Actions

Work Header

Nyicip

Summary:

Isinya cuman kenakalan Sadewa yg mau nyicipin pacar cantik dari sepupunya

Notes:

welcome to beerchains 🍺⛓️
i use local vulgar words and moans a LOT

Work Text:

Harris amat mencintai pacarnya itu, lelaki dengan tinggi semampai dengan kulit putih bersih, suara rendah merayu, tubuh yg dipahat sempurna dan rupa tampan nan menggoda. Sialan, rasanya ia rela dirinya direndahkan sedemikian rupa jika untuk bersamanya. Ia tak ada kurangnya, sungguh. Hanya saja...

"Sayang, hari ini aku lembur ya. Sorry gak bisa temenin kamu dinner, gantinya nanti aku kirimin sushi ya cantik" ucapnya didalam panggilan telfon

Harris menghela nafas, terlampau biasa. Ia hanya bisa mengangguk dan menyahuti seadanya. Lagi-lagi Arion memilih bermalam bersama tumpukkan kertas dengan untaian tinta ketimbang dirinya.

"Maafin aku sayang, besok aku janji temenin kamu shopping dan nge-date seharian ya" mohonnya kembali

"Iya deh iya, aman aja. Udah biasa aku mah" balas Harris masih terdengar sedikit kesal

"I love youu"

"Hmmn"

"I love you ayyis"

"Love you too iyon"

"Oh iya, nanti sepupu aku mampir buat ambil berkas. Tolong nanti kamu kasihin ya, berkasnya di map kuning diatas meja kerjaku"

"Boleeh, nanti aku kasihin"

"Thankyou sayang, aku lanjut kerja ya"

"Okey, semangat iyon"

Panggilan itu di tutup, ia kesal namun mau bagaimana lagi? ia tak bisa melarang Arion untuk berhenti bekerja. Harris melirik jam dinding yg masih menunjukkan pukul tiga sore hari. Masih ada banyak waktu sebelum masuk jam makan malam, otak cerdasnya itu kadang berfikir nakal dan garis bibirnya menarik senyum. Ia bawa langkah kakinya menuju laci di samping ranjang.

Pandangannya bergulir memperhatikan tiap deret benda-benda koleksi miliknya dan Arion, benda yg membuat aktivitas intim mereka sedikit menantang. Jika Arion tidak bisa menemaninya, ia pikir ia bisa untuk bermain sendirian.

Dildo berukuran besar dan sebuah vibrator kapsul ia ambil dari sana, celananya ia turunkan menyiksakan kaos hitam kebesaran milik Arion di tubuhnya. Harris melenguh kecil, padahal ia hanya baru membayangkan penis mainan itu mengoyak lubang segamanya namun rektumnya sudah berkedut antusias.

Rasanya seperti kucing yg memasuki siklus birahi, entah sejak kapan ia sudah menduduki sebuah bantal guling dan memaju-mundurkan pinggulnya disana. Batang kemaluannya ia gesek-gesek pada bahan kain itu hingga rasa panas perlahan menjalar hingga belakang telinga.

"Ngh" lenguhnya lagi-lagi keluar

Tangannya sedikit gemetar meraih botol pelumas diatas meja nakas, mengolesi gel dengan rasa dingin diarea selatannya. Tanpa ragu sedikitpun ia memasuki dua jarinya sekaligus, menekan titik yg entah sejak kapan terasa semakin gatal. 

Lidahnya berdecak kesal karena jarinya tak cukup panjang untuk meraih titik yg biasanya akan Arion hujam dengan kasar, ia merengek menangis merasa kurang puas.

Jemarinya ia cabut dan ia gantikan dengan kapsul vibrator lebih dahulu, kemudian ia dorong masuk lebih dalam dan disusul dildo berwarna ungu.

Desah Harris panjang saat titiknya ditekan kuat. Penisnya tegang sempurna dengan cairan bening yg perlahan menetes, membasahi kaos hitam tipis itu sebagian.

"Sialan remotnya kemana?" umpat Harris saat menyadari remot vibratornya yg hilang. Terlalu malas mencari akhirnya ia hanya memaju mundurkan penis mainan itu di liangnya, menekan kembali titik manis miliknya buat Harris semakin gencar menggesek penis tak seberapanya itu dengan bantal guling di bawahnya.

"Ahh iyonnhh enak... teken lebih dalem disitu sayang anghh" desah Harris nyaring, ia kembali membayangkan dirinya sedang berhubungan intim dengan yg tercinta. Baru dibayangkan begini saja rasanya Harris ingin keluar, butuh beberapa tekanan dan gesekkan saja namun bel pintu buatnya merengek gelisah. Bel itu terdengar tak sabaran buat Harris berdecak kesal karena gagal mencapai ejakulasinya.

"Brengsek, siapa sih ganggu banget" umpatnya kesal dan melempar asal dildo itu untuk keluar dari analnya. Langkahnya ia bawa sentak-sentak dan membuka pintunya kasar. 

"Oh, hai Harris" sapanya

Harris berdiri kikuk, bagaimana bisa ia lupa jika sepupu dari kekasihnya itu ingin mampir! Lelaki berkulit tan itu memandang Harris dari ujung kaki hingga kepalanya, kondisi Harris bisa dibilang cukup berantakan. Rambutnya acak dan agak lepek, tubuhnya berpeluh dengan wajah sedikit memerah. Oh jangan lupa ia hanya mengenakan kaos hitam polos kebesaran sebagai atasan dan...

itu basah ya?? monolog dipikirannya sendiri. Lelaki berkulit tan itu tak bertanya apapun, tatapan yg ia lempar terlihat datar dan biasa saja.

"Saya mau ambil barang" ucapnya singkat

"... ah, iya. Masuk dulu aja Dew" ucap Harris dan menepikan tubuhnya mempersilahkan diri untuk masuk. Lelaki itu— Sadewa namanya, memilih menurut dan mengikuti langkah ringan Harris yg menuntunnya ke ruang tengah.

"Kamu mau minum apa?" Tawar Harris mendapat gelengan sungkan.

"Gausah repot-repot, saya sebentar aja kok" jawab Sadewa

"Gapapa kok santai, mau teh atau kopi?" Tawar Harris kembali

"Kopi pahit aja kalau gitu"

Harris pergi ke dapur untuk membuatkan lelaki itu segelas kopi, ia lirik Sadewa yg masih sibuk mengelilingi ruang tengahnya yg di penuhi panjangan action figure koleksi milik Arion. Sesekali ia bertanya dengan nada sedikit tinggi kepada Harris agar terdengar, pertanyaan seperti beli dimana dan harganya berapa.

Setelah puas, Sadewa mendudukkan diri. Harris yg baru saja berniat membawakan nampan kini tiba-tiba memekik kecil dan gemetar tak kuat menompang berat tubuhnya sendiri. Ia mecengkram pinggiran counter meja dapur dengan bibir yg ia gigit kuat menahan lenguh dan desahnya yg tiba-tiba nyaris keluar.

Vibrator dalam analnya tiba-tiba saja bergetar dan kini pelahan semakin kuat buat Harris sungguh nyaris mendudukkan diri di lantai. Ia kini ingat jika terakhir kali ia mengenakan vibrator ini bersama dengan Arion di ruang tengah kala itu, bisa saja Sadewa tanpa sengaja mendudukinya saat ini dan justru mengaktifkannya.

"Kamu kenapa Harris?" Tanya Sadewa menyadari Harris yg terdiam cukup lama dipinggir counter dapur.

Harris menggeleng cepat, ia bilang dirinya tak apa-apa, sekuat tenaga ia bawa nampan itu dengan kaki gemetar dan menyajikan gelas kopi itu diatas meja. Ia mempersilahkan Sadewa untuk meminumnya sambil tersenyum getir.

"Kamu demam ya? Mukamu merah banget" ucap Sadew yg kini tanpa sadar meletakkan punggung tangannya di dahi Harris.

"Ngh... enggak kok, aku ambilin dulu ya barang kamu sebentar" ucap Harris kembali pamit meninggalkan Sadewa sendirian di ruang tengah.

Harris pergi menuju ruang kerja Arion lagi-lagi dengan sekuat tenaga, ia kini bahkan sudah mengigit kerah bajunya saat vibrator itu terus bergetar kuat dititik manisnya. Ia harus cepat-cepat mengembalikkan barang milik Sadewa, agar ia bisa mematikkan vibrator sialan ini.

"Anghh gak kuat, mau keluar..." 

Benar saja, tak lama setelah berucap seperti itu ia jatuh terduduk di samping meja kerja Arion. Dirinya ejakulasi setelah mencium aroma parfum Arion yg samar mengelilingi ruang kerjanya. 

Ia terlalu lemas untuk menarik keluar vibrator yg masih bergetar di dalamnya, begitu pula membawa berkas milik Sadewa. Ia masih biarkan dirinya terduduk dengan penis yg masih mengeluarkan sisa cairannya.

Netra sayunya perlahan menangkap bayangan Sadewa yg menatapnya dari jauh sedari tadi, lidahnya terlalu kelu untuk berkomentar apapun dan memilih mendekat perlahan. Harris pasrah saat tubuhnya diangkat dan diletakkan begitu mudah diatas meja kerja Arion.

"Basah banget Ris" ucap Sadewa, suaranya terdengar rendah buat Harris merinding bukan main.

"... Dew lepas" ucap Harris

"Menurut kamu, setelah apa yg saya lihat. Saya gak sange lihat kamu?"

"Aku pacar sepupu kamu Dew"

"Kenapa emangnya? Saya cuman mau nyicip aja sedikit" ucap Sadewa dengan tangan yg perlahan menyelisik masuk kedalam pakaian.

"Nakal, gak pakai celana ya kamu" sambung Sadewa

"Dew udah, lepasin..."

"Emangnya kamu enggak mau coba nyicipin saya?" Tawar Sadewa

Harris tak diberi waktu untuk menjawab, rahangnya ditarik kedalam ciuman basah yg tak seharusnya mereka lakukan. Kedua telinganya ditutup buat suara kotor itu semakin bergema dan berputar di kepala Harris. Sedikit perisa kopi pahit di lidah Sadewa buat sensasinya sedikit menggelitik.

Rasanya pening bukan main, rangsangan yg di terima benar-benar buat ia mabuk kepalang. Sadewa melepas pangutan keduanya membentuk benang saliva panjang yg jatuh ke dagu. Sadewa menatapnya cukup lama, netra emas keduanya saling beradu, mimik wajah tak berdaya Harris justru buat celananya semakin sesak.

"Kamu yg pertama mulai mancing saya ya Harris" ucap Sadewa kemudian mensejajarkan wajahnya diantara kedua kaki Harris. Ia dorong vibrator itu dengan jari panjangnya semakin dalam buat Harris mengejan sendiri, kepalanya mendongak jatuh kebelakang saat miliknya langsung di kulum tanpa aba oleh Sadewa. Hisapannya kuat dan lidahnya menyapu nakal tiap cairan yg keluar sedikit demi sedikit di batang kemaluannya.

"Anghh Dew... Sadewa ngh..."

Euphorianya meningkat, senyum puas tanpa sadar lolos diantara kuluman dan jilatannya. Sadewa belum puas, ia pijat lembut buah zakar Harris buat sang empu makin mengerang keenakkan.

"U-udah.. mau keluar ahh" 

Apanya yg sudah? Sejak awal Sadewa tak ada niat menuruti lelaki merah dihadapannya, ia dengan lancang melepas kulumannya dan berganti dengan kocokkan kasar yg cepat. Harris menjerit, kuku-kukunya mencengkram bahu Sadewa hingga memutih, mengangkang lebih lebar dengan pinggul yg perlahan terangkat.

"Siapa sangka Arion pacaran sama perek model begini" 

Bukannya tersinggung, Harris justru keluar saat itu juga. Netranya menggelap berkabut nafsu dengan wajah merah senada dengan surainya, cairannya jatuh membasahi perut Sadewa dan sebagian wajahnya.

"Saya perkosa disini ya, diatas meja kerja pacar kamu" ucapnya buat Harris menggeleng cepat.

"Jangan nanti Iyon tau"

"Persetan, saya enggak peduli itu"

Harris menelan ludahnya kasar, tatapan tajam penuh dominasi milik Sadewa buat nyalinya menciut. Rasanya takut luar biasa jika ia mengingat kekasih tercintanya itu, namun disatu sisi dadanya bergemuruh antusias tiap dengar untaikan kasar Sadewa kepada dirinya.

Tubuh Harris membusur ketika vibrator itu dikeluarkan dalam satu tarikkan dan digantikan dengan penis Sadewa yg sudah mengetuk-ngetuk pintu analnya beberapa kali. 

"Nyah AH!" Pekik Harris, Sadewa sudah masuk setengah tanpa peringatan.

"Fuck, sempit banget" umpat Sadewa saat rasakan jepitan luar biasa di batang sensitifnya, ia berniat memasukinya sekali hentak namun apalah daya jika anal minimalis itu harus berhadapan dengan penis berukuran tak wajar miliknya.

"Jarang dipake Arion ya makannya sempit terus?" Tanya Sadewa tidak sopan, ia tak mendapat jawaban apapun sampai—

Plak! Satu tamparan kuat hinggap di pipi pantat Harris.

"Jawab dong, jadi perek tuh yg becus" ucapnya kesal

"NGH! I-iyah"

Sadewa tersenyum puas mendengarnya, ia tarik pinggulnya sedikit dan dorong kuat hingga penis itu masuk sepenuhnya. 

Surai merah itu memekik nyaring, dinding rektumnya berdenyut dan penisnya lagi-lagi keluarkan maninya. Andrenalinnya meningkat bukan main saat mengingat titik dalam yg biasa Arion— kekasihnya tumbuk nikmat kini justru dilakukan oleh pria lain.

Dirinya pasrah tubuhnya dibalik kasar seperti terlempar dengan mudah oleh Sadewa, tubuh bagian atasnya menumpu diatas meja sedangkan kedua kakinya menggantung. Harris melolong keenakkan saat Sadewa mulai mengenjotnya cepat.

Tanpa malu ia dengan senang hati beri akses lelaki kulit manis itu untuk memakai tubuhnya dengan asal-asalan, diremas, ditampar bahkan digigit sana sini. 

"Ahh anjing enak banget"

Rasanya seperti dibawa ke langit ketujuh saat Sadewa berucap seperti itu, kaki kirinya diangkat dan ditenggerkan di bahu Sadewa. Dirinya mendorong lebih dalam hingga perut bawah Harris mencetak jelas bentuk batang kelaminnya.

"AH Dewa nghh! Enak banget nghh ahh mau pipis"

Sadewa yg mendengar itu mendengus kecil, ia kocok cepat penis Harris yg menganggur sedari tadi buat sang empu menggeleng kepalanya ribut tak kuat dengan stimulasi yg diberikan.

"Pipis cepet, pipisin meja kerjanya Arion"

"Ngh enggak mauu" rengek Harris, tangannya sekuat tenaga menahan gerakkan tangan dan pinggul Sadewa. Bagaimanapun juga ia mencintai pacarnya itu, bahkan air matanya jatuh karena menahan rasa nikmat itu sebisa mungkin.

Sadewa berdecak kesal, ia tarik tubuh Harris untuk berdiri menjauh dari meja dan kini menompang tubuhnya di tembok. Belum ada 5 detik mereka berdiri disana Harris benar-benar keluar berserta air kencingnya membasahi tembok dan lantai.

Tubuh Harris gemetar dan nyaris jatuh terduduk jika Sadewa tidak menahannya, tubuh itu kembali dibalik dan dihimpit ketembok. Kini kaki kanan dan kirinya diangkat untuk mengangkang lebar buat Harris mau tak mau harus berpegangan erat pada bahu dan leher Sadewa.

"Keluarin lidah kamu"

Harris lagi-lagi menurut, menjulurkan lidah biarkan di sesap Sadewa sesekali. Ciuman itu terdengar kotor, bunyi decak basah dan lenguh lengking bergema bagai irama.

Pinggulnya kembali bergerak teratur, menekan titik manis yg sudah mulai ia hafal letaknya. Kuluman itu perlahan pindah ke telinga Harris, menjilat serta beri geram dan nafas panas disana buat penis yg sudah keluar tiga kali itu kembali berdiri antusias.

"Dew nghh Sadewaa ahh!" 

Plak! Satu tamparan singgah kembali, kini di paha kirinya.

"Brengsek berisik banget, sengaja ya biar kedengaran tetanggamu. Mau pamer lagi di kentu sama sepupu pacar sendiri?" tanyanya sarkas. Lagi dan lagi, bukannya tersingguh dinding rektumnya justru berkedut dan mengetat.

"Masokis ya kamu, makin dikatain malah makin sange"

Harris tak dapat menjawab, pikirannya sudah ngawang. Lidahnya menjulur menjilati bibir dihadapannya meminta sebuah ciuman, lenguhnya terdengar manja saat Sadewa berikan yg ia mau. Pinggul itu kembali bergerak perlahan namun menghentaknya dalam buat Harris merengek frutasi.

"Ah! Nghh cepetin, mau cepet Dewa"

"Say please"

"Faster please nghh aku mau di ewe kasar sampe kelojotan, mau dienakin sama kontol kamu" ucap Harris memohon, benar seperti yg Sadewa katakan. Arion ternyata selama ini pacaran sama perek birahi.

"Good boy, besok ngomong gitu lagi ya di depan Arion"

"Dew-AH! Nghh—" Belum sempat Harris protes, analnya di tumbuk kasar dan cepat buat desahnya nyaring dan putus-putus saat tubuhnya terdorong tersentak-sentak. 

Sadewa menggeram rendah, dapat Harris rasakan penis itu semakin membengkak ingin mencapai pelepasannya. Tubuhnya kembali di balik, ini sudah ketiga kalinya namun Harris masih saja kaget. Lehernya di peluk kuat oleh otot lengan kiri Sadewa, rasanya seperti hampir tercekik. Sedangkan tangan kanannya memilin dan menarik gemas putingnya.

Bunyi tamparan antar kulit makin terdengar nyaring dibawah sana, kaki Harris gemetar nyaris tak kuasa menompang beban tubuhnya sendiri. Ia bertumpu ke tembok dengan kedua tangannya sebisa mungkin, sedangkan Sadewa semakin gila mendorong pinggulnya.

"Ahhh hahh" Desah Sadewa panjang.

Harris kelojotan saat rasakan semburan kuat didalam dirinya, begitu banyak dan hangat buat dirinya ikut keluar saking enaknya. Pinggulnya di tahan Sadewa agar tetap berdiri tegak dan menelan habis seluruh spermanya, cukup lama hingga terasa kembung namun Sadewa masih belum usai.

"Nghh udah, aku udah kembung Dew" rengek Harris kembali. Sadewa tertawa kecil mendengarnya, ia elus pinggul itu sayang.

"Tahan, dikit lagi. Saya ada bonus buat kamu" ucapnya

Harris menatapnya tak mengerti, tak lama setelah Sadewa selesai netranya mendelik terkejut. Batang kemaluan itu kembali membengkak.

"Wait Sadewa! Ngh mnhh!"

Sadewa kencing didalam sana, buat perut bagian bawah Harris semakin terlihat buncit oleh semua cairannya. Surai merah itu gemetar, lagi-lagi kelojotan dengan mata menjuling keatas. Pertama kalinya ia jadikan toilet seperti ini, rasanya kepalang nikmat lebih dari apapun. 

Sadewa menjilat bibirnya puas, ia tarik penisnya yg sudah layu buat lubang itu bocor mengeluarkan mani dan kencingnya. Ia lihat Harris sudah tak mampu berdiri dan perlahan jatuh terduduk dilantai, bau pesing dengan sedikit klorin dan kopi bercampur dalam satu yg perlahan mulai menyeruak di ruangan itu.

Ia lirik Harris yg sudah terlelap karena lelah, dengan kesadaran penuh ia angkat tubuh itu untuk di bersihkan. Ia bantu keluarkan semua cairannya di dalam Harris, meminimalisir sakit perut untuknya esok hari. Setelahnya ia bantu bersihkan ruang kerja Arion, hingga paket sushi datang dan ia pergi membawa berkas miliknya.

 

Series this work belongs to: