Work Text:
Leo adalah seorang dukun prewangan.
Tugasnya hanyalah memberikan pengobatan ataupun nasihat yang berhubungan dengan hal gaib. Oleh sebab itu orang-orang memanggilnya Mbah Leo. Bukan karena bangkotan, namun karena kemampuan saktinya dalam ilmu perdukunan.
Lahir dari keluarga dengan latar belakang yang kental akan budaya mistis. Sang Ayah merupakan seorang dukun sakti yang menikah dengan kuntilanak penghuni pohon besar di gunung tempat Ayahnya bertapa dulu. Jadi secara otomatis, Leo adalah peranakan dari manusia dan kuntilanak.
Meskipun awalnya asal-usul Leo sering dijadikan bercandaan karena dianggap tidak jelas, kekuatan supranatural dan mistisnya tidak bisa dijadikan candaan. Melalui keteguhannya dalam melakukan ngelmu selama bertahun-tahun serta kemampuan yang diperoleh dari para leluhur, Leo mampu menjadi salah satu dukun tersohor di Tanah Jawa.
Diawali dengan membuka praktik pengobatan tradisional seperti penanganan terhadap jenis penyakit yang tak kasat mata, sihir guna-guna, serta pelet atau asihan. Kabar kemampuan Leo yang mampu menyembuhkan para pasiennya itu mulai tersebar dari mulut ke mulut warga kampung.
Kabar tersebut pun membuat yang awalnya para pasiennya hanya berasal dari kalangan orang-orang yang terkena penyakit mistis, mulai merambat ke kalangan para kepala desa dan calon kepala desa yang meminta tolong untuk diberikan pandangan ataupun kharisma untuk memimpin warga mereka.
Ya, begitulah manusia. Meskipun pemilihan kepala desa dilakukan secara demokratis, sering terjadi banyak kecurangan melalui penggunaan ilmu mistis. Memperkuat anggapan bahwa manusia adalah makhluk serakah yang mampu menghalalkan segala cara untuk menggapai impian dan tujuan mereka.
Awalnya begitu satu per satu kepala desa datang untuk menyampaikan tujuan mereka masing-masing, Leo sudah ada niatan untuk menolak. Namun apa daya ketika sedang berjabat tangan, para kepala desa itu malah memberikan salam tempel dengan nominal fantastis.
Tergiur dengan nominal tersebut, dengan hati yang sukarela Leo pun mau membantu para calon maupun pemimpin yang sudah menjabat. Toh, sebenarnya tindakan Leo ini baik karena membantu seseorang untuk meraih cita-cita mereka. Leo tidak pernah meminta bayaran apapun, hanya saja orang-orang itu dengan sudi memberikan Leo segepok uang. Tampaknya mereka semua telah dibutakan kekuasaan sehingga rela mengeluarkan nominal berapapun hanya demi pulung yang dipercayai dapat mempermudah jalan mereka untuk memenangkan pemilihan.
Dan terbukti, persis seperti para influencer ataupun artis blesteran yang gampang viral di negeri merah putih ini. Leo sebagai blesteran manusia mix kuntilanak pun mampu mendapatkan ketenaran di tengah para pejabat negeri akibat kemampuan saktinya. Mulai dari jabatan rendah, sampai sekelas calon gubernur seperti pria yang tengah duduk di hadapannya ini.
Beberapa menit lalu, pintu rumah sederhananya diketuk pelan oleh seseorang. Merasa bahwa yang datang adalah tamu selanjutnya, Leo yang awalnya tengah asyik menonton tayangan televisi gosip artis itu langsung memasang blangkonnya dengan rapi dan segera membukakan pintu.
Betapa terkejutnya Leo begitu mendapati seorang pria yang tersenyum ramah begitu ia membukakan pintu. Penampilannya terlihat mencolok, dengan rambut ala-ala bule yang sering Leo lihat di tipi-tipi, serta memakai setelan batik abu-abu motif pari slamet yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Leo juga bisa merasakan bahwa umur pria ini terbilang muda, mungkin sekitar tiga puluhan tahun.
Jelas sekali orang ini bukan berasal dari daerah sini. Leo merasa lucu sebab pria ini mempercayai hal-hal mistis juga, membuktikan dengan era modern pun tak mampu menghapus eksistensi pekerjaan dukun.
Dalam hati Leo merasa tenang, rupanya AI AI itu tidak akan menggantikan pekerjaannya sebagai dukun.
Memahami maksud dan tujuan sang pria mendatangi kediamannya, Leo pun lantas mengajak pria tersebut untuk berjabat tangan, kegiatan biasa yang ia lakukan ketika mendapatkan tamu dari kalangan pejabat daerah.
Pria itu menyambut jabatan tangan Leo dengan baik, memberikan senyum ramah sambil memperkenalkan dirinya dengan nama Sangwon.
Namun tak seperti kalangan pejabat daerah yang lain, pria ini tidak memberikan salam tempel. Leo rasa kali ini intuisinya salah, oleh sebab itu Leo langsung saja menyuruh pemuda itu duduk di atas karpet tempat biasanya ia menjalankan praktiknya. Kini keduanya duduk berhadapan dengan sebuah meja pendek yang memisahkan.
“Saya bisa lihat bahwa asalmu bukan dari daerah sini.” Ucap Leo tenang. “Jadi ada tujuan apa jauh-jauh menemui saya?”
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Sangwon menarik napas pendek lalu tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang Leo paham sekali hanya dipakai untuk formalitas semata.
“Saya dapat saran dari ajudan saya,” Katanya hati-hati. “Dia bilang kalau ada yang bisa bantu urusan seperti ini, cuman Mbah doang yang bisa…”
Leo tidak langsung menanggapi, ia hanya mengangkat alis sedikit sebagai pertanda bagi Sangwon untuk melanjutkan kalimatnya.
“Saat ini saya merupakan calon gubernur di daerah saya, Mbah. Pilkada ‘kan tinggal tiga bulan lagi…” Terdapat jeda diantara tarikan napas sebelum Sangwon melanjutkan kembali kalimatnya. ”Saya dapat referensi dari ajudan saya, katanya Mbah Leo sudah biasa bantu orang-orang seperti saya agar bisa menang dari lawan politiknya. Jadi maksud kedatangan saya kesini adalah untuk minta dipermudah supaya saya bisa menang di Pilkada tahun ini, Mbah…”
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Sangwon terdiam sejenak. Jemarinya saling bertaut, sebagai isyarat bahwa pria itu tengah menahan kegelisahan yang sedari tadi berusaha ia sembunyikan dibalik sikap tenangnya.
Leo tertawa dalam hati setelah mendengar alasan kedatangan Sangwon. Ternyata intuisinya sebagai dukun termasyhur di Tanah Jawa tidak salah. Pria ini rupanya memang datang untuk dibantu dalam mencapai ambisinya sebagai pemimpin daerah.
“Kira-kira nominal yang Mbah inginkan berapa ya? Mbah bisa bilang aja ke saya, pasti akan saya sanggupi.”
Leo menggeleng kecil, namun dalam hati mencibir pelan. Orang-orang seperti Sangwon ini memang terlalu sering merasa semua hal bisa dibeli dengan yang sehingga melupakan tata krama yang seharusnya dipahami, contohnya seperti pentingnya salam tempel sebagai tata cara guna menghindari rusaknya integrasi Leo sebagai dukun secara eksplisit.
Datang kesini dengan kepentingan besar tapi datang tanpa pemahaman dasar. Manusia dengan sikap seperti Sangwon ini memang harus diberi pelajaran.
“Jadi begitu ceritanya,” Gumam Leo sambil mengangguk pelan. Ia sengaja diam sejenak, membiarkan Sangwon gelisah. Lalu dengan nada santai tapi serius, ia berkata. “Tapi saya harus jujur, aura kamu itu jelek sekali. Sulit buat saya untuk membuat mereka suka sama kamu. Bagi seseorang yang sudah berpengalaman seperti saya, tingkatannya sudah sangat sulit.”
Bohong, Leo mengucapkan itu hanya untuk main-main.
Wajah Sangwon langsung pucat begitu mendengar kebohongan yang terdengar seperti fakta itu, bahu yang tadinya tegak kini terkulai lemas.
“Kalau begitu… Mbah gak bisa bantu saya, ya?”
Sangwon pasrah. Indonesia memang terkenal dengan praktik nepotismenya. Sulitnya lapangan pekerjaan membuat para Ayah yang telah memiliki jabatan dan koneksi memilih melakukan cara kotor demi memastikan para buah hati bisa memiliki pekerjaan stabil di tengah ketidakpastian ekonomi ini. Membunuh meritokrasi hingga mengacak-acak konstitusi pun rela dilakukan demi mencapai ambisi tersebut.
Belajar dari sesepuh politik dinasti yaitu Sultan Soloman, sang pendiri Tembok Ratapan Solo yang menyatakan bahwa posisi anaknya sebagai wakil presiden meskipun IPKnya hanya 2.3 bukanlah dari hasil praktik nepotisme namun merupakan posisi yang telah dijanjikan sejak 3,000 tahun lalu. Membuat sang Ayah terinspirasi dan mempelajari wahyu-wahyu sang sultan.
Dan tibalah saatnya, Sangwon sang anak tunggal tanpa minat politik pun menjadi korban praktik wahyu sang Sultan Soloman yang menginspirasi Ayahnya. Pengalaman yang masih minim dan usianya yang relatif muda dengan mudah disorot orang-orang. Opini publik memandangnya bukan sebagai sosok yang layak karena kapasitas, melainkan sebagai hasil praktik nepotisme.
Segala hal telah Sangwon lakukan untuk membalikkan opini publik untuk mendukungnya. Mulai dari masuk gorong-gorong sambil diliput televisi, kedua orang tuanya yang ikut bagi-bagi bansos, hingga melakukan orasi menggetarkan di tanah kelahiran.
Empat setengah tahun saya difitnah saya diam…
Di jelek-jelekin saya juga diam…
Dicela direndah-rendahkan saya juga diam…
Tetapi hari ini saya sampaikan saya akan LAWAN!!!
Namun segala perjuangannya masih belum mampu membuat para rakyat mendukungnya.
Semakin ia pikirkan, semakin jelas pula bahwa jalan menuju kemenangan untuk membahagiakan sang Ayah bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya soal menghadapi lawan politik, tetapi juga melawan persepsi rakyat. Oleh sebab itu keputusasaannya pun membawa Sangwon ke tempat ini meskipun ia sendiri tidak begitu percaya dengan kekuatan mistis.
Tapi apabila dukun tersohor seperti Leo saja sudah mengatakan bahwa auranya terlalu buruk untuk diubah, maka apa yang bisa Sangwon lakukan. Mungkin ia akan pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan dan amarah Ayahnya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk kepentingan kampanyenya.
Baru saja hendak pamit, Leo kembali membuka suaranya. ”Saya sebenarnya bisa bantu kamu, namun bukan lewat jampi-jampi atau jimat biasa.” Leo mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Suaranya rendah, hampir berbisik. “Mungkin saya bisa berbagi energi positif saya ke kamu, tapi caranya harus ngewe dulu sama saya.”
Sangwon membeku di tempatnya begitu mendengar syarat yang diberikan Leo. Pipinya langsung merah padam kala matanya menelisik fisik dan wajah Leo lebih dalam. Pria matang usia empat puluhan tahun, badannya tegap, blangkonnya miring, serta aroma dupa dan kemenyan yang melekat di kulitnya yang membuat kesan lembab dan apek semakin terasa namun di satu sisi membuat dukun muda ini terlihat lebih seksi.
Sangwon malu-malu, hatinya ikhlas dan tabah diperawanin dukun kampung seksi kayak Leo.
“B-boleh, Mbah… Saya ikhlas…”
Dan terjadilah pergumulan hebat antara dua orang dengan latar belakang yang bertolak belaka itu di atas karpet yang dari awal beli gak pernah dicuci itu.
Lagian siapa sih yang gak mau ambil kesempatan dalam kesempitan ketika dihadapkan oleh pasien dukun cantik seperti Sangwon ini. Leo mah mau banget, bahkan kembang desa di kampung ini kalah sama pria cantik yang saat ini berada di bawah kukungannya.
Badannya bagus, putih, bersih, wangi, bersinar. Mukanya juga cakep, bibirnya terutama yang tipis tapi plumpy merah seger yang enak buat diajak ciuman. Belum lagi rambutnya yang blonde berasa liat peri cantik. dada dan pantatnya juga semok banget pas Leo raba-raba dalam sesi ciuman keduanya saat ini.
Tangan Leo bergerak halus meraba-raba seluruh bagian tubuh Sangwon dibawahnya, perlahan melepas satu per satu kancing kemeja batik yang dipakainya sementara bibirnya sibuk mengemut bibir Sangwon hingga saliva keduanya bercampur dan mulai belepotan mengalir menuruni pipi mulus Sangwon.
Tak sabar dengan hidangan utama, Tangan Leo pun bergerak ke bawah membuka kancing celana bahan itu. Tangannya menyelip masuk hendak mengelus kelamin si pria cantik ini. Namun gerakannya terhenti begitu merasakan area selangkangan Sangwon yang rata.
Ciuman keduanya terputus begitu Sangwon merasakan Leo yang menghentikan aktivitasnya yang ingin menggoda selangkangan Sangwon itu. Seketika Sangwon terbangun dari posisi tidurnya, menahan tubuhnya dengan satu tangan di belakang.
“Mbah… Kok berhenti?”
Leo mengerjapkan mata. Ia memperhatikan Sangwon yang bergerak melepaskan celananya itu dan telapak besarnya mulai digenggam Sangwon, diarahkan untuk mengelus diantara celah pahanya. Tangan Leo bergerak di atas celana dalamnya, tepat ke belahan memek si cantik.
“Mbah gak suka ya kalau aku punya memek?”
Aduh… Kok bisa-bisanya adek manis ini kepikiran kayak gitu… Sangwon ini niat godain atau beneran nanya sih. Seharusnya dia bisa sadar mulut Leo yang udah menganga dan ngiler pas tau kalau pria yang katanya calon gubernur ini ternyata punya memek.
Gak perlu jawab pake kata-kata, Leo langsung pelorotin panties Sangwon yang berwarna pink mentereng renda-renda itu dan lempar ke sembarang tempat. Leo bergerak ke bawah, membawa kedua kaki sangwon ke bahu lebarnya.
Sore ini leo makan besar.
Mana mungkin dia bisa nagan diri begitu melihat memek cantik lelaku ini. Legit banget. Gak ada bulu, tembem, dalemnya juga merah merekah dengan itilnya yang nyembul malu-malu siap Leo bikin bengkak.
Cantik, Cantik, Cantik. Memeknya cantik, pahanya semok, badannya mulus, mukanya cantik. Dari atas sampai bawah akan Leo puja-puja tubuh ini.
“Mbah… Jangan di liatin aja, aku udah sange…”
Muantappppp…
Langsung aja Leo jilmekin memek rapet itu. Udah gak bisa lagi Leo tahan dirinya untuk menenggelamkan wajahnya di dalam memek Sangwon. Dengan kemampuan rapal mantra yang sudah ia latih bertahun-tahun, ia colok-colok lobang memek itu dengan frekuensi cepat. Dua tangannya menahan paha si cantik, ia buka semakin lebar agar dapat leluasa memakan memek Sangwon disana.
“Mmhhh… E-enakkhh—”
Sangwon elus kepala Leo, matanya menatap kebawah memperhatikan Leo yang lagi sibuk colok-colok lobang memeknya dengan rakus. Seksi banget. Apalagi pas hidung bangir dukun itu beberapa kali gak sengaja nyenggol itil Sangwon yang bikin si cantik mendesah makin nyaring.
Puas bikin lobang memek itu jadi becek dengan lendir alami dan liurnya. Leo balik ke tujuan awalnya yang berniat bikin itil imut Sangwon itu bengkak. Apalagi ketika menyadari Sangwon tengah menatapnya sambil nantangin.
Leo makan itil si cantik, ia hisap kuat-kuat pake bibirnya. Kepala Sangwon mengadah ke atas sambil memejamkan mata. Bibirnya terbuka sedikit mengeluarkan desahan kuat begitu si Mbah menggigit-gigit kecil itilnya.
“A-ahh! Mbahhh, j-jangan digigit! Aduhh, duhhh~”
Tapi si dukun ganteng itu mana peduli, ia jilat, hisap, dan gigit-gigit kecil itil Sangwon berulang kali sampai tujuan membuat itil imut itu bengkak sukses. Lobang yang ngambek karena dianggurin itu pun terus mengeluarkan lendirnya sambil cengap-cengap seakan menggoda Leo untuk segera masuk.
Jelas Leo yang tergoda pun langsung memusatkan perhatiannya untuk memberikan kepuasan pada lobang gatel yang mengalirkan lendir bening sampai membasahi karpetnya. Leo julurkan lidahnya, ia jilat lendir yang meler-meler itu dari anus sampai sepanjang vagina Sangwon. Kemudian ia jentikkan itil yang sudah tegang sempurna itu dengan lidahnya yang mengundang desahan kenikmatan Sangwon. Sampai-sampai si calon gubernur itu melemparkan kepalanya menghadap atas.
Sangwon keenakan setengah mati saat memeknya itu dikasih servis top dari lidah sang dukun. Si cantik tekan kepala Leo agar semakin tenggelam ke dalam memeknya. Ia mendesah puas begitu Leo dua jari Leo mulai masuk dan mengobok-obok lobang memeknya. Alisnya mengernyit dan mulutnya membentuk huruf ‘o’ sempurna kala Leo memasukkan jari ketiganya.
“Tiga jari buat paslon gubernur nomor tiga, ya dek ya.”
Sangwon mengangguk cepat, mengiyakan segala perkataan Leo yang bertujuan untuk menggodanya.
“Anghh, Mbah~ Itilnya juga mau dikucekinhhh—”
Baru saja membuka mata untuk melihat jari-jari besar dan panjang Leo yang lagi ngacak-ngacak memeknya. Mata Sangwon yang awalnya buram dipenuhi kabut nafsu itu pun membulat sempurna.
Sangwon, yang kepalanya tengah tengadah ke atas karena nikmat yang diberikan Leo pun terkejut bukan main kala matanya menangkap siluet anomali yang sedang nangkring di plafon ruang tamu tersebut.
Di plafon sederhana yang reyot itu, Sangwon bisa melihat jelas ada sosok kuntilanak lagi nontonin Leo yang lagi sibuk jilmekin Sangwon. Rambutnya terurai panjang, wajahnya pucat dan tengah tersenyum lebar memperhatikan kegiatan amoral Leo dan Sangwon.
Namun yang paling membuat Sangwon merinding adalah, matanya yang merah dengan pupil menyempit seperti ular itu tengah menatap langsung ke mata Sangwon.
Sangwon ketakutan setengah mati. Ia pukul lengan Leo yang sedari tadi menahan pahanya beberapa kali sebagai isyarat bahwa ada sosok menyeramkan yang tengah menonton kemaksiatan mereka.
Tetapi Leo mana peduli. Jarinya tengah sibuk korek-korek memek Sangwon yang makin enak mijet jarinya karena efek samping ketakutan. Langsung saja Leo bengkokan ketiga jarinya yang berada dalam Sangwon, elus pelan buntelan lembut yang berhasil ia temukan.
Seketika Sangwon bisa rasakan sensasi geli dan ngilu enak yang tak main. Matanya yang sedari beradu tatap dengan sosok kuntilanak itu langsung juling. Sementara badannya langsung gemeter keenakan ketika Leo terus tumbuk titik nikmat itu berulang kali.
“Anghh… Mbah, enghh. ada k-kuntilanakhh— Ah! Ng-ngiluuu… Udahh hnghhh…”
Sambil komat-kamit mulut Mbah Dukun baca mantra dengan segelas air putih Lalu pasien disembur…
Byur…
Nyembur.
Leo cuman bisa ketawa ketika wajah tampannya disembur cairan pipis bercampur lendir yang sumbernya asli dari memek Sangwon yang abis dibikin babak belur.
Setelah puas menyeruput cairan yang keluar dari Sangwon, sang dukun akhirnya menjauhkan wajahnya dari memek itu. Leo tertawa begitu menangkap pemandangan lobang memek yang masih cengap-cengap basah kuyup mencengkram sesuatu yang kosong.
“Biasanya saya yang sembur pasien, tapi kali ini malah saya yang di sembur. Mana di semburnya pake air pipis."
Cairan sisa squirting masih terus keluar hingga Leo pun tepuk-tepuk memek sensitif itu, sebelum akhirnya memberikan kecupan ke itil yang sudah sensitif itu.
“Nghh.. M-mbah, huhu… A-ada kuntilanak di atas— Ngahhh!!”
Tidak mendengarkan keluhan si cantik yang sudah menangis ketakutan dan keenakan itu. Leo yang gak mau perngentotan mereka terhenti hanya karena sesosok kuntilanak nangkring di plafon pun memilih membalik tubuh Sangwon untuk menungging.
Leo kesenengan sendiri begitu mendapatkan pemandangan bokong sintal. Langsung saja ia tampar bokong sintal itu sampai jejak telapak tangannya tercetak jelas berwarna kemerahan di bokong mulus itu. Si cantik cuman bisa mendesah pasrah kala tangan Leo kembali bergerak menguleni pantatnya itu.
Duh, montok banget si adek satu ini. Rasanya Leo bisa bikin rumahnya banjir kayak yang sering terjadi di kota Jakarta itu. Tapi banjir yang ini bukan karena saluran airnya kesumpel sampah, tapi kesumpel kontol.
Leo lepas seluruh kain yang menutupi tubuhnya—termasuk sarung dari kain jariknya itu. Seperti dugaan, Sangwon pun dapet jackpot hari ini sebab kontol yang siap nyoblos dia besar, berurat dan siap untuk ngerobek memeknya. Belum lagi ini tipe kontol bengkok ke bawah yang bisa garuk-garuk dinding memek Sangwon sampe kelojotan nanti.
Langsung saja gak perlu pakai lama, dengan cepat langsung Leo dorong kepala kontolnya ke lobang yang udah kedutan manja itu.
Si cantik langsung teriak, kuku-kuku tangannya memutih mencengkram karpet dibawahnya begitu merasakan lobang memeknya merenggang menerima kepala kontol sang mbah dukun. Beneran gede sampe mentok ke dinding rahimnya.
“Ahh—Mhh… Mbah j-janganhh genjot duluuu. P-penuhh…”
Maka Leo turuti kemampuan si cantik. Ia biarkan kontolnya menancap didalam memek Sangwon terlebih dahulu, membiarkannya untuk menyesuaikan diri. Leo mendesah tertahan begitu merasakan dinding-dinding memek yang hangat dan lembab itu mengurut kontolnya.
Leo ciumin punggung mulus Sangwon, meninggalkan jejak-jejak kemerahan. Berusaha untuk membuat pria blonde dibawahnya ini tenang dan terbiasa menerima kontolnya yang udah ga sabar dobrak rahim si adek.
Sudah terbiasa dengan kehadiran kontol gede si Mbah, tangan Sangwon pun terulur kepala Leo yang masih sibuk menciumi leher dan punggungnya. “Mbah udah boleh gerak kok. Ayo, Mbah. Entotin memek aku ya.”
Setelahnya yang bisa Sangwon rakan hanyalah sensasi penuh dalam perutnya. Leo dengan lancar mendorong kontolnya keluar masuk karena bagian bawahnya yang sudah sangat basah dengan cairan lendir. Tiap hentakkan yang Leo lakukan begitu dalam dan cepat pula, membuat mata Sangwon sisakan putihnya saja sangking keenakannya.
“Anghh… Enakhh… Kontol Mbah enakhhh—Memek aku dibikinhh penuhhh… ah, ah, ahh!”
Vaginanya terasa begitu panas dan lembab. Sangwon bisa rasakan betapa dalamnya kontol Leo masuk ke dalam dirinya. Bentuknya bengkok ke bawah, diposisi doggy style seperti ini Sangwon bisa merasakan dengan jelas kepala kontol Leo yang garuk-garuk g-spotnya sampai perutnya terasa geli ingin segera pipis.
Sangwon menatap lurus ke depan, terengah-engah sampai lidahnya menjulur keluar tanpa sadar sebab Leo yang dengan kasar menggaulinya diatas sana. Memeknya meregang mengelilingi kontol besar Leo, ia merintih merasakan cairan tubuhnya dan cairan pra-ejakulasi Leo yang bercampur mengalir di paha gemetarnya.
“Ahhh… Udahlah dek, ga usah minta di coblos sama rakyat. Kamu ikut saya disini aja hhh—Saya jamin akan coblos kamu terus setiap hari.”
Sangwon cuman bisa ngangguk-angguk tolol menyetujui setaip kalimat jorok yang diucapkan mulut Leo. Bukan cuman omongannya doang yang jorok, karpet yang sedari awal udah jorok karena gak pernah dicuci itupun juga makin jorok karena dikotori cairan keduanya. Suara kecipak basah dan desahan nista turut memenuhi ruangan itu.
“Mbah… Mbahh… Ahhh! A-aku mau pipishh… Hh— Hnghh!”
Tak berdaya dan tak mampu berbuat apa pun selain mendesah, Sangwon merintih di setiap hentakkan pinggul Leo yang membuat tubuhnya terhentak juga. Ia merintih dan untuk kedua kali dalam hari ini, kandung kemihnya melepaskan isinya kembali. Air kencing kembali mengalir membasahi dirinya dan karpet. Paha kecilnya gemetar merasakan tetesan air kencing yang mengucur hangat dan memenuhi ruangan dengan bau amoniak.
Sementara Leo sendiri tidak mengenal kata lelah untuk obrak-abrik rahim si cantik. Ia terus menghentakkan kontolnya sampe mentok. Dalam posisi ini, Leo bisa melihat bagaimana labia Sangwon yang menempel pada kontolnya. Setiap kontol itu di tarik keluar dan masuk maka bibir vagina yang menempel pada kontolnya itu akan ikut merenggang. Leo lakukan hal tersebut berulang kali hingga Leo tenggelam sepenuhnya ke dalam tubuh si cantik.
Sangwon tersedak ludahnya sendiri. Tubuhnya bisa merasakan dengan jelas kepala kontol Leo yang membesar, pertanda bahwa pria yang tengah menggaulinya itu akan segera mencapai putihnya. Bibir vaginanya merenggang di sekeliling kontol Leo, dan itu mulai terasa nyeri.
“ANGHH!! MBAHH!! Memekhh aku robekk–hhh!”
Tubuhnya merasakan Leo yang menenggelamkan kontolnya semakin dalam. Pikirannya mulai khawatir bahwa memeknya yang menganga karena disumpel kontol gede itu tidak akan pernah kembali normal. Sangwon bahkan tidak tahu apakah ia bisa merasakankontol-kontol pria lain lagi setelah Leo menidurinya.
“Gak robek, cantik... Memeknya pinter kok makan kontol saya, ahh…”
Sangwon merinding mendengar Leo yang mendesah di samping telinganya. Tangan pria itu mulai bergerak menggoda itil Sangwon yang terasa geli karena sensitif. Mulai menguceknya dengan kasar sampai tubuh Sangwon terhentak-hentak keenakan.
“Nghhh… Mbah… Udahhh, ahnghhh.”
Tidak kuat dengan tangan Leo yang menggoda itilnya dan kontol yang terus menggaruk dinding rahimnya itu. Akhirnya Sangwon jadi yang pertama keluar. Cairannya muncrat-muncrat membasahi kontol Leo yang masih nancep dan karpet. Pahanya gemetar dan mulutnya mengeluarkan rintihan keenakan.
Di tengah keadaan Sangwon yang lagi dipuncaknya sampe kelojotan karena pelepasan, Leo yang gak punya hati tetap aja sibuk genjot memeknya. Ngerasa sayang kalau berhenti karena memek legit itu lagi negeremes kontolnya enak dan beneran kerasa anget kayak wedang jahe. Makanya dia terus mentokkin sampe si calon gubernur itu hampir pingsan karena gak dikasih jeda.
Tangan Sangwon yang sedari tadi menumpu badannya akhirnya lemes juga. Sangwon cuman bisa pasrah doang begitu tubuhnya tersungkur ke karpet karena sudah lemes mampus dipake asal-asalan sama Leo.
“Udahhh— Mbah… Nghhh…”
Leo langsung makin semangat buat rojokkin si cantik. Emang ya, kekuatan pria matang umur empat puluhan yang doyan naik turun gunung buat bertapa itu gak bisa diremehkan.
"Hamil ya cantikk, hamil aja jadi istri saya —Hhhh…”
Dari belakang, Leo kunci kedua tangan Sangwon. Kontolnya melesak semakin dalam sehingga Sangwon yakin bahwa kepala kontol Leo pasti tercetak pada perutnya.
Akhirnya setelah penantian panjang, Leo pun sampai pada titik putihnya. Mengisi rahim Sangwon dengan bibit-bibitnya hingga si cantik melenguh keenakan.
Dan begitulah akhirnya. Sangking enaknya jurus perngentotan yang Leo praktikkan pada Sangwon, sang calon gubernur pun memilih untuk menghilang tanpa jejak dari muka publik maupun kursi politisi. Tanpa disadari, kemampuan ngentot dari sang dukun tersohor tanah Jawa itu mampu menghapuskan satu dari sekian banyaknya praktik nepotisme di tanah air tercinta ini.
