Actions

Work Header

Kesayangan Dream

Summary:

sebenarnya bukan rahasia umum lagi kalau haechan memiliki tubuh yang cukup bagus untuk ukuran lelaki, bahkan fitur tubuh bagian depannya kerap kali diangkat dalam pembicaraan candaan ketika lelaki itu masih belia.

yang awalnya bahan candaan, lambat laun lontaran kalimat tersebut membuatnya sedikit risih.

why it feels like he’s being violated?

Notes:

hi…. its been awhile. this chapter is unbeta-ed & i’ll probably edit it later. so in the meantime, enjoy this new part of the series!

Chapter Text

it’s been the talk of the group, whispers between the staff and the center of attention from the members.

sebenarnya bukan rahasia umum lagi kalau haechan memiliki tubuh yang cukup bagus untuk ukuran lelaki, bahkan fitur tubuh bagian depannya kerap kali diangkat dalam pembicaraan candaan ketika lelaki itu masih belia.

dulu, haechan menganggapnya sebagai angin lalu—usaha membernya untuk mencairkan suasana dengan mempermalukan bagian tubuhnya yang ia anggap terlalu cewek. 

dulu, haechan hanya bisa menyilangkan kedua tangan di depan dadanya ketika anggota grupnya yang lebih tua mulai menggoda bagian tubuhnya itu.

yang awalnya bahan candaan, lambat laun lontaran kalimat tersebut membuatnya sedikit risih.

why it feels like he’s being violated?

makanya bertambah umur, haechan menganggap dadanya itu sebagai kekurangan.

postur tubuhnya memburuk—kebiasaan yang ia bentuk karena usahanya agar dadanya tidak menonjol.

unconsciously, he started to wear baggy shirts. meminta secara personal kepada stylist-nya untuk tidak memberikannya pakaian yang terlalu ketat ataupun terbuka selama masa promosi grup.

namun, semakin dirinya beranjak dewasa, haechan mulai mengerti cara menata diri. ia mulai berolahraga bersama jeno dan jaemin, meminta bantuan kedua temannya itu sebagai personal trainer-nya untuk membentuk tubuh.

haechan mulai fokus agar dadanya bidang, agar bagian tubuhnya yang selalu membuatnya tidak percaya diri akan menjadi salah satu asetnyaseperti jaemin yang kini memiliki dada yang benar-benar bidang.

it started well. he gained some muscles, his chest became more firm.

namun yang tidak ia duga, respon penggemarnya yang cukup membingungkan. ia kira, sama seperti jeno dan jaemin, penggemarnya akan tergila-gila dengan tubuhnya semakin bidang. besar.

bertahun-tahun berkarir menjadi idol, baru kali ini haechan merasa tidak memahami penggemarnya. di beberapa fancall yang ia lakukan, banyak fansnya yang bertanya (dengan nada yang sedikit kecewa!) apakah haechan akan terus membangun masa ototnya.

haechan buru-buru menenangkan, bahwa ia berolahraga hanya untuk kesehatannya bukan untuk membentuk tubuhnya. meskipun kenyataannya bukan seperti itu.

maka dari itu, haechan mengubah rutinitas gym-nya untuk persiapan solo debutnya. tidak ada lagi gerakan yang berfokus pada dada dan bahunya. semuanya kini diarahkan oleh personal trainer-nya (bukan jeno ataupun jaemin!) untuk berfokus pada glutes-nya. pada bokongnya.

bukan tanpa alasan kenapa pt-nya sengaja memfokuskan rutinitas gym pada bokongnya. haechan, yang kini lekuk badannya telah kembali seperti semula—leaner but still plumpy, mulai menjadi semakin percaya diri dengan gerakan tariannya. penggemar juga memberi feedback yang positif. 

tak terkecuali para anggota timnya.

dikelilingi oleh member yang rata-rata sepantarannya, membuat haechan lebih berani mengekspresikan diri. baik dengan kedipan genitnya di atas panggung, gerakan pinggulnya yang semakin terasah pun refleknya ketika temannya meremas pantatnya saat tampil.

sama seperti kali ini.

konser kesekian kalinya dengan dream. 

konser kesekian kalinya ia mulai memamerkan hasil olahraganya dengan meliukkan tubuhnya.

haechan menikmati tiap reaksi yang ditunjukkan oleh para teman-temannya itu. mark, yang akan tersenyum tidak percaya namun tanpa sadar tetap mendekat ke arahnya. chenle, yang akan menatapnya seolah-olah lelaki itu puas dengan tingkahnya. renjun, yang hanya bisa menatap pasrah dengan senyum lelahnya. jisung, yang mulai berani mengikuti permainan haechan dalam tiap gerakan. jaemin, yang bahkan secara terang-terangan merangkul pinggangnya. dan jeno…

dan jeno yang lebih gila memainkan bokongnya.

haechan bahkan sampai memekik kaget di tengah penampilan ketika ia merasakan jemari jeno menusuk celananya tepat di lubangnya.

matanya membulat, menatap jeno yang malah tersenyum puas soalah-olah tidak baru saja berbuat mesum padanya.

mengabaikan apa yang baru saja dilakukan jeno, haechan berusaha memfokuskan pikirannya yang kini mulai melayang

 

 

***

 

 

“emang pantat gue beneran semok ya?” tanya haechan kembali setelah kamera dimatikan. chenle tertawa, lelaki yang lebih muda itu merangkul leher haechan membawa kepalanya mendekat.

selama live after concert yang mereka lakukan, topik pembahasan member berputar pada pantatnya yang sekal. 

bahkan chenle sampai meremas paha dan pantatnya untuk membuktikan.

jeno yang sedari duduk di seberang haechan berdiri dan menghampiri keduanya. masih ada senyum menggoda yang entah kenapa sedari tadi tercetak dalam wajah lelaki itu.

mengikuti jeno, mark dan jaemin berdiri dan mengerubungi haechan dan chenle yang masih duduk—sedangkan jisung dan renjun sudah duluan keluar dari ruang tunggu tersebut.

“emang lo ga nyadar?” tanya jeno, yang dibuahi gelengan polos haechan. wajahnya beneran kebingungan.

“berat badan gue malah turun semenjak promosi solo kemarin,” jelasnya.

jaemin mengangkat sebelah alisnya, tidak suka tiap kali haechan bercerita kalau ia kehilangan berat badan.

“coba berdiri,” perintah jaemin.

“hah?” haechan menatap kebingungan lelaki di depannya ini.

“berdiri. gue pengen liat lo sekurus apa,” jelas jaemin. haechan mendengus kesal, “apaan sih. orang gue normal-normal aja!”

jaemin menatap chenle yang langsung dihadiahi senyuman oleh pria yang lebih muda itu. dengan cekatan, chenle menarik kepala haechan ke arah pangkuannya. membuat posisi haechan kini tengkurap dengan tidak nyaman di paha chenle. teriakan kaget muncul dari mulut haechan.

“chenle! apaan sih!” protes haechan, berusaha melepaskan diri dari kuncian tangan chenle. sejak kapan chenle sekuat ini? gerutunya dalam hati.

jeno, tanpa aba-aba, menarik kaos haechan yang masih terselip dalam celana jeansnya. haechan memekik kaget. tangannya langsung ke arah punggungnya, berusaha menahan jeno yang semakin kuat mengangkat kaosnya ke atas.

“jen lo apaan sih!” haechan berujar sedikit kesal.

jeno hanya tersenyum, “cuma mau buktiin lo kurusan apa engga.”

haechan memicingkan matanya ke arah lelaki itu. haechan menyadari bahwa akhir-akhir ini jeno memang lebih touchy kepadanya. entah itu sekedar mengelus kepalanya, mengusap perutnya, memeluknya dari belakang hingga memukul pantatnya.

tiba-tiba haechan menyadari sesuatu.

“jangan bilang akhir-akhir ini lo mukul pantat gue karena lo mikir gue semok?!” 

chenle tertawa mendengar sergahan haechan, lelaki yang lebih muda itu tidak kuasa untuk tidak memukul pantat pria itu.

merintih kaget, haechan berusaha bangkit dari posisinya. namun, dorongan dari tangan jaemin yang kini berada di pundaknya membuatnya kesusahan berganti posisi.

“apaan sih! lepasin gak!” kini nada haechan mulai terdengar hint kesal pada kalimatnya. pandangannya lalu tertuju pada mark yang sedari tadi hanya diam, “melk! bantuin gue!”

mark mengerutkan kedua alisnya, memandang haechan dengan penuh ketidaksukaan dengan cara haechan meminta tolong. sebelum ia sempat menjawab, suara staff membuat perhatian mereka teralihkan.

“guys, kalian mau balik kapan? mobil udah siap ya,” info salah satu staff mereka.

chenle buru-buru menutup mulut haechan sebelum lelaki itu berteriak rewel ke manajer mereka dan membiarkan mark menjawab.

“kita lagi bahas mau dinner apa. bentar lagi kita cabut ya,” ucap mark yang diberi anggukan setuju oleh staffnya.

kini di ruangan hanya mereka berlima dengan haechan yang semakin mengerang kesal. suaranya tertahan karena bungkaman chenle.

tiba-tiba, haechan merasa remasan kuat pada pantatnya. reflek, ia menjerit kaget dan memajukan pinggangnya—membuat bagian depan tubuhnya menempel pada paha chenle.

butuh beberapa detik bagi haechan menyadari bahwa posisinya kini makin tidak nyaman. chenle sudah tertawa puas ketika ia menyadari bagian atas dan bawah haechan bergesekan dengan pahanya.

jaemin mendengus geli, sedangkan jeno masih asik meremas pantatnya—bergantian, kanan dan kiri.

“le, lepasin deh kasian,” suruh mark pada akhirnya.

chenle memutar kedua bola matanya sambil melepas bungkamannya pada pria di pangkuannya tersebut, “emang ya dia kesayangan lo banget.”

mark tidak mengelaknya. it’s obvious.

mengambil kesempatan saat chenle sedang berbicara dengan mark, haechan langsung buru-buru bangkit dari posisinya. jeno dengan sengaja menarik tangannya dan membiarkan lelaki tersebut kembali duduk.

“lo semua apaan sih?” todongnya kesal.

alih-alih mendapat jawaban, jaemin malah memandang mark penuh tuduhan, “lo beneran yakin mau share dia ke kita?”

mark mengangkat kedua bahunya, “why not?

chenle terbahak sambil bertepuk tangan, “wah gila.”

haechan yang mendengar percakapan mereka semakin kesal. karena tidak hanya dirinya diabaikan, ia tidak tau sama sekali koteks dari kalimat yang jaemin lontarkan.

“tau ah. gue cabut,” gerutu haechan.

menyadari mood haechan yang sudah tidak enak, sebagai salah satu orang yang bisa grounding haechan, chenle langsung memeluk haechan erat.

sorry, didn’t mean to upset you. maksud jaemin tadi kita mau sharing room hotel aja malem ini. mau minum udah lama banget ngumpul.” jelas chenle.

haechan mengerutkan dahinya, “kok gue ga tau?”

jeno berdecak kesal, “makanya punya grup chat tuh dibaca!”

haechan memajukan bibirnya, “terus gue diajak gak?”

kini gantian jaemin yang berdecak kesal, “lah orang kita bakal ke kamar lo.” 

“dih ogah?” 

mark mengulurkan tangannya yang disambut ragu oleh haechan, “lebih enak buat lo juga kalau di kamar sendiri.” jelas mark yang lagi-lagi membuat chenle terbahak.

kesal karena dirinya seperti menjadi outsider, haechan melengos bete—membiarkan dirinya dituntun mark keluar dari ruangan.

samar-samar, sebelum haechan dan mark benar-benar keluar dari ruangan, ia mendengar suara chenle,

beneran udah lo pastiin aman kan?

 

Series this work belongs to: