Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of The Milky Ways
Stats:
Published:
2026-06-16
Words:
1,765
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
4
Hits:
29

Angsa di Tengah Laut

Summary:

Sebagian dari sisa-sisa kehidupan Bimantara Samiri.

Work Text:

Jusuf tidak akan pernah bisa membenci apapun perihal Sakti. Sakti tidak bisa berpikir selayaknya orang normal. Bima tidak pernah benar-benar mencintai Sakti. Dan, yang paling penting, Sakti itu sudah mati setahun yang lalu.

Pada hari-hari tertentu, yang didengar Jusuf adalah nama Sakti setiap kali Jusuf berhubungan badan dengan Bima. Di hari lain, Bima akan terbangun di tengah tidurnya dan yang keluar dari bibirnya adalah seruan untuk Sakti. Sisanya, Bima masih bisa berfungsi, terutama ketika mereka memakan sate padang kesukaan Bima.

Jusuf satu tahun di atas umur Bima. Mereka bertemu di suatu kepanitiaan untuk eventbesar tingkat Univ. Jusuf si anak Ilpem yang hobi foto dan Bima yang demen analog, bonus jago desain pake Adobe. Alhasil mereka disatukan di Divisi Pubdekdok. Keseringan di-plotting berdua, ngobrol, akhirnya cocok.

Dari situ, Jusuf jadi tau, Bima sudah sejak SMP bermasalah dengan mentalnya. Lulus SMP sudah biasa dibawa bolak-balik untuk dirawat di rumah sakit jiwa. Lalu, meninggalkan rumah saat tahun terakhir SMA hingga sekarang tahun terakhir perkuliahan. Keluarganya berkecukupan, tapi Bima gak kuat dengan omongan mereka.

“Emang mereka ngomongin apa?”

“Banyak. Tiap kali aku suicide attempt, aku dimarahin karena ngabisin uang sama waktu. Mama ‘kan gak mungkin sendirian doang bawa aku ke rumah sakit, jadi emang lumayan ngerepotin bude-pakde.”

Bima juga mulai bercerita tentang kasus Papanya di bulan ketiga mereka resmi berpacaran. Jusuf pernah dengar berita itu. Sempat viral satu Malang karena Kakek-Nenek Bima (orangtua dari Papanya) adalah pemilik yayasan pesantren di sana. Untuk bertemu langsung anak dari pelaku, Jusuf harus menahan rasa kagetnya. Sewaktu berjalan, kebencian pada pelaku yang tadinya hanya membuncah di dada Bima kini merambat juga ke dada Jusuf.

“Gimana, si Bima? Adek lu?”

Jusuf menaikkan kedua alisnya, tersenyum melihat Dito tiba-tiba muncul di ruangan kerjanya. Well, agak janggal juga mendengar Bima disebut sebagai adiknya. “Aman, kemaren abis Yudisium.”

“Syukurlah,” Dito mengedarkan pandang. Seisi kantor sudah mengantre untuk finger print. “Gak nangis tapi dia, denger bokapnya itu?”

Tawa kecil Jusuf terdengar. “Lu ngapain sih, bisik-bisik gitu. Tempat gua udah kosong gini.”

Dito terkekeh. “Sieun kadenge ku batur, bor.” (Takut kedengeran sama orang)

Jusuf mengedikkan bahu seraya memandang satu-dua orang yang masih ada di seberang kubikelnya. “Biasa-biasa aja," ujar Jusuf, mengarah pada topik tentang Bima, "toh, dia juga emang udah cut ties sama bokap dan keluarga bokapnya. Malah lega udah dihukum.”

Dito mengangguk-angguk. “Masih sering minta lu anter ke makam Sakti?”

“Bawel juga ye, pertanyaan orang yang abis dimutasi.”

Jusuf tumbuh di lingkungan yang kelewat sehat. Ia tidak pernah dituntut apapun. Hampir setiap hari orangtuanya memberitahu bahwa mereka menyayangi Jusuf. Anak tunggal ini tidak pernah kekurangan apapun. Bertemu Bima berarti bertemu dunia baru bagi Jusuf. Dan, untuk mereka, beberapa bulan belakangan ini adalah yang terberat.

Selama beberapa bulan ini, Jusuf tidak pernah bisa pulang dengan tenang. Dia selalu mengkhawatirkan Bima. Frekuensi Bima ditemukan bersimbah darah atau mulut penuh busa bisa hampir setiap minggu. Bertahan satu bulan di rumah sakit jiwa, setelah Bima kembali Jusuf memutuskan untuk memboyong Bima ke kontrakannya.

Ketika keadaan mulai membaik, Bima terpaksa menetap di indekos lamanya karena jarak kampus dan kontrakan Jusuf yang cukup jauh. Sampai pada akhirnya Bima menyelesaikan sidang akhir dan Yudisium, Jusuf baru lega.

Jadi, ucapan Jusuf terkait kabar Bima itu sepenuhnya bohong.

Bima tidak baik-baik saja.

Lega Jusuf hanya ketika nama Bima muncul di notifikasi layar. Selebihnya hanya ada rasa khawatir.

“Mau makan gak?” tanya Dito saat keduanya menyatu dengan antrean absen.

Jusuf masih menggulir layar ketika mendengar pertanyaan Dito. Tanpa mengangkat wajah, Bima menjawab, “kagak. Gua mau ke tempatnya Bima.”

“Masih belum bales itu bocah?”

“Eh-eh, bales deng,” Jusuf mendahulukan absen jarinya. Kemudian berjalan ke pinggir untuk membalas.

 

Bima

tadi aku udah beli sate padang kok

ini masih nyisa, just in case kamu mau

Jusuf

Oke. Aku ke kamu



Perjalanan dari kantornya memakan tiga puluh menit untuk sampai di daerah indekos Bima. Dan selama tiga puluh menit itu, belum ada lagi notifikasi atas nama Bima. Jusuf juga tidak memikirkan apapun selain sate padang yang mungkin sudah mendingin. Bima baru-baru ini terobsesi dengan Miiko, kemungkinan besar sedang menonton tayangan itu di Youtube.

Jusuf menaiki beberapa anak tangga terakhir sebelum akhirnya pintu indekos Bima terlihat. Jendelanya tertutup tirai, tapi lampunya hidup. Setelah sampai di depan pintu, ia mengetuk pelan seraya memanggil nama Bima.

Satu menit, dua menit, hingga lima menit. Jusuf akhirnya mengintip sedikit dari bagian jendela yang tidak tertutup tirai. Ada selimut Bima yang tergeletak berantakan. Lalu sudah, tidak ada lagi yang terlihat.

“Bim?” Suara ketukan Jusuf semakin mengeras dan cepat. Degupan jantungnya terdengar hingga telinga. Ia benci sekali dengan momen seperti ini. Tidak ada lagi yang bisa membuatnya berpikir positif. Ini sudah terjadi berkali-kali. Dan tidak ada di antaranya yang berakhir bagus. “Bima, buka pintunya, Bim.”

Pintu terbuka dari kamar sebelah. Kepala Sharon dan Isa menyembul dari sana. “Kenapa, Mas?” tanya mereka bersamaan.

Wajah Jusuf memerah. Sharon dan Isa tau pemuda itu menahan tangisnya. “Kalian terakhir ngobrol sama Bima kapan?”

“Tadi jam empat masih buang sampah, kok, Mas,” jawab Isa. “Emang dikunci ya, Mas? Siang aku ke kamarnya dia gak ngunci sih.”

“Buka aja coba, Mas..” Sharon mencicit dari jauh.

Jusuf cuma bisa mematung. Merasa jadi orang paling sinting sedunia karena gak kepikiran untuk mencoba membuka pintu indekos Bima saking seringnya ia mengunci dari dalam. Melupakan perjanjian di antara mereka untuk tidak mengunci pintu kos sekalipun itu sudah malam sebagai syarat Bima dibolehkan kembali ke kosannya. “Belum saya coba buka daritadi,” ucap Jusuf lirih.

Tapi itu gak membuat Jusuf lega. Justru semakin kalut. Berkali-kali lebih kalut.

Jusuf menggenggam kenop dan mendorong pintu. Kemudian seperti yang sudah diekspektasikan, ada setengah badan Bima yang terlihat berbaring di antara pintu kamar mandi dan area luar. Jusuf bersimpuh seketika melihat pemandangan tak lazim itu. Badan itu tidak bergerak sama sekali. Jusuf tidak pernah melihat keadaan Bima yang seperti ini. Bima lebih sering tergeletak di lantai dan langsung terlihat kali pertama pintu dibuka.

Tapi, kali ini hanya kakinya yang terlihat.

Menuju kamar mandi dari arah pintu depan, Jusuf bergerak sedikit demi sedikit dengan lututnya sebagai pijakan pengganti. Lalu ia merangkak ketika kaki Bima sudah bisa ia sentuh. Sudut matanya langsung menangkap berliter-liter darah yang menggenang di lantai kamar mandi. Sementara ponsel Bima tenggelam di bak kecil persis di samping kepalanya, penyebab kenapa nomornya tidak aktif ketika dihubungi.

Napas Jusuf terputus-putus. Darah itu mengalir keluar dari luka menganga yang terbentuk secara vertikal di kedua lengan dalam Bima. Ada beberapa keloid yang ikut teriris. Garis kali ini lebih panjang dan lebar dari sebelum-sebelumnya. Lebih berantakan. Jusuf bahkan bisa melihat daging di salah satu lengan Bima.

“Bima,” Dengan tergesa, Jusuf berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia menekan leher Bima sebelum akhirnya mengangkat Bima dan berusaha menggendong badan yang mulai mendingin itu. Badan Bima sudah terkulai. Tidak ada degupan di lehernya. Dan, meskipun kini kemeja Jusuf bersimbah darah dan basah terkena kuyupnya Bima, laki-laki itu masih mencoba untuk berdiri. Namun, licinnya lantai kamar mandi membuat Jusuf mengumpat karena ia berkali-kali gagal mengangkat tubuh Bima. “Bimantara Samiri, bangun.”

Jatuh lagi. Jusuf mengorbankan punggungnya agar kepala Bima tidak terbentur dinding. “Bim, bangun,” ujar Jusuf. Suaranya pecah. Ia menangis dengan keadaan kepala Bima di pelukannya. “Bim, ayo bangun. Aku belum disuapin sate padang sama kamu, aku laper.”

Ada banyak perubahan nada pada suara Jusuf. Histeris, kesal, dan yang terakhir adalah nada yang biasa Jusuf keluarkan ketika mengobrol dengan Bima. Walaupun Bima sama sekali tidak menanggapi.

“Bim–a,” panggil Jusuf. “Bim, aku harus hidup kayak gimana kalo kamu gak ada?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jusuf di sore itu.

Yang ada hanya rembesan darah yang menyentuh hampir seluruh bagian kemejanya, teriakan Sharon dan Isa, lalu sunyi.

Indekos Bima sunyi ditinggal oleh kerumunan. Beberapa puluh menit lagi polisi datang. Tapi kali ini masih sunyi. Pintunya ditutup oleh Jusuf sementara Jusuf ikut masuk ke ambulans di bawah.

Masih ada sentakan suara kipas angin yang berputar di sini karena tertahan tembok. Bima lupa mematikannya. Colokan terminalnya juga masih hidup, ada beberapa kabel yang tertancap, Bima lupa mencabut colokannya. Seplastik baju yang baru datang dari laundry pun belum dibuka oleh Bima meskipun wanginya sudah menguar.

Namun, wangi itu nantinya kalah dengan bau amis dari kamar mandi. Nantinya, Jusuf akan kembali lagi ke sini setelah beberapa hari. Menerka-nerka bagaimana kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat dan mulai bertanya-tanya kenapa dia bisa merasa lega, ketika di indekos Bima, di waktu tersebut, laki-laki itu sedang meregang nyawa.

Nantinya, ketika Jusuf sudah duduk menyandar tembok, Jusuf bisa menemukan sisa sate padang yang sudah basi. Selimut Bima masih berantakan. Ada sisa snack yang ada di toples. Empat rangkap skripsi Bima yang ditempeli banyak post-it juga masih mendekam rapi di mejanya, bersebelahan dengan syal bertuliskan Bimantara Samiri, S. Sos.

Jusuf tidak pernah benar-benar menanyakan apa yang dirasakan oleh Bima. Yang Jusuf tau, Bima menderita karena setiap hari harus menghadapi cermin yang menampilkan bola mata yang persis dengan milik pelaku keparat Sakti. Bukan Sakti yang menghantuinya. Bima yang menghantui dirinya sendiri. Bima yang terjebak di keresahannya sendiri. Jusuf tidak pernah bisa menariknya.

Bahkan ketika perjanjian untuk tidak mengunci pintu sudah terlaksana, Jusuf masih juga tidak bisa menyelamatkan Bima.

Atau, mungkin, memang Bima yang tidak ingin diselamatkan.

Tapi, enggak kok. Jusuf menemukan banyak self-improvement book di antara buku-buku kuliah Bima. Jusuf menemukan pil-pil obat Bima yang sudah hampir habis. Jusuf juga menemukan banyak post-it yang berisi tulisan-tulisan pendek pada tembok di balik meja Bima.

Air mata Jusuf menetes melihat pemandangan post-it berwarna-warni tersebut.

Live. Breathe in, breathe out. Pinch. Sakti is alive there.

Sunyinya indekos pecah ketika Jusuf terisak.

Jusuf’s here. Stay away from the blades. Stay near the water. Take a whiff of something. Touch the ground. Hug yourself. Jusuf’s here.

Bima masih mencoba untuk hidup meskipun dengan hal-hal kecil. Meskipun pada akhirnya hal-hal kecil itu yang menuntunnya untuk berhenti hidup. Hal-hal itu yang diingat Bima ketika ia perlahan mengiris lengannya dari atas ke bawah. Bergantian dari lengan kiri ke lengan kanan.

You got your S. Sos. Pilnya dikit lagi habis.

Kedua post-it itu masih baru.

Hingga akhirnya Bima tersadar dan berusaha untuk mengetik pesan terakhirnya pada Jusuf, Bima masih mencoba untuk meraih air ke kamar mandi untuk menyadarkan dirinya. Tapi, mungkin takdir memang tidak pernah akan berpihak padanya ketika ponselnya jatuh tenggelam di bak.

Maybe it was his last straw.

Bima gak punya tenaga lagi untuk mencoba menghirup sesuatu dalam memancing kesadarannya. But he did touch the ground afterwards. He did hug himself. And Jusuf was there.

Jusuf’s here.

Jusuf di sini seraya membaca isi post-it itu berulang kali. Membayangkan detik demi detik setiap kali Bima diserang rasa bersalahnya. Setiap kali Bima membenturkan kepalanya. Setiap kali Bima mencoba meraih benda tajam dan merobek lengannya. Setiap kali napasnya tercekat.

Jusuf di sana hingga Bima tidak ada.

Bima benar.

Jusuf’s there.

Series this work belongs to: