Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Heaven and Back(shots)
Stats:
Published:
2025-06-28
Words:
1,320
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
22
Bookmarks:
2
Hits:
1,215

Heaven and Back(shots)

Summary:

Aku tidak pernah menyangka jika seorang dokter seperti Zayne mau melakukannya denganku?

Notes:

Gue merasa mesum banget nulis cerita ini but the idea needs to be release. Happy reading!

Work Text:

Melihat Dr Zayne yang tertidur nyenyak di sampingku dengan tubuhnya yang penuh luka karenaku, rasanya membingungkan. Pria sepertinya mau melakukannya denganku? Tidak, kau salah jika berpikiran bahwa aku adalah seorang pria yang rendah hati dan penuh kurang rasa percaya diri justru sebaliknya aku adalah orang aneh, rebel dan sedikit mesum–-yang aku sangat yakin seharusnya orang-orang macam Dr Zayne tidak akan pernah berpikiran untuk berhubungan denganku, bahkan mengenalku pun seharusnya ia enggan.

Ini semua bermula ketika aku pergi ke rumah sakit karena berkelahi dengan seseorang, aku merasakan jari kelingking dan jari manisku sepertinya patah karena itulah aku pergi ke rumah sakit.

Dokter ini tinggi, tapi masih lebih tinggi aku, mungkin perbedaannya hanya sekitar 5-7 cm? Tetap saja aku lebih tinggi. Tampilan rambutnya rapi, dan dia memakai kacamata. Meski begitu dia terlihat gugup? Hah, jangan bilang bahwa dia adalah dokter baru. Sial, aku sedang tidak punya kesabaran untuk itu.

Saat dia berbalik mataku langsung tertuju pada wajahnya, rahang yang tajam dan hidung yang cukup runcing, perpaduan pas meski membuat wajahnya tampak dingin. Lalu mataku tak sengaja menangkap jasnya yang basah. Awalnya aku kira itu hanyalah keringatnya tapi ruangan ini dingin, tunggu– basahnya hanya pada bagian dadanya!

“Dokter, dada Anda basah,” kataku.

Pria itu segera menunduk, wajahnya terkejut. Sepertinya ia tidak menyangka jika itu sudah menembus sampai ke jas dokternya. “Ah, maaf.”

“Mau aku bantu? Aku tahu itu rasanya sakit.”

Dia hanya melihatku untuk waktu yang cukup lama setelah aku mengatakannya.

Apakah kalian menebak aku ditampar? Kurasa seharusnya iya, seharusnya aku mendapat tamparan, tapi tidak. Dia benar-benar menerima bantuanku. Mengejutkan bukan?

Di ruangan periksa ini, dimana seharusnya saat ini ia sedang memeriksa jari-jariku yang terjadi justru aku sedang sibuk menghisap dada kirinya dengan tanganku yang tidak terluka meremas dada kanannya.

“Ngh, haa … Jangan dipegang, itu sakit,” ucapnya padaku.

Aku melakukannya karena tidak tahan pada dadanya yang besar dengan cairan putih yang terus keluar itu. Benar-benar membuatku bergairah, ditambah lagi dengan suaranya yang dibuat setiap kali aku sedikit menekan pentilnya.

Sial, ini membuatku ingin melakukannya lagi.

Begitulah awal mula kami bertemu hingga berakhir seperti ini. Aku memang pernah mendengar bahwa ada pria yang memiliki masa “menyusui” setiap bulannya, seperti wanita yang menstruasi setiap bulan, dada para golongan pria itu akan membesar karena berisi susu yang harus dikeluarkan. Cukup aneh tetapi ini mengingatkanku pada omega di dunia omegaverse yang pernah kakak perempuanku ceritakan. Yah, dunia yang mengerikan jika kau terlahir menjadi omega.

“Sudah bangun dari tadi?”

Itu Dr Zayne yang sudah terbangun dari tidur nyenyaknya.

“Tidak, sekitar sepuluh menit yang lalu,” jawabku.

Dia mengangkat tubuhnya untuk duduk dan menyandar pada dinding ranjang. “Bukankah hari ini kau interview kerja? Kenapa tidak bersiap-siap?”

Sial. Aku benar-benar lupa. Aku segera beranjak dari kasur untuk bersiap-siap, Dr Zayne hanya melihatku dengan berdiri tenang di depan pintu, menyilangkan kedua tangannya menyaksikanku berlari kesana kemari.

“Aku pergi dulu, doakan aku diterima!” ucapku setelah mencium bibirnya dan berjalan menuju pintu utama.

.
.
.

Singkatnya, aku diterima. Hoho, terimakasih pada jurusan kuliahku dan beberapa pengalaman organisasi serta magang yang pernah aku kerjakan, mereka menyelamatkanku. Kalian bisa bilang di masa sekolah meski aku orangnya rebel, prestasiku bagus dan sangat lancar dalam bidang akademik. Sayangnya setelah kuliah aku justru memilih untuk berkelana kesana kemari menghabiskan jiwa-jiwa remaja yang masih tertinggal di dalam diriku padahal aku sudah dewasa. Bisa dikatakan, kini aku sudah merasakan pahit manisnya kehidupan dan kembali ke jalan yang benar. Dr Zayne juga memiliki peranan penting dalam hal ini, melihatnya sendiri membuatku termotivasi untuk kembali menata karirku dan saat aku mengatakannya dia benar-benar mendukung penuh keputusanku.

Kini aku sedang menantinya pulang kerja, setelah menghabiskan waktu berjam-jam menyibukkan diriku dengan hiburan, pintu pun terbuka dan terlihatlah Dr Zayne yang memasuki ruangan dengan jasnya yang ia pegang berjalan ke arahku yang sedang duduk di meja makan dengan segelas es teh lemon. Jujur saja ia terlihat kacau saat ini, belum sempat menawarkan sesuatu, ia segera meraih es teh lemon milikku dan meminumnya. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya, lalu pandanganku pun beralih dadanya, ah jadi karena itu.

“Ini sudah waktunya ya, pasti sangat mengganggu pekerjaanmu.”

“Benar.” Dr Zayne menjawabnya setelah meneguk minuman tersebut.

“Kemarilah, biar aku bantu.” Aku merentangkan kedua tanganku untuk menyambutnya, ia pun berjalan ke arahku, saat sudah dekat aku memeluknya dengan posisiku yang masih duduk sedangkan ia tengah berdiri.

“Tunggu, bagaimana interview kerja tadi?” Aku mendongak dan tersenyum lebar padanya, membuat Dr Zayne bisa menebak hasilnya. “Kau diterima?”

“Siapa yang akan menolak orang pintar dan berbakat sepertiku, huh?” ucapku dengan sembong. Yah, dia sudah terbiasa melihat kesombonganku.

“Selamat, aku ikut senang mendengarnya. Haruskah kita makan malam di luar hari ini? Untuk merayakannya.”

“Kau sudah menjanjikan suatu hal untukku.”

“Aku?”

Aku mengangguk.

Dr Zayne terdiam untuk berpikir, hingga wajahnya yang tadinya penuh dengan tanda tanya berubah menjadi merah. “Ah, itu … Bukankah lebih baik kita merayakannya dengan hal lain dulu?” rayunya dengan senyuman kikuk.

Aku menggeleng. “Tidak.” Aku memeluknya, tanganku menjalar untuk meremas bokongnya. “Lagipula bukankah dadamu sedang sakit? Itu butuh bantuanku.”

.
.
.

Di sinilah kami sekarang, pada ranjang tanpa sehelai pun pakaian. Aku sedang sibuk menghisap dadanya, susu yang keluar banyak sekali hingga aku yakin seharian besok tidak perlu minum lagi karena hal ini. Seperti biasa, dada satunya yang menganggur aku mainkan dengan tanganku, meremasnya lalu mencubit pentilnya hingga ia mendesah kenikmatan.

