Actions

Work Header

Animal

Summary:

Tidak ada yang tahu kapan ketiga putra Jaehyun memiliki ketertarikan 'lain' pada ibu mereka sendiri.

Notes:

fiksi. FIKSI. Sesungguhnya di dunia nyata penulis tidak mendukung hal keji seperti ini. Silakan balik kanan bubar jalan kalau jijik. Penulis merasa pembaca yang baik tidak perlu memusingkan imajinasi karena ini hanya fiksi. Berhubungan dengan spiritual tidak pernah berakhir baik.

Chapter 1: Prologue

Chapter Text

"Wah, Renjun datang sama anak-anaknya."

Wanita cantik nan terlihat awet muda meski memasuki usia 40 tahun tampak berseri-seri ketika kedatangannya disambut dalam agenda arisan tahunan. Ia datang mengenakan gaun formal yang sangat indah membaluti lekuk tubuh dengan warna menyala untuk menghidupkan kulit putih mulus.

Tak jauh dari figur seorang, ketiga pemuda tampan berdiri bak pengawal, penjaga sang ibu. Jeno anak pertama yang memancarkan aura dingin, tetapi dapat mengukir senyum manis bila ibunya menyenggol dikit, Jaemin anak kedua yang sudah tersenyum lebar sedari awal ditegur sapa teman-teman Renjun, sementara Jisung si bungsu yang masih malu-malu karena kepribadian anti sosialis, terutama di kalangan wanita sepantaran ibunya.

"Ganteng bener anak-anaknya, nurun dari Papanya banget ya."

"Kebetulan aku cuman ngandung mereka doang, selebihnya benih Mas Jaehyun yang kerja keras." sahut Renjun membuahkan gelak tawa dari teman sepermainan yang menyetujui jawaban. Dia melirik anak-anaknya bergantian, mematri senyum manis yang selalu membuat mereka bertiga memandang Renjun bagai berlian.

"Tapi Jeno sudah mau 25 kan, Ren? Nggak ada niatan cari istri gitu?"

Mulai. Bukan acara arisan kalau nggak ada pertanyaan ginian. Jeno tampak memutar mata malas, sementara Renjun menggamit lengan sang sulung agar tetap memperlihatkan kesantunan.

"Rencananya dia mau bangun bisnis dulu, Papanya kan baru meninggal, biar bisa ngurus kerjaan Mas Jaehyun sama Jaemin."

"Eh kalau kamu nggak pengen nikah lagi abis Jaehyun berpulang?"

Renjun menahan senyum lebar, kemudian menggeleng-geleng kecil diselingi gelak, "Nanti aja," jawabannya terpotong ketika pinggang seorang diremas oleh Jeno dan Jaemin bersamaan, bak ingin memperlihatkan dominasi serta siapa yang memegang kendalinya saat ini. "belum ada pikiran mau nikah."

"Kalau berubah pikiran, aku punya kenalan duda yang tertarik sama kamu."

Jisung berdehem, membuahkan perhatian dari Renjun sehingga percakapan mereka terhenti sejenak, "Adek mau cari makan, Mi."

Renjun mengangguk, "Iya, bawa kakak-kakakmu sana."

Putra bungsunya menatap kedua abang di belakang Renjun dengan tatapan, 'mending kita pergi daripada kalian terkam Mami di sini.'

"Ayo! Ayo kalian makan dulu sana biar Mami kalian lanjut ngobrol sama kami." Mau tak mau, Jeno menurunkan tangan dari pinggang Renjun, bersamaan Jaemin juga melepaskan pegangan di bagian satunya lalu mengekori langkah sang adik ke tempat bermacam makanan.

Sepeninggal anak-anak Renjun, salah satu temannya berbisik. "Kamu nggak mau jodohin Jeno atau Jaemin ke anakku, Ren? Bukannya seusia mereka sekarang sudah bisa gaet perempuan?"

Renjun hanya melebarkan senyuman, menoleh untuk melihat gerak-gerik ketiga putranya, kemudian mengedikkan bahu.

"They already have someone in their mind." jawab wanita rambut pirang tersebut seraya mematri senyum penuh arti. Seolah menggantungkan jawaban, tidak terlalu memusingkan pertanyaan acak dari teman-teman.

Karena sesungguhnya, dibalik ketampanan ketiga putranya, dibalik ketidakinginan menikah dari anak-anaknya serta kecantikan Renjun yang tidak pernah luntur setiap kali naik usia, ada sebuah rahasia besar yang tidak akan pernah disangka semua umat.

Mari kita bedah.

.

.

.


