Work Text:
Hari itu Arion pulang pukul empat dini hari, lampu apartementnya remang-remang dan wewangian semerbak sepanjang ia melangkahkan kaki. Ia lihat segelas kopi hitam yg belum di seruput habis sepenuhnya, bahkan sushi yg ia kirimkan sore itu masih belum tersentuh diatas meja makan hingga baunya tak sedap. Apa kemarin malam Harris tidak makan?
Ia akan tanyakan itu esok, kini langkahnya ia bawa keruang kerjanya. Menaruh tas kerja dan beberapa berkasnya disana sebelum ia benar-benar membersihkan diri. Ruang kerja itu terlihat sangat rapih dan bersih, wewangian kembali menyengat hingga pangkal hidung.
Aneh.
Harris tak pernah serajin ini membersihkan rumah sebelumnya, biasanya ia akan meminta jasa cleaning service. Hari itu bukanlah jadwal mereka untuk membersihkan rumah. Dirinya yg terlampau lelah, memilih tak ingin ambil pusing. Ia kemudian pergi bersihkan diri dan ikut bergerumul di bawah selimut bersama Harris.
Esoknya Arion masih sesekali mondar-mandir ruang kerja, dapur dan kamarnya. Harris bilang dirinya tak enak badan, niat ingin jalan-jalan nikmati waktu bersama mau tak mau mereka tunda. Setelah antarkan makan siang untuk kekasihnya itu, kini ia membuat segelas kopi untuk temani dirinya bekerja.
Gelas keramik custom bertuliskan "Ayyis's" itu ia letakkan diatas meja, belum sempat ia dudukkan dirinya di kursi, ujung kakinya menyenggol sesuatu di bawah kolong mejanya.
"Huh?"
Arion raih dan tatap dalam benda itu, tak seharusnya salah satu mainan ia dan kekasihnya itu ada disitu. Arion mendudukkan dirinya dan berfikir cukup panjang sembari mengingat-ingat, ruangan kerjanya ini bisa dibilang cukup jarang disentuh keduanya jika sedang bercinta.
Jika Arion bosan dengan suasana kamar, mereka mungkin bermain di kamar mandi dan ruang tengah saja. Jadi kenapa bisa ada sebuah vibrator kapsul di kolong meja kerjanya?
"Apa Ayis main sendiri ya kemarin disini?" Tanyanya entah pada siapa.
Gelas kopi itu ia sesap sesekali, jika benar mungkin itu pula asalan ruang kerjanya sangat rapih kemarin malam. Mungkin surai merah itu tak ingin Arion tahu tingkah nakalnya yg main sendiri. Ujung bibirnya menarik senyum dan dengus kecil, cukup geli hati jika Harris sungguh melakukannya sendirian.
Dirinya penasaran, ia ingin lihat. Bagaimana cara lelaki cantik itu memuaskan dirinya sendiri sembari mendesahkan namanya dengan lantang, pasti seksi sekali. Matanya melirik pojok kiri langit-langit ruang kerjanya, lensa itu masih terus merekam hingga saat ini.
Lenyap sudah niatnya untuk membaca email kantor, jemarinya bergerak ringan membuka laptopnya untuk masuk ke sebuah alamat IP kamera pemantaunya. Ia masukkan username dan password dirinya, mencari rekaman kemarin sembari mengira-ngira jam berapa tontonan yg menarik hatinya itu dimulai.
Oh.
Itu bukan Harris, ada lelaki lain yg tengah merapihkan ruang kerjanya. Keningnya berkerut perlahan mengenali sosok itu.
"Sadew?"
Kursornya ia bawa untuk tarik mundur beberapa menit sebelumnya. Netranya membulat tak berkedip, masih tak percaya dengan yg ia lihat saat ini. Rahangnya mengeras, jemarinya mencengkram kuat mouse-nya, jantungnya bergemuruh penuh amarah karena hatinya terasa sakit luar biasa.
"Dew nghh Sadewaa ahh!"
Plak!
"Brengsek berisik banget, sengaja ya biar kedengaran tetanggamu. Mau pamer lagi di kentu sama sepupu pacar sendiri?"
"Nghh mnhh ahh"
"Masokis ya kamu, makin dikatain malah makin sange"
"Ah! Nghh cepetin, mau cepet Dewa"
"Say please"
"Faster please nghh aku mau di ewe kasar sampe kelojotan, mau dienakin sama kontol kamu"
Bangsat.
Arion tutup laptopnya kasar, kepalanya sakit bukan main rasanya seperti mau pecah. Hatinya tak sanggup, kedua matanya tanpa sadar mulai buram karena air mata. Dirinya sedih, dirinya marah, dirinya teramat kecewa. Wajahnya kini memerah dan ia usap dengan kasar.
Lidahnya terlalu kelu untuk berucap protes atau hanya sekedar berteriak kesal, bagaimana bisa mereka berdua menghancurkan perasaannya seperti ini?
Langkahnya lunglai ia bawa memasuki kamar dirinya bersama kekasih tercintanya itu. Air matanya reflek jatuh melihat Harris yg masih meringkuk dibawah selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Arion manarik nafasnya dalam kemudian tarik paksa selimut itu, ia dapati Harris yg meringkuk memeluk tubuhnya dengan wajah sembab.
"Udah puas kamu?" Tanya Arion, suaranya terdengar serak buat Harris entah kenapa sadar apa yg membuatnya seperti itu dan menatapnya takut.
"Puas kamu ngehancurin hati aku kayak gini? Puas kamu abis dikontolin Sadewa?" Tanyanya lagi
Mata bengkak itu kembali menangis, ia tarik tangan Arion guna menenangkan namun ditepis kasar. Sebisa mungkin ia dudukkan diri dan menarik tubuh kekasihnya yg masih saja menolak untuk ia sentuh.
"Iyon enggak hiks please dengerin aku. K-kemarin aku... aku–"
"Aku apa?! Keenakkan desah karena dientod Sadewa iya? Gak nyangka ya aku, hampir lima tahun kita pacaran Ris. Kamu tahu seberapa seserius aku di hubungan kita, aku mau nikahin kamu sayang, tapi kamu malah ngewe sama cowok lain?? Sepupu aku sendiri loh itu" ucap Arion penuh kecewa, netra tegasnya kali ini lunak mencair bersama air matanya.
"Eggak hiks, iyon dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin–"
"Dibayar berapa sih emang kamu sama sepupu aku? Udah jadi langganan lontenya dia ya, bulanan dari aku masih kurang kah buat nyukupin kehidupan luar biasa kamu itu?"
"Hiks no please, kamu jangan ngomong gitu. Aku enggak jual diri aku, semua dari kamu itu lebih dari cukup. Kamu enggak ada kurangnya iyon, aku mohon dengerin penjelasan aku dulu"
"Enggak butuh, cukup Ris aku gak bisa. Mending kita putus, biar kamu bebas sama siapa aja tanpa nyakitin hati aku"
"Enggak enggak enggak iyon! Please maafin aku, iya aku salah. Aku emang gak pantes bela diri aku, aku salah hiks, please maafin aku. Aku gak mau putus iyon" rengek Harris
Arion masih tak menanggapi Harris, ia masih menepis tangan kekasihnya itu yg berusaha menyentuhnya.
"Please jangan putus, aku sayang kamu. Aku enggak bisa tanpa kamu iyon. Hukum aku aja atau apapun itu tapi please jangan putus iyon hiks..."
Kakinya di peluk erat, ia merengek dan meraung seperti anak kecil yg tak mendapatkan apa yg ia mau. Melihat Harris sebegitunya tak ingin pisah darinya serta untaian kata yg ia susun acak hanya untuk menyampaikan jika dirinya mencintai Arion lebih dari apapun di dunia buat ego lelaki itu turun. Ada belas kasih yg terselip tiap ia tepis jemari lentiknya.
Ahhh bagaimana bisa dirinya memutusi Harris, jika cintanya sama gila seperti yg Harris rasanya.
