Chapter Text
DI area lapang sekitaran tanah pekuburan, dibangun rumah kayu yang rangkanya hampir reyot. Orang-orang mengatakan itu bahwasanya adalah tempat tinggal tukang jaga kubur yang juga ahli membalsami jasad. Tidak banyak yang berani bersambang ke sana. Sebab menurut desas-desus yang beredar di desa, aura kematian yang kuat menguar di sana hanya bakal mendatangkan sial dan sakit-sakitan—meskipun pemiliknya adalah pemuda ramah dengan wajah tampan.
Yang dirumorkan sendiri tak dapat ditemukan keberadaannya di dalam rumah.
Di tengah-tengah kelamnya sawang selepas matahari terbenam—daun-daun bergemerisik disapu embus angin dingin, sementara pungguk berdekur sayup-sayup di balik tingginya pepohonan untuk menunggu buruannya tiba. Agak jauh dari sana, mungkin saja orang-orang sudah pergi menuju lelap mereka di hiruk permukiman.
Sementara itu, samar terdengar bunyi pacul mengorek tanah. Di tengah-tengah gundukan pusara manusia, Chan secara telaten menggali salah satunya; membongkar kubur itu hingga lempeng besi cangkulnya mengetuk kayu peti mahoni cokelat tua. Makam itu masihlah anyar. Tanahnya masih benar-benar basah. Usianya bahkan belum terhitung penuh sehari—mengingat Chan baru menguburnya siang tadi. Kini hanya ada bulan yang menggantung bulat sempurna di angkasa raya. Terang peraknya sedikit meredup—mungkin sedang ikut berduka; sama seperti keluarga si pemilik peti, yang baru memaknai arti kehilangan sebuah nyawa.
Chan tersenyum. Itu adalah selengkung ramah yang sama dengan yang biasa dia berikan kepada orang-orang desa. Memikirkannya membuat beragam emosi berkecamuk. Namun tidak begitu dimenungkannya banyak-banyak. Alih-alih, kembali dilanjutkannya membobol pusara tersebut; menyingkirkan sejumlah tanah berserakan di atas permukaan peti, hingga didapatkannya akses penuh untuk membuka struktur kayu itu.
Chan menghirup bebauan yang sangat dia gemari menguar dari celah selepas mengangkat tutup peti. Diamatinya jenazah yang terbaring secara saksama: utuh tanpa cela, sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan—meskipun sebelumnya sengaja tidak dia balsami. Suhu udara terus menurun, berbanding lurus dengan berjalannya waktu yang makin larut. Chan menajamkan pendengaran, menikmati suara samar hewan malam dan desau angin—serta memastikan jika tak ada satu pun keberadaan manusia lain. Kemudian secara hati-hati, diangkutnya jasad tersebut untuk dipindahkannya ke dalam gerobak yang telah dia sediakan di samping pekuburan.
Di balik bayang-bayang hutan cemara yang tumbuh di sekeliling pemakaman, Chan sekali lagi memasang indra. Diedarkannya penglihatan ke sekeliling, membawa gerobak berbebankan mayat menuju rumah kayu kecil, setelahnya.
Pekerjaannya tidak sampai di situ. Dengan cekatan, dia membaringkan tubuh tanpa nyawa itu di atas meja keramik yang biasa digunakan untuk membalsami jenazah. Lalu ditukarnya gerobak dengan gerobak lain yang usai dia persiapkan, sebelum kembali ke kubur yang belum ditutup. Tatap Chan mendingin. Kali ini di dalam gerobak, tergeletak seonggok mayat lain. Menimbang waktu yang terus melantas, Chan menyiram sekendi air membasahi sekujur tubuh mati. Kemudian badan tersebut diletakkannya ke dalam peti mati, menguburkannya ulang hingga buah tangannya sama sekali tidak bersisa meninggalkan jejak.
Dia menyempatkan diri untuk menyapukan jari di atas nisan yang kentara baru dibuat. Kemudian dikecupnya deret huruf terukir, sebelum beranjak kembali menuju bagian dalam rumahnya. Batu kubur mendingin dihilir udara malam; relief kata-katanya menyatakan kematian Lee Minho—tertanggal persisnya satu hari kemarin.
