Work Text:
Leo terlalu sayang sama negaranya.
Sangking sayangnya, Leo sampai merasa risih sama pasangan fwb satu tahunnya ini.
Mantan voters 02, kenalan lewat twitter.
Sudah hampir dua tahun semenjak si gendut dan pasangan kosongnya menduduki kursi tertinggi negeri, menghancurkan tatanan negeri sampai mendarah daging. Terbukti dengan pemborosan APBN demi program mbg sampai pak Poorbaya stress kepikiran tabungan negara di BI yang tersisa 120 triliun.
Meskipun era pemerintahan Prabowo-Gibran membawa banyak masalah bagi rakyat. Sampai saat ini fwb-nya itu masih setia mendukung pilihannya di berbagai platform, persis seperti buzzer yang dibayar 200 perak per komentar. Sayangnya dia lebih buruk, melakukannya dengan kesadaran penuh.
“Ihhh, Leo liat dehh… Pak Prabowo abis surprise-in mayor Teddy.” Pekik Sangwon, tatapannya tak lepas dari ponselnya. “Tuh kan, apa aku bilang. Pak Prabowo sama bawahannya aja baik, apa lagi sama rakyat.”
Leo memutar matanya malas, memilih untuk fokus mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas.
200 juta rupiah uang rakyat—atau mungkin uang hasil bisnis sawit yang diperoleh dari menumbalkan nyawa rakyat dihabiskan hanya untuk menginap satu malam di jantung kota Paris, memberikan surprise ulang tahun mewah kepada si brondong kesayangan. Mengabaikan fakta bahwa rakyat di negara yang dipimpinnya itu menderita. Ada budak korporat yang rela lembur demi mendapatkan bonus tak seberapa, penjual nasi goreng yang harap-harap cemas karena pendapatannya belum bisa menutup modal untuk jualan di esok hari, manusia silver yang kesehatannya terancam hanya demi uang recehan, serta psk yang terpaksa mengangkang demi dua lembar seratus ribuan supaya anaknya bisa mendaftar ujian masuk perguruan tinggi.
Niat awal ingin check-in bareng si cantik untuk melepas penat. Tapi berakhir mumet kala harus menghadapi pola pikir Sangwon yang bertentangan dengan idealismenya. Membuat Leo harus memikirkan nasib bangsa besar yang sebentar lagi hancur dibawah kepemimpinan otoriter.
Sebagai pegiat sosial media yang sering debat sama Abu Janda. Idealisme yang tertanam dibenaknya mengobarkan semangat untuk meruntuhkan rezim prabodoh, rezim yang menyebarkan budaya korupsi sampai ke inti tanah bangsa. Yang kini kata ‘korupsi’ itu sendiri tak lagi digunakan dan diganti dengan kata KEBIJAKAN.
Kebijakan yang katanya dibuat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, tapi nyatanya dibuat untuk mensejahterakan kantong para petinggi-petinggi di gedung pemerintahan itu.
Rakyat dirugikan. Dipaksa memakan tahi rezim yang dianggap seperti emas, sudah termakan oleh cuci otak yang dilakukan si gendut melalui makan bergizi gratis dan janji-janji manis 19 juta lapangan pekerjaan.
Janji-janji manis yang disebut sebagai ‘program’ itu seperti tahi ayam. Hanya panas di awal. Hanya membara ketika dikumandangkan dalam kampanye yang sebenarnya terasa seperti pidato asal bunyi tanpa melakukan riset terlebih dahulu.
Mirisnya para rakyat yang terlalu polos termakan oleh janji-janji manis itu.
Leo tidak berniat menghakimi. Hanya merasa miris melihat sebuah negara yang berhasil merdeka dari penjajah asing atas perjuangan seluruh rakyat Indonesia, tapi pemerintahnya sekarang malah menjajah rakyatnya sendiri. Sudah 80 tahun ikrar kemerdekaan berkumandang, namun rakyatnya masih hidup diambang ketidakpastian ekonomi sementara para bandit negeri itu ongkang-ongkang kaki di dalam ruangan ber-AC.
Hidup sebagai rakyat dimana kelas menengahnya rentan terhadap guncangan ekonomi. Gaji hasil banting tulang sebulan habis sekejap mata untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian naik sementara gaji masih nihil kenaikkan.
Kenapa tidak ada yang marah?
Apakah para rakyat sudah terlalu lelah mengais pundi-pundi rupiah yang berakhir hanya untuk menyokong kehidupan para petinggi negeri itu?
Atau, mereka terlalu sibuk bertarung untuk bertahan hidup sampai tak sanggup lagi memikirkan ketidakadilan yang perlahan menggerogoti mereka persis seperti belatung yang menggerogoti daging busuk?
Lalu, apa bedanya kita dengan daging busuk itu sendiri?
