Work Text:
ᨐฅ
Soonyoung tak tahu sudah berapa lama dirinya tertidur di atas kasur apartemen Wonwoo. Yang jelas, ketika ia membuka matanya, ia tidak menemukan si pemilik kamar di sana. Ia bangkit dari tidurnya sembari duduk, tak sadar bahwa ia tak mengenakan sehelai bajupun. Gadis itu nampak terdiam, menatap seluruh isi kamar Wonwoo yang ia sudah hapal di luar kepala dengan wajah mengantuk.
Kondisi Soonyoung saat itu memang sekilas terlihat seperti orang baru bangun tidur. Namun, apabila diamati secara seksama, ada bekas keunguan yang tak hanya ada di leher gadis itu, tetapi juga di sekitar dada montoknya.
Si Gemini lalu menghela napas, tak ambil pusing untuk bergerak sebelum suara barang jatuh membuatnya terkesiap. Penasaran dengan apa yang terjadi, Soonyoung lalu berdiri, meraih kemeja Wonwoo yang entah kenapa sudah berada di dekatnya dan berjalan keluar kamar.
Saat ia berhasil mencapai dapur, ia melihat Wonwoo yang hanya memakai boxer-nya tengah bersungut-sungut sembari memegang spatula yang Soonyoung tahu itu adalah barang yang terjatuh tadi. Sambil menyilangkan tangannya, Soonyoung bersandar di dekat sekat dapur, mengamati Wonwoo yang sepertinya belum sadar bahwa ia sudah bangun.
“Ribut banget pagi-pagi. Masak apa, ganteng?”
Suara Soonyoung yang terdengar sedikit serak dan mendayu berhasil membuat Wonwoo menoleh. Hanya sebentar, sebelum lelaki itu kembali fokus ke kompor yang ada di depannya.
“Blueberry honey pancake, your favorite.”
Soonyoung hanya mengangguk, “Thank you.”
Wonwoo tak membalasnya. Ia lebih memilih sibuk dengan acaranya memasak pagi itu, sedangkan Soonyoung hanya menatap punggung Wonwoo dari tempatnya, tanpa ada niat untuk membantu.
“Hari ini agendanya mau ngapain?”
Soonyoung berjalan, memilih untuk duduk di meja makan sembari mengamati Wonwoo yang masih memasak pancake. Wonwoo tak langsung menjawab, laki-laki itu nampak mengambil piring, menaruh beberapa pancake yang sudah ia masak di atas sana, “Katanya mau nonton film? Atau kamu mau ada rapat hari ini?”
“On fucking Sunday? A meeting?” dengus Soonyoung, “Mending nonton seharian sama kamu daripada nontonin orang presentasi.”
Wonwoo hanya terkekeh sebelum ia menghampiri Soonyoung dengan dua piring pancake yang sudah disiram madu dengan blueberry di atasnya. Laki-laki itu lalu duduk menghadap Soonyoung yang langsung menyantap masakannya. Dengan senyum miring, Wonwoo menyendokkan pancake-nya, membuat Soonyoung memutar bola matanya malas.
Sarapan hari itu hanya diisi dengan obrolan membosankan ala keduanya yang sesekali diselipi percakapan nakal yang dimulai oleh Soonyoung dan akan dibalas dengan senang hati oleh Wonwoo. Setelah sarapan mereka habis, Soonyoung berjalan terlebih dahulu ke kamar Wonwoo kembali, meninggalkan Wonwoo yang memilih untuk mencuci piringnya nanti dan menyusul Soonyoung ke kamar.
Keduanya hanya bersandar pada headboard setelah memilih film yang hendak mereka tonton hari itu. Wonwoo yang menyender pada headboard, sedangkan Soonyoung lebih memilih menyender di dada laki-laki itu, posisi yang sangat Soonyoung sukai karena ia bebas membiarkan tangan Wonwoo dengan leluasa menjamah tubuhnya dan juga lelaki itu bisa mencium wangi shampoo stroberi yang selalu ia gunakan.
Film baru berjalan 45 menit, tapi tangan Wonwoo yang bebas sudah menyentuh dada Soonyoung dan meremasnya dengan perlahan. Seakan sudah biasa, Soonyoung tak bereaksi, membiarkan tangan Wonwoo meremas bahkan mencubit puting susunya yang sekarang sudah menegang. Tak mau kalah dengan Wonwoo, tangan lentik Soonyoung sekarang juga sudah masuk ke dalam boxer lelaki itu, mengelus penis lelaki itu dan perlahan mengurutnya.
