Chapter Text
DARI SD, Bima bukan cowok caper yang tengil dan suka ngirim surat ke cewek-cewek dengan memperalat muka gantengnya kayak temen sekelasnya yang lain. Bima itu kalem, walaupun masih bisa diajak ngerusuh sambil ultras. Bima pinter banget, walaupun mau-mau aja diajak nyuri KJ pas UTS dan UAS. Bima juga sebenernya polos — well, at least di mata gue — walaupun waktu itu pernah masuk list nama yang nobar film porno di perpustakaan.
Sifat asli Bima dan cara dia bersosialisasi sama yang lain bener-bener kontradiktif: dia selalu bisa menyesuaikan diri. Pinter juga (oke, ini udah gue sebut dua kali). That's why diam-diam banyak cewek dan cowok yang kagum sama dia — terlepas dari dia yang emang ganteng lakik, berkulit tan, dan tinggi gagah.
Sebagai background, gue pindah ke sekolah baru ini sebenarnya karena ada kejadian gak mengenakkan di sekolah lama — salah satu gurunya digosipin jadi tersangka pelecehan anak di bawah umur. Gue agak bernapas lega juga waktu itu karena ngerasa akhirnya persaingan ranking akan lebih longgar di sekolah yang baru — which is negeri, karena sekolah lama gue itu swasta, dan gue pikir anak negeri itu lebih nyantai. Makanya pas Ayah gue bilang, "udah pindah ke negeri harusnya bisa juara kelas, ya, Cak (dibaca Ca' bukan Cak pake K)," di suatu malam — ketika gue, beliau, dan Ibu lagi makan bareng — gue cuma berdecak dalam hati, senyum-senyum sendiri. Si pikmi ini berekspetasi akan jadi si anak baru yang tiba-tiba jadi ranking 1 disini. Ternyata enggak. Gue jumawa.
Sekolahnya — di luar dugaan — nggak main-main. Walaupun nggak ada AC atau fasilitas tambahan lain kayak di sekolah gue yang lama, kualitas muridnya nggak ketebak. Gue yang tadinya selalu bertahan di tiga besar, jadi keluar dari sepuluh besar di sekolah ini. Ini kenapa gue dimasukkin ke bimbel. Ayah agak bete.
Nah, di tempat bimbel ini, gue bergaul dengan beberapa teman di sekolah baru yang ternyata les juga di sini. Pada saat itu, gue sama sekali belum kenal Bima. Gak pernah liat mukanya, gak pernah denger namanya. Baru setelah selang seminggu, ketika kelas kedatangan anak baru — di sinilah momen gue kenal sama dia.
Bima.
Gue baru tau kalo gue dan Bima itu anak baru yang kebetulan sama-sama masuk di kelas lima semester dua. Wajar, kata Gio, mungkin karena dia gak sekelas sama lu, Sak (nah ini bacanya baru pake K). Dari Gio juga gue tau, Bima tinggal di perumahan yang sama. Bedanya gue di Blok Y, dia di Blok A. Cuma emang lebih jauh ke rumah gue dibanding ke rumah dia kalo dihitung dari jarak tempat bimbelnya. Makanya gue pulang-pergi bimbel dijemput Ayah.
Seiring waktu berjalan, di tempat bimbel, Bima masih diem aja. Gak kayak anak-anak lain yang bercanda mulu. Dia lebih sering nyimak — merhatiin. Tapi, kalau ditanya dia jawab. Misal ada soal atau jawaban yang salah juga kadang dia nanya untuk koreksi. Berbanding terbalik dengan gue yang malah asik ngobrol dan melupakan tujuan gue untuk ngambis.
Kemudian hampir setahun lebih berlalu.
Gue masih jadi Sakti yang ambis. Dalam dua semester, gue bisa rebut posisi ranking dua. Oh, dan selama itu pula, interaksi gue sama Bima yang tadinya gak ada jadi lumayan berkembang - mungkin karena kebawa euforia candaan anak-anak lain juga. Yah, walaupun cuma sekedar ngata-ngatain nama orangtua doang sih. Gak ada topik lain selain manggil nama ortu pada saat itu. Belum ada.
Setelah lulus SD, gue dan Bima masuk SMP yang berbeda. Dia masuk sekolah yayasan kristen, sementara gue milih untuk tetep di negeri. Tapi kita masih satu les, dengan beberapa teman yang berkurang karena mulai ninggalin tempat bimbel satu persatu. Sementara perubahan itu berlangsung, gue dan Bima masih sama. Kadang akrab, kadang canggung. Gak pernah ngobrol serius, cuma terlibat interaksi kalau lagi saling lempar candaan doang di kelas.
Ada momen mayor yang membangkitkan memori gue soal Bima. Sampe sekarang bakal selalu gue inget, tapi gak bisa mecahinnya. Cuma bisa gue tebak-tebak.
Suatu hari — pas kita sama-sama udah kelas delapan — setelah setengah jam berlalu dari selesainya kegiatan bimbel, gue masih duduk di sofa tempat les, nunggu dijemput. Kayak biasa. Jam dinding waktu itu nunjukkin pukul tujuh.
Bimbel ini jauh dari kata formal, mungkin karena rukonya juga dipakai sekaligus sebagai rumah sama pemiliknya. Makanya, karena udah terbiasa liat gue nunggu dijemput Ayah sampe berjam-jam, Bu Airin ninggalin gue ke atas, nitip pesan buat nutup pintu gerbang.
Gue pikir kesisa gue sendiri di sini.
Tapi ternyata Bima juga masih di sini, dia baru keluar dari kamar mandi. Alhasil, berikutnya kita duduk hadap-hadapan — dia di sofa seberang. Hening. Banyak nyamuk karena pintu emang dibuka. Gue baca buku Fantasteen. Dia kayaknya bengong, mainin tali ransel.
Awkward.
Hampir lima belas menit dan akhirnya ada suara klakson yang gue harapin daritadi untuk terdengar. Gue natap Bima yang ternyata lagi main rubik, "kata Bu Airin kalo udah dijemput tolong tutupin pintu relnya, gue duluan."
Bima gak ngangguk atau lirik gue. Masih mainin rubik. Gue pun gak nunggu reaksi dia, jadi gue langsung jalan keluar, ngelewatin parkiran dengan nggak peduli dan langsung masuk ke mobil.
"Sepeda siapa itu, Cak? Ada yang belum pulang?" tanya Ayah pas gue nyender ke jok mobil.
Denger itu, gue langsung ngelirik ke parkiran. Lah iya, ada sepeda item. "Nggak tau, tadi sih Bima masih nunggu jemputan."
"Loh, terus itu sepeda siapa?"
Gue baru inget, Bima mulai berangkat-pulang pake sepeda sejak kelas delapan ini. Dan lagian ngapain juga pake jemputan, dia ngesot beberapa menit juga kayaknya nyampe deh.
Setelahnya Ayah mulai nanya-nanyain perihal Bima. Gue jawab seadanya. Bener-bener seadanya. Kayak:
"Iya, namanya Bima."
"Di Blok A rumahnya."
"Anak Xaverius."
"Waktu itu pernah se-SD, dia juga anak baru."
"Gak tau, seingetku pindahan dari Malang."
Segala pembicaraan soal Bima mengalir setelah itu. Dari yang gue cuma jawab seadanya, karena pertanyaan memancing dari Ayah, obrolan ini jadi memanjang sampe ke sifat dia gimana. Semuanya gue ceritain ke Ayah. Ayah cuma senyum-senyum. Dia bilang, dia seneng gue cerita. Terus gue bales, "lagian makanan mulu sih yang diurusin," Ayah cuma ketawa. Iya juga ya, kemeja Ayah sampe bau saos gini. Gue terkekeh.
Di situ, gue masih lugu dan nggak nyadar sebetulnya apa yang gue rasain ke Bima. Gue gak paham sama yang namanya suka-sukaan, apalagi yang namanya diam-diam naruh perasaan, atau istilah lainnya yang menurut gue menggelikan untuk disebut.
Jadi, ketika hari-hari selanjutnya berjalan dengan gue yang telat dijemput sementara Bima masih belum pulang, gue tetap berpikiran positif bahwa dia emang selalu telat dijemput juga.
Ngelupain kehadiran sepeda hitam yang selalu dan masih bertengger di parkiran tiap gue dijemput.
