Chapter Text
Suatu malam, Renjun bermimpi.
Entah benar mimpi atau nyata, Renjun tahu apa yang ia hadapi saat itu.
Sosok Asmodeus tak pernah absen seutuhnya dari kehidupan abadi Renjun. Siapa dia berani membalikkan badan pada sang Penguasa Kegelapan kalau bukan karena sosok tersebut yang telah mengubah hidupnya menjadi lebih indah? Khususnya dikaruniai tiga putra gagah perkasa yang melayani dirinya setiap saat demi melancarkan misi duniawi.
Asmodeus tetap berkepala tiga. Sekilas Renjun teringat putra-putranya dan membayangkan bahwa tiga kepala Asmodeus merupakan simbol dari mereka. Kambing, banteng, dan singa bersatu mengelilingi wajah asli, figur kekar berotot di setiap lekuk, selalu mengingatkannya pada ketiga anak tampan miliknya. Renjun pasti terbuai tiap kali Asmodeus datang, merengkuh bak permata, tersenyum sangat lebar tak menampakkan ketakutan.
"Master.."
"Renjunnie." panggil sang Pangeran mengelus pipi merona. Renjun memejamkan mata sejenak, membuka perlahan-lahan, menampilkan retina yang berkilau cerah. "I want you to conceive."
"Huh?" mendengar kalimat terucap, mengundang mata bulat terbelalak disertai raut disapa rasa heran. "Conceive? Master mau aku.. hamil?" selama lebih dari satu dekade menjadi pengabdi, Renjun sama sekali dibuat tak bisa hamil. Padahal dia mengalami menstruasi sampai saat ini, digauli dalam keadaan apapun, baik masa subur maupun sedang haid.
Asmodeus menggumam, tak meruntuhkan keseriusan. "Ya. Dari Jeno dan Jaemin."
"Tapi gimana caranya? Kami selalu main bersama dan mereka nggak absen memenuhi rahimku, Master." jawab Renjun malu-malu. Wajah ayu ditatap lekat oleh empat pasang mata dari masing-masing kepala, amat terpesona pada sorotan yang memancar dari netra serupa rubah itu. Asmodeus memang jatuh cinta sama Renjun saat pertama kali Jaehyun memanggil Mammon, tergerak hatinya menginginkan Renjun patuh, perlu momen ketika Jaehyun selingkuh terlebih dahulu agar Renjun mencari sosoknya dan bersimpuh.
"Kalau aku berkehendak, segalanya akan terwujud." Tiba-tiba Renjun melihat asap putih tertiup ke arahnya, mengakibatkan ia segera membuka kelopak di dunia nyata dan pemandangan pertama yang ia temukan adalah dada bidang Jaemin.
Oh wow, what a dream. Renjun antara kaget sama nggak kaget beda-beda tipis. Dia juga nampak biasa setelah didatangi lewat mimpi. Perihal dia harus memberi Asmodeus keturunan baru, apakah akan sama gilanya seperti putra-putranya nanti?
"Mami disuruh hamil."
Waktu seakan berhenti, Renjun tidak memahami bagaimana air muka mereka berganti dari yang biasa saja menjadi hening. Dari Jaemin yang sempat menggoda si bungsu, berubah sunyi, mengundang bunyi jangkrik. Krik krik krik.
"Siapa yang suruh?" tanya Jeno hati-hati, bukan bermaksud menghakimi tetapi rasanya tiada satupun kolega dekat maupun teman arisan Renjun berani mengatakan hal menggelikan kepada wanita yang ditinggal mati suami.
Renjun mengulas senyum, baru paham akan reaksi. "Master. Dia minta keturunan, dari Abang Jeno sama Mas Jaemin."
"Adek nggak?" Jisung kedengaran bertanya diselingi kepala miring sedikit. Selalu dia yang ditinggal, selalu dia yang dijadikan opsi terakhir bila menyangkut kejadian besar. Renjun agak ragu menjawab, berusaha mencari kalimat yang pas.
"Mungkin Adek nanti, Mami nggak dikasih tau lebih jelas sama Master. Intinya biar kalian keluar di dalam Mami, anak yang lahir nanti antara anak Jeno atau anak Jaemin." Renjun tahu Jisung tentu merajuk saat mendengar berita ini. Namun ditelisik dari wajah putra bungsunya, Jisung terlihat netral seolah tidak begitu mempermasalahkan asalkan dia tetap mendapat perhatian setara dari yang lain.
"Nggak masalah sih, Adek belum kepikiran pengen punya anak."
Jaemin dan Jeno sontak menoyor kepala adik terakhir, membuahkan pekikan kesakitan sekaligus tak terima bersamaan Renjun tergelak geli.
"Emang ntar jadinya gimana? Anak apa saudara hah? Lahir dari memek Mami tapi pake pejunya Mas."
Wanita cantik itu mengedikkan bahu, "Entahlah, kita lihat aja ke depannya gimana setelah dia lahir."
Sejak pemberitahuan tersebut, mereka tambah gencar mewujudkan permintaan Asmodeus. Tidak peduli kapan, dimana, yang pasti setiap hari karena Renjun tidak mungkin melewatkan ritual pengabdiannya pada sang pangeran. Selang beberapa bulan, mungkin sekitar tiga bulan, kabar gembira berhembus di hunian. Renjun menjerit hampir meloncat kesenangan begitu mengetahui ia telat datang bulan.
"Abang! Masss! Adeekk!" siapapun dari ketiga putranya ia panggil satu-satu membuahkan derap langkah kaki terdengar kencang menggetarkan lantai rumah menuju kamar utama. Renjun tampak berseri-seri sembari memamerkan kertas tipis dengan dua garis merah nan terang.
"Serius?" Jaemin mengambil duluan untuk diinspeksi, sementara Jeno sudah memeluk erat tak lupa mengayunkan ibu mereka yang tergelak kegelian. Jisung bergabung dengan Jaemin, manik mengerjap-ngerjap lucu, tidak memahami apapun. "cepet juga langsung tekdung."
"Adek nggak ngerti, garis dua gini artinya hamil?"
"Iya, Adek," jawab Renjun berseri-seri, "kalau garisnya cuman satu berarti nggak hamil."
"Bisa gitu ya?" gumam Jisung mengangguk-ngangguk ternyata mengundang Jaemin memukul pelan tepat di bagian belakang kepalanya. "aw! Kenapa Mas?!"
"Makanya belajar, bukan ngenak doang!"
"Dih, kayak Mas nggak aja, lebih sange lagi dari Adek."
Dibanding mendengarkan perang mulut kecil-kecilan dua anak terakhirnya, Renjun lebih milih dicium Jeno kala si sulung tanpa suara menarik dagu mungil mendekat ke wajahnya. Seiring cengiran manis terpatri di rupa ayu, mata Renjun sampai tertutup saat bibir mereka menyatu. Melenyapkan pertikaian yang berganti nada tak terima Jeno sering curi start duluan.
Yah, kalau sudah begini, Renjun hanya bisa meringis membiarkan anak-anaknya rebutan. Telapak mungil secara sadar mendarat di perut tepat rahim berada, merasakan sesuatu bergerak-gerak halus pertanda seonggok darah mulai berkembang menjadi calon buah hati mereka, entah milik Jeno atau milik Jaemin, Renjun tidak mengindahkan selain membayangkan ekspresi Asmodeus begitu tahu dia memenuhi permintaan sang Penguasa Kegelapan.
.
.
.
Jeong Haerin. Anak keempat Renjun tetapi anak Jeno pula. Putri kecil yang menghiasi rumah dengan tangisan kencangnya setelah 21 tahun sejak Jisung lahir selaku anak terakhir. Haerin merupakan keturunan perempuan pertama Renjun, bukan dari Jaehyun, tapi berasal dari anak sulungnya. Memiliki berat hampir sama seperti kakak-kakaknya, hanya saja menangis pilu menyayat hati siapapun yang mendengar.
Dan inilah kisah Haerin, putri Renjun pertama yang sama gilanya dengan keluarga sekarang.