Saat film yang mereka tonton sudah memasuki 1 jam, Wonwoo sudah membawa Soonyoung ke dalam cumbunya. Keduanya saling melumat bibir satu sama lain, sebelum Wonwoo menggendong Soonyoung agar gadis itu bisa duduk di atas pangkuannya. Keduanya saling berciuman dengan panas sebelum Soonyoung melepas pagutan tersebut, membiarkan Wonwoo membuka seluruh kancing kemeja yang ia kenakan.
“Still not get enough of me, hm?” tanya Soonyoung setengah berbisik.
“I will never get enough of you.”
Wonwoo tersenyum miring sebelum membawa Soonyoung ke pagutan menuntut dan penuh nafsu itu kembali. Mereka tetap berada di posisi tersebut, hingga Soonyoung merasakan gundukan di antara belahan bokong kenyalnya itu.
“Ride me,” bisik Wonwoo dengan suara yang terlampau berat dan penuh dengan nafsu. Soonyoung hanya mampu menyeringai, “Kamu kalah dari game kita semalam, in case kamu lupa,” katanya sembari mengelus rahang Wonwoo sedikit menggoda.
Game yang dimaksud oleh Soonyoung adalah hanya permainan monopoli biasa. Namun, mereka berdua bertaruh, siapapun yang kalah, dia harus mengikuti apapun yang diminta oleh yang menang. Wonwoo nampaknya lupa dengan siapa ia bermain monopoli. Soonyoung pintar dengan taktik dan strateginya sendiri. Walaupun kadang Soonyoung akan kalah ketika bermain dengan Wonwoo, untuk permainan berstrategi, Soonyoung tak jarang akan menang. Dan malam tadi, keberuntungan tengah berada di Soonyoung. Gadis itu menang dari Wonwoo.
Kembali lagi dengan dua orang yang setengah telanjang dengan mata yang masih menyala penuh nafsu, Wonwoo akhirnya hanya mampu menghela napas.
“Please.”
Mendengar Wonwoo memohon kepadanya, Soonyoung hanya mampu tertawa sebelum ia mengangguk, menuruti kemauan Wonwoo yang langsung menurunkan boxer-nya, membebaskan penisnya yang membuat Soonyoung terkekeh. Gadis itu dengan usil duduk di atas penis Wonwoo yang sudah mengeras, mempertemukan labianya dengan kejantanan Wonwoo sebelum ia menggerakan pinggulnya dengan perlahan.
Gerakan itu berhasil membuat kedua anak manusia itu melenguh. Wonwoo langsung memegang pinggang Soonyoung, sedangkan Soonyoung memegang pundak Wonwoo.
“Bisa nggak aku masuk sekarang aja, Soonyoung?” tanya Wonwoo dengan nada suara yang terdengar sedikit frustasi dan berhasil membuat Soonyoung tersenyum miring.
“Say please.”
“Please.”
Merasa puas karena melihat betapa frustasinya Wonwoo, Soonyoung akhirnya memenuhi keinginan lelaki yang kepalanya sudah dikuasai oleh nafsu itu. tanpa menunggu waktu lama, Soonyoung langsung memegang penis Wonwoo, mengurutnya secara perlahan sebelum dengan keisengannya, ia malah memasukan kejantanan Wonwoo itu ke dalam mulutnya.
“Fuck.”
Wonwoo mengerang begitu merasakan mulut hangat Soonyoung memanjakan tegangnya. Dengan lihai, Soonyoung mengulum dan mengemut penis Wonwoo, menggoda lelaki yang saat ini menahan lenguhannya sembari menatapnya. Seakan sudah biasa dirinya menyantap penis Wonwoo, Soonyoung membawa tegang lelaki itu hingga mengenai tenggorokannya, membuat suara sedikit erotis dan berhasil membuat penis Wonwoo berkedut akibat sensasi yang Soonyoung bawa kepadanya.
“What a mess,” kata Wonwoo begitu melihat Soonyoung melepaskan kulumannya. Si kelahiran Juni hanya mampu tersenyum miring, “But you like it.”
Wonwoo tak menjawab karena ia sudah tak sabar untuk merasakan hangatnya dinding vagina Soonyoung yang sempit setelah ini. Ia menjilat bibirnya saat bayangan betapa basahnya vagina Soonyoung saat itu akibat rangsangan yang gadis itu rasakan tatkala ia memakan penis miliknya.
Belum usai Wonwoo membayangkan itu, ia sudah melihat Soonyoung berusaha memasukan penisnya ke dalam dirinya. Dari ekspresinya saja, Wonwoo sudah melihat Soonyoung merasa keenakan akibat besarnya penis Wonwoo dan bagaimana kejantanan itu menghujam bibir vaginanya. Dalam hitungan menit, penis Wonwoo melesak sempurna, masuk ke dalam vagina Soonyoung yang sekarang memutar bola matanya akibat keenakan.
“Shit. Aku lupa kalau kamu besar banget.”
Reaksi yang biasa Soonyoung berikan setiap kali mereka berhubungan badan hanya membuat Wonwoo tersenyum miring. Laki-laki itu langsung merengkuh pinggang Soonyoung sebelum membawa gadis itu dalam pagutan panasnya kembali. Lenguhan demi lenguhan terdengar, bersamaan dengan jemari Soonyoung yang menggoda setiap sisi kulit Wonwoo dengan sentuhannya.
“Kayak gini dulu,” kata Soonyoung ketika mereka melepaskan pagutan tersebut. Wonwoo hanya mengangguk, mengikuti ingin Soonyoung sembari memuja wajah cantik penuh peluh itu. “Mau ngapain?” tanya Wonwoo seakan ingin tahu.
“Let’s start a dirty talk.”
“You always did that.”
Soonyoung hanya tertawa; tawa yang sebenarnya benar-benar menyihir Wonwoo. Gadis itu tak tahu, bahwa dalam tawanya yang membuat matanya semakin mengecil akibat senyum yang begitu lebar dan ditemani dengan blush akibat nafsu yang ia rasakan membawa sesuatu yang magis bagi sosok Jeon Wonwoo.
Lelaki itu makin merengkuh Soonyoung, membawa gadis itu semakin dekat dengannya dan juga membuatnya merasakan dinding vagina Soonyoung menjempit penisnya.
“Do you love it when I’m on top of you like this?” tanya Soonyoung yang sekarang dengan sengaja menggoda Wonwoo—meremas penis Wonwoo dengan dinding vaginanya dan berhasil membuat lelaki di hadapannya saat ini menahan lenguhan akibat hal tersebut.
“Depends,” jawab Wonwoo. “Lebih suka kalau kamu ada di atasku and then I’m seeing your expression like this.”
Dengan sekali hentakan, Wonwoo menggerakan pinggulnya, menghujam tajam serviks Soonyoung dan berhasil membuat gadis itu mendesah, memutar bola matanya karenanya. Wonwoo yang melihat itu hanya tersenyum miring, berhasil melihat ekspresi kesukaannya sebelum ia kembali merasakan vagina Soonyoung meremas kejantanan miliknya.
“Sialan,” umpat Soonyoung sebelum gadis itu kembali merasakan Wonwoo menghujam vaginanya kembali, sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“Language, baby doll.”
Soonyoung melenguh, gadis itu menatap Wonwoo dalam diamnya sembari menggigit bibirnya.
“I love your tattoo.”
Tangan gadis itu bergerak, mengarah ke bagian belakang Wonwoo dengan gerakan pelan dan menggoda, membuat wajahnya mendekat ke arah lelaki itu. Wonwoo hanya mengangkat alisnya, menatap penuh antisipasi apa yang akan Soonyoung lakukan karena ia tahu dibalik pujian Soonyoung terhadap tattoo baru yang berada di punggungnya itu, ada sesuatu yang gadis itu inginkan.
“Tapi, punggung kamu lebih bagus lagi kalau ada cakaran tanganku nggak, sih? So you know how good you fucked me because of the scars.”
Wonwoo bersiul perlahan, membuat Soonyoung mendecak dan menjauhkan kepalanya. Namun, tangan Wonwoo yang sedikit lebih besar berhasil menahannya. Laki-laki kelahiran Juli itu mengangkup dagu Soonyoung dengan satu tangannya, sebelum ia mengarahkan wajah Soonyoung ke samping, membuat bibirnya berada tepat di telinga gadis itu.
“You know what’s more better? When you lose your voice because I fuck you good and you can’t walk after rounds of our sex, princess.”
Soonyoung bergidik begitu merasakan napas Wonwoo menerpa telinganya. Lelaki yang menurut Soonyoung kelihatan sangat berbeda saat di atas ranjang dan di kantor itu lalu mengarahkan wajahnya, kembali menghadap Wonwoo yang bola matanya semakin gelap akibat nafsu yang pria itu rasakan.
“Now, ride me. Draw the beautiful scars on my back so I know that you enjoy yourself while you are riding me.”
Tangan Wonwoo langsung memegang pinggul Soonyoung, menuntun si Gemini untuk bergerak. Satu menit setelahnya, seisi kamar Wonwoo hanya desahan dari Soonyoung yang sekarang bergerak di atas Wonwoo.
Dalam desahan dan nikmat yang mendera, Soonyoung membawa penis Wonwoo menusuk serviksnya dengan gerakan cepat. Posisinya yang berada di atas Wonwoo itu semakin membuat penis berkedut milik pria yang sekarang juga mendesah pelan menemui titik nikmatnya. Gadis itu menggoyangkan pinggulnya dengan ritme yang kasar dan tak teratur, membuatnya semakin cepat teler karena gelenyar nikmat yang menguasainya.
“Fuck. Soonyoung.”
“Ahh.”
Desahan Soonyoung semakin nyaring dan Wonwoo yang melihat ekspresi Soonyoung semakin terangsang. Begitu Soonyoung yang tadinya sempat menutup matanya melihat Wonwoo yang saat ini menggigit bibirnya sembari menatap payudaranya yang bergerak naik turun sesuai dengan ritme, sebuah ide muncul di kepalanya yang sebenarnya sudah dipenuhi oleh betapa nikmatnya penis milik Wonwoo itu.
Sembari menyeringai, Soonyoung tiba-tiba menghentikan gerakannya, membuat Wonwoo mengerang sembari menatap gadis itu penuh nyala akibat dirinya yang sudah hampir mencapai tingginya itu terhenti.
“Why?” tanya Soonyoung pura-pura khawatir begitu melihat wajah Wonwoo yang kali ini datar.
“Stop playing with me, my pretty little slut.”
Soonyoung langsung mengangkat alisnya begitu mendengar Wonwoo berkata seperti itu. Pria itu masih menatap datar Soonyoung yang kini kembali menyeringai.
“Try me.”
Kali itu, sepertinya Soonyoung salah perhitungan.
Setelah berkata demikian, Soonyoung berteriak begitu dengan mudahnya Wonwoo membalikan keadaan. Si Cancer yang sudah kepalang nafsu dan ingin segera mencapai tingginya langsung membanting tubuh Soonyoung sedikit lebih kasar dan langsung menghajar gadis itu dengan gerakan yang cepat dan pendek namun berhasil membuat desahan keras keluar dari si Gemini.
“I will make you pregnant, Kwon Soonyoung. Fuck.”
Tanpa ampun, Wonwoo menggerakan pinggulnya dengan kasar, menghujam serviks Soonyoung yang sekarang memutar bola matanya akibat gelenyar nikmat menguasai kepalanya. Gadis itu dibuat bungkam akibat tusukan Wonwoo dengan penisnya yang berkedut itu. Dari ekspresinya saja, Wonwoo bisa melihat Soonyoung benar-benar mabuk, satu hal yang selalu gadis itu alami tiap kali mereka bersenggama. Dalam erangan dan desahan yang tertahan, Wonwoo menyeringai, merasa menang karena Soonyoung lagi-lagi tak berdaya di bawah kungkungannya.
Kegiatan bersenggama di pagi menjelang siang itu berhasil membawa isi kepala Soonyoung hanya dipenuhi dengan Wonwoo. Saking kasarnya Wonwoo menyetubuhinya lebih dari apa yang mereka lakukan semalam, kasur Wonwoo berderit, menandakan betapa hebatnya kegiatan tersebut.
“Ahh. Wonwoo!”
Soonyoung menjerit, mencakar punggung Wonwoo begitu ia mencapai tingginya. Peluh yang lengket memenuhi tubuhnya yang bahkan masih terlihat jelas bekas keunguan akibat Wonwoo menandainya, ekspresi keenakannya dengan bibirnya yang sedikit terbuka dan bengkak akibat Wonwoo memagutnya dengan kasar, hingga pelepasan yang Soonyoung alami siang itu benar-benar membawanya ke surga duniawi yang hanya pria kelahiran Juli itu bisa lakukan.
Walaupun Soonyoung masih dengan tingginya, Wonwoo belum berhenti menggerakan pinggulnya. Seulas seringai terlihat di wajah Wonwoo yang sekarang mendekatkan wajahnya ke arah telinga Soonyoung yang sepertinya masih berada di atas sebelum laki-laki itu berbisik, “Aku mau bikin kamu hamil. Bayangin perut kamu gede karena isi anak aku terus payudaramu isi asi untuk anakku. Nanti bukan cuma anakku yang minum air susunya, tapi aku juga bakalan minum air itu and we are having the same sex like this. How does it sounds, hm?”
Kalimat yang terlampau jorok itu ternyata berhasil membuat dinding vagina Soonyoung menyempit, menjempit penis Wonwoo yang semakin berkedut di dalam sana. Laki-laki itu hanya tertawa dengan nada yang sangat rendah dan sarat nafsu sebelum ia kembali bergerak dengan kasar, tidak peduli dengan Soonyoung yang masih sensitif pasca tingginya.
Beberapa menit setelahnya dan Soonyoung yang mencapai tingginya untuk kedua kalinya, Wonwoo akhirnya mengeluarkan putihnya di dalam vagina Soonyoung. Kali itu, Wonwoo benar-benar membiarkan putihnya memenuhi lubang gadis itu sebelum ia mengeluarkan penisnya.
“Fuck. Kamu keluar banyak banget di dalam aku,” kata Soonyoung yang sudah sedikit sadar dengan suara yang sedikit serak. Wonwoo hanya tertawa sebelum ia bersiul senang saat melihat putihnya sedikit keluar dari lubang vagina Soonyoung.
“Don’t waste my sperm, cantik. Sebentar, I should capturing this one with my phone.”
Setelah berkata demikian, Wonwoo langsung mengambil ponselnya yang ada di nakas, membiarkan Soonyoung yang masih pusing akibat nikmat yang ia rasakan menatap ke arah laki-laki itu. Ketika Wonwoo mengarahkan kameranya di belahan kakinya guna merekam hasil bersenggama mereka kali itu, Soonyoung melebarkan kakinya, memperlihatkan sperma Wonwoo yang bersarang dalam lubangnya itu keluar dari sana.
“So beautiful.”
“You are freak.”
Wonwoo tertawa sebelum ia menaruh ponselnya kembali ke nakas dan tanpa aba-aba, ia tiba-tiba memasukan penisnya kembali ke dalam vagina Soonyoung, membuat gadis itu terkejut.
“You are also freak, Soonyoung,” kata Wonwoo yang sekarang membawa Soonyoung kembali ke pangkuannya, membuat gadis itu cemberut saat merasakan putih mereka yang bercampur itu tertahan di dalamnya akibat penis Wonwoo yang bersarang dalam dirinya lagi.
Soonyoung akhirnya memilih untuk menyender di bahu lebar Wonwoo yang sekarang menyender di headboard kasurnya yang sempat berderit itu, tak protes karena ia merasakan tangan Wonwoo mengelus punggungnya yang sebenarnya masih tertutup oleh kemeja tersebut.
“My baby doll.”
Gadis itu bergumam, tak ingin menjawab lebih banyak. Tenaganya sudah cukup terkuras akibat permainan mereka tadi.
“Do you prefer the early blueberry honey pancake or your forever favorite mayonnaise sausage?”
Sedikit heran dengan apa yang dipikirkan Wonwoo hari itu, Soonyoung hanya mampu menghela napas sebelum ia mencubit puting dada lelaki itu dan berhasil membuatnya mengaduh.
“Normal dikit kenapa deh pertanyaannya,” protes Soonyoung yang membuat Wonwoo terkekeh, “Akunya bercanda aja. Jangan dicubit, dong.”
Soonyoung memutar bola matanya malas. Tak langsung menjawab, Soonyoung lebih memilih untuk merengkuh Wonwoo dengan cara melingkarkan kedua tangannya di sekitar punggung lelaki itu sedangkan kedua kakinya melingkar di pinggul Wonwoo, membiarkan penis Wonwoo semakin tenggelam dalam dirinya.
Satu kebiasaan Soonyoung tiap kali keduanya berada di posisi itu setelah kegiatan bersenggama yang mereka lakukan adalah membuatnya sebisa mungkin dekat dengan Wonwoo, karena ia paling suka apabila Wonwoo memeluknya secara posesif dalam posisi saat ini; ia berada di atas pangkuan Wonwoo dengan tubuh keduanya yang saling terhubung.
“Aku suka dua-duanya,” kata Soonyoung yang membuat Wonwoo lagi-lagi terkekeh, “Mau sosis mayonya lagi, tapi aku tidur dulu. Capek.”
Dengan elusan lembut yang ia berikan di kepala Soonyoung yang sekarang mulai memejamkan matanya, Wonwoo hanya mengangguk.
“As you wish, my princess.”
Lalu, siang itu berlalu begitu saja bagi keduanya. Wonwoo hanya mampu memeluk Soonyoung yang sekarang terlelap di pelukannya, membiarkan gadis itu tidur dengan nyaman sebelum saat Soonyoung kembali terjaga, ia akan kembali memasak sesuatu.
Bukan blueberry honey pancake yang selalu menjadi santapan favorite Soonyoung, tetapi santapan lain yang selalu Wonwoo hidangkan kepada gadis itu.
⋆⭒˚.⋆