"J-Jeno.. pelan-pelan Sayang."

"Nghh.. Jisung, nenen Mami di kiri belum.."

"J-Jaem- mmhhh.."

Semenjak Jaehyun pergi selamanya. Ke neraka kalau Renjun bilang, ia tidak pernah merasa sendirian. Dia tidak pernah merasa kurang kasih sayang. Apalagi belaian. Khususnya sentuhan, seperti sekarang. Sejak Jaehyun dikuburkan, ketiga putranya mendadak tidak punya moral seperti dirinya. Sejak ilmu hitam Jaehyun ia gunakan, Renjun tidak pernah secantik dan seseksi ini di usia memasuki 40 tahunan.

Tangan-tangan gratil selalu menggrayangi tubuhnya. Memainkan puting ranum, mengubel-ngubel pusar, terkadang kewanitaan becek pun kena jari-jari nakal. Renjun selalu puas ketika mereka main berempat, ketika Jisung mendamba buah dada, ketika Jaemin menyelipkan penis di mulut kecilnya, ketika Jeno menggoyang seolah-olah kasur terkena gempa lokal.

Nanti mereka akan berputar setelah keluar sekali. Sesudah membanjiri Renjun dengan peju pertama, sesudah ibu yang mengandung mereka mancur membasahi siapa penggenjot pertama, barulah posisi mereka ditukar.

Tidak ada yang ingat kapan Renjun memberi izin. Tidak ada yang ingat kapan tiga putranya seperti ini. Jaehyun tak pernah dirasa mengajari, atau tak pernah memperbolehkan mereka menonton saat ia  menggoyang sang istri tiap hari di sudut rumah manapun.

Renjun berusia belia, 15 tahun. Memasuki 16 tahun ia melahirkan Jeno. Parasnya tetap menawan di mata Jaehyun, yang memiliki perbedaan 5 tahun lebih tua darinya. Wanita itu seorang manusia lugu, mengiyakan tawaran Jaehyun buat dinikahi, kabur dari rumah seperti indikasi penculikan dan tidak pernah bertemu keluarga lagi. Renjun ingat dia bertemu Jaehyun depan gerbang sekolah, diiming-imingi uang, mengekori langkah pemuda itu ke sebuah hotel esek-esek buat mengangkang, pecahlah selaput dara seorang, membuahkan kehamilan.

Jaehyun bertanggung jawab, memang mengincar Renjun sejak gadis itu berusia 13 tahun, bermain bersama teman-teman sebaya di sebuah karaoke tempat Jaehyun biasa nongkrong jua. Butuh waktu 2 tahun mencoba mengumpulkan informasi, baru sempat direalisasi sesudah gadis pujaan berusia 15 tahun.

Renjun putus sekolah, Jaehyun tetap bekerja sambil kuliah. Mereka langsung dikaruniai anak laki-laki pertama, diberi nama Jeno. Hidup mereka pas-pasan, namanya juga bermodalkan cinta, apa yang kamu harapkan untuk mengasuh anak di usia muda huh?

Sebelum Jaemin dibuat, Jaehyun belajar ilmu hitam agar cepat kaya. Benar, kekayaannya berlangsung cepat setelah menandatangani perjanjian jiwa dengan Mammon The Greed. Pesona Renjun membuat pasangan dari sang iblis tertarik, meminta Renjun juga ikut belajar supaya tetap cantik dan menggoda sampai tua nanti.

"Kelak, jika suamimu mati, kamu tidak perlu repot-repot mencari pengganti."

"Kenapa?" tanya Renjun keheranan. Asmodeus menyeringai.

"Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu nanti, bersabarlah."

Dari sana kita dapat menghubungkan kenapa Renjun terlihat kesenangan walau sedang menyatukan tubuh dengan darah dagingnya. Renjun merasa disayang, tiga kali lipat. Merasa didamba seperti perempuan kebanyakan, merasa dirinya adalah wanita beruntung karena perhatian anak-anaknya tercurahkan kepada dirinya seorang. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana Jeno menumbuhkan rasa ingin meniduri ibunya, tidak ada yang tahu bagaimana awal mula Jaemin gatal merapatkan tubuh pada lekukan badan ibunya, dan tidak ada yang tahu isi kepala Jisung ketika satu malam ia mengendap-ngendap ke kamar orang tuanya lalu menghisap puting Renjun sampai ibunya becek tidak ketolongan.

Kisah ini akan dibuka, mulai dari Jeno dan kebimbangan moral yang ia pertanyakan sejak menumbuhkan rasa penasaran tentang kemolekan sang ibu dalam kehidupannya.