Indonesia adalah negara demokrasi, dimana kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat— yang bahkan sedari sekolah dasar, konsep ini telah diajari oleh para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang pengorbanannya tidak dihargai di negeri ini.
Seharusnya mereka mengerti dan menyuarakan ketidaksetujuan mereka akan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat. Namun bisa dilihat hasil dari perjuangan para guru dalam mendidik anak bangsa itu. Tidak terasa sebagaimana gaji para guru honorer. Suara yang seharusnya meneriakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia itu dengan mudahnya dipaksa diam menerima ketidakadilan hanya dengan sepeser uang.
Indonesia sedang di ujung jurang. Leo serius. Negara ini sudah dipenuhi oleh akar-akar korupsi dan kebodohan yang mencabik-cabik tanah Ibu Pertiwi hingga tanah yang katanya ‘kaya’ itu tak lagi subur untuk kesejahteraan rakyatnya.
Kehancurannya semakin terlihat kala terpilihnya seorang penjahat HAM sebagai seorang presiden, pelecehan bagi perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
Dulu, para pejuang yang menyuarakan kemerdekaan Indonesia dianggap sebagai ancaman. Mereka diburu, dimasukkan ke dalam penjara, lalu diasingkan. Dan yang terburuk adalah dibunuh lalu jasadnya tak pernah ditemukan.
Dan kini sejarah buruk itu terulang lagi. Pemerintahan anti kritik, mengerangkeng tiap individu yang mengkritisi kebijakan-kebijakan mereka yang di luar nalar. Praktik-praktik otoriter kembali dicetuskan sebagaimana sang Ayah mertua memegang kekuasaan dulu. Demonstran yang hilang berbulan-bulan, kemudian ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Tak ada pengusutan serius mengenai kematian 10 korban jiwa saat unjuk rasa. Aktivis yang menyatakan ketidaksetujuan mereka, berakhir disiram oleh air keras.
Tentu saja. Nyawa rakyat mana mungkin berarti untuk seseorang yang memiliki rekam jejak sebagai pelanggar HAM berat di tahun 1998 itu.
Penjahat HAM diberi kesempatan untuk memimpin sebuah negara. Penurunan sistem pola pikir manusia dapat terlihat, entah karena kebanyakan makan micin—yang selalu saja disalahkan padahal sebenarnya tidak bisa membuat orang menjadi bodoh, atau karena kurangnya pemerataan pendidikan karena sedari awal negeri ini dipimpin oleh manusia-manusia yang takut rakyatnya menjadi pintar.
Para ahli tata negara telah berusaha untuk menyebarkan kesadaran agar rakyat dapat berperilaku bijak dalam memilih pemimpin negara selanjutnya. Analisis menggunakan ilmu mendalam, fakta-fakta transparan, serta pendekatan visioner telah mereka lakukan. Namun apa yang bisa dilakukan kalau 56.424.389 suara rakyat lebih memilih manusia berbiji satu itu, yang bahkan gagal dalam memimpin sebuah rumah tangga.
Entah apa yang salah. Sistem atau manusianya?
Padahal hari ini Leo berniat bersenang-senang merayakan kemenangan 1-0 Manchester United di markas Chelsea bersama Sangwon. Namun begitu mendengar nama prabowo kembali disebut oleh fwb kesayangannya itu, kebahagiaan fana di tengah keputusasaan ekonomi itu melebur digantikan kesadaran realita bahwa Leo adalah seorang wni dan presidennya adalah penjahat HAM.
“Baik sama rakyat gimana? Kamu gak liat di berita kalau si prabowo itu boros dalam pemakaian APBN negara demi kamar hotel 200 juta per malam? Terus program MBG yang dulu kamu bangga-banggain itu anggarannya sampai 6.2 trilliun, pemborosan APBN negara. Dan sekarang liat rezimnya malah melakukan pemborosan 1,5 Miliar cuman buat sikat dan semir sepatu.” Dalam satu helaan napas Leo berhasil menyebutkan sekian nol koma sekian persen dosa-dosa Prabowo selama era kepemimpinannya itu, membuat Sangwon melongo mendengarnya.
“Kalau udah benci emang susah ya. Padahal itu bukan salahnya Prabowo, tapi bawahannya.” Kata Sangwon membela junjungannya itu sebagaimana membela Tuhan.
“Buset, presiden lu balita ya? Makanya gampang dibegoin bawahannya.” Balas Leo sengit, tak suka dengan alasan yang diberikan Sangwon yang menurutnya tidak masuk di akal. “Kalau tau orangnya bego, kenapa dipilih? Otak lu taro dimana?”
Aduh, kasar. Bukannya tersinggung, gairah Sangwon malah terpancing.
Intermezzo dikit. Alasannya Sangwon demen ngentot sama Leo, selain orangnya pinter debat dengan argumen yang disertai fakta, Leo tuh juga pinter banget dalam skill entot-mengentot. Apalagi kalau lagi emosi, makin sedap sampe bikin Sangwon ngiler ngebayanginnya.
Dan yang paling berbekas di ingatan dan memeknya itu, waktu Leo baru pulang dari demonstrasi penghapusan tunjangan DPR. Bau keringet, lepek, dekil, tapi masih semangat buat rojokin memek Sangwon sampe besoknya susah jalan. Leo lampiaskan rasa frustasi dan marahnya kepada Sangwon sebagai salah satu dari kelompok 58.6% di bulan Februari 2024 silam. Sementara Sangwon cuman bisa mendesah keenakan diperlakukan kasar. Emang masokis tipis-tipis dia tuh.
Semenjak kejadian itu, Sangwon jadi ketagihan dikasarin pas lagi sama Leo. Setiap sebelum ngentot, pasti si cantik banyak akal itu akan membawa topik pemerintah yang membuat Leo kesal, yang akan dilanjutkan dengan sesi ngentot keduanya.
“Otakku di kepala lah. Kamu tuh jangan suka liat keburukannya doang, harusnya kamu lihat kalau program MBG ini bermanfaat buat banyak orang.”
“Manfaat apaan? Maksudnya anak-anak yang keracunan karena MBG itu manfaat?”
Nah, bentar lagi meledak nih.
“Ya sabar dong, program presiden perlahan pasti akan memberikan hasil. Lagian meskipun pilihan kamu yang menang, program dia gak bakal langsung terasa kan manfaatnya?” Sangwon mencoba untuk mencari pembenaran. Ponselnya tak lagi ditangan, posisinya tak lagi rebahan diatas kasur menandakan betapa sengitnya perdebatan mereka malam ini.
“Argumen lu gak logis. Lu ngerti gak sih kalau program si Prabowo itu bisa bikin nyawa orang lain terancam?” Leo menghela napas, “Udah satu setengah tahun dia menjabat, tapi negara ini hampir hancur—”
“—Ngerti sabar gak sih? Semuanya butuh proses. Kita udah ngentot satu tahun aja aku gak rewel minta kamu pacarin. Giliran kamu, nyoblos kagak tapi soal ngeluh nomor satu”
Argumen yang menyerang secara pribadi itu langsung bikin Leo terdiam. Mulutnya tak lagi mampu bersuara dalam debat malam dengan tema ‘Kepemimpinan Prabowo sang Presiden Gemoy Berhati Iblis’ kalau Sangwon sudah membahas persoalan kerumitan hubungan mereka yang disebabkan oleh Leo dalam kesulitannya untuk berkomitmen. Masalah anak muda zaman sekarang, udah nyaman bukannya komitmen tapi malah frekuensi ngentotnya yang diperbanyak.
Kalau udah begini, jangakan debat, ngentot pun Leo sudah tak mampu. Sangwon berhasil membungkam Leo sebagaimana si wowok membungkam rakyat yang mengkritisi kepemimpinannya.
Leo pun menghela napas pertanda kekalahannya. Tubuhnya yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar mandi pun kini berjalan mendekati kasur. Leo merebahkan diri dan menarik selimut bersiap untuk tidur, seakan dia lupa bahwa di sebelahnya masih ada Sangwon yang sudah siap untuk bersenggama setelah dihubungi Leo siang hari tadi.
“lho, kok tidur? Kita gak jadi main?” Sangwon yang duduk bersila di atas kasur membuka suaranya. Padahal hari ini Sangwon telah mengenakan tanktop pink dan celana pendek, niatnya ingin menyenangkan sang partner karena Leo pernah bilang kalau Sangwon terlihat cantik ketika mengenakan setelan merah muda.
“Udah gak napsu.”
Sangwon kecewa, ternyata usahanya untuk memancing amarah Leo agar persetubuhan kasar yang membuat tubuh Sangwon merasakan surga sudah tidak berlaku lagi. Mungkin karena sangking buruknya keadaan negara ini, Leo sampe udah gak semangat lagi buat melampiaskan kemarahan terhadap terpilihnya paslon 02 itu dengan cara menggaulinya. Memilih pasrah akan nasib negara tercintanya yang mungkin akan bubar dalam beberapa tahun lagi.
Tapi gimana dong, Sangwon udah kepalang sange. Sebagai warga negara Indonesia yang memberikan suara kepada pasangan 02 hanya karena gemes liat kucing peliharaan Prabowo bernama Bobby Kartanegara itu, Sangwon mana peduli tentang nasib negaranya. Ia termasuk ke dalam antek-antek yang berpikir bahwa politik tidak akan berpengaruh dalam kehidupannya. Ia lebih memikirkan mengenai nasibnya malam ini yang harus tidur disaat hasrat pengen ngentotnya masih setinggi hasrat Leo yang ingin menggulingkan rezim mbg.
Jadi, didasari oleh napsu ngentot yang lebih penting dibandingkan napsu melihat ekonomi Indonesia membaik. Sangwon pun mulai beraksi.
Ia bangun dari posisinya. Bergerak mendekati Leo kemudian mendudukkan tubuhnya di perut Leo. Tak peduli apabila sang partner baru saja akan masuk ke alam mimpi.
“Ngapain?” Beban yang terasa di perutnya membuat Leo segera membuka mata, menatap Sangwon yang tengah duduk diatasnya.
Sangwon tidak menjawab pertanyaan Leo. Ia menumpukan kedua tangannya di samping kepala Leo. Perlahan, mulai menggerakan badannya maju mundur. Menggesekkan belahan labianya yang masih tertutup celana tidur diatas penis Leo yang perlahan mulai tegang.
“Nggghh…” Sangwon mendesah pelan. Gerakannya semakin cepat menggesek-gesek memeknya ke batang penis Leo.
Kakinya mulai gemetaran merasakan sensasi penis tegang Leo yang menggosok klitorisnya dibalik celana tipis yang dikenakan keduanya. Sangwon sengaja tidak menggunakan celana dalam malam ini, berniat memudahkan Leo untuk menelanjanginya.
Celana tidurnya yang tipis dan halus membuat gesekan terasa enak. Memeknya makin becek. Sangwon pun menekan pusat tubuhnya semakin kuat. Dengan gerakan berani, jari-jarinya bergerak menuju karet celana Leo. Menurunkan kain yang menghalangi Sangwon untuk melihat penis favoritnya yang sudah sepenuhnya tegang akibat kegiatan gesek-menggesek antar kelamin itu.
Si cantik makin semangat. Bukan hanya gerakan maju-mundur semata, namun Sangwon mulai menghentak-hentakkan tubuhnya ke penis Leo yang kini tak ditutupi sehelai kain, berusaha untuk mengejar kenikmatan—
“L-Leooo— A-anghh… Mmm... M-masuk~”
Sangking cepatnya hentakan yang Sangwon lakukan, tanpa sengaja penis Leo masuk ke dalamnya sampai setengah bagian hingga keduanya mendesah keenakkan.
Hangat. Basah. Nikmat. Hanya kata-kata itu yang bisa Leo ungkapkan begitu penisnya masuk ke dalam lobang Sangwon. Meskipun tidak langsung merasakan dinding vagina yang memijatnya karena adanya friksi kain, Leo benar-benar puas akan sensasi baru tersebut.
“A-ahh! Please… H-hhh…” Sangwon terus membiarkan ujung penis Leo mencolok-colok lobang memeknya dibalik kain celana. Rasa geli bercampur nyeri dari kain tipis celana tidur yang ikut masuk setiap ujung penis Leo masuk ke dalam vaginanya membuat Sangwon keenakan bukan main. Bagian tengah celana tersebut mulai basah terkena cairannya, meninggalkan noda gelap yang terlihat jelas pada fabrik kain berwarna cerah tersebut. Memeknya udah becek. Sangking beceknya, Leo bisa lihat untaian lendir tipis yang menjulur di antara penis Leo dan celana Sangwon tiap hentakkan yang dilakukan si cantik.
Perlahan napsu Leo yang sempat hilang mulai datang lagi. Hatinya saat ini tengah gusar akan nasib negaranya yang berada di ambang kehancuran. Namun melihat godaan lelaki cantik yang sedang memantul-mantul di atas tubuhnya jelas membuat Leo terdistraksi dan ingin kembali melanjutkan aktivitas mencari kenikmatan duniawi.
Tetapi Leo sekali-kali ingin mempermainkan si cantik. Sudah beratus-ratus kali Sangwon memancing amarah Leo dengan mengungkit kebodohannya dalam pemilihan presiden. Maka hari ini, Leo biarkan Sangwon berusaha mencari kenikmatannya sendiri, sebagaimana rezim prabodoh membiarkan rakyatnya menderita sementara mereka bersenang-senang.
Leo dapat melihat napas Sangwon terengah-engah, mulai kelelahan. Tidak biasanya Sangwon yang memimpin permainan. Dia selalu jadi pihak yang dienakin sama Leo. Entah pake lidah, jari atau penis, Leo selalu melayani Sangwon dengan sepenuh hatinya.
Ini pengalaman pertama bagi Sangwon dalam ngenakin partner sambil mencari kenikmatan sendiri, tentu saja stamina Sangwon gak kuat. Gerakannya mulai melemah, kembali menjadi sekadar menggesekkan kelamin.
Tenaga yang mulai habis membuat Sangwon bersender ke tubuh Leo. Ia masih menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga dadanya yang sensitif bergesekkan dengan kain tanktop dan dada bidang Leo yang kini menjadi tumpuannya
“Hnghhh! L-Leo… Gerak, please… Aku capek~”
Lama-kelamaan Sangwon mulai geram. Udah lima menit dia gesek-gesek kelamin sampai ujung kontol masuk, tapi Leo hanya mengawasi tanpa adanya minat bersenggama. Padahal disini, Sangwon butuh inisiatif Leo untuk memasukkan kontolnya ke dalam vaginanya yang banjir sebagaimana inisiatif pak Jokowi dulu masuk ke gorong-gorong untuk meninjau langsung penyebab banjir di Ibu Kota Jakarta.
Sangwon semakin bergairah. Ia menggoyangkan pinggulnya semakin cepat untuk mencapai kenikmatannya sendiri. Bunyi gesekan basah terdengar jelas di kamar yang sunyi setiap kali Sangwon menggesekan memeknya ke atas dan ke bawah sepanjang batang penis Leo.
“Leo! Leo! Leo—!! emhh…” Dalam tiga hentakan terakhir, suara Sangwon bergetar begitu merasakan gelombang kenikmatan keluar dari tubuhnya. Dari balik kelopak matanya yang tertutup, ia bisa melihat bintang-bintang hasil dari kenikmatan yang dikejarnya.
Kini kepala Sangwon kini terkulai lemas di bahu Leo, sibuk mengatur napasnya yang memburu.
“Enak ya jadiin gue alat gesek-gesek memek?” Suara Leo mengalihkan perhatian Sangwon yang masih berusaha mengatur napas.
Sangwon mendongak ke arah Leo, menangkap wajah tampan yang memasang ekspresi datar. Perasaan marah, kecewa, dan sedih bercampur dalam hati Sangwon, merasa kalau seakan Leo tidak merasa puas akan perjuangannya yang telah berusaha membuat keduanya keenakan.
“Begitu aja marah. Dasar anak abah, udah dua tahun belum move on juga dari pemilu.”
Baru saja Sangwon ingin bangun dari posisinya, tangan Leo langsung meremas pantat sekal Sangwon. Tangan satunya lagi menggeser bagian tengah celana pendek itu ke samping hingga memperlihatkan labia Sangwon yang sudah basah akibat aktivitas yang baru saja dilakukan.
Jari telunjuk Leo perlahan mulai menggoda bibir memek Sangwon yang sudah licin dan panas. Tubuh Sangwon merinding merasakan labianya yang masih sensitif bersentuhan langsung dengan jari-jari Leo yang terasa dingin akibat pendingin ruangan, kontras dengan tubuh Sangwon yang panas akibat gairah.
“Mmmhh… Leo~” Desah Sangwon manja.
Napas Sangwon tersengal. Ia meraih tangan Leo, mengarahkan jari telunjuknya untuk menggoda klitorisnya yang sudah tegang di antara kedua labianya.
“Leo… Mainin memek aku, please ~” Bisik Sangwon manja, suaranya bergetar akan napsunya yang tak bisa lagi ia dibendung. “Memek aku udah gatel bangettt…”
“Gak tau malu. Barusan ngatain gue sekarang malah mohon-mohon memeknya dienakkin.” Leo mendengus geli mendengar Sangwon yang kini mulai merengek. “Keseringan dientot sama yang bijinya satu ya? Makanya baru di fingering sama yang bijinya lengkap, memeknya langsung mengap-mengap kayak gini?”
Plakk!!
“Nggghh—! Leo… Ahhh…” Sangwon menggigit jarinya kala Leo memberikan satu tamparan pada memeknya. Pinggulnya bergetar, sensasi panas dan ngilu dari tamparan yang mengenai klitorisnya itu membuat Sangwon keenakan bukan main.
“Jawab, sayang… Jangan desah doang kayak lonte.”
Melihat Sangwon yang udah mulai teler, Leo terkekeh pelan. Padahal permainan mereka baru saja dimulai, tetapi memek Sangwon terus-terusan mengeluarkan cairannya sampai menggenang di atas perut Leo. Tapi Sangwon tak meminta berhenti, si cantik malah semakin nakal. Dia mulai menggerakan pinggulnya pelan, menggesekkan memek beceknya ke perut Leo.
Leo pun menuruti keinginan Sangwon yang ingin dienakin. Ia mendorong perut Sangwon hingga si cantik kembali duduk tegak dengan kedua tangannya menumpu tubuhnya yang sudah lemas.
Dengan perlahan kuku jari telunjuk Leo menggaruk pelan klitoris Sangwon, memberikan sensasi ngilu bercampur geli yang membuat si cantik memekik kaget. Matanya setengah juling, mulutnya terbuka kecil, sementara air mata membasahi pipinya.
“Leoo…!! Aaahhh!!” Sangwon menjerit keenakan, tubuhnya langsung menggelinjang hebat kala merasakan sensasi kuku Leo yang menggaruk-garuk klitorisnya. Rasanya klitorisnya terlalu sensitif hingga membuat Sangwon merasakan rasa geli bercampur ngilu yang tajam.
Dinding vaginanya berdenyut nikmat mendorong cairan kental keluar dari lobang senggamanya, mengotori perut Leo lagi.
Di bawah sana, Leo tersenyum puas melihat reaksi keenakan Sangwon. Ia bangun dari posisinya terlentangnya. Dengan tangan yang masih sibuk ngucekin memek Sangwon, Leo mulai menindih Sangwon hingga si cantik pun kini sudah berada di bawah Leo.
“E-enakhh… Leo~ Nghh… Enakhh…”
Mata Leo tak lepas dari wajah Sangwon. Mengamati setiap perubahan ekspresi si cantik ketika Leo garuk lagi klitorisnya dengan tekanan yang lebih kuat dan lambat. Dari atas ke bawah, lalu mencubit dan memilin klitorisnya yang sudah merah merona.
Leo semakin gencar, Dia menekan kukunya lebih dalam, menggaruk klitoris Sangwon dengan gerakan lebih cepat dan pendek, menggelitik titik paling sensitif milik Sangwon.
Tubuh Sangwon menggelinjang bukan main. Pinggulnya naik turun sendiri berusaha mencari nikmatnya sendiri. Memeknya semakin basah setiap kali kuku Leo menggaruk klirorisnya. Desahan Sangwon semakin nyaring dan terputus-putus pertanda bahwa dia akan sampai ke puncaknya
“Hnghh…! Leoo!! Aahhh…!!”
Namun tepat sebelum Sangwon mencapai nikmatnya, Leo menghentikan aksinya. Tindakan Leo mengundang desahan frustasi Sangwon.
Dia langsung mendorong tubuh Leo menjauh. Jari-jarinya langsung bergerak mengobok-obok memeknya sendiri, berusaha mencapai titik nikmat yang gagal ia capai sebab Leo yang tiba-tiba berhenti.
Leo hanya mendengus geli melihat Sangwon yang tengah berusaha keras. Alisnya mengerut, matanya berkaca-kaca kabur akan napsu. Sambil menunggu Sangwon yang tengah berjuang keras mencapai nikmatnya sendiri, Leo melepaskan bajunya sambil mengusap-usap kontolnya menonton aksi Sangwon yang terlihat sangat seksi di mata Leo.
Sangwon terus mencoba sampai beberapa detik, memasukkan tiga jarinya langsung ke dalam lobang vaginanya yang sudah banjir cairannya sendiri. Namun sekeras apapun Sangwon mencoba, pelepasan itu tidak pernah datang. Ia butuh sesuatu yang lebih besar, lebih panjang agar bisa langsung menekan titik sensitifnya.
“Leooooo!! Mau di-ewe sekaranggg!!”
Sangwon kembali mengangkang dalam posisi rebahan di hadapan Leo. Dengan cepat ia langsung melepaskan celana pendek yang sedari tadi terus lupa untuk dilepas karena napsu, melemparnya secara sembarangan.
Segera, Sangwon mengangkat kedua kakinya. Menahan pahanya dengan kedua lengannya hingga kini posisi tubuh Sangwon terlihat seperti terlipat menjadi dua. Dalam posisi ini, Sangwon bisa merasakan Leo dapat menelannya bulat-bulat. Ia menggigit bibir bawahnya, napasnya tersengal. Tangan Sangwon bergerak ke antara kedua pahanya, bergerak merentangkan kedua sisi labianya yang sudah memerah.
Lobang memek Sangwon terbuka sempurna, memperlihatkan dinding vaginanya yang merah muda dan basah mengkilap, berkedut-kedut mengundang Leo untuk segera masuk. Lendir bening keluar perlahan dari lobang sempit itu, menetes melewati anus sampai ke sprei.
“Leoo…” Desah Sangwon manja, berusaha menggoda Leo. “Memek akuu udah basah bangett…” Sangwon menggoyangkan pinggulnya kecil, membuat memeknya yang sudah direntangkan itu semakin terlihat jelas oleh Leo.
“Leooo, cepettt… Masukin kontol kamu sekarang… Memek aku udah gatel bangettt…” Rengek Sangwon dengan suara manja dan putus-putus.
Terus-menerus di goda seperti ini, lantas Leo pun bergerak mendekati Sangwon. Namun bukannya menuruti apa yang Sangwon inginkan, Leo kembali mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberikan satu tamparan lagi ke memek Sangwon yang terpampang jelas di hadapan Leo.
Plakk!!
“Hnngghh…!!”
Sangwon menjerit nyaring. Tubuhnya langsung kejang hebat merasakan sensasi panas dan perih yang menyengat, langsung menyebar dari permukaan memeknya yang sensitif. Tanpa bisa ditahan, Sangwon muncrat, mengeluarkan air kencing bercampur lendir yang menyemprot dengan kuat. Membasahi perut, dada, bahkan wajah Leo yang sebelumnya berada tepat di depan memeknya.
“Leoo… A-ahhh— J-jangan di tampar terusss… Hnngh!!!” Sangwon meringis. Tubuhnya masih kejang-kejang kecil. Cairan hangat masih terus menyembur sedikit demi sedikit dari lubang memeknya yang berkedut, membasahi sprei dan selimut di bawahnya.
“Tau dari mana pilihan gue pas pemilu kemarin, hm?” Leo bergerak menindih Sangwon. Ia mulai memberikan tanda kepemilikannya, menodai leher Sangwon dengan warna merah yang dalam beberapa menit lagi akan berubah menjadi warna keunguan. “Lu paham luber jurdil gak?”
Tidak ada jawaban dari Sangwon. Pemuda cantik itu terus menggumamkan kalimat inkoheren. Kepalanya terlalu pusing merasakan nikmat yang diberikan oleh Leo.
Plakk!!
“Ngahhh!! U-udah…!!” Sangwon kembali menjerit kala satu tamparan kembali mendarat pada memeknya.
“Jawab Sayang…”
“T-tau.. Tau…” Jawab Sangwon di tengah isak tangisnya. Tidak tahan harus menunggu sampai kapan Leo akan berhenti menggodanya.
Plakk!!
“L artinya apa?”
Sangwon menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa dia sudah lupa akan arti Luber Jurdil yang sudah diajarkan sedari sekolah dasar itu.
“Artinya langsung sayang… Masa gitu aja gak tau.”
Plakk!!
“Kalau U, kamu tau artinya apa?”
Sangwon hanya bisa memekik keenakan ketika memeknya kembali di tampar. Ia tidak bisa fokus mendengarkan pertanyaan Leo. Otaknya dipenuhi napsu, terlalu fokus akan sensasi tidak nyaman pada vaginanya yang ingin segera dipenuhi.
Plakk! Plakk!!!
“Emang bego karena kebanyakan dientotin ya? Pelajaran anak SD aja kagak ngerti.” Leo menggelengkan kepalanya, seakan tengah kecewa pada Sangwon yang lupa akan makna luber jurdil. “ U artinya umum. Artinya apa, sayang?”
“U-umumm—Hnghh…”
“Pinter…” Leo menangguk puas. Tangannya bergerak mengelus pelan memek Sangwon yang sudah sangat merah, labianya juga terlihat bengkak karena sedari tadi terus Leo tampar.
Leo terus memberikan tamparan pada vagina Sangwon sampai si cantik benar-benar mengetahui apa kepanjangan dari luber jurdil. Mulai dari asas langsung hingga asas adil. Tiap satu asas yang diucapkan, Leo ikut berikan satu tamparan agar si cantik bisa terus mengingatnya.
Hingga akhirnya sesi hafalan itu selesai dengan sempurna. Penuh dengan air mata Sangwon beserta cairan lendir yang terus keluar dari memeknya. Napas Sangwon sudah terengah-engah. Tubuhnya oversensitive akibat Leo yang terus bermain-main dengan memeknya sampai terasa kebas. Leo bisa merasakan bahwa sebentar lagi Sangwon akan pingsan karena overstimulasi.
“Sekarang memeknya udah pinter kan? Udah siap dientotin ya?”
Sangwon yang awalnya lemes pun jadi semangat lagi denger memeknya yang udah basah ini akhirnya mau dimasukin juga sama Leo. Dengan sisa-sisa kesadarannya, ia lantas mengangguk dengan cepat, memeknya yang awalnya udah kebas itu mulai kedat-kedut lagi pengen segera dimasukin penis berurat Leo.
Akhirnya, buah kesabaran Sangwon pun terasa manis. Memeknya yang udah ngocor pun akhirnya disumpel pake kontol.
Keduanya langsung mendesah keenakan ketika penis Leo masuk ke dalam liang memek Sangwon. Tanpa nunggu lama, Leo langsung bergerak menggenjot memek si cantik sampai mendesah keenakan. Ukuran kontol Leo tuh besar dan tebel, selalu bisa bikin Sangwon puas sampe tubuhnya gemeteran bukan main.
“Ahhh! Nghhh… E-Enakhh….”
Mulut Sangwon menganga keenakan. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Sangwon dapat merasakan sensasi penuh diperutnya ketika Leo memasukkan penisnya ke dalam dirinya. Leo pun juga mendesis keenakan merasakan nikmatnya dinding vagina Sangwon yang bergerak memijatnya.
“Ngempot banget, anjing!”
Sangwon berjengit kalah Leo menariknya untuk duduk dipangkuannya. Rasanya Sangwon mau pingsan sebab dalam posisi ini, Sangwon bisa ngerasain dengan jelas bagaimana kontol Leo masuk dan ngedobrak pintu rahimnya.
Apa lagi pas Leo ngenyotin dada Sangwon, menggigit pentilnya kemudian diemut sambil diteken-teken pake lidah. Sangwon secara otomatis langsung mendesah nyaring, tidak kuat menahan stimulasi yang Leo berikan pada tubuhnya.
Leo yang mendengar Sangwon mendesah keenakan pun makin semangat menghentakkan pinggulnya agar masuk semakin dalam. Memek Sangwon terus berkedut-kedut memberikan sensasi pijatan pada kontol Leo. Leo hanya bisa mendesis keenakan saat kontolnya itu dijepit sama vagina rapet dan hangat milik Sangwon.
“L-Leooo, e-enakhh… Hnghh— E-enakh bangetthh…”
Mendengar pujian Sangwon, Leo pun semakin kuat menghentakkan pinggulnya. Sangwon pun tidak diam saja, ia ikut menggoyangkan pinggulnya agar kontol Leo semakin dalam melesak ke dalam memeknya. Biar dia hamil sekalian terus dinikahin sama Leo.
Mungkin sangking pusingnya Leo akan permasalahan di negaranya dan sesi perngentotan mereka yang terlalu enak, Leo sampai lupa buat pakai kondom.
“Ahh…!! Leo, l-lebihh kencenghh… hnghh!!!”
Pusing. Leo pusing ngeliat Sangwon yang desah-desah keenakan tepat di telinganya. Ia langsung menggenjot si cantik di pangkuannya semakin kasar sehingga Sangwon semakin memeluknya dengan erat.
“Hhhh— Coba aja kalau kamu bisa seberisik ini di orasi demo penghentian mbg.” Tiba-tiba Leo bermonolog. Sangking sayangnya Leo dengan tanah airnya, di tengah aksi seks hebat pun ia masih memikirkan aksi-aksi untuk meruntuhkan rezim mbg.
“Hnhghh—? A-ahh! P-pelan…”
“Coba kamu teriak ‘bubarkan mbg’, aku mau denger.”
“B-bubarkan mbg! Bubarkan mbg—! Nghhh…”
Mendengar orasi yang dikumandangkan di tengah aktivitas ngentot membuat Leo makin semangat. Ia menggenjot memek Sangwon lebih kuat sehingga desahan Sangwon makin kenceng. Si cantik bisa merasakan perut bagian bawahnya menegang akibat kandung kemihnya yang mulai penuh. Sensasi geli ketika klitorisnya bergesekkan dengan kontol Leo yang keluar masuk pun bikin Sangwon makin panik karena sebentar lagi dia akan kencing.
“L-Leo!!! M-mau pipishh!!” Sangwon memperingati Leo. Meskipun tadi dia sudah kencing di ranjang Leo, ia tidak mau membuat masalah untuk kedua kalinya.
Namun bukannya berhenti, Leo malah makin semangat genjotin lobang memek Sangwon yang rasanya makin ngempot karena si cantik lagi berusaha buat nahan pipisnya. Tangan Leo yang awalnya memeluk tubuh Sangwon pun bergerak ke bawah, kucekin itil si cantik buat mancing air seninya untuk segera keluar.
Desahan Sangwon makin kenceng, ngalahin bersiknya ompreng mbg pas jatoh. Mungkin saja satu lantai kos-kosan seharga dua juta per bulan ini sudah sadar bahwa salah satu penghuninya lagi sibuk ngentot. Oleh sebab itu, Leo semakin semangat buat hentak-hentak pinggangnya sebagaimana dulu si wowok hentak-hentak podium sebelum virus gemoy menyerang.
“N-Nouhhh…!!”
Gak pake lama, pipis Sangwon langsung ngucur bersamaan dengan Leo yang ngeluarin pejunya di dalam Sangwon. Keduanya mendesah keenakan, tubuh mereka langsung ambruk di kasur yang udah basah sama pipis dan cairan Sangwon. Kayaknya besok Leo harus gotong royong bareng Sangwon buat nyuci dan jemur ini kasur.
Sambil mengatur napas, Sangwon mengelus perutnya. Rupanya cara Sangwon bawa-bawa si gemoy dalam sebelum sesi pengentotan mereka dimulai masih berlaku. Ia bisa merasakan sperma Leo yang terasa hangat di perutnya, gerak dikit aja dia yakin kalau sperma itu akan ngalir keluar dari memeknya.
Makanya di tengah rasa lelah abis ngentot, Sangwon berusaha ngempotin memeknya supaya spema fwb favoritnya. Berharap kalau dia bisa segera hamil dan dinikahin sama si Leo secepat mungkin.
“Jadi gimana? Enak gak nyoblos pencoblos kosong dua?”
Leo tak langsung menjawab, matanya menerawang atap kamarnya selama sekian detik sebelum akhirnya dia menoleh ke Sangwon yang berada di sampingnya.
“Kayaknya besok aku mau ikut demo pembubaran mbg. Kamu ikut, kan?”
Mendengar pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan itu pun membuat Sangwon menghela napas pasrah.
“Iya, ikut.”