SECARA tidak diduga, ruangan di dalam terbilang cukup luas—jika tidak dipenuhi oleh sebuah meja pembalsaman dan dua peti mati lainnya. Keseluruhannya mengandung mayat; yang satu telentang di atas meja keramik kokoh, sementara yang dua terbujur di dalam peti. Begitulah keseharian Chan. Berkutat dengan yang tinggal di tanah kematian—sudah menjadi penganan sehari-hari selayaknya manusia makan nasi.
Mayoritas penduduk desa mengasihani dia dan pekerjaannya. Di mata mereka, Chan sekadar pemuda lugu berkodrat nahas sehingga mesti berurusan dengan jenazah hanya untuk sekadar menyambung nyawa.
Naif sekali mereka, Chan tergelak.
Pada kenyataannya dia memiliki tabungan uang lebih banyak dari mereka kebanyakan—hanya dengan menukar dan menjual jasad-jasad yang diakunya telah dia kebumikan, kepada orang-orang kaya dari di luar desa untuk dikawinkan dan dijadikan mempelai arwah. Dua yang tergeletak di peti pun akan bernasib sama—entah menjadi pengantin siapa pada akhirnya.
Sesaat diliriknya peti-peti kayu tersebut, sebelum matanya beralih pada mayat di atas meja. Kesabarannya kali ini betulan habis, jadi turut dia merangkak ke atas bidang—mengagumi sang keindahan kaku tergelintang. Ekstasi merasuki Chan. Dia telah menunggu sekian lama—hingga hari kemenangannya akhirnya juga tiba. Senyumnya merekah dengan amat lebar. Chan beringsut mendekat untuk menyentuhnya.
Kulit dari tubuh yang terbaring itu sedikit lebih lesi dari miliknya. Dua jari tangan meraba pipi—merasai dinginnya dengan nurani yang sudah tidak lagi berfungsi. Ada napas yang menderu; murup api menari-nari di kedua manik sewarna kumbang. Roman Chan meliar. Terlalu lama bersinggungan dengan alam kepemilikan Sang Maut telah memudarkan sisi kemanusiaannya hingga nyaris tak ada. Perilakunya saat ini lebih mencirikan binatang—persis seperti seekor hering yang tengah bersiap untuk menyantap bangkai favoritnya.
Dengan jantung yang riang berdentum, Chan mengarahkan muka sedikit lebih dekat. Kemudian dibauinya selira itu—menikmati aroma favorit yang menguar dalam-dalam: aroma kematian.
Dan Chan tidak bisa dibuat terpukau lebih dari ini. Ketika matanya mencerap wajah itu—saksama memperhatikan sepasang pelupuk berhias lengkung hitam bulu mata; hidung bangir dengan garis tulang sempurna; juga bibir pucat penuh yang erat terkatup—dia merasakan gelegak darah berdesir menuju selatan. Gairahnya sempurna membuncah; tak tahan untuk berkali lirih menyeru, “Cantik. Cantik. Cantik.
“Kamu teramat cantiknya, Sayang.”
Ada yang bergerak merapat; mulut meraup mulut begitu berdempet satu dan lainnya. Chan menyesap belahan daging itu—menikmati kelembutannya selagi masih segar dan kenyal. Lalu disusupkannya gumpal lidah secara paksa. Geligi berbaris lembut disapu—hanya untuk menemukan jika si pemilik mempunyai deret yang tidak rata. Menggemaskan seperti kelinci kecil. Senyum tersungging selagi bibir itu terus dikecup. Jari-jarinya sementara bergerak menuju kepala. Kemudian hati-hati diusapkannya tangan—meremas rambut, helai demi helainya dengan penuh sayang. Debaran dadanya makin menggebu. Chan memberikan ciuman penutup sebelum menarik mukanya menjauh—buat dikaguminya ayu paras itu sekali lagi, sampai-sampai membiarkan urat kewarasannya menegang di ambang batas.
Di saat seperti ini, rasa berani sudah merambati arterinya tanpa kecuali. Maka Chan melepas seluruh kain yang melekat—baik miliknya, maupun milik yang tergolek tanpa nyawa. Badan itu telaten ditelanjanginya dalam jangka waktu yang tak lama; sementara pakaian dia singkirkan jauh dari jangkauan mata. Napasnya tertahan dibarengi kejantanan yang menegang. Chan menikmati apa yang tersaji di hadapan dengan nafsu bergolak. Dada bidang berputing merah muda sedikit cokelat; bongkahan otot perut disertai pusar yang melesak; pinggang maskulin berisi dengan bokong sekal; juga penis menjuntai yang ditumbuhi rambut kemaluan tipis—kesemuanya tidak luput untuk dijamahnya penuh cumbu. Di dalam benaknya, samar dari lebam pascamortem yang nampak di sekujur, menambah keelokannya sampai tidak terukur lagi.
Tidak puas-puas ibu jari menggerayangi serata badan itu. Hingga akhirnya Chan menunduk, dan membawa lunaknya pangkal dada ke dalam mulutnya. Puting dikulum, sementara tangan yang bebas dia gunakan untuk merentangkan kaki si mayat lebar-lebar. Chan menggunakan kesempatan ini buat beringsut maju. Lututnya ia gunakan untuk menahan paha agar kedua kaki itu tetap mengangkang tanpa daya. Posisi mereka sekarang alhasil membuat kepunyaannya sesekali menyentuh penis yang melunglai itu.
“Mmh ...,” dia bergidik kegirangan. Interaksi kecil dari batang selangkangan mereka memberikannya eksitasi berlebih yang kian menaikkan libido. Lidah Chan menyusur turun; meninggalkan jejak basah air liur dan bercak kemerahan. Geram rendah didesahkannya dalam nikmat menabukan, “Min-Minho ... ngh ....”
Dalam kenikmatan yang belum sampai ke puncak, Chan mengambil posisi agar makin membungkuk—menempelkan kelaminnya sendiri dengan kelamin Minho kemudian. Kelopak mata terpejam; dia nyaring melenguh. Tangannya yang bebas digunakannya untuk menggenggam kedua batang dan mengeburnya melalui gerakan rancap atas bawah. Daging bertemu daging; urat bertemu urat. Rangsangan tersebut berhasil membikin zakarnya mengeras mutlak. Berkebalikan dengan itu, milik Minho tetap dingin bergeming—mau semahir apa pun jemari Chan bermain. Namun dia tidak berusaha untuk repot-repot. Menurutnya tubuh mati berpasrah—terasa lebih menantang berahi ketimbang tubuh yang masih bernyawa.
Adrenalinnya terus terpacu. Panas merata sebadan-badan. Ada cairan praejakulasi yang menyembul di penis; tinggal butuh sedikit aksi untuk membuat Chan keluar. Jadi dia mengambil kesempatan ini buat meludah ke jemari dan memindahkannya menuju liang Minho—memasukkan sekaligus tiga yang basah dalam-dalam dan paksa membukanya dalam kocokan kasar. Rekahannya seketika meradang. Jika mulut Minho masih dapat bersuara, tentunya dia akan menjerit ngilu akan beringasnya tindakan Chan saat ini. Sisa-sisa kelembutan Chan barusan sudah tidak dapat ditemukan lagi ketika dia mendorong dirinya masuk. Desahnya melantang dipantulkan empat penjuru ruangan, “A-ahhh ....”
Dan dia terus menumbuk dalam satu ritme yang konstan—membiarkan biji testisnya turut berulang menepuk kulit pantat Minho, sementara dia bertelungkup untuk mencium bibir itu lagi. Rambut pubis mereka begesekan, pun begitu dengan penis Minho yang menekan bawah perutnya. Chan tidak berhenti; secara menerus menggenjot dirinya masuk keluar tanpa berniat untuk selesai sekarang. Gempurannya keras, bersengaja menusuk titik rektum Minho bertubi-tubi. Dia berucap di sela-sela; rangkaian kata dipadu erang kenikmatan. Chan menggila, “Mmh ... Cantik—gimana rasanya diperkosa kayak begini?”
Cengkeraman pada paha Minho mengerat. Kuku Chan meremas bagian daging rapuh itu kuat-kuat hingga alhasil menyebabkan robekan kecil—dengan merah plasma mengalir menodai pucat epidermisnya. Chan mengembang kurva mulut ke atas, menutur maaf tanpa berkandung sesal, “Maaf ya, Sayang ...? Sejujurnya aku juga enggak mau kasarin kamu nh .... Tapi anggap ini sedikit hukuman untuk kamu ....”
Chan tidak berhenti bergerak, tetapi diarahkannya bibir mendekat menuju luka darah yang tak bakalan menutup selamanya. Kemudian cairan itu dihisap; tanpa habis mencicip karat meluber memenuhi rongga—yang menurutnya adiktif berlaku sebagai candu.
“Hmmh ... Min-Minho ... Sayang .... Kamu ... kamu ... enak banget ... ahh ....”
Dia lagi mengentak. Sedikit berbisik, Chan menjilat Minho; memandanginya tanpa puas berkesudahan, dengan pinggul yang terus bergerak, “Mh ... Minho ... ini balasan karena kamu tega membuat aku menunggu ... hmmh ..., dan aku enggak bohong, bukan—kalau aku pernah bilang kita akan selamanya bersama?”
Dia balik meraup mulut Minho dengan tamak—terus menggigit dan mengulum secara sepihak. Membayangkan badan yang rusak itu tidak akan pernah utuh kembali, membuat Chan bergidik terangsang. Nafsunya mencapai klimaks. Dia mencabut penisnya dengan kasar, mengotori seluruh permukaan kulit Minho dengan cairan sperma yang hangat dan kental. Chan gembira terengah. Dikecupnya jari manis kiri Minho sembari bergumam, “Milikku ... milikku .....” Pasti akan cocok sekali jika ada cincin yang melingkar di sana, pikirnya. “Kamu selamanya milikku, Minho ....”
SELERET cahaya purnama pucat membias melewati kaca jendela yang dihinggapi sarang lelaba. Lis kayunya dibalut debu tipis—nyata menunjukkan kelalaian si pemilik tempat karena jarang membersihkannya, tetapi si empu yang dimaksud tidak berusaha untuk ambil peduli barang sedikit. Alih-alih dia kini tengah duduk di atas sofa lusuh sembari memandangi dua peti kayu tanpa minat berlebih. Diliriknya arloji di tangan kiri. Chan mengangkat sebelah alis sebab telah lewat setengah putaran jarum jam dari waktu perjanjian. Namun, orang yang beritikad belumlah terlihat juga.
Ada seekor ngengat tertatih terbang menuju sinar rembulan tanpa mengetahui jika dunianya dibatasi permukaan kaca dan jaring predator. Chan memperhatikan sedikit tertarik—ketika si serangga nahas berakhir diperangkap oleh rekatnya benang laba-laba. Sayap kecilnya meronta berkepak-kepak—tanpa kuasa mesti menerima tibanya ajal sewaktu empat pasang kaki dan mata lapar mengawasinya dari balik bayang-bayang. Chan remeh mendengkus. Begitulah hakikatnya hukum takdir; yang lemah akan dibiarkan mati, sementara mereka yang kuat akan menjadi pemangsa.
Dengan pemikiran ini yang menyelubungi benak, dia tenang menunggu—membiarkan kesabarannya terkikis lamat-lamat.
Dan itu adalah menit ke sekian tatkala pendengarannya menangkap sayup-sayup bunyi derek dan roda pedati. Pandangan Chan sekilas terarah pada jam yang melingkar di pergelangan, sebelum akhirnya tertuju penuh pada pintu. Sekarang pukul satu lebih sebelas. Terlambat empat puluh menit—yang benar saja? Mulutnya lirih melantunkan decak.
Tak selang berapa lama ada bunyi kayu yang diketuk. Chan bangkit dari kursi. Santai ditapakinya ubin kusam. Kedua tangannya menarik gagang pintu sampai terbuka lebar, menyambut pemuda yang berdiri di sisi lainnya dengan senyum bercawak kemudian. “Mari,” ucapnya mempersilakan.
Yang baru datang mengangguk tipis. Dia berdehem sebelum berbasa-basi, “Sori. Tadi ada polisi di perbatasan—harus ambil jalur memutar.”
“Tidak apa-apa,” balas Chan. Kurva yang terbentuk di bibir sengaja tetap dipertahankan. Dia menawarkan dengan sopan selaku tuan rumah, “Mau kopi? Teh?”
Gelengan singkat. Lawan bicaranya yang berperawakan lebih pendek tegas menggeleng. Gestur menunjuk arloji, memberi tahu, “Aku mesti buru-buru. Peti-peti itu harus diserahkan sebelum pukul enam,” tolaknya halus, “tapi terima kasih. Mungkin lain kali.”
Chan mengangguk satu kali. Dia membiarkan wira yang lain mengedar mata untuk singkat mengamati ruangan—saksama memperhatikan ketika ada sedikit kerutan terpola di dahi, dan refleks bertanya, “Ada apa, Changbin?”
Si pemilik nama menunjuk dua peti bergeming tergeletak, “Bukankah seharusnya ada tiga—eh? Kudengar sepertinya begitu ....”
Itu cukup untuk membuat senyumnya tertarik melebar. “Dua, kok,” jawab Chan. “Mungkin kamu salah dengar.
Kernyitan lagi. Changbin memandangnya curiga, “Yang mati bukannya tiga?”
“Hm, memang tiga.”
“Lalu kenapa petinya cuma ada dua?”
“Kondisi yang satu tidak memungkinkan untuk dijual,” Chan mengangkat bahu. “Sudah kuperiksa sendiri tadi.”
“Tapi aku sudah bawa enam koper sesuai permintaanmu!”
Chan mengobral kata-kata, ringannya membubung tinggi—mungkin sampai tembus jauh ke angkasa sana. “Enam untuk dua mayat. Bukankah ini penawaran terbaik?”
Changbin melepeh. “Sinting,” ucapnya. “Jangan main-main. Yang kamu jual itu mayat rakyat jelata—bukan permaisuri istana!”
Kali ini gelak Chan tidak berusaha dia tahan. Dia betulan terbahak, kemudian memandang Changbin seolah-olah dia yang nalarnya sudah betulan hilang. Langkah Changbin mundur satu. Tengkuknya meremang, napasnya tertahan di rongga dada. Firasat si pemuda entah mengapa mengatakan jika Chan yang dilihatnya hari ini betulan berbahaya. Persis seperti serigala yang usai bosan bermain-main sebagai anjing penggembala. Tawanya masihlah menggema di empat penjuru sunyi dinding—sebelum dia menepuk pundak Changbin dengan binar liar yang menari dalam bayang palet mata. “Changbin, oh, Changbin,” tatap Chan tidak sedikit saja berpindah dari miliknya. Changbin merasa ragu, tetapi tak mampu semerta-merta untuk membantah titah Chan.
“Buka dulu petinya, dan kamu akan paham kenapa penawaran enam untuk dua itu nilainya mutlak.”
Untuk beberapa waktu, posisi si wira tidak juga bergerak. Selarap manik legam Chan yang terus memandangnya tanpa jeda, turut membuat Changbin membatu. Ada sesuatu; sebuah keganjilan yang dia temukan—yang erat berkaitan dengan gelora murup api dalam pasangan mata itu. Terlalu jalang, terlalu membakar, terlalu riang;
—terlalu asing.
Seolah-olah Chan telah dibangkitkan kembali, setelah selama ini senyap tak bernyawa dengan tatap yang tak lebih dari milik seonggok mayat. Changbin telah mengenal Chan cukup lama untuk sewajarnya mengetahui jika gairahnya telah binasa sejak lama. Dan melihatnya hidup hari ini, lebih dari selayaknya untuk membuat dia merinding sampai ke sumsum tulang.
—sebab apa yang dia temukan tidak mencakup lubuk hati Chan.
Nurani miliknya tidak ikut dibawa kembali; tetap mati dan akan selamanya terus mati.
Changbin nyaris kelepasan bergidik ketika Chan nyaring berdecak. Itu bukanlah suatu yang selazimnya dimaklumi sebagai sekadar pemecah kesunyian. Alih-alih dengan sepihak dirasakannya hawa ruangan makin naik mencekam. Bahkan kuda yang dikekang di derek pedati turut gelisah, dibuktikan dengan bunyi sepatu ladam sejak tadi mengetuk tanah. Tangan Chan kasual terkibas ke udara. Terkekeh dia, “Kenapa diam? Takut aku bakal menipumu?”
Changbin memilih tetap bungkam. Diperhatikannya Chan dan deretan gigi terbaris rapi, yang lagi-lagi unjuk diri lewat sesungging lengkung bibir. Chan beringsut. Dalam sekejap dibukanya kedua peti. Dia tidak memerlukan bantuan Changbin; itu adalah peti kayu biasa dengan kualitas rendah. Buah hasil pekerjaan kasar; bukan kayu terbaik—bahkan dipelitur pun tidak. Jadi tidak perlu banyak tenaga untuk menyibak tutupnya.
“Felix, anak haram Kepala Desa,” kata Chan merujuk pada mayat yang terbaring di sebelah kanan. “Mati diracun istri Kepala Desa, tapi dirumorkan kabur kawin lari ke desa sebelah.”
Changbin mendekat memeriksanya; hanya separuh mendengar ujaran Chan. “Bisa kamu lihat sendiri, dia mirip sekali dengan pelayan bar yang dulu sempat populer itu. Aku dengar banyak yang kepingin menikahinya. Dia cantik, bukan?”
Changbin tidak membalas apa-apa. Namun dia menyetujui ucapan Chan dalam hati; menyayangi nasib tragis pemuda elok tersebut. Dia melongokkan kepala ke peti yang satunya. Di dalamnya terbaring seorang taruna yang parasnya dia aku tidak kalah ayu dari yang sebelumnya. Kulit mereka halus dan pucat. Masing-masing berwajah kecil dengan bulu mata lentik dan bibir indah. Dengan fitur serupa pahatan patung marmer—adalah dua yang paling cantik dari yang pernah Changbin lihat semasa hidup. Tanyanya, “Kalau yang ini?”
“Itu Hyunjin. Alasan favorit banyak bandot tua betah mengunjungi Paviliun Teratai Ungu,” balas Chan enteng. “Dia penari paling populer di sana. Ditemukan tenggelam di sumur; dugaan terkuatnya bunuh diri. Kudengar ada seseorang yang bermulut manis kepingin menebus dan menikahinya, tapi pria itu keburu menghamili salah satu gadis desa dan mengingkari janjinya sendiri.”
“...,” ada yang mengganjal di kerongkongan Changbin. Dengan parau dia kembali bertanya, “... yang satu mati diracun, dan satu lagi ... tenggelam ...?”
Kepala Chan mengangguk. Dia mengonfirmasi, “Tapi kamu tidak perlu khawatir. Meskipun organ dalamnya rusak, sudah kupastikan seluruh bagian luarnya sempurna tanpa cela.
“Bagaimana? Penawaran bagus bukan? Dua mayat lelaki tercantik di desa untuk enam koper.” Changbin mendengar kekehan datang. Asalnya tentu dari Chan.
Keraguan kembali memeluk hati Changbin. Ditunjuknya kedua peti itu menggunakan ibu jari, “Dan bagaimana persisnya kamu mendapatkan dua ini? Aku tidak mau membuang uang jika pada akhirnya hanya mendapatkan masalah.”
Bahu Chan lagi terangkat, “Mendapatkannya seperti aku biasa melakukannya mungkin?” Selengkung sabit itu belum juga tanggal dari belah bibir. “Kamu tidak perlu khawatir. Aku yang menguburkan mereka. Tanahnya masih basah—tidak akan ada yang menyadari kalau kuburannya telah digali ulang.”
“Bukan masalah kuburannya—tapi jasad di dalam petinya, Chan! Bagaimana kalau ada yang sadar ada dua mayat yang hilang? Apalagi dua-duanya orang populer seperti ini.”
Chan kalem menanggapi, “Sudah kukatakan, kamu tidak perlu khawatir. Aku melakukannya sama dengan yang biasa aku lakukan.” Dengkus Changbin lolos sekali. Namun di lain sisi, itu tidak mengaburkan rasa percaya diri berlebih milik Chan sama sekali. Terangnya, “Yang di dalam peti mati itu sudah kutukar dengan kadaver pengganti, dan sudah kuatur agar lebih cepat membusuk. Wajah mereka akan hancur lebih dulu sebelum ada orang lain yang membongkar kuburan mereka.”
Sebenarnya, Changbin masih merasa sangsi. Permintaan Chan hari ini terlalu sulit untuk disanggupi; ditambah perilaku Chan yang jauh dari ambang kewajaran dan kegirangan yang lain dari biasa—membuat ragu betah mengendapinya secara cuma-cuma.
Dan Chan kentara dapat membacanya, dibuktikan dengan datangnya pertanyaan lain dibalut ketenangan dan senyum tipis-tipis. “Tumben sekali kamu sangat cerewet hari ini, Changbin. Biasanya kamu tidak mempermasalahkan hal sepele macam begini.
“Kamu bakal mengambil penawaran ini atau tidak, hm?”
Pada akhirnya, Changbin mengembus napas, sebelum memijat pelipisnya kemudian. “Tidak bisakah mayat-mayat ini dijual per dua peti koper saja—seperti biasa?” negonya memberanikan diri.
“Enam untuk dua—atau tidak sama sekali,” tegas Chan. “Atau mungkin kujual saja pada orang kaya di kota. Pasti banyak yang ingin menikahi mereka dengan harga lebih tinggi.”
Changbin paham respons Chan berlaku sebagai ancaman. Memikirkan masalah yang akan dia dapatkan jika tidak menyerahkan sepasang mayat tersebut kepada klien besok pagi, berat hati dia berpasrah menyetujui tawaran Chan yang masih dipikirnya tak dapat dicerna di akal. “Oke, oke. Kuambil mereka seharga enam koper.”
Maka transaksi dilakukan; dengan raut kelewat gembira, Chan memperhatikan Changbin mengangkut enam peti koper penuh berisi uang. Sementara jasad-jasad elok yang kaku terbaring, saksama digotong ke dalam pedati. Pias badar menggantung di langit gelap tanpa bebintang. Kuda transportasi milik Changbin lemah meringkik tak nyaman ketambahan beban. Sebelum Changbin beranjak meninggalkan kediamannya, Chan sempat-sempatnya mengajak berbasa-basi untuk kali terakhir. Jemarinya mengelus salah sebuah peti uang. “Siapa lagi yang akan dinikahkan kali ini?”
Ujar Changbin, “Satu untuk anak juragan karet di desa sebelah. Putra tertuanya ngotot tidak mau menikah, tapi anak perempuannya kepergok berhubungan badan dengan tukang kebunnya.” Alis Chan naik sebelah, antusias mendengarkan jawaban Changbin. “Mau tak mau, kan—yang sulung harus dinikahkan terlebih dulu, supaya adiknya bisa dikawinkan secepatnya.”
“Dan satunya?”
“Buat putri sulung pemilik pabrik tekstil yang sakit-sakitan itu. Hidupnya diprediksi tinggal enam bulan—katanya kanker ovarium. Ibunya tidak mau anak gadisnya meninggal dalam keadaan lajang.”
Changbin memperhatikan sebelah pelupuk Chan berkedut, air mukanya berubah janggal. Hati Changbin mencelus. Dia menemukan nyala liar yang sama di sepasang mata itu; tetapi senyum Chan tidak turun barang sedikit. Tanggap Chan, “Menarik .... Menarik sekali pola pikir orang-orang kebanyakan uang ini ....”
Si kuda gelisah mengentak-entakkan kakinya. Seserdak debu tanah akibatnya terbang berhamburan. Changbin berdehem. Nada bicara Chan membuat pun yang manusia, pun yang hewan tak nyaman. Balasannya disuarakan dengan kering dan agak serak, “Sebenarnya masih ada satu. Tapi karena katamu mayatnya cuma ada dua, bakal kutolak saja. Lagipula yang itu uangnya tidak terlalu banyak.”
“Hmmm ...?”
Hanya itu. Tidak ada sahutan lain dari mulut Chan.
Secara refleks, ditariknya tali kekang. Si kuda terlonjak dan meringkik—kali ini lumayan keras. Volumenya bisa jadi terdengar sampai ke permukiman. Agak panik, Changbin buru-buru pamit, “Ba-baik. Kalau begitu aku pergi dulu, Chan. Harus buru-buru menyerahkan mayat-mayat ini.”
Chan mengangguk. Tangannya melambai sebagai ganti kata-kata perpisahan. Pandangannya mengedar, mencerap kegelapan membentang—dan juga sebuah kereta kuda yang bersiap memintas pergi. Semesta sesungguhnya sedang sunyi, tentu saja rungu Chan menangkap tanya terakhir Changbin sebelum meninggalkan tempat tersebut.
“Omong-omong, mau kamu apakan uang sebanyak enam koper itu?”
Sahutan Chan dilantunkan dalam selarik ucapan simpel—yang kalimatnya kecil teredam bunyi derak roda dan sepatu kuda. Jika kepala Changbin menoleh ke belakang, akan disaksikannya mulut Chan lebar-lebar mengembang seringai. Dari kejauhan di tengah hutan serigala melolong dengan leher menengadah ke arah bulan. Chan sedang juga menikmati indahnya purnama sembari menunggu keberadaan Changbin seutuhnya hilang ditelan jarak.
“Akan kupakai untuk mempersiapkan pernikahanku, tentu saja.”
Di area lapang sekitaran tanah pekuburan, dibangun rumah kayu yang rangkanya hampir reyot. Orang-orang mengatakan itu bahwasanya adalah tempat tinggal tukang jaga kubur yang juga ahli membalsami jasad. Tidak seorang pun mengetahui jika malam ini telah terjadi upacara pernikahan di dalamnya. Jika ada yang berani datang mendekat, mungkin mereka tidak akan sekadar membaui raksi kematian yang menyengat—melainkan juga anyir mayat dan aroma kuat mani persanggamaan.
(Pernah sekali Chan punya cinta, bersemi indah seperti semak bokor berwarna cerah. Kembang itu selalu telaten dirawat dan dipupukinya, agar kelak bebungaannya sempurna mekar—juga dapat menghiasi hari-hari Minho yang berhujan.
Chan mempersembahkannya satu waktu kemudian, ketika kuncup bunganya mulai merekah dan dedaunannya hijau segar. Langit juga turut bersukacita; selebu membiru ditemani terang mentari musim panas di pertengahan Juli.
Diketuknya kayu pintu Minho; berseri mengembang senyum paling tulus dengan hati yang girang meletup. Kantung kemejanya dipergunakan untuk menampung sepasang cincin serasi—yang salah satunya akan terlihat begitu cocok di jari manis Minho, pikirnya naif.
Namun, sayang.
Badai telah ganas berkecamuk bagi Minho sewaktu dia membuka pintu. Bibir itu terkatup pucat, rona wajahnya hilang telak. Dengan kuyu dia tegas menolak tanpa pikir-pikir lagi. “Maaf, Chan,” katanya, “orang sekarat sepertiku ini tidak pantas untuk menerima cinta.
“Aku sudah menerima keputusan Ibu buat menerima perjodohan, soalnya beliau ingin melihatku menikah sebelum mati sebentar lagi. Kami akan menikah tiga bulan lagi.
“Penyakitku makin parah. Aku telah menyerah; lebih baik kamu juga.”
Dan bersamaan dengan pintu yang berayun menutup, ada sesuatu dalam Chan yang turut terkatup. Langkahnya hampir limbung. Ucapan Minho terus terngiang dan menghantamnya sampai hancur. Dengan kepergiannya dari pekarangan Minho—hidup Chan juga telah sepenuhnya direnggut.
Sejak saat itu Chan telah mati. Bahkan untuk sekeping hati juga sudah tak lagi bersisa.) []
***
Catatan Kaki:
- Diadaptasi berdasarkan tradisi Pernikahan Arwah (冥婚, mínghūn, posthumous) milik Tiongkok kuno, di mana upacara pernikahan dilakukan ketika salah satu atau kedua mempelai merupakan orang yang sudah meninggal dunia (mayat). Praktik ini masih diakui di beberapa wilayah Tiongkok dan beberapa etnis di Asia. Orang Tiongkok menganggap bukan merupakan hal yang baik jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan lajang.
Dengan rasio populasi pria dan wanita yang tidak seimbang, dalam beberapa kasus banyak orang kaya yang rela membayar mahal agar anak laki-lakinya menikah dengan mayat. Pada tahun 2015, terdapat 14 kasus pencurian mayat wanita untuk kemudian dijual dengan harga tinggi dan “dinikahkan” dalam praktik ini. Seorang laki-laki di Mongolia juga ditahan akibat membunuh seorang wanita untuk dijual dengan alasan serupa. Meskipun begitu, belum ada larangan resmi dari pemerintah yang melarang praktik Pernikahan Arwah sampai saat ini. Namun perlu diingat, seluruh aksi yang dituliskan dalam cerita ini, tidak lebih dari sekadar fiksi yang mengadaptasi dan memodifikasi konsep tradisi, semata untuk keperluan cerita. - Dalam keadaan normal tanpa pengawetan dan pembalsaman, jasad manusia akan mengalami kekakuan mayat (Rigor mortis) hingga sekitar 12 jam sesudah kematian. Setelah 24—36 jam, kekakuan akan mereda. Sementara itu, jarak waktu pembusukan mayat beragam, tetapi secara umum akan mulai mengeluarkan bau kurang sedap pada awal 8—12 jam usai kematian.
- Pendarahan pada mayat tidak akan terjadi jika mayat mengalami pembalsaman. Formalin dan zat awetan lain akan menghentikan fungsi biologis pada jasad, sehingga jaringan sel akan berhenti terdekomposisi, dan darah juga akan mengalami pembekuan. Dalam fanfiksi ini, Chan tidak melakukan pengawetan pada jasad Minho.