"Okay, kamu enggak bisa tanpa aku kan? Aku turutin apa yg kamu mau"
Setelah berucap seperti itu pergelangan tangannya di tarik kasar, tubuh bagian bawahnya yg masih nyeri itu ia paksa untuk tetap berdiri stabil mengikuti langkah cepat Arion.
Harris sedikit terlempar hingga punggungnya membentur tembok, air dingin mengalir tanpa ragu lalui shower basahi tubuhnya. Netra violetnya tak beri tanda pengampunan sedikitpun, tubuh kekasihnya yg kini mengigil karena suhu air masih belum cukup menarik iba untuknya, pakaiannya bahkan sudah ditenggerkan entah kemana.
Arion berdecak kesal saat dapati ruam merah tanda cinta hiasi tubuh kekasihnya itu, tengkuknya ditarik dalam ciuman kasar. Bibirnya terus sesekali digigit bahkan tinggalkan bekas luka disana, ruam manis milik sepupunya ia timpa kembali. Disesapnya hingga membiru gelap dan gigitan kuat sebagai penutup.
Surai merah itu hanya pasrah rasakan ngilu di seluruh tanda yg Arion buat, area selatannya tak habis-habis digesek kasar oleh paha Arion. Ereksinya di tekan kuat, penisnya terasa ingin di hancurkan buat Harris tanpa sadar merengek tak nyaman. Surai ungu itu masih saja tak ambil pusing, amarah masih menguasai dirinya.
Belah bibirnya terus turun hingga berada tepat didepan ereksi Harris, ia kecup kepala penisnya beberapa kali sebelum ia bawa masuk untuk di kulum. Ia memaju mundurkan kepalanya dalam tempo stabil, salah satu kaki Harris ia tuntun untuk naik keatas bahunya agar ia bisa lebih mudah meraba pipi pantat kekasihnya itu.
"Nghh ah! Iyonh..." pekik Harris saat pintu analnya digoda jemari Arion dan tangan lainnya meremas paha dalam miliknya sensual.
Surai merah itu mendongak rasakan nikmatnya mulut Arion di batang sensitifnya, lubang kencing di jilat sesekali serta hisapan kuat buat miliknya berkedut ingin keluar. Arion mempercepat temponya, total abai dengan rambutnya yg sudah acak-acakan karena Harris menjambaknya sesekali.
Tak perlu lama, Harris lemas perlahan terduduk setelah mengeluarkan ejakulasinya dimulut Arion. Netra sayunya melihat Arion yg menjulurkan lidahnya dan menariknya dalam ciuman, untuk pertama kalinya Harris rasakan mani-nya sendiri. Ada rasa geli aneh yg tak bisa ia utarakan, mungkin rasanya tak segetir milik Arion atau Sadewa kemarin karena kedua orang itu kadang menghirup nikotin, meminum kopi atau bahkan alkohol.
Setelah dipaksa menelan cairannya sendiri Harris kembali dipaksa berdiri dan tubuhnya di putar untuk kembali bertumpu pada tembok, shower air yg sedari tadi menyala dimatikan. Arion merogoh laci di dekat wastafel, ia ambil sebotol baby oil disana dan menuangnya di punggung Harris.
Perlahan minyak itu turun mengenai belahan pantatnya, Arion perhatikan itu dalam diam. Lubang anal yg sering ia abaikan untuk tumpukkan kertas di kantor itu mengap-mengap haus sentuhan, sedikit nampak memerah dan bengkak mungkin karena aktivitasnya kemarin bersama Sadewa, namun yg membuat Arion salah fokus adalah lubang itu bukan lagi berbentuk bulat keriput kecil menggemaskan yg terakhir kali ia ingat, seperti ada garis lurus samar disana. Sekilas bentuknya seperti vagina dimata Arion.
"Aku enggak tahu kamu sekarang punya memek Ris, pantesan aja satu kontol aku enggak cukup buat kamu" ucap Arion
Terlalu vulgar, ada gejolak aneh diperutnya saat Arion menghinanya seperti itu. Ia sendiri tak mengerti maksudnya memiliki 'Memek' itu, namun elusan kecil Arion yg semakin licin efek baby oil dilubang sanggamanya buat ia kembali melenguh keenakan.
"Persis memek, lubang pantat kamu sekarang persis memek" ucap Arion kembali, ia bahkan merenggangkannya untuk mengintip sekilas dinding rektum yg benar-benar berkedut seakan memanggil penisnya. Arion menjilat membasahi bibirnya sebelum organ tak bertulang itu masuk menerobos kedalam sana.
"Nghh iyon jangan itu jorok ahh"
Arion mana pernah peduli itu, dari awal aktivitas mereka sudah terlampau jorok untuk dihentikan. Lidahnya semakin aktif masuk lebih dalam membelai dinding daging yg berusaha meremas lidah miliknya, liur dan baby oil bercampur buat lubang itu benar-benar basah, penisnya bahkan kembali menegang karena lidah Arion menyenggol titiknya sesekali, belum lagi deru nafas panas Arion disana. Harris total melayang, sudah tak ingat lagi apa-apa selain tentang analnya yg minta di obrak-abrik.
"Iyonhh udah, mau... mau kontol kamu aja. Memek aku gatel mau digarukin kontol kamu"
Arion yg mendengar itu menyipit tak suka, ia sudahi kegiatan menjilati hidangan utama miliknya. Ia tarik kasar wajah cantik itu menoleh kebelakang, rahangnya di cengkram kuat hingga membekas merah diatas kulit pucatnya.
"Beneran jadi lonte ya kamu, udah enggak ada harga dirinya"
Sakit sekali hati Harris mendengarnya, airmatanya jatuh. Ini bukan lagi fetish masokis yg ia idamkan, Arion bukan tengah lakukan foreplay, ia sungguh benar kecewa dan menghinanya. Ia masih sesegukkan menangis meski pipi pantatnya masih setia diremas dibawah sana. Arion yg menyadari itu tertawa kecil.
"Gimana sih jadi lonte kok cengeng, buka lebar-lebar memeknya"
Harris kembali menurut, melebarkan analnya kembali menampakkan dinding rektum yg berkedut. Tanpa diberi aba, batang kemaluan yg entah sejak kapan mengacung tegak menerobos masuk, rasanya ngilu luar biasa karena kurangnya penetrasi. Harris merengek rasakan ngilu, kekasihnya itu masih saja tidak peduli. Arion mundurkan sedikit pinggulnya sebelum kembali mendorongnya lebih dalam.
Pekikkan Harris total menggema berserta tangisnya, meraung meminta prianya itu berhenti kasar padanya, rasanya perih bukan main saat analnya langsung di gempur kasar. Kekasihnya itu seperti kesetanan menjadikan tubuh Harris seperti boneka seks yg bisa dipakai sesuka hati. Kaki gemetarnya dipaksa untuk tetap berdiri kokoh, wajahnya memerah dengan jejak air mata dan liur dimana-mana.
"Hiks iyonh pelan... sakit ngh"
Lagi-lagi Arion abaikan itu gerakannya semakin tak teratur, jemarinya cengkram pinggul rampingnya hingga membekas kemererahan saking kuatnya, pipi pantatnya terus di tampar beberapa kali total buat Harris pusing antara rasa nikmat dan sakit yg ia rasakan. Perut bagian bawahnya yg menonjol beberapa kali ditekan main-main, surai merah itu menggeleng kuat sebelum menjatuhkan kepalanya kebelakang saat sentuh pencapaiannya.
"Siapa yg bilang boleh keluar hah?" Lagi-lagi terdengar nada amarah disana
"Ngh m-maaf, aku gak kuat iyon" ucapnya meminta maaf masih sesekali terisak.
Arion berdecak kesal, ia angkat tubuh kekasihnya dan ia banting kasar diatas ranjang. Tangannya mengacak-acak laci disamping ranjang, meraih sebuah cock ring berwarna merah muda dengan hiasan pita cantik. Ingin rasanya Harris lari, sungguh. Dari sekian banyaknya mainan yg dimiliki keduanya Harris paling benci itu bahkan kini ia tanpa sadar perlahan merangkak menjauh justru berakhir salah satu kakinya di tarik paksa.
"Kamu sendiri kan yg minta dihukum, jangan berani kabur kemana-mana"
Harris hanya pasrah saat benda itu dikenakan ke penis kecilnya, air matanya jatuh dan diseka lembut. Selangkangannya dibuka lebar, satu kakinya dinaikkan kebahunya dan penisnya kembali masuk menyapa tepat dititik manisnya. Dihujamnya lebih dalam, lebih kasar hingga derit ranjang saling sahut dengan desah Harris yg terputus-putus karena hentakkan dibawahnya. Dada yg sedari tadi menganggur diremas dan gigit kasar, rasannya pentil kecil itu bisa copot saking kuatnya dihisap.
Ditengah aktivitas menyusu itu dering ponsel Arion mengusik keduanya, tertera namanya 'Sadewa' disana. Ide nakal lewat dipikiran Arion saat itu juga, tanpa pikir panjang ia angkat panggilan itu dan menggantinya menjadi panggilan video. Sadewa diseberang sana yg masih kenakkan pakaian rapih diruangan kantornya kehabisan katak-kata saat kamera disodorkan kearah Harris yg udah kayak artis bokep diluar sana, keenakkan di rojok kontol.
"... Saya tadi mau tanya soal berkas kemarin yg masih kurang, malah disodorin muka lonte pribadimu" ucap Sadewa masih dengan senyum simpul di wajahnya.
"Gw tahu ya kemarin kalian abis ngapain. Setelah ngehukum nih lonte, lo gw hajar besok dikantor" ancam Arion justru mendapat kekehan kecil
"Okay kalau begitu saya tunggu, by the way jangan kasar-kasar kasihan. Nanti rusak enggak enak lagi dipakenya" ucapnya singkat sebelum panggilan itu ditutup sepihak
"Emang sepupu kontol" umpat Arion dan kembali fokus pada kekasihnya yg ekspresi mukanya kepalang sange.
Harrris total ngawang, keburu tolol disetubuhi sekasar ini. Netranya nyaris terlihat memutih, desahnya memanggil nama kekasihnya seperti kucing betina saat kawin, berisik tak tahu malu. Rasa sakit yg menjalar dari batang kemaluannya sudah tak ia hiraukan meski ujungnya sudah terlihat membiru. Lubang senggama itu total lecet dan memanas, rasanya ngilu hingga kebas tapi Arion masih tak menurunkan tempo gerakkannya sedikitpun.
Plak! Satu tamparan lagi-lagi hinggap menambahkan ruam merah dan biru disana
"Kempotin memeknya, masa baru dipake bentar aja udah kendor" ucap Arion
Sebenarnya lubang Harris udah enak kok, udah legit macem perawan. Cuman Arion iseng aja penasaran pacarnya ini masih bisa mikir apa enggak, tak lama rektum itu semakin kuat meremas penisnya. Rasanya seperti dihisap kuat buat Arion meringis antara rasa ngilu dan enak.
"Shh anjing, enak banget memeknya" racau Arion kembali bergerak acak tak teratur, sepertinya ia mengejar pelepasannya.
"Aku hamilin ya sayang, memeknya aku penuhin ya sampe kembung sama peju aku ya, mau ya cantik?"
Harris sih ngangguk aja, isi kepalanya sekarang cuman kontol sama pejunya Arion aja. Tak lama setelah bertanya seperti itu Arion keluar didalam sana buat Harris memekik dan bergetar hebat, Arion dengan baik hati melepas cock ring itu dari kekasihnya, surai merah itu keluar banyak beserta kencingnya buat Arion bersiul puas. Kekasih cantiknya itu total hilang kesadaran karena lelah, meninggalkan Arion yg masih belum puas hanya dengan satu kali keluar.
Pinggulnya kembali ia gerakkan, kali ini lebih stabil dan lembut. Ia melanjutkan aktivitasnya sendiri, tak masalah jika Harris sudah terlelap lebih dahulu asal ia bisa puas mengisi penuh perut kekasihnya sampai esok hari.
