tawa akan betapa serius temannya terlihat. “Cari tau aja, dapet reaksi kecil-kecilan gitu buat sekedar lihat. Gue yakin lo juga aslinya kepo kan dia gimana kalau gak lagi mode kerja?”
Jisung membenci bagaimana benar perkataan Felix karena iya, dia sedikit penasaran. Sesekali dia akan berpikir tentang hal kecil seperti makanan apa yang dia merasa bersalah untuk konsumsi tetapi tidak dapat ia hentikan atau sekedar genre film yang dia bela untuk tonton di bioskop jika ada rilisan film baru. Hal yang mungkin ia tidak berhak tanyakan atau cari tau mungkin, dia harus tau batas profesionalisme di antara mereka kan?
“Felix—”
“Kalau lo berhasil, nanti gue traktir makan all you can eat.”
“Deal.”
Dan dimulai lah Operation Heart Softening, disponsori oleh kerakusan Jisung akan makanan gratis dan bukan karena alasan lain, tentu saja.
—
Pukul 7.30 pagi dan Minho baru saja sampai di lantai dimana ruang kerja miliknya berada. Pagi ini berjalan seperti biasa, alarm yang membangunkan, kucing yang ia telah beri makan, jalan yang cukup mulus dalam perjalanan, dan keramaian gedung yang berhasil ia hindari dengan jadwal awal ia sampai. Semua tepat dan familiar, Minho pun siap memulai hari diawali dengan membuka pintu ruangan dan menggantung jas yang pas di badan sampai akhirnya—
“Selamat pagi, Pak Minho!”
Meski badan Minho masih tegak, bagai tidak goyah akan suara tiba-tiba, jantung yang ada di balik dada itu sibuk mengembalikan ritme normal selagi Minho menoleh ke arah sumber suara yang berbentuk seperti asistennya, Jisung.. Jisung?
“Jisung? Kenapa kamu sudah datang jam segini? Dan di ruangan saya juga, apa ada emergency atau?” Masih tenang, Minho berjalan ke kursi dibalik meja sedangkan Jisung yang masih dengan senyuman hangat hanya menggeleng kepala, beberapa dokumen jelas berada di pelukan.
“Tidak ada kok, pak. Saya disini cuman mau memberi update akan beberapa tugas yang bapak telah serahkan ke saya, sebegitu pun sekiranya terdapat task untuk hari ini yang mungkin bapak bisa sampaikan sekarang untuk mempercepat sekaligus memudahkan efisiensi saja."
Ditaruhnya dokumen yang sedari tadi ada di dekapan jatuh ke meja Minho dan atasan yang telah duduk dan masih jelas sedikit bingung akan kehadiran Jisung tersebut hanya mengambilnya dan memberikan bacaan singkat kepada judul-judul yang memang adalah laporan tugas yang Minho telah serahkan kepada Jisung beberapa waktu lalu.
“Saya pun juga ingin memberi sedikit update untuk perubahan meeting schedule yang akan diadakan minggu ini. Sekiranya bapak mau mendengarkan sekarang atau mungkin saya bisa kirim dalam bentuk visual atau dokumen saja?” Wajah penuh teka-teki Minho itu meski buram tapi cukup terlihat ke mata jeli milik Jisung. Sebuah kemenangan mini memang, sangatlah kecil hingga Jisung hampir tidak ingin menghitungnya tetapi dengan Minho yang membersihkan tenggorokan dan jelas mencoba untuk menstabilkan perwatakan, Jisung mungkin berhak untuk menghitung yang satu ini.
“Jisung,” Sedikit kekhawatiran, Jisung dapat melewatinya. “Kamu tau kan meskipun saya datang lebih pagi, kamu tidak perlu melakukan hal yang sama? Kamu asisten saya memang, tetapi kamu juga berhak mengikuti jadwal kantor yang biasa. Saya gak akan minta kamu buat samain jadwal sama saya kok.”
Dan itu, kemenangan yang jelas harus ia pegang. Menyuruh Jisung pulang mengikuti jadwal kantor memang sudah biasa tetapi menyuruh Jisung untuk tidak berangkat terlalu pagi dari jadwal kantor? Perbedaan besar, Jisung sudah mulai merangkak ke kemenangan.
Sang asisten tersebut hanya menggeleng kepala, memberi senyuman manis yang ia baru sadar jarang ia pakai apalagi saat telah menapak di kantor. Mungkin secara tidak langsung, tantangan Felix ini juga akan membantu, atau memang itu tujuan utama teman Jisung. “Saya paham kok pak dan ini pilihan saya sendiri. Saya gak keberatan sekali buat datang lebih pagi dan juga, lebih tenang buat ngerjain kalau sepi gini, saya paham kenapa bapak lebih memilih datang jauh lebih pagi.”
Senyum Jisung hangat, upaya melelehkan hati Minho yang hanya menggangguk dan kembali membaca dokumen yang ada di tangan. “Baiklah kalau begitu, tetapi jika kamu mau masuk seperti biasa..”
“Saya akan masuk seperti jadwal yang ditentukan.”
“Good. Okay, kamu tadi bilang apa soal jadwal meeting minggu ini?”
—
Dan dari situ, berbagai macam gerakan kecil begitupun upaya yang Jisung terus tumpahkan terasa mulai dengan pelan meresap ke seharian mereka. Mereka bukanlah gerakan besar, sesuatu yang merusak jalur arus mereka bekerja tetapi cukup untuk dibilang bahwa Minho pun mulai merasakan pergantian kecil ini.
Mulai dari hal sederhana seperti kopi minuman Minho.
Atasannya itu tidak akan skip akan konsumsi kopi miliknya, selalu menemani meski Jisung menyadari akan tempat dimana ia memesan kopi tadi akan berganti setiap beberapa minggu. Entah karena bosan atau tidak pas jadi di suatu siang, sebelum Minho dapat mengabari Jisung bahwa ia telah memesan minuman, sang asisten telah mempersiapkan kopi bikinan dia sendiri yang ia bawa ke Minho.
Kaget? Jelas. Tidak terlihat di wajah memang tetapi pertanyaan atasan itu jelas.
“Apa ini, Jisung?”
“Kopi, pak. Saya tadi bikin untuk saya sendiri dan saya pikir mumpung saya bikin, sekalian saja saya bikin satu lagi buat bapak. Pak Minho suka kopi instan? Kalau engga, saya bisa pesankan saja kok—”
“Enggak, enggak. Gapapa Jisung, terima kasih banyak. Taruh disitu saja ya, nanti saya minum.” Senyum Jisung jelas puas, senang bahwa gerakan itu diterima baik meski cukup riskan dan ketika hari telah selesai dan Jisung kembali ke dalam ruang Minho, ia dapat melihat gelas yang sama itu kosong di sebelah kertas dan dokumen penting yang berserakan. Bohong kalau Jisung tidak merasa bahwa dia cukup bangga akan kemana semua gerakannya ini mengarah.
Sejak itu, Jisung jauh lebih rutin membawakan varian kopi yang telah ia bikin. Ia memastikan bahwa mereka bermacam-macam, beberapa kali mengingat pesanan yang Minho biasa lakukan untuk mengikuti perasa Minho dan untungnya sejauh ini, hanya satu gelas yang tidak sepenuhnya habis di meja Minho. Kopi hitam, Jisung akan menghapusnya dari daftar rotasi kopi mereka.
Selain kopi, terdapat juga taktik kecil yang mungkin tidak mudah terlihat mata yang Jisung telah terapkan ke aktivitas mereka berdua.
Jika bukan mata jeli yang terlihat, semua usaha Jisung itu akan terbuang bagai angin belaka tetapi dia beruntung bahwa semua ini dia lakukan dengan Minho, seorang yang terasa bahwa gerakan sekecil apapun tidak akan lepas dari pandangan dan itu pun termasuk cara Jisung menata dokumen untuk memudahkan Minho.
Atasan Jisung itu memiliki cara tersendiri untuk menata dokumen miliknya, paling tidak ketika Jisung menerima tumpukan kertas tersebut, terdapat kebiasaan kecil dimana Minho akan menyusun setiap kertas dalam aturan tertentu dan dari situ, Jisung melakukan perjalanan kecil ke toko buku dan membeli beberapa alat dan bahan untuk misi kali ini. Label dan amplop map berwarna warni. Tidak hanya peebaikan tampak mata, tetapi Jisung juga membantu dalam pengaturan jadwal yang lebih efektif.
Selama ini dia merasa bahwa menjadi asisten yang baik, dia hanya harus mendengarkan perintah yang diberikan. Dia juga bekerja di bawah Minho, tidak seharusnya dia melangkah lebih dari yang disuruh kan? Jisung tidak ingin mempertanyakan otoritas Minho dengan alasan apapun, bagai seorang anjing penurut tetapi di waktu yang sama, Jisung juga mempunyai tugas untuk memastikan bahwa semua pekerjaan mereka dapat berjalan lancar kan?
Jadi dari situ, tidak hanya perapihan dokumen tetapi segala hal yang berkaitan jadwal pun ia ikut turun tangan. Mulai dari hal sederhana dimana Jisung akan mengosongkan waktu untuk Minho istirahat yang seperti ia kira, mendapat reaksi yang cukup masuk akan ekspektasi.
“Jisung, untuk jam 3.15 sampai 3.30 besok kenapa kosong? Apa tidak ada follow up meeting dengan team seperti yang di jadwalkan?”
Senyum Jisung hangat, ia tau pertanyaan itu akan lepas. “Untuk jam itu saya beri sedikit waktu lepas untuk regroup, pak. Berhubung meeting lanjutan akan terjadi di lantai yang berbeda, saya berpikiran untuk mungkin memberikan bapak waktu untuk istirahat sejenak.”
“Hm..” Keheningan sejenak, senyum Jisung tidak turun sama sekali. “Okay kalau gitu, terima kasih.”
Skor lain, Jisung berada di peringkat pertama kali ini. Dia benar akan menang.
—
Jisung benar harus berterima kasih kepada Felix akan saran dan tantangan yang satu ini karena dia tidak dapat berbohong, meski dengan semua berat kerja yang sama sekali tidak memudar dengan adanya kedekatan yang mulai tumbuh diantara dia dan Minho, Jisung masih dapat merasa jauh lebih ringan dari hari-hari sebelumnya.
Tetapi ada satu hal yang dia tidak pikirkan sebelum menjalankan ini.
Jika diakal, Jisung harus jauh lebih jeli melihat semua reaksi Minho akan percobaan yang ia lakukan untuk menakukan hati dan dengan ini, Jisung secara otomatis pun memberi perhatian lebih kepada kehadiran dan semua gerak-gerik Minho. Hal ini seharusnya bukan hal yang buruk, dia mungkin dapat belajar satu atau dua hal dari pembawaan Minho tetapi sayangnya, tidaklah sebuah pelajaran yang Jisung pilih untuk ambil, melainkan ketertarikan yang memiliki kedalaman yang ia tidak duga.
Seperti tepat di saat ini.
Minho sedang menjabat tangan klien yang telah ia luangkan waktu lebih dari jadwal yang telah ditentukan karena selain kontribusi klien yang memang akan membantu perusahaan mereka kedepan, tidak mudah juga untuk mendapat kepercayaan mereka meski dengan semua projek yang telah Minho jelaskan dengan tertata rapih.
Selama itu, Jisung yang terduduk di sisi Minho disibukkan dalam memastikan bahwa semua hasil meeting tersebut tertata rapi untuk setoran data nanti tetapi di waktu yang sama, ia sesekali akan terdistraksi dengan lincah lidah Minho dan semua ucapan mulus yang jelas berhasil meruntuhkan tembok sang klien.
Jisung hampir tidak mempercayainya. Apa yang ia baru saja saksikan.
Beberapa kali memang sudah Jisung menemani Minho di ruang meeting seperti ini, tetapi baru ini dimana sang asisten dapat melihat kegigihan dan semua ilmu yang Minho telah kumpulkan dalam semua pengalamannya tertumpahkan menjadi sebuah amunisi. Apalagi dalam suatu momen dimana ia dapat melihat ujung bibir Minho yang terangkat disaat akhirnya, klien mereka tersebut berhasil diyakinkan akan keuntungan yang dapat mereka raup.
Sebuah sumeringah kecil penuh kebanggaan. Jisung kehilangan kata, nafas pun hampir tidak ada.
That’s so hot.
Geraman kecil lepas dari Minho selagi ia sibuk membenahkan badan, postur penuh tekanan dan terlihat jelas pundak yang akhirnya dapat terlepas sejak klien mereka keluar dari ruangan. Meski lelah jelas tampak, Jisung yang menoleh ke arah Minho dapat melihat kebanggan kecil di balik mata, jelas bahwa Minho puas akan performanya, dia berhak merasakan itu dan Jisung hanya dapat menelan ludah.
Mereka sesaat hanya terdiam, Minho dengan tumpukan kertas dan Jisung dengan pikirannya. Sebuah ritual kecil setelah sebuah meeting intens untuk mengembalikan energi dan Jisung pun menunggu untuk berdirinya sang atasan.
Ia menunggu, menunggu, dan menunggu.
Gesekan kursi terdengar, “Baik, Jisung. Ayo balik, nanti sekalian notes langsung coba kamu bersihin dan kirim ke saya.”
Berdiri Minho dari kursi diikuti dengan Jisung yang mengangguk dan berjalan di belakang atasannya. Selama perjalanan yang tidak terlalu jauh itu, melewati berbagai karyawan dari divisi lain dan bahkan di dalam lift dimana hanya ada mereka berdua, Jisung mencoba keras untuk menelan berbagai pujian yang ia takut melewati batas. Tetapi dia lelaki lemah, tidak bisa ia diam jadi ketika Minho hampir masuk ke ruang kerja, Jisung tidak langsung duduk di kursi meja dan memilih untuk berucap pelan.
“Pak Minho,” Jelas kalau Minho menoleh, mengerutkan alis sebelum Jisung melanjutkan kalimat. “Saya cuman mau bilang kalau, you’re so good at what you do and I hope you know that.”
Entah ini hanya bayangan semata tapi Jisung yakin bahwa dia dapat melihat mata Minho yang sekejap menurun dari mata. Hanya sesaat, bibir Jisung menerima atensi dari atasannya sebelum mereka kembali bertemu mata dan untuk pertama kali, Jisung dapat melihat senyuman penuh dari Minho yang mengangguk ke arahnya.
“I know. Terima kasih banyak, Jisung,” Jantung di balik rusuk melewati sedetik tidak berdetak sebelum mempercepat di balik rusuk. “Saya tunggu hasil report meetingnya, deadline EOD.”
Hilang Minho di balik pintu ruangan dan hilang sudah akal Jisung karena, mengapa dia merasa panas di balik nafas beratnya.
Dan demi Tuhan, meski dengan dingin cuaca yang mulai memperkenalkan diri, Jisung merasa bahwa hari-hari yang dia luangkan hanya memanas setiap dia meluangkan waktu bersama Minho dan masalahnya, mereka bertemu hampir setiap hari. Kemampuan analisis Jisung yang jelas meningkat pesat selama beberapa waktu belakangan ini bagai sedang terboomerang kembali.
Dia seharusnya lebih pintar memilah perasaan, dia seharusnya tidak memiliki cukup waktu untuk membiarkan kedua mata menjelajahi pembuluh darah yang menghiasi lengan Minho. Kertas dan dokumen di tangan, kain kemeja tergulung hingga siku, mata tajam yang membaca huruf yang terpajang, dan bibir bawah yang digigit cukup kuat, sebuah kebiasaan yang Jisung juga baru sadari keberadaannya akhir-akhir ini.
Keingin tahuan Jisung dengan mudah mencabang kemana-mana, ke ranah yang membuat jakun melompat ketika Minho sibuk membisikkan kalkulasi sembari memastikan semua perhitungan mereka sudah sempurna. Suara Minho tidak sebegitu berat, cukup halus bahkan dan itu membuat Jisung sedikit penasaran akan semua bisikan yang mungkin Minho akan lakukan jika sedang membagi ranjang dengan orang lain—
Apa—Dia harus berhenti, Jisung harus berhenti. Dia tidak tau apa yang sedang ia pikirkan.
Tetapi apakah Minho adalah seseorang yang menyukai itu, mengucapkan berbagai kalimat kotor ke pasangannya dan menanam gambaran yang memanaskan ruang? Dari cara ia berhasil mengeluarkan berbagai macam kata dan membentuk kalimat persuasif di setiap meeting, kemungkinannya cukup besar.
Meski dengan dinding penuh otoritas itu, Jisung tidak yakin kalau Minho terobsesi itu akan kontrol hingga dia akan membiarkan pasangannya bekerja sendiri begitu saja. Tidak dapat dibandingkan mungkin tetapi selama ini, bahkan sebelum semua usaha yang datang dari Jisung, Minho jauh lebih sabar dan cukup mengakomodasi Jisung ketika ia benar membutuhkan.
Mungkin sentuhannya jauh lebih menekan, intens. Dia terlihat seperti orang yang suka meninggalkan jejak dan Jisung sendiri adalah orang yang suka ditinggali jejak. Bekas dan memar merah tinggalan malam yang panjang terasa bagai piala untuk dia, sebuah bukti betapa ia sangat diinginkan.
“Jisung, nanti tolong hubungi kepala divisi untuk memastikan kepentingan ini. Sebenarnya tidak masalah juga untuk sementara berjalan menggunakan sistem tanpa harus memaksakan pergantian. Sebentar lagi juga akhir tahun, banyak projek yang harus diproritaskan dan mungkin..”
Tak henti ucapan Minho yang sekarang berdiri dan berjalan di sekitar ruang, masih sibuk membaca dan menformulasikan sebuah jalan keluar untuk mereka dan meski jari Jisung bekerja keras, mengubah lisan tersebut menjadi tulisan, otaknya masih bekerja di laman lain mendengar tegas dan kepintaran Minho secara langsung seperti ini.
Atasan Jisung itu sangat berhak mendapatkan posisi dimana ia berada sekarang. Di pengujung hari kerja dengan dasi yang jelas cukup longgar di kerah pun ia masih memiliki aura pemimpin yang membuat Jisung menelan ludah penuh akan antisipasi. Apa yang dia tunggu? Jisung pun tidak pasti, tetapi beberapa pertemuan mata antar mereka dimana ia dapat melihat tajam dan fokus Minho jelas di kedua manik gelap itu, dia tidak lagi tau apa yang ia pasti sedang rasakan saat ini.
“Jisung,” Panggilan pelan dan bagai seorang anjing penurut, Jisung mengangkat kepala dari kertasnya.
“Iya, Pak Minho?” Kedua mata cantik Jisung berkedip, menunggu apapun yang keluar dari mulut Minho untuknya. Mungkin tambahan tugas? Bukan hal yang baru, memang banyak hal yang mereka akhir-akhir ini harus selesaikan. Hm, atau mungkin ia akan disuruh pulang karena matahari terbenam sudah terlihat jelas di balik kaca. Jisung memilih itu, dia mengharapkan itu saja.
Meskipun semua tebakan Jisung pun terbuang begitu saja disaat Minho kembali membuka mulut, “Kamu mau nahan nafas sampai kapan hm? Keluarin.”
Menahan nafas—Oh, astaga, helaan nafas yang tidak dia sadari telah tersimpan itu pun akhirnya ia lepas dan Jisung dapat merasakan seluruh wajahnya yang menghangat, malu mengambil alih badan dan Jisung yang beberapa kali membuka dan menutup mulut itu pun tidak tau harus melihat kemana, mengoper tatapan dari Minho dan lantai di bawahnya.
“M-Maaf pak, saya gak sadar kalau—”
Tawaan halus, pelan. Jisung tidak dapat mempercayainya hingga dia pun harus mengangkat kepala untuk melihat ke arah Minho yang memang sedang sibuk terkekeh selagi mata yang tidak meninggalkan Jisung sama sekali. Merdu memang, ini pertama kalinya Jisung benar disuguhi oleh ekspresi kesenangan seperti ini oleh Minho dan dapat dibilang bahwa semua yang ia lakukan selama ini sangatlah setimpal.
“Gapapa, Jisung. Kamu capek? Sudah lewat jam kantor juga, kalau mau pulang silahkan. Untuk tugas yang baru saya berikan bisa kamu kerjakan besok lagi.”
Entah kenapa, tetapi badan dan pikiran Jisung menolak perintah itu. Mungkin karena ia merasa bahwa dengan langit yang mulai memadam dan senyum kecil yang masih terpasang di wajah Minho itu, dia mungkin dapat mendorongnya sekali lagi, sedikit lebih jauh. Sebuah resiko memang, Jisung tidak sesembrono itu kan?
“Beres beres terus pulang gih,” Minho melempar pelan kertas ke atas meja yang sudah cukup berantakan itu.
“Bapak gak pulang juga?” Gelengan kepala sebagai jawaban selagi ia menata tipis tumpukan dokumen tadi, masih berdiri di sisi meja.
“Enggak, ada beberapa dokumen yang saya harus pastikan lagi tapi gak usah dipikirin itu, tugas kamu untuk hari ini selesai.” Setelah memastikan semua lembar itu tertata, Minho berjalan ke depan meja tadi untuk menyandarkan diri dengan lengan yang menopang, mencekram sisi meja yang ada di belakangnya. Pemandangan Minho yang juga cukup lelah itu semua ada tepat di hadapan Jisung, rambut yang cukup berantakan dari jumlah jemari Minho yang terus menyisir begitupun dua kancing kemeja atas yang sudah lepas. Sial— “You’ve done so well for me. Good job, Jisung.”
Iya, Jisung sesembrono itu.
“Saya masih belum mau pulang pak,” Tatapan Minho menajam mendengar ini tetapi dia masih diam selagi Jisung mengumpulkan keberanian untuk menguatkan keinginannya. “Paling engga saya mau menemani bapak sampai selesai, mungkin dari situ juga saya bisa belajar beberapa hal dari Pak Minho.”
“Gitu? Emang apa lagi yang mau kamu pelajarin?”
Itu terdengar seperti pertanyaan menjebak di telinga Jisung tetapi dia mencoba untuk tidak dipikirkan dan memilih untuk berdiri tegap di tengah ruang kantor Minho itu. “Banyak pak. Saya rasa kalau masih banyak yang saya bisa kembangkan juga dan saya gak buru-buru, kalau bapak butuh bantuan untuk menganalisis dokumen, saya tidak keberatan untuk membantu atau hanya sekedar membuatkan kopi dan menulis catatan lain."
Kekehan kecil sekali lagi terselip dari Minho, sebuah kemenangan yang bahkan Jisung tidak dapat apresiasi penuh apalagi dengan Minho yang kembali berdiri dan berjalan untuk menutup jarak di antara mereka perlahan.
“Kamu milih itu aja?” Dimiringkan kepala Jisung penuh pertanyaan.
”Gimana, Pak?”
“Alasan kamu gak mau pulang, kamu milih alasan itu?” Masih belum terjawab kebingungan Jisung sampai akhirnya dengan kedua tangan yang ada di saku celana Minho, atasannya itu berhenti tepat di depannya dengan senyuman hangat. “Atau mungkin kamu mau pakai alasan yang sekalian jelasin kenapa beberapa waktu belakang ini kamu jauh lebih observan dari biasanya, apalagi ke saya?”
Jisung membatu, matanya membulat, nafasnya disandera.
Pegangan di pena mengerat dan ia bawa buku di tangan ke dada.
Minho ada tepat di hadapan, senyum kecil tidak meninggalkan wajah sama sekali selagi sang atasan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan memperjelas sumeringah di wajah. “Kamu tau, Jisung, bukan kamu saja yang observan disini sebenarnya.”
Merinding sekujur tubuh Jisung tidak hanya karena ucapan Minho yang entah ia akan bawa kemana tetapi juga karena lelaki tersebut tidak sedang menyembunyikan apapun seperti Jisung. Dia bagai sebuah buku terbuka dan setiap kata terus mengundang Jisung untuk membaca, tetapi Jisung tidak tau harus bersikap bagaimana. Konflik di dalam dirinya keras, dialog moralitas yang tidak henti menggema.
“Bapak, saya kurang tau—”
“Saya gak akan ngapa-ngapain kok, Jisung, saya tau peraturan,” Meski begitu, jarak di antara mereka mendekat dan upaya Jisung untuk menghindari tatapan atasannya itu semakin susah dengan setiap detik yang lewat. Digigit bibir bawahnya selagi lantai terlihat mulai bergerak entah karena fokus berlebihan yang Jisung berikan. “Jisung, liat saya.”
Memalukan betapa cepat Jisung mengikuti perintah itu, memalukan betapa patuh Jisung bersikap. Siapa yang peduli? Minho jelas tidak dengan senyum puas yang menghiasi paras.
“Kan. Kamu bisa loh ngikutin apa yang saya suruh, tapi seenggak mau itu pulang setelah seharian ngeliatin saya hm?”
Jisung tidak bisa selemah itu, dia dapat menyerang dengan senjatanya sendiri jadi dia memaksakan kekehan kecil. Mencoba untuk mengambil bahkan sedikit kontrol yang ia dapat raih, “Saya asisten bapak, saya cuman ingin terus menaikkan performa saya dan juga salah satu jobdesk saya pun adalah memastikan keadaan bapak dengan melihat ke arah Pak Minho.”
Gumam dan anggukan ia terima, “Benar memang, kamu enggak salah.” Tetapi ketika Jisung beranggap bahwa dia bisa saja memimpin sebuah turnamen tekanan kecil mereka ini, dia pun teringat, dia sedang ada di hadapan seorang Lee Minho. “Tapi apa keadaan saya semengawatirkan itu sampai kamu harus terus menggigit bibir dan menghela nafas berat habis luangin waktu buat liat saya dari atas sampai bawah?”
Tidak bisa. Jisung tidak tau apa yang harus dia lakukan lagi, tidak dengan Minho yang sekarang memindah atensi ke sisi kepala dimana nafas pun tidak lama terasa bertemu dengan rahang Jisung. Dia hanya dapat menjadi bawahan yang baik dan mengikuti apa yang dia—atasannya mau dengan sedikit memiringkan kepala, memberi ruang untuk Minho yang helaan nafas pun terdengar saking dekat jarang mereka berdua.
“Saya sadar kok atas kenaikan kinerja kamu belakangan ini,” Nafas Jisung terperangkap. “Saya sangat terkesan, Han Jisung.”
Persetan. Badan persetan, Jisung tidak dapat menahan lenguhan pelan untuk tergeram di tenggorokan dan jelas kalau reaksi yang membuat Jisung ingin mengubur diri ini hanya mendorong Minho ke tempat yang ia inginkan. Tawaan pelan yang ia dengar membuat sekujur tubuhnya merinding, jelas siapa yang inferior disini.
“Itu yang kamu mau dengar hm? Kalau saya puas atas kinerja kamu. Itu yang kamu cari beberapa waktu belakangan ini?” Semua kata dan kalimat ini memusingkan kepala dan tidak sekali pun mereka saling bertemu secara fisik. Kedua tangan Minho masih tersimpan baik di saku dan Jisung, dia sekedar pecundang yang tidak tau bagiamana menggunakan tangan miliknya. “Mau saya puji gimana pinternya kamu bisa ngikutin semua perintah saya, gak semua orang bisa ngikutin cepat langkah saya dan kamu berhasil. You’ve been so good to me.”
Ah— “Minho,” Sesaat, gerakan Minho pun terhenti. Bagai menunggu sesuatu, Jisung yang mempunyai arahan disini. Sebuah kekuatan yang cukup kecil memang, dimana ia tau apapun yang keluar dari mulutnya menjadi penentu kemana mereka akan berjalan. Sayang, memiliki lelaki seperti Minho seperti ini menjadi titik lemah dimana otak pun menolak menjalankan moral. “Please..”
“Fuck,” Tarikan nafas Minho dalam, penuh akan lega dan tidak tau apakah Jisung benar melihatnya atau sekedar berharap tetapi lengan Minho bagai menegang sementara. “You've been following my order so well, susah buat saya gak mulai nyuruh kamu ngelakuin hal lain, Jisung,” Geraman terdengar di telinga Jisung, ia dapat merasakan sekujur tubuh merinding mendengarnya.
Didorong terus, Jisung mengambil resiko yang disajikan. “What do you want, sir? Saya yakin bisa menjalankan perintah bapak dengan baik.”
Udara di sekitar mereka terasa seperti sedang terdiam, menekan sekujur tebuh penuh akan antisipasi. Minho akhirnya mengangkat kepala kembali, menghadap sejajar dengan Jisung yang harus sedikit mengangkat pandangan. Wajah Minho tidak bisa dibaca di hari biasa tetapi saat ini, terdapat campuran ketertarikan di dalamnya.
Manik Minho itu terus menganalisa Jisung, berbalik beberapa kali dari mata dan bibir Jisung. Sang asisten merasa kecil, lemah. Ah, dia bahkan tidak dapat menahan senyum akan senangnya hati yang melompat karena atensi berlebihan ini. “Menurutmu saya berhak dapat apa?”
Tentu saja, Minho adalah seorang atasan yang baik. Dia tau akan perbedaan kekuatan di antara mereka dan bola pun berada di lapangan Jisung saat ini. Dia dapat melakukan apapun, perintah Minho adalah untuk Jisung meminta melakukan sesuatu. Ah, dia benci bagaimana tegas Minho bahkan dengan petunjuk jelas yaitu merah ujung telinga dan sekali lagi, betapa tegang lengan lelaki tersebut meski dengan upaya menyembunyikannya.
Minho menginginkannya. Dia hanyalah seorang atasan yang baik dan itu, itu semakin memusingkan kepala Jisung. Dia harus menjadi asisten yang baik juga, memberikan atasannya sebuah apresiasi akan semua kerja keras dan di kepala lelaki itu sekarang, hanya terdapat satu hal yang dapat ia pikir untuk berikan.
“Saya, Pak Minho,” Bom waktu berdetik dan ketika Jisung melihat jakun yang meloncat, nafas goyah lepas penuh akan ingin. “Bapak bisa mendapatkan saya, jika bapak mau..”
“Yeah?” Tangan Minho keluar dari saku dan terangkat mendekati wajah Jisung. Tidak menyentuh, hanya suhu hangat yang terasa sampai Jisung yang tidak merasakan gerakan lagi pun mengangguk kepalanya pelan hingga akhirnya, sentuhan di pipi itu nyata dan halus, Jisung dibuatnya meleleh. “Coba kasih lihat saya, Jisung. Sampai mana sebenarnya kamu mau bikin saya terkesan dengan kinerjamu itu.”
Anggukan patuh, kedipan lentik bulu mata dan tidak ada lagi masuk akal yang mengisi kepala Jisung ketika ia membiarkan badannya menurun dengan lutut yang terlipat. Kertas dan pena sudah ia taruh di sisi dan tangan Minho pun berpindah ke rambut Jisung, menyisir pelan selagi sang asisten tidak melepas pertemuan mata intens antara mereka.
“Kamu gak harus maksain diri, kamu tau itu kan?”
Ah, bajingan Lee Minnho. Nada halus, jemari yang masih terasa hati-hati. Ini yang menjadi salah satu penarik perhatian, mengapa Jisung merasa ia sangat haus validasi dari sang atasan. Validasi bahwa mungkin, Jisung dapat dihadapkan dengan versi Minho yang tidak setegas dan setenang ini.
Mungkin, Minho dapat melepaskan diri hanya untuk Jisung.
“Bapak kerja keras banget selama ini dan bahkan Pak Minho gak pernah minta banyak ke saya sebagai asistennya bapak, tapi waktu Pak Minho minta sesuatu pun..” Sisiran jari Minho itu pelan, masih cukup tegas dan Jisung hanya harus memastikan bahwa perhatian mereka masih terkait dengan satu sama lain sebelum melanjutkan ucapan. “Susah buat saya gak nurutin semua permintaan bapak.”
Reaksi yang Jisung inginkan pun datang, erat geggaman dan dorongan halus yang mendekatkan wajah Jisung tepat ke celana Minho dimana ketika dia menekan pelan tepat disitu, ketegangan jelas terasa di pipi dan Jisung tau betul, ia terlihat cantik saat ini dari gelap dan lapar yang mulai mengisi kedua mata Minho. Jisung memilih untuk terus maju, mendorong dan mencari tau sampai mana dia bisa melangkah.
“Kayanya bapak gak ngerti deh seberapa banyak orang yang ngehargai bapak, yang mau muasin bapak.. termasuk saya.”
“Fucking hell, Han Jisung..”
Tujuan utamanya dulu ada melihat sisi manusia seorang Lee Minho. Reaksi kecil apapun akan dia rayakan sebagai kemenangan tetapi ini, wajah yang jelas memerah menyatu dengan kelelahan dan kegairahan yang tidak lagi dia dapat tahan, ini hal yang paling memanusiakan Minho di mata Jisung.
“Saya boleh kah muasin bapak?” Penuh keinginan, pinggul sedikit ia dorong selagi Jisung pun terus mengelus dengan pipi. Lee Minho hanyalah manusia biasa yang tidak dapat menahan diri untuk menggunakan asisten cantiknya itu. Tangan Jisung pun mengaitkan diri ke celana rapih Minho, sedikit ia tarik, sebuah pancingan kecil. “I’m getting better at my job, I promise I’ll make it good.”
“So desperate for validation,” Iya, mungkin itu yang Jisung cari. Validasi, atensi. “Yaudah, silahkan, Jisung. Be my good assistant.”
Oh. Oh, Jisung menang.
—
“—Jadi untuk jadwal hari ini, kurang lebih seperti itu, Pak Minho.”
Anggukan sang atasan adalah konfirmasi kecil, masih sibuk membaca semua tumpukan kertas yang tidak pernah absen dari meja. “Baik kalau gitu, terima kasih banyak, Jisung. Kamu bisa kembali.”
Jisung mengangguk, menurut bagai seorang asisten yang baik. Kertas dan pena di tangan, pakaian pun masih rapi, dia memutar badan dan mencoba untuk meninggalkan Minho kebali ke pekerjaannya tetapi disaat tangan meraih gagang pintu ruang tersebut, suara Minho pun memberhentikannya.
“Oh iya, Jisung?”
Memutar badan, Jisung memiringkan kepala penuh tanya. “Iya, pak?”
“Untuk review dokumen bisa diundur aja, totalkan jam makan siang jadi 1 jam 30 menit. Saya baru saja kemarin dapat rekomendasi restoran yang cukup bagus, sekitar 10 menit dari sini,” Diangkat kepala Minho dan disitu, senyum simpul pun menghiasi paras sang atasan. “Mereka ada cheesecake yang enak.”
Jisung mencoba untuk menahan senyum, tidak habis pikir akan apa yang baru dia dengar.
“Kayanya kamu bakal suka, sayang. Mau kesana gak?”
Dia baru memberi tahukan informasi akan makanan manis kesukaannya kemarin. Iya, kemarin. Ketika kaki mereka terlilit dan lengan saling memeluk di atas sofa. Topik itu pun terangkat karena aktor di TV besar apartemen Minho itu tidak menghabiskan slice cheesecake yang berada di piring mejanya, kekesalan itu membuat Jisung berangan bahwa dia dapat meraih langsung ke layar dan memulai ocehan akan bagaimana dia tidak akan membiarkan makanan itu tersisa bahkan sedikit pun.
Ah, dia tidak tau bahwa dedikasi yang selalu ia lihat itu ternyata bisa mencabang sampai sini.
Anggukan yang menemani senyum beserta pipi yang merah itu pun ia lempar ke arah Minho. “Boleh pak. Asal saya diperbolehkan bawa pulang untuk jaga snack kalau bapak mau lembur hari ini?”
Tentu, kekehan pun lepas dan siapa Minho untuk menolak peraturan kecil tersebut.
“Boleh kok, nanti ingetin aja. Oh iya, tempatnya juga dekat sama tempat kerja Felix jadi kalau dia sempat, ajak dia sekalian. Saya belum sempet terima kasih sama otak di balik ‘Operation Heart Softening’ itu.”
“Pak Minho, respectfully, diem please.”