“Ahh … Ngh, jangan dicubit aku mohon.”

Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat ekspresi memohonnya itu, Dr Zayne memang sangat pandai membuat ekspresi itu, di sisi lain seringkali hal itu membuatku terangsang. Aku hanya tersenyum miring, “bukankah ini adalah hadiahku, aku bisa melakukan apapun yang aku mau seperti katamu tempo hari.”

Dr Zayne hanya pasrah dan menerima semua apa yang aku lakukan dengan mengeluarkan desahan yang merdu. Seperti saat ini, aku tengah menyodokkan penisku dengan kuat dari belakang tubuhnya, dan dia harus bertumpu pada sebuah meja di kamar kami. Tubuhnya terguncang kuat, aku hanya menahannya dengan satu tanganku yang juga meremas dadanya.

“Cium, aku ingin ciuman,” ucapnya menoleh ke belakang, tentu saja aku langsung mencium bibirnya bukan hanya sekadar kecupan tetapi bermain lidah dan bertukar saliva dengannya diiringi dengan dorongan yang semakin kuat.

“Haa, nghh enak … Lebih keras, ngh.”

“As you wish honey,” balasku.

Hah … Lubangnya benar-benar mencengkram penisku dengan kuat membuatku semakin semangat. Ini benar-benar nikmat, aku yakin Dr Zayne terlihat kacau saat ini. Aku membuat kepalanya menoleh ke arahku, wajahnya membuatku tersenyum miring, dokter ini terlihat cabul sekarang. Yah, berkat penisku.

Tiba-tiba saja aku merasakan keinginan untuk mengeluarkan cairan dari tubuhku, tidak kurasa ini bukan air mani tetapi hal lain.

“Aku ingin buang air kecil,” ucapku.

“Haa… Apa?”

“Tapi lubangmu mencengkram erat penisku, apa yang harus aku lakukan?” Dorongan masih aku lakukan saat suatu ide muncul di pikiranku. “Sayang aku sudah tidak kuat, bolehkah aku mengeluarkannya di sini, hm?”

“A-apa? Tidak, ja–AKH!”

Aku sentak tubuhnya terakhir kali untuk mengeluarkan air kencing, rasanya benar-benar lega meski kini aku merasakan penisku yang tidak hanya dilumuri oleh air mani saja tetapi air kencingku juga, ini benar-benar licin dan anehnya nikmat?

Pandanganku menurun untuk menatap Dr Zayne yang tumbang terduduk di lantai, astaga, dia benar-benar terlihat kacau sekali dengan cairannya yang keluar bersamaan saat aku mengeluarkan kencingku di dalam tubuhnya dan hal ini justru membuatku semakin terangsang. Aku berjongkok, mendekatkan wajahku untuk menciumnya, berusaha menenangkannya karena tubuhnya mengejang.

“Ha… aku minta maaf. Apa kau marah?”

Dr Zayne awalnya tak memberikan respon apapun setelah tubuhnya tenang, membuatku khawatir dia benar-benar marah, tetapi kedua tangannya menangkup pipiku dan memberikan kecupan pada bibirku. Sambil tersenyum dia mengatakan, “tidak, itu terasa nikmat. Tapi jangan melakukannya terlalu sering.”

Aku mengangguk dengan cepat, Dr Zayne hanya tertawa kecil dan memelukku ke dekapannya.

Apa kalian berpikir malam itu sudah berakhir? Oh tentu saja tidak. The night is still young~ dan kami tidak punya rencana apapun besok selain menghabiskan waktu bersama di rumah saja. Kami melakukannya lagi, di mana-mana. Dapur, kamar mandi, ruang tamu, depan pintu, balkon. Tak peduli siang atau malam, di setiap ada kesempatan kami melakukannya. Hingga tubuhnya tak lagi kuat dan terduduk di lantai dengan lubangnya mengeluarkan cairanku yang berceceran dimana-mana. Benar-benar menggairahkan.

Series this work belongs to: