Actions

Work Header

2AM

Summary:

“Lo tau nggak Kak, apa yang gue nggak suka dari lo and everything between us?”

Work Text:

Dua orang yang berbeda. Dua isi kepala yang berbeda pula. Tidak semua isi kepala bisa disatukan dengan mudahnya, termasuk isi kepala dari Soobin dan Yeonjun. Tidak akan pernah mudah untuk menyatukan isi kepala dari dua orang yang sama-sama memiliki ego tinggi dan kepala sekeras batu, pun berbagi isi kepala sama sulitnya. Tembok ego yang dibangun keduanya cukup tebal untuk ditembus satu sama lain. Di beberapa waktu keduanya akan dengan mudah membuka salah satu pintu dari tembok ego panjang dan tinggi yang dimilikinya, tapi di beberapa waktu lain mereka akan menambal tembok yang mereka miliki dengan tambahan semen setebal sepuluh sentimeter.

Berselisih paham dalam hal kecil maupun hal besar sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Soobin dan Yeonjun, tetapi di beberapa waktu keduanya akan lebih memilih untuk menang atas dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dengan dinamika antara dua orang dengan sifat bertolak jauh antara satu dengan yang lain pun dengan ego yang sama besarnya untuk mengambil waktu beristirahat dengan menjauh agar tidak ada yang hancur. Dan yang terakhir adalah yang paling panjang dan melelahkan untuk keduanya. Baik Soobin maupun Yeonjun tidak yakin kapan perang dingin antar keduanya bermula, tetapi mereka sadar mereka sudah berada di titik jenuh untuk sekedar berbasa-basi nyaris satu tahun. 

Baik Soobin ataupun Yeonjun juga sama-sama tidak tahu bagaimana mereka harus mendefinisikan hubungan yang mereka miliki. Sudah terlalu banyak perasaan yang mereka miliki bahkan sesederhana menatap satu sama lain untuk sekadar disebut teman, terlalu berantakan untuk disebut pasangan karena mereka tidak tahu sekadar dimana batas-batas dua orang untuk bisa disebut sebagai pasangan, terlalu dangkal untuk disebut sebagai rekan kerja, pun tidak bisa hanya disebut sekadar sebagai teman seks. Tidak ada label pasti yang bisa mendefinisikan hubungan yang mereka miliki, tetapi mereka sudah melakukan semuanya. Dengan tidak adanya label yang pasti, maka keduanya juga tanpa sadar memutuskan bahwa masalah perasaan antara satu dengan yang lain bukan menjadi urusan mereka. Mereka tidak mau mencampuri urusan satu sama lain, masalah perasaan adalah tanggungjawab masing-masing.

Tidak ada yang mau bergerak untuk menyelesaikan semua yang berserakan di bawah kaki mereka, didukung dengan jadwal Soobin dan Yeonjun yang sama padatnya. Tinggal di bawah satu atap bukan berarti mereka sering bertemu. Entah Soobin atau Yeonjun  yang mulai menghindar, tetapi baik Soobin ataupun Yeonjun selalu memastikan jadwal mereka untuk pulang tidak bertepatan antara satu dengan yang lain. Yeonjun yang jelas pulang larut mungkin tidak sulit untuk menghindari Soobin karena Soobin biasanya sudah menutup pintu kamarnya rapat saat Yeonjun pulang, begitu pula Soobin yang sering memilih untuk pulang lebih cepat dan langsung mengurung diri di kamarnya tanpa harus repot-repot bertemu dengan Yeonjun. Di beberapa waktu terkadang Yeonjun pulang saat Soobin masih duduk di sofa ruang tengah, tanpa melihat siapa yang datang Soobin langsung beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya karena Soobin hafal aroma parfum Yeonjun, begitu pula Yeonjun yang langsung melengos masuk ke kamarnya. Di waktu lainnya kadang mata mereka bersirobok satu sama lain tetapi segera memalingkan wajah kemudian atau akan berpura-pura sibuk dengan ponsel setelah itu.

Tidak ada yang memulai untuk membuka percakapan karena mereka sendiri juga tidak mengerti akar masalahnya. Keduanya berpikir fase saling menjauh, saling memberi waktu, atau bahkan tidak saling berbicara merupakan fase yang normal untuk manusia. Semua interaksi yang terjadi merupakan interaksi yang natural yang sangat mungkin terjadi setelah bertahun-tahun hidup dengan orang yang sama untuk jenis hubungan apapun, menurut keduanya. Soobin akan memberikan waktu sebanyak yang Yeonjun butuhkan tanpa menyusup di sela-selanya, begitu pula Yeonjun yang paham jika Soobin akan banyak membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Tidak ada salah satu dari mereka yang berpikir untuk bertemu di tengah. 

Keduanya kelewat paham semua yang mereka lakukan sering membuat masing-masing merasa terlalu penuh, terlalu berat, dan terlalu melelahkan. Yeonjun juga bukan tipe yang bisa dengan mudah dan gamblang membuat apa yang dirasakannya jelas di depan Soobin, pun dengan permintaan maaf. Yeonjun berpikir, untuk apa memberikan maaf tetapi kosong. Semua argumen antar keduanya sudah menjadi hal yang terlalu biasa, jadi tidak ada yang mau ambil pusing.

Orang-orang akan selalu berkata, komunikasi. Soobin dan Yeonjun juga paham. Semua orang bisa berkomunikasi, tapi Soobin dan Yeonjun tidak tahu apakah cara berkomunikasi mereka benar atau tidak. Soobin dan Yeonjun tidak terlalu paham dengan komunikasi yang dimaksud harus seperti apa. Sepanjang Soobin mengenal Yeonjun dan sebaliknya komunikasi yang mereka lakukan jarang menemukan titik temu yang membuat keduanya sama-sama mengerti. Sebuah komunikasi yang dilakukan belum tentu adalah komunikasi yang baik.

Terkadang, Yeonjun rindu Soobin. Soobin juga rindu Yeonjun. Ujung jempol Soobin kadang nyaris bergerak untuk menekan ikon panggilan di ruang pesan Yeonjun, tetapi urung setelahnya. Pun dengan Yeonjun, terkadang jarinya sudah bergerak untuk mengetik beberapa kalimat tetapi urung dikirimnya, berujung dihapus bersih. Menyerah untuk menghubungi terlebih dahulu karena selalu berpikir, untuk apa? Memang siapa yang salah? Apa yang salah? Untuk apa juga minta maaf? Diam yang keduanya miliki bukan lagi diam yang nyaman.

Sampai di malam lainnya Soobin akhirnya membuka suara, “Kak.”

Yeonjun berjengit kaget, sebelah tangannya masih bertumpu ke tembok sementara sebelah yang lain berusaha melepas sepatunya. Mengurungkan niatnya membuka sepatu Yeonjun menarik nafas pendek sebelum kembali berdiri dan menemukan Soobin yang menatapnya lurus dari sofa ruang tengah. “Oh, hai,” Yeonjun balas dengan kikuk, tidak tahu apa yang harus dilontarkan berikutnya. Bergeming di tempatnya, suara Soobin masuk ke telinga Yeonjun yang segera menjalar langsung ke jantungnya. Hanya terdengar suara jantungnya sendiri dan detik jam bergerak di ruang tengah yang menunjukkan pukul satu dini hari memenuhi telinga Yeonjun. Yeonjun sadar jantungnya berdebar dengan cara yang tidak wajar. Sudah lama Yeonjun tidak merasakannya dan sekarang rasanya… aneh. “Gue kira…” Yeonjun berhenti sejenak, membasahi bibir bawahnya walaupun yang tiba-tiba terasa kering adalah tenggorokannya. “Lo udah tidur…?” Suara tidak yakin yang keluar dari bibir Yeonjun setelah itu. 

Lama tidak berbicara lebih dari lima patah kata dengan Soobin membuat Yeonjun kehilangan kemampuannya untuk merangkai kalimat berhadapan langsung dengan Soobin seperti ini. Kepalanya yang semula penuh mendadak menjadi hening. Yeonjun juga bingung harus melempar tatapnya ke mana karena, demi Tuhan, Yeonjun tidak pernah bisa menatap mata Soobin langsung lebih dari lima detik dalam situasi seperti ini. Yeonjun sulit mencerna semuanya.

Soobin menggeleng. Matanya menelisik Yeonjun rata dari ujung rambut hingga sepatunya, Yeonjun tidak pulang setelah bekerja. Rambutnya tidak tertata, hanya rambut hitam dengan poni jatuh lembut di dahi yang sudah mulai menutupi matanya. Hoodie kebesaran milik Soobin, Soobin tidak mengira Yeonjun masih akan mengenakan hoodie hitam miliknya yang sengaja ia tinggalkan di kamar Yeonjun. Ripped jeans yang membalut kaki rampingnya dengan apik. Converse classic hitam yang umurnya sudah lebih dari dua tahun dan Yeonjun akan selalu mengenakannya setiap bersama Soobin. Nafas Soobin tercekat pendek. Sudah terlalu lama Soobin tidak mengambil waktu untuk menatap Yeonjun lebih dari sepuluh detik penuh. Rongga dadanya sedikit nyeri karena Soobin rindu. Soobin beranjak dari sofanya dengan tarikan nafas kasar cukup panjang, kakinya bergerak menuju kamarnya meninggalkan Yeonjun yang masih terpaku berdiri di depan pintu masuk.

Giliran nafas Yeonjun yang berhenti di pangkal. Yeonjun tidak tahu harus melakukan apa. Kakinya lekat ke lantai, tidak bisa bergerak. Bibirnya juga tidak bisa bergerak untuk memanggil Soobin. Nyeri langsung menyerang tubuhnya. Ujung jarinya kaku dan Yeonjun menggigit bibir bawahnya cukup keras. Yeonjun lebih memilih Soobin yang pura-pura tidak melihatnya ketimbang Soobin yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa penjelasan setelah satu kata keluar dari bibirnya. Yeonjun terpaku di tempatnya berdiri. Tidak menghitung berapa lama dirinya masih berdiri di depan pintu masuk tetapi setiap suara detik jam yang masuk ke telinganya jadi satu hantaman tidak kasat mata tepat di kepalanya, mengingatkan Yeonjun sudah berapa lama Soobin meninggalkannya di sana.

Baru saja Yeonjun berusaha untuk buru-buru melepaskan sepatunya, badan Soobin sudah menjulang di hadapannya. Bayangan yang sudah terlalu dikenalnya itu membuat gerakannya lagi-lagi terhenti. Tarikan nafas pendek dan kasar dari Yeonjun mungkin akan sampai ke telinga Soobin, tapi Yeonjun tidak peduli. Susah payah Yeonjun menahan air mata yang sudah memaksa ingin keluar dari ujung matanya. Soobin masih belum mengeluarkan suara bahkan saat Yeonjun mengusap wajahnya kasar. Hoodie abu dan jaket hitam langsung menyambut Yeonjun setelah ia memastikan tidak ada air mata yang keluar dari matanya meskipun ujung hidungnya sudah kemerahan.

“Kak,” Lagi-lagi hanya satu kata yang keluar dari Soobin dan Yeonjun rasa jika Soobin masih berbicara dengan cara seperti itu kepadanya Yeonjun akan kehilangan sabarnya. Yeonjun menunggu dengan helaan nafas lelah. “Gue rasa kita butuh ngomong,” Soobin berdehem sedikit, seakan mengoreksi kalimatnya. “Kita harus ngomong.” 

Deret yang keluar dari bilah bibir Soobin membawanya kembali ke tanah. Yeonjun tidak mungkin tidak paham dengan kalimat yang dimaksud Soobin, tidak memiliki pilihan lain Yeonjun hanya mengangguk pelan. Wangi parfum Soobin yang sudah lekat dengan hoodie abu yang dia pilihkan khusus untuk Soobin menyeruak masuk ke paru-parunya, ikut melekat ke setiap sisinya. Wangi yang akan selalu melekat dalam ingatannya, walaupun terkadang sering membuat Yeonjun nyaris kehabisan nafas dan tersiksa satu tahun belakangan.

Soobin mengambil sepasang converse hitam miliknya. Sama dengan milik Yeonjun, hanya berbeda ukuran. Yeonjun ataupun Soobin mungkin tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Mengenakan barang yang lekat dengan satu sama lain mereka lakukan di bawah alam sadar mereka. Barang yang akan selalu terasa familiar untuk keduanya. Barang yang akan selalu terasa nyaman jika dikenakan. Barang yang akan selalu mengingatkan mereka akan rumah.

Rasanya kalimat yang keluar dari Soobin dengan enteng meluncur dari bibirnya, namun kenyataannya tidak. Soobin menghabiskan hampir satu minggu malam-malam dengan tidur kurang dari tiga jam. Malam-malam tanpa tidur yang membuatnya nyaris mati hanya untuk memikirkan apa yang salah dari hubungan mereka. Soobin tidak tahan jika harus menahannya lebih lama. Dia sudah terlalu rindu. Sudah terlalu jauh yang membuatnya ingin kembali merasakan Yeonjun di dalam pelukannya. Tubuh Soobin bereaksi cepat saat lengannya tidak sengaja bersentuhan dengan Yeonjun saat mengenakan sepatunya. Nafasnya berhenti satu detik sebelum ujung jarinya bergerak meraih hoodie Yeonjun, namun secepat kilat diurungkannya. Masih ada yang harus diselesaikannya, bukan saat yang tepat.

Setelah Soobin berhasil mengenakan sepatunya, Soobin berpaling ke arah Yeonjun. Memperhatikan rambut Yeonjun yang membingkai wajahnya lembut, ingin menyingkirkan rambut yang mengganggu mata Yeonjun tapi Soobin hanya memalingkan wajahnya dengan tangan yang dengan cepat meraih kunci. “Pake hoodienya yang bener Kak, dingin.” Soobin berujar pelan sembari membuka pintu. Menahan pintunya dan menunggu Yeonjun keluar terlebih dahulu. Yeonjun menggigit ujung bibirnya pelan, melangkah keluar dari tempat tinggal mereka. Tangannya dengan cepat membenahi hoodienya agar menutup kepalanya, Soobin tidak pernah lupa untuk membuat Yeonjun merasa hangat dengan cuaca akhir tahun seperti ini.

Yeonjun tidak bisa berbohong. Hatinya menghangat setelah perhatian kecil dari Soobin. Ujung sepatunya mengetuk lantai pelan, menunggu Soobin selesai mengunci pintu. Kedua tangan Yeonjun selipkan masuk ke kantong hoodienya, menyembunyikan jemarinya yang saling meremas untuk menahan dirinya. Yeonjun menatap punggung Soobin. Nyatanya Yeonjun juga kelewat rindu.

“Yuk,” Soobin menyelipkan kunci ke kantong belakang celananya. Sebelah tangannya juga ikut terselip ke kantong jaketnya, menahan tangannya agar tidak menyambut lengan Yeonjun. Soobin mengusap hidungnya asal sebelum berjalan mendahului Yeonjun menuju lift.

Yeonjun berdehem kecil setelah Soobin menekan tombol untuk menuju ke lantai dasar. Tidak ada kata yang keluar selama lift tersebut bergerak dari lantai 10. Berada di satu ruang yang sama membuat keduanya menahan nafas. Yeonjun kembali meremas tangannya, matanya memilih untuk memperhatikan angka di lift yang terus berganti setiap lantainya. Sementara Soobin menatap pintu lift yang memiliki pantulan bayangan Yeonjun. Soobin berusaha menahan senyum kecilnya menemukan mata Yeonjun tidak lagi menjadi mata tanpa nyawa seperti yang dilihatnya terakhir kali.

Denting lift mengejutkan Soobin dan Yeonjun, pintu lift terbuka. Yeonjun masih tidak bertanya ke mana Soobin akan membawanya, Yeonjun selalu percaya pada Soobin. Jarang Yeonjun bertanya ke mana Soobin membawanya pergi, langkahnya hanya mengikuti langkah panjang Soobin di depannya. Yeonjun suka dengan langkah Soobin yang tidak terburu-buru. Walaupun kakinya akan melangkah lebih cepat dan jauh darinya tetapi Soobin akan berusaha mengimbangi langkah Yeonjun jika sedang jalan berdua. Semuanya dilakukan tanpa sadar.

“Kak,” Soobin membuka suaranya kembali setelah beberapa meter mereka melintasi jalan yang sudah jelas familiar untuk keduanya. Yeonjun mengangkat kepalanya, menggumam kecil dengan tanya di belakangnya. “Mau minum?”

Dahi Yeonjun berkenyit kecil bersamaan dengan ledakan di dalam dadanya. Memori tahunan lalu yang melekat di sudut kecil kotak ingatan yang akan selalu Yeonjun simpan mendadak menyeruak keluar memenuhi kepalanya. Sama seperti pertama kali Soobin mengajaknya untuk minum karena umurnya yang sudah melewati batas legal. Sudut bibir Yeonjun sedikit terangkat dibarengi dengan anggukan pelan tanda setuju.

Seperti pertama kali. Yeonjun baru sadar jika mungkin seperempat umurnya sudah dihabiskan bersama dengan Soobin. Beberapa nama Yeonjun mungkin masuk ke list ‘Semua Hal yang Choi Soobin Lakukan Pertama Kali’. Dirinya dan Soobin sama-sama tidak terlalu jago jika berhubungan dengan minum. Sama-sama sadar jika keduanya mabuk tidak ada yang bisa membawa mereka pulang dengan aman. Soobin dan Yeonjun akan selalu membuat kesepakatan di awal siapa yang hari itu harus membawa yang mabuk jika mereka keluar untuk minum berdua. Yeonjun juga sudah hafal bagaimana Soobin akan tiba-tiba menjadi sangat menempel ke dirinya dalam keadaan setengah sadar. 

Sekelebat bayangan itu menggelitik Yeonjun. Mengirimkan hangat ke bagian tubuhnya yang lain walaupun udara dingin masih cukup menusuk kulitnya. Yeonjun rindu Soobin. Yeonjun rindu melakukan semuanya dengan Soobin. Kakinya masih bergerak mengikuti langkah Soobin.

Soobin membawa Yeonjun ke tempat pertama kali mereka keluar berdua untuk minum. Tangannya mengepal di dalam kantong jaketnya. Tempat yang akan selalu dipilihnya saat isi kepala Soobin runyam. Tempat yang akan selalu dipilihnya saat Soobin merindukan presensi Yeonjun di sebelahnya. Soobin tahu Yeonjun tidak akan protes ataupun menolak karena yang mereka butuhkan memang minum agar bisa berbicara.

“Dua  orang. Private room.” Soobin sampaikan itu kepada salah satu karyawan toko yang disambut dengan senyuman ramah. Mungkin sudah tidak lagi asing dengan Soobin ataupun Yeonjun karyawan tersebut mengantarkan ke private room yang terletak cukup jauh dari keramaian toko. Soobin balas dengan senyuman lengkap lesung pipinya setelah menyampaikan semua pesanannya sekaligus dengan milik Yeonjun yang sudah dihafalnya di luar kepala. Pintu ruang makan mereka ditutup. Soobin duduk berhadapan dengan Yeonjun dengan cahaya temaram di antaranya.

Yeonjun selalu menarik untuk diperhatikan. Untuk Soobin. Terlebih di bawah cahaya temaram. Wajahnya masih akan tetap lebih bersinar dibanding lampu temaram yang hanya menggunakan setengah dari energinya untuk menerangi ruangan. Rambut Yeonjun memiliki warna yang sama dengan milik Soobin sekarang. Hitam. Rambut Yeonjun sudah panjang. Pipinya sedikit lebih tirus dibandingkan dengan ingatan terakhir Soobin. Soobin membasahi bilah bibirnya dan kakinya mulai bergerak sedikit tidak nyaman. Pun dengan atmosfer yang sama sekali tidak bisa dikatakan nyaman tidak ada yang memilih untuk mengeluarkan ponsel, entah ingin sama-sama memilih menyiksa diri dengan keadaan tidak nyaman atau hanya ingin menikmati waktu yang sudah terbuang satu tahun ke belakang tanpa adanya eksistensi satu untuk lainnya. 

Soobin masih sama seperti terakhir kali Yeonjun perhatikan dengan seksama, hanya saja wajahnya menjadi lebih tegas sekarang. Ujung jari Soobin yang mengetuk meja pelan menjadi distraksi untuk Yeonjun. Yeonjun alihkan atensinya pada jari Soobin, Yeonjun sadar sudah lama dirinya tidak menyentuh jari yang selalu membungkus tangannya hangat itu lama. Terakhir kali yang Yeonjun ingat sentuhan jari Soobin pada bahunya tipis. Selama satu tahun Soobin tidak berani daratkan sentuhan penuh untuk Yeonjun, begitu pula Yeonjun. Hanya ada sentuhan gamang antara keduanya. Sama-sama tidak berani untuk menyentuh lebih. Yeonjun gigit pipi bagian dalamnya pelan saat jarinya bergerak di luar kendalinya lima senti menuju jari Soobin. Berhenti tepat sebelum benar-benar menyentuhnya.

Yeonjun rasanya akan meledak. Yeonjun ingin menyentuh Soobin walaupun hanya ujung jarinya. Yeonjun rindu dengan nyaman yang diberikan Soobin walaupun hanya melalui sentuhan ringannya.

“Soob-” Suaranya keluar dengan tercekat, nyaris tidak terdengar oleh Soobin. Pintu terbuka saat Soobin baru akan merespon Yeonjun, tampak karyawan yang mereka temui di awal membawa pesanan mereka. Yeonjun menghela nafas gusar diiringi anggukan saat pelayan tersebut menata semua menu yang mereka pesan di meja.

“Menunya sudah lengkap semua, ya? Boleh panggil saya jika butuh tambahan menu lain, selamat menikmati!”

Tiga menit yang terasa sangat lama untuk Yeonjun, rasanya Yeonjun ingin segera mendorongnya keluar. “Okay, terima kasih.” Ujar Soobin dan Yeonjun nyaris bersamaan dengan cepat, seakan sama-sama ingin buru-buru memastikan pelayan tersebut cepat keluar dari private room mereka.

Tepat setelah pintu ruangan mereka tertutup Soobin dan Yeonjun menghela nafas kecil lega. Terdengar dengusan nafas Soobin disambung dengan tawa kecilnya. Yeonjun ikut terkikik kecil. Keduanya sama-sama memikirkan hal yang sama. Gilla, tiga menit berharga yang harus dihabiskan dengan orang lain di tengah-tengah mereka. Soobin membuka satu botol beer dan soju, dengan cepat menuangnya di gelas dengan takaran yang dihafalnya di luar kepala. Takaran yang Yeonjun suka. Soobin mendorong gelas yang terisi nyaris penuh itu ke arah Yeonjun.

Your favorite, Kak.” Ujar Soobin sebelum menuang bagiannya sendiri. Perlahan keduanya tidak lagi merasakan atmosfer yang kaku dan nyaris mencekik leher. Yeonjun tersenyum simpul dan meraih gelasnya.

Thanks,” Timpal Yeonjun nyaris cepat sebelum meneguk penuh seperempat isi gelasnya. Desah nafas lega meluncur keluar dari bibir Yeonjun, merasa kepalanya sedikit agak ringan juga badannya yang tidak lagi terlalu kaku seperti beberapa menit lalu. Soobin ikut meneguk nyaris setengah isi gelasnya sembari memperhatikan Yeonjun yang membasahi bibir bawahnya. “Hows life?”

Pertanyaan yang ingin Yeonjun keluarkan sejak mereka berdua mengisi ruang kosong di private room itu. Pertanyaan sederhana yang selalu Yeonjun lontarkan untuk Soobin di setiap harinya ‘gimana hari ini?’ ‘ada yang menarik?’  ‘do you have anything to share?’. Merasa aneh karena lidahnya melontarkan kalimat yang sudah lama tidak keluar dengan entengnya. ‘Hows life?’ terasa asing untuk keduanya. Pun dengan Soobin yang mendengarnya. Walaupun sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan Yeonjun karena mereka hanya mengetahui kegiatan satu sama lain melalui teman dekat mereka, update sosial media, atau bahkan tidak sengaja mendengar percakapan satu sama lain dengan teman yang lain. Rasanya lucu. Soobin tarik ujung bibirnya naik dan menghembuskan nafas panjang setelahnya, tangannya meraih tengkuknya kemudian menggosoknya sedikit kaku. 

You know, Kak. It feels weird to have this kind of conversation.” Soobin menahan bibirnya agar tidak terlalu banyak tersenyum. Rasanya aneh. Rasanya lucu. Perutnya bergelenyar dengan menyenangkan hanya mendengar suara Yeonjun yang menanyakan kabarnya. Soobin beralih bermain dengan permukaan gelas menggunakan ujung jari telunjuknya sembari tatap Yeonjun dengan tatapan yang tidak bisa Yeonjun artikan dengan gamblang. Sorot mata Soobin masih tetap tajam, kali ini matanya setengah tersenyum. Sama seperti tatap mata Soobin biasanya, hanya saja kali ini Soobin menatap Yeonjun dengan isyarat rindu. Ada kerinduan dalam mata Soobin yang membuat dada Yeonjun nyaris lebur melewati rongga dadanya. “I have known you for too long and now we act like complete strangers.

Yeonjun tidak mengelak, tidak ada yang salah dari kalimat Soobin. Rasanya memang seperti kembali ulang mengenal Soobin dari awal. Melalui perkenalan basa-basi dan sesekali menanyakan kabarnya. Yeonjun gigit bibir bawahnya, menahan agar kalimat yang sudah sampai di pangkal lidahnya tidak meluncur keluar dengan mudah. Kalimat yang ingin dimuntahkannya dengan ringan. Kalimat yang selalu diketiknya pada pesan yang tidak pernah dikirimkan ke Soobin. Yeonjun banyak menahan dirinya kali ini.

“Kak, gue kangen sama lo.”

Soobin yang mengatakannya terlebih dahulu. Meluncur keluar dengan mudahnya, sedangkan Yeonjun menelan kasar ludahnya. Rasanya seperti menelan kerikil yang berkumpul di ruang mulutnya. Yeonjun ingin menangis. Yeonjun tidak tahu berapa banyak rindu yang disimpannya untuk Soobin, hingga Soobin yang mengatakan untuknya dan semua yang ada pada Yeonjun ruah. Tumpah bersamaan dengan air mata yang tanpa aba-aba keluar dari sudut matanya, segera dihapus Yeonjun dengan cepat. Soobin tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Yeonjun yang menyeka air matanya kasar dengan rongga dada yang rasanya berlubang. Soobin rindu. Yeonjun juga.

S-sorry,” suara Yeonjun tersendat, tercekat bersama dengan air matanya yang semakin mengalir turun melewati wajahnya. Sekarang kedua pipinya sudah basah. Hidungnya mulai sedikit memerah. Yeonjun juga tidak tahu mengapa air matanya terus keluar. Sekarang Yeonjun merasa kelewat konyol di depan Soobin dengan suara tersendat setiap kali ia coba keluarkan suaranya. “B-bin, I- gue juga,” lagi, suara Yeonjun kembali tercekat, masih belum bisa tatap Soobin langsung. Yeonjun memilih menunduk dengan tangan yang sibuk di wajahnya. “Gue juga kangen sama lo,” kalimat panjang yang akhirnya keluar di sela isak kecilnya.

Soobin masih tidak bergerak, pun mengeluarkan sepatah katapun. Soobin menunggu. Soobin selalu menunggu Yeonjun. Soobin akhirnya paham ini tidak hanya berat untuk dirinya, tetapi juga untuk Yeonjun. Soobin awalnya tidak banyak mengambil pusing karena Yeonjun sudah total berada di luar kepalanya. Soobin sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk Yeonjun, Soobin tahu berapa lama waktu yang harus diberikannya untuk Yeonjun, Soobin juga tahu kapan Yeonjun akan kembali untuknya. Namun, kali ini semuanya meleset. Tidak semua hal yang diketahuinya soal Yeonjun adalah pengaturan default Yeonjun jika berhubungan dengannya. Semuanya meleset. Soobin pikir dengan memberikan waktu dan membiarkan Yeonjun tenggelam dengan dunianya seperti biasa akan membuat Yeonjun kembali kepadanya tidak kurang lebih dari satu bulan. Pun dengan yang dilakukan Yeonjun untuk Soobin. Semuanya meleset. Terlalu larut untuk menebak tanpa mencoba untuk mencari titik tengah. Sama-sama menyiksa diri tanpa adanya ego yang mau turun hanya untuk berbicara.

Soobin menunggu Yeonjun. Dadanya seperti dihantam tanpa belas kasih melihat Yeonjun yang berusaha menyembunyikan tangis di depannya. Yeonjun juga paham jika Soobin bisa melihat semua yang dilakukannya, tetapi menunjukkan air matanya di depan Soobin tidak akan ada dalam daftar yang ingin dilakukan Yeonjun untuk kesekian kalinya. Soobin masih menunggu. Rasa bersalah, lega, dan senang berkelumit mengisi dada dan kepalanya. Bersalah karena seharusnya masalah mereka tidak menjadi masalah yang berlarut. Lega karena akhirnya Soobin memberanikan diri untuk bicara dengan Yeonjun, Soobin tahu Yeonjun tidak akan duluan mengulurkan tangannya untuk berbicara dengan Soobin. Senang karena semua perasaannya untuk Yeonjun bukan hanya miliknya sendiri, tetapi juga milik Yeonjun. 

Tepat saat Soobin akan berpindah untuk mengisi kursi kosong di sebelah Yeonjun, ujung jari Yeonjun menyentuh sisi tangannya. Lagi, menyebarkan gelenyar menyenangkan ke seluruh tubuh Soobin. Air mata Yeonjun sudah berhenti, sudah tidak ada lagi jejak air mata di wajahnya. Jari Yeonjun masih ragu untuk bergerak raih tangan Soobin penuh, hanya berhenti di sisi tangan Soobin dan tidak melakukan apapun setelahnya. Yeonjun membasahi bibir bawahnya sembari berusaha menyusun kalimat.

I-I’m sorry for not reaching you out, I don’t know if it would turn out like this,” Yeonjun berhenti, satu penuh tegukan alkohol basahi kerongkongannya yang mulai terasa kering setelah menangis. Ditarik jarinya menjauh dari Soobin, berkelindan jarinya antara satu sama yang lain setelah itu. Soobin menunggu Yeonjun melanjutkan kalimatnya dengan sabar. Soobin tahu ada banyak isi kepala Yeonjun yang sulit untuk dikeluarkan karena Yeonjun bukan juga orang yang vokal soal isi kepala ataupun perasaannya, meskipun dengan orang terdekatnya sekalipun. “Gue- I don’t what’s wrong between us, kita berantem nggak cuma satu dua kali. Got into arguments juga nggak cuma sekali dua kali, this one is the worst. Gue jarang bisa tidur nyenyak tiap malem wondering what could have been wrong between us,” Yeonjun bermain dengan jarinya, hanya sesekali matanya menangkap mata Soobin yang lurus menatapnya. Menatap Soobin hanya akan buat dirinya ingin melarikan diri secepatnya karena Soobin jelas sedang menelanjanginya untuk mengeluarkan isi kepalanya. Hal yang terlalu biasa dilakukan Soobin dan Yeonjun tidak bisa lari. “Gue nggak mau dateng ke lo dengan tangan kosong di saat gue nggak tau apa yang salah dari kita. Bakalan kedengeran kayak gue minta maaf ke lo cuma karena pengen lo ngomong lagi sama gue.”

Soobin mengangguk kecil setelah mendengarkan semuanya dengan penuh. Soobin juga tidak menyangkal semua yang dikatakan Yeonjun. Soobin juga tidak mau datang ke Yeonjun dengan tangan kosong dan hanya meminta maaf tanpa isi. Soobin menghela nafas pendek, mungkin sedikit menyesal kenapa tidak sejak lama mengajak Yeonjun berbicara tetapi ia juga sadar egonya juga kelewat besar kali ini. Terkadang, di beberapa waktu, Soobin merasa ia sudah banyak mengalah untuk Yeonjun, mengerti Yeonjun, membiarkan Yeonjun melakukan semua sesukanya, kali ini Soobin tidak ingin mengalah untuk itu. Soobin pikir, kali ini Yeonjun yang akan mengalah untuknya tetapi di dalam kepalanya Yeonjun tidak melakukan itu semua.

Tidak langsung menanggapi Yeonjun, Soobin meletakkan daging yang sudah disediakan ke grill pan. Wangi daging langsung memenuhi ruangan, suara khas daging yang bertemu panggangan menggelitik telinga keduanya. Soobin biarkan dagingnya sebelum beralih lagi ke Yeonjun. “Lo tau nggak Kak, apa yang gue nggak suka dari lo and everything between us?”

Pertanyaan tidak terduga yang diterima Yeonjun membuat Yeonjun mengerutkan keningnya. Bertahun-tahun memiliki hubungan (yang walaupun Yeonjun tidak tahu hubungan apa) dengan Soobin sudah jelas hal-hal yang tidak disukai antara keduanya akan ada di tengah-tengah mereka, sadar ataupun tidak sadar. Hampir dua menit keningnya berkerut, berusaha menggali isi kepalanya lebih dalam untuk menemukan jawaban dari pertanyaan Soobin. Lagi-lagi Soobin menunggu Yeonjun, tangannya bergerak untuk membalik daging.

“I… don’t know…?” Ujar Yeonjun tidak yakin, penuh ragu. Soobin tarik ujung bibirnya ke atas, mengambil mangkok dan mendorong mangkok berisi daging yang sudah matang ke arah Yeonjun, meletakkan daging lainnya yang menunggu giliran untuk matang.

Soobin tandaskan alkohol di gelasnya, “Lo selalu tenggelam di asumsi lo sendiri, gue juga sama kayak lo. Ego lo tinggi, gue juga sama tingginya. Lo milih buat menebak-nebak semuanya sendiri, pun dengan gue,” nada Soobin terdengar kelewat santai untuk Yeonjun, walaupun masih ada suara tegasnya di sana. Yeonjun berusaha memproses semua kalimat dari Soobin, menuang alkohol lain ke dalam gelasnya dan meneguknya tandas. “Lo bilang, lo nggak mau bawa maaf dengan kosong. Gue, gue pikir giliran lo yang ngalah kali ini karena gue ngerasa gue udah banyak ngalah buat lo, mau lo sadar ataupun nggak sadar,” Soobin menambahkan daging matang lagi di mangkok Yeonjun yang masih belum disentuhnya. “Atau emang itu semua cuma di kepala gue aja, gue nggak tau,” Soobin mengedikkan bahunya kecil, seolah itu semua bukan masalah yang mengganggu untuknya.

Yeonjun menelan ludahnya kasar. Yeonjun tidak tahu bagian mana dari sikapnya yang harus membuat Soobin mengalah berkali-kali untuknya, di beberapa waktu memang Yeonjun akui ia akan menempatkan dirinya di urutan nomor satu di atas segalanya, termasuk Soobin terlebih jika sudah bersinggungan dengan pekerjaan. Yeonjun terlalu lurus untuk masalah pekerjaannya dan Yeonjun tidak akan membiarkan orang lain melewati batas yang sudah digariskannya dengan tidak kasat mata untuk pekerjaannya. Yeonjun mengamini jika ia akan selalu mendorong dirinya untuk menjadi yang utama di pekerjaannya. Yeonjun tidak tahu jika itu bisa saja juga menyakiti Soobin. Di beberapa waktu lainnya mungkin Yeonjun akan melakukan apapun semaunya, tanpa banyak memikirkan orang lain. Yeonjun juga tidak tahu kalau secara tidak langsung itu menyakiti Soobin. Yeonjun pikir Soobin akan baik-baik saja dengan semuanya karena Soobin tidak banyak mengatakan apapun soal itu, tetapi ternyata Yeonjun juga meleset soal itu.

“Gue…” Yeonjun berdehem pelan, menyingkirkan rasa tidak nyaman di kerongkongannya. Berusaha memutar otaknya agar semua yang keluar dari mulutnya tidak terdengar seperti pembelaan. “Gue. Maaf. Gue nggak tau. Gue nggak tau...” akhirnya hanya itu saja yang keluar dari Yeonjun. Yeonjun tidak tahu bagaimana harus menanggapi semua yang Soobin keluarkan. Yeonjun tidak punya pilihan lain selain meminta maaf untuk semuanya.

Right,” Soobin menyiapkan satu wrap daging untuk Yeonjun, “Lo kayak tambah kurus, makan dulu terus bisa denger gue ngomong lagi abis ini,” Soobin menyodorkan wrap daging itu ke arah mulut Yeonjun, walaupun dahinya berkenyit Yeonjun tetap menerima suapan Soobin. Mendengus pelan karena Soobin melakukan itu di tengah-tengah percakapan seriusnya.

“Gue nggak menuntut lo untuk tau, Kak,” Soobin perhatikan Yeonjun yang tengah mengunyah dagingnya, masih banyak terdistraksi oleh pipi Yeonjun yang menggembung saat kunyah makanannya. “Lo sama gue hidup bareng udah berapa lama, ya? Bisa jadi seperempat umur gue isinya lo. Gue cuma mau lo tau, ada gue juga di hidup lo,”

“Bin.”

“Ya?”

“Gue,” Yeonjun gamang sejenak, “Gue juga boleh ngomong, nggak?”

“Kak, kita keluar buat ngomong, ‘kan? Gue juga mau denger dari lo.”

Yeonjun menyandarkan punggungnya ke kursi. Gigit pipi bagian dalamnya dengan kaki yang bergerak mengetuk lantai kurang nyaman. Berbicara soal Soobin yang sudah jadi bagian hidupnya Yeonjun jelas sudah paham soal itu, tetapi Yeonjun tidak pernah paham jika akan menjadi sesuatu yang sedalam itu untuk Soobin. 

“Gue… Gue minta maaf buat semua yang gue lakukan ke lo di saat gue nggak sadar kalau yang gue lakukan ke lo itu... Salah. Buat lo sakit. Maaf kalau di beberapa waktu gue mengesampingkan lo di kehidupan gue, gue sama sekali nggak bermaksud untuk itu sampai lo mikir kayak gitu.  Gue nggak ada pembelaan untuk itu karena ya… Mungkin memang gue egois. Tapi…” Yeonjun tarik nafasnya pendek. Tubuhnya sekarang sebagian besar diisi dengan rasa bersalah, tetapi Yeonjun juga ingin menjelaskan dirinya. “Lo juga tau kan gue bukan dukun? Gue… Gue nggak akan tau kalau lo nggak ngomongin itu semua ke gue. Gue pikir lo juga butuh waktu untuk sendiri, jadi gue kasih lo waktu sampai lo siap buat ngomongin semuanya ke gue.”

Soobin terdiam. Pun dengan Yeonjun.

Soobin baru saja akan membuka mulutnya ketika Yeonjun melanjutkan dengan cepat. “Gue nggak… Maksud gue…” sadar kalimatnya tidak terasa benar untuk keduanya, Yeonjun mengepalkan tangannya. Sulit rasanya hanya untuk mengurai isi kepalanya. “Kita… Mungkin emang butuh cara komunikasi yang beda. You know that, not all communication is good communication. As you said that, gue tau cara komunikasi kita seburuk itu,” Yeonjun kembali teguk alkoholnya, begitu pula dengan Soobin. Hening sejenak. Keduanya sama-sama mencerna di dalam kepala masing-masing. Soobin bisa jadi sepenuhnya setuju dengan Yeonjun, tidak berusaha untuk menyangkal semua yang diutarakan Yeonjun.

Yeonjun yang harus menangkap semuanya dengan gamblang dan Soobin yang suka bermain dengan isi kepalanya sendiri. Tidak ada yang bisa bertemu di tengah selama keduanya memilih untuk tetap bertahan di lingkaran yang sama.

“Lo bener,” Soobin mengangguk kecil, “Not all communication is good communication,” Terkekeh kecil setelahnya, “Kak, gue juga minta maaf. I should have known you better, gue akan belajar pelan-pelan buat ngomongin semuanya ke lo, tapi mungkin dengan semakin terbukanya gue ke lo setelah ini gue bakal kedengeran egois di beberapa waktu. Gue nggak akan jadi demanding dan gue akan tau kapan gue harus mengerti lo. Gue juga mau lo ngelakuin hal yang sama. Please reach out gue, Kak. Gue juga akan ngelakuin yang sama ke lo. Gue nggak mau lagi main di asumsi-asumsi liar gue atau nebak-nebak isi kepala lo juga.”

“Iya,” Yeonjun tersenyum kecil, kali ini berani untuk menatap Soobin tepat di mata. “Gue… maaf ya. I hurted you.” Soobin tidak bisa menahan hatinya untuk tidak luruh saat menatap Yeonjun seperti ini. Yeonjun mungkin akan selalu menang atas dirinya. Akan selalu mendapatkan apa yang terbaik dari Soobin. Pun dengan Soobin. Mungkin Soobin akan selalu mendapatkan versi Yeonjun yang lebih lembut untuknya. Yeonjun yang bukan hanya sebagai ‘kakak’ tetapi juga Yeonjun yang akan selalu membutuhkan dirinya.

I was wrong too. Maaf Kak, gue terlalu menuntut lo untuk mengerti gue dan semua yang gue lakukan.” Soobin berujar lembut, raih tangan Yeonjun dan membungkusnya erat dengan kedua tangannya. Rasanya hangat. Sehangat maaf Soobin yang membungkus tubuh Yeonjun juga. Yeonjun rasanya ingin meledak. Terlalu lama ia tidak merasakan tangan besar Soobin yang selalu terasa pas untuknya.

Setelah itu Yeonjun dan Soobin habiskan sisa malamnya dengan melahap semua makanan yang mereka pesan ditemani bergelas alkohol. Yeonjun tidak cukup mabuk setelah beberapa gelas tetapi Soobin cukup mabuk malam itu. Yeonjun yang harus membawa Soobin menuju ke kamarnya dengan susah payah karena tubuh Soobin jelas lebih besar darinya. Wajahnya memerah saat Soobin sudah nyaman di kasurnya, tetapi tidak cukup mabuk untuk melihat dengan jelas wajah Yeonjun di dekatnya. Yeonjun sedikit kesulitan melepas sepatu Soobin sebelum akhirnya menarik paksa sepatu itu, undang tawa kecil dari Soobin. Selesai merapikan bantal Soobin dan memastikan Soobin nyaman di bantalnya Yeonjun berniat untuk keluar dari kamar Soobin, mengambil minum tetapi Soobin lebih cepat. Tangannya meraih tangan Yeonjun dan cengkeram pergelangan tangan Yeonjun, menahan langkah Yeonjun untuk keluar dari kamarnya.

“Kak, gue mau tidur sama lo,” Ujar Soobin cepat, semakin mengeratkan tangannya pada pergelangan tangan Yeonjun. Sama sekali tidak memberikan pilihan untuk Yeonjun. Yeonjun mematung di tempatnya dengan jantung yang nyaris jatuh ke lantai kamar Soobin. Wajahnya memanas dengan cepat sementara tangannya mengepal cukup erat. Perlahan Yeonjun alihkan tatapnya ke arah Soobin. Soobin menatapnya balik dengan tatapan tajam khas miliknya, tidak ada senyum atau kerlingan mata di sana, hanya ada Soobin yang menatapnya serius. Yeonjun menghembuskan nafasnya pasrah dan mengangguk.

Rasanya aneh kembali berbagi ruangan, bahkan berbagi kasur dengan Soobin. Soobin beri ruang di kasurnya untuk Yeonjun, menunggu dengan sabar Yeonjun mengisi sisi lain kasurnya. Lengannya terulur untuk menyambut Yeonjun dalam pelukannya. Biarkan kepala Yeonjun mengisi lengannya. Hangat. Semua rasanya tepat untuk Soobin dan Yeonjun. Yeonjun mengisi sisi kosongnya dengan pas, tidak kurang, tidak lebih, semua yang Yeonjun miliki terasa pas untuk Soobin.

“Kak,” Soobin berujar pelan, dibalas gumaman kecil oleh Yeonjun. Tangan Soobin yang lain meraih wajah Yeonjun, memaksa Yeonjun untuk berhadapan tepat dengan wajahnya. Soobin tersenyum kecil saat merasakan nafas hangat Yeonjun menyapu wajahnya dengan lembut. Soobin merindukan semuanya dari Yeonjun. Mata Soobin beralih memperhatikan seluruh lekuk wajah Yeonjun. Mata Yeonjun yang hangat menyapanya. Soobin gila. Mata Yeonjun akan selalu hangat untuknya, Soobin bisa tenggelam di sana untuk selamanya. Tanpa batas waktu dan Soobin tidak akan meminta Yeonjun untuk mengeluarkannya dari sana. Memeluk Yeonjun kembali rasanya seperti pulang. Soobin tidak lagi kehilangan arah. Soobin berada di surga miliknya. “Lo… cantik banget.” Bisik Soobin pelan tepat di atas bibir Yeonjun.

Jutaan volt listrik menyapa Yeonjun, tidak mampu balas Soobin hanya jari-jari kakinya yang menggulung menahan semua ledakan dalam dirinya. Nafasnya yang patah-patah membelai wajah Soobin. Bibirnya hanya mengeluarkan udara kosong tanpa mampu bersuara. Yeonjun gila

“Kak, you know how I feel about you, right?” Bisik Soobin lagi, kali ini bergerak di atas bibir Yeonjun. Belum. Bibirnya belum daratkan kecupan ataupun ciuman di bibir Yeonjun. Soobin hanya menempelkan bibirnya ringan. Berharap Yeonjun paham untuk setiap gerakan bibirnya. “Right?”

Yeonjun menggeleng kecil. Yeonjun mungkin mengerti maksud Soobin, tetapi ia tidak ingin menerkanya asal. Yeonjun balas berbisik. Giliran bibirnya yang bergerak di atas bibir Soobin “Apa? Tell me.”

“Gue sayang sama lo. Akan selalu sayang.”

Malam itu Yeonjun merasakan jutaan kembang api meledak secara bersamaan di dalam dirinya.