Actions

Work Header

Second Time

Summary:

Zayne tiba-tiba menawarkanmu melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya.

Notes:

Awalnya gue gak kepikiran nulis ini lagi sih, tapi ngeliat banyak referensi jadinya pengen gue tumpahin idenya ke tulisan, bcs this brain has to focus on preparing to solve integrals. ARGH KALKULUS 3 SIALANNNNN

Okay, happy reading!

Btw ini adalah kejadian sebelum chapter 1, jadi ini waktu kamu dan Zayne awal pacaran dan sudah pernah melakukan hs and this is the second time~

Work Text:

“Apa kau ingin melakukannya lagi?” tanya Zayne tiba-tiba saat kamu sedang bermain game di ponselmu dan ia sedang membaca buku, kalian berdua sedang menghabiskan waktu bersama di ranjang sebelum memutuskan tidur.

“Huh?”

“Itu…”

Kamu tentu saja tidak mengerti yang dokter itu maksud. “Apa? Dr Zayne katakan dengan jelas.”

Wajah Zayne yang tadinya tampak canggung berubah menjadi kesal ketika mendengar kekasihnya masih memanggil dengan gelar dokternya, Zayne memang workaholic tetapi jika sudah berada di luar pekerjaannya ia lebih suka dipanggil oleh namanya, apalagi ini dari kekasihnya.

“Bukankah aku sudah bilang berhenti memanggilku dengan kata dokter!” Zayne melempar bantal disampingnya ke arah kamu.

“Aw! Baik, maaf, maaf!” Kamu melindungi dirimu dengan kedua tanganmu. “Kau ingin aku melakukan apa?”

“Terakhir kali kita melakukannya berhenti ditengah waktu karena aku belum siap,” ucap Zayne menatap ke arah lain saat mengatakannya dengan pipinya yang sedikit memerah.

Kamu tersenyum lebar mendengarnya, “jadi sekarang kau sudah siap?”

Zayne mengangguk. Kamu langsung terpikirkan apa yang ingin kamu lakukan dengannya, sebelum semua itu tentu kamu meminta izin Zayne. “Kau ingin apa?”

“Aku tidak tahu.”

Kamu menghembuskan napasmu dengan pelan, dokter ini tiba-tiba bertingkah seperti remaja putri, dalam hatimu.

“Baiklah, ayo kita melakukannya. Kali ini akan aku pastikan kau tidak merasakan sakit.”

.
.
.
Diawali dengan ciuman yang dalam, bermain lidah, bertukar saliva dan membuat suara dari ciuman tersebut. Zayne menggenggam erat pundak kamu, dengan dahi tertaut dan mata tertutup, menikmati dan merasakan ciuman ini dengan sepenuh hati. Hingga pagutan terlepas meninggalkan napas yang tersengal-sengal antara kamu dengan Zayne.

Zayne segera menunduk, membuka resleting celanamu yang menampilkan penis yang sudah mengeras itu. “Kau serius ingin melakukannya?” tanyamu.

Dokter itu hanya mengangguk, dan kamu membiarkan dia melanjutkan membuka celanamu memunculkan penismu yang kini berdiri tegang. Terdapat raut terkejut di wajah Zayne untuk sesaat, setelahnya ia memegang penismu dengan satu tangannya untuk mengarahkannya ke mulutnya.

“Haah…”

Hangat. Zayne awalnya hanya memaju-mundurkan kepalanya, tetapi semakin lama tampaknya ia mahir dengan memainkan lidahnya pada penis yang berada di dalam mulutnya itu. Kamu bahkan tak tahan hingga memutuskan untuk memegang kepala dokter tersebut, membantunya memberikan blowjob pada penismu sendiri. Merasa semakin dekat untuk ejakulasi, kamu segera menarik penismu dari mulut Zayne dan mengeluarkan cairan putih itu tepat pada wajahnya.

“Kemarilah,” ucapmu agar Zayne kembali mendekat karena kamu ingin mencium bibirnya.

“Bagaimana jika kita lakukan sambil duduk?” tawarmu pada Zayne, karena jujur saja kamu benar-benar menahan diri dengan menghindari melihat wajah dokter itu, untungnya Zayne setuju dengan tawaranmu.

Kamu memilih untuk duduk menghadap kaca besar yang menampikan pemandangan kota dimalam hari, awalnya Zayne merasa malu tetapi kamu meyakinkannya bahwa tidak akan ada orang yang melihat kalian berdua karena kacanya tidak tembus pandang, akhirnya Zayne pun setuju. Bukan hanya kamu yang menghadap ke arah jendela tetapi Zayne juga, tujuan utamamu adalah menghindari melihat wajah kekasihmu ini.

Setelah melonggarkan lubang milik Zayne meski dengan perjuangan menghadapi tubuh dokter itu yang tidak bisa diam karena stimulasi yang kamu berikan, di sinilah akhirnya Zayne sedang mencoba duduk di atasmu sembari memasukkan penismu ke dalam lubangnya secara perlahan.

“Heutt, haa…” Akhirnya penis itu masuk sepenuhnya ke dalam lubang Zayne, dan pria itu pun bisa benar-benar duduk.

Kamu tidak langsung menggerakan pinggulmu, kamu ingin lubang kekasihmu terbiasa dengan penismu terlebih dahulu sehingga kini kamu memutuskan untuk bermain dengan penis milik Zayne. Tangan kirimu yang menganggur kamu gunakan untuk meremas dadanya yang besar itu.

“Ahh…Mmhh…” desah Zayne yang justru menggerakan tubuhnya sendiri sembari menikmati stimulasi yang kamu berikan.

“Woah lihatlah, kau menggerakannya sendiri~”

Zayne merengek dengan desahnya, kamu menyeringai mengetahui bahwa ini adalah tanda ia frustasi ingin kamu menggerakannya tetapi malu mengatakannya.

“Dr Zayne, apa yang Anda inginkan?” Menjahilinya disaat seperti ini adalah hal yang kamu sukai. Kamu tahu Zayne sedang tidak berdaya.

Bukannya menjawab, yang Zayne lakukan hanyalah sibuk menggerakan pinggulnya dan mendesah dengan keras. Kamu berhenti bermain dengan dada dan penisnya, sengaja ingin membuatnya memohon.

“Do you want me to fuck you?”

“Ha.. Yes, sir please fuck me hard,” jawab Zayne dengan menolehkan wajahnya kepadamu agar kamu luluh dan tak lagi bermain-main dengannya. Sialnya, itu berhasil.

Kamu memegang pinggang Zayne dan menggerakannya dengan cepat, menghasilkan suara kulit beradu dan diiringi dengan desahan Zayne yang keras. Zayne benar-benar merasa nikmat hingga ia tak lagi menutup mulutnya dan membiarkan air liur jatuh ke lantai, matanya tidak fokus pada pemandangan kota malam hari, mata itu lari ke atas menatap langit-langit apartemen.

“Hnghh.. Ahh.. I want to cum.”

“You can cum.”

“Ahh… Haa.. Heutt, ahh…”

“Keluarkan saja, tidak usah takut.”

Awalnya hanya cairan putih yang keluar sedikit dari penis Zayne, kamu masih menggerakan pinggulnya mengabaikan bahwa Zayne tengah keluar. Cairan itu yang tadinya keluar dengan sedikit dan pelan seiring dengan gerakan darimu cairan tersebut keluar bagaikan air mancur mengotori jendela di depan kalian, desahan Zayne semakin kencang merasa dirinya kenikmatan dan keluar secara bersamaan. Belum lagi kamu kembali memberikan stimulasi pada pentil dadanya.

“Cum already?” tanyamu ketika merasakan tubuh Zayne mulai rileks setelah tegang tadi.

“Haah.. Ya-hh..”

Kamu mencium pipi Zayne, “is it good?”

“Ya-hh, hngh.. I want more.”

“Dasar dokter cabul.”

Series this work belongs to: