Chapter Text
Ada 8.3 miliar jiwa di dunia ini dan dengan yakinnya Jiung mengklaim—walau tanpa riset resmi—bahwa lebih dari setengah populasi tadi pernah menjadi korban cinta diam-diam, cinta bertepuk sebelah tangan, secret admirer, kejebak friendzoned or whatever you name it lah! Poinnya adalah, falling in love with people we can't have. Kenapa Jiung sebegitu yakin? Ya karena Jiung sendiri lah yang mengalami. Klaim ala-alanya ini bikin Jiung ngerasa lebih tenang karena ternyata dia gak nelangsa banget dalam hal percintaan.
"I feel you, bro,” timpal Shota saat Jiung curhat untuk pertama kalinya tentang Keeho, nama lelaki yang berhasil memikat hati Jiung saat ngantri fotokopi di koperasi fakultas. Sama seperti Jiung, Shota termasuk golongan yang senang kalau ada teman sepenanggungan. Sudah lah sama-sama rantauan, sama-sama gak berkutik di depan orang yang disukai pula.
Ternyata gue gak ngenes-ngenes banget! Shota berselebrasi atas resminya Jiung menjadi bulol yang cuma bisa mengamati crush dari jauh.
Hampir satu tahun berlalu, Jiung masih aja jalan di tempat untuk urusan percintaan. Padahal mah, orang yang ia sukai nyaris ketemu tiap hari karena kebetulan teman sejurusan—seangkatannya pula. Walau beda kelas, masih sering lah papasan di koridor. Beberapa kali selift, kadang semeja waktu ngerjain tugas di perpus—itu pun semejanya ujung ke ujung, tahu sendiri kan meja baca di perpustakaan gimana? Kadang kalau lagi mood, Jiung bakal ikut Shota nongkrong sama teman-teman lainnya di lobi fakultas. Tapi ya gitu... tiap ada kesempatan, Jiung malah buang muka. Paling gak bisa buat bersetatap dengan Keeho. Baginya, Keeho tuh bener-bener terjemahan dari terlalu tinggi untuk digapai. Jiung gak nyangkal, awal dia suka Keeho ya pasti karena tampang. Dengan parasnya yang oke, hidung mancung, dan badan tegap gak seperti anak kemarin sore yang baru lulus SMA, siapa sih yang gak naksir Keeho? Terus emang anaknya ramah dan baik, makin berdebar-debar saja lah hati Jiung. Terlebih lagi, Keeho ini gak cuma modal tampang. Anaknya pinter, dan Jiung paling lemah sama cowok pinter.
Beda halnya dengan Jiung, Shota mulai membuat pergerakan pada sang gebetan. Setelah satu semester PDKT-lama banget kan?-akhirnya perasaannya gak lagi dipendam di dalam hati.
"Ji, gue jadian sama Jongseob," kata Shota suatu hari saat sedang ngantri keluar gedung parkiran. Jadiannya udah jalan tiga minggu tapi baru sempat bilang sekarang karena akhir-akhir ini Jiung kelihatan stress sama tugas dan aktivitasnya di DirgaTV, UKM yang diikuti Jiung.
"Hah?" balas Jiung bener-bener gak denger ucapan Shota. Kepotong suara klakson motor yang gak sabar ngantri di belakang mereka.
"Gue jadian sama Jongseob," ulang Shota, lebih keras dari sebelumnya.
Satu kalimat yang bikin hari-hari Jiung berubah total.
Nggak! Bukan karena Jiung cemburu karena Shota akhirnya jadian sama Jongseob. Bukan pula karena ternyata diam-diam Jiung nyimpan perasaan ke Shota. Ya kali ih kayak gak ada cowok lain aja! Tapi lebih karena.... kalo Shota aja bisa, kenapa gue nggak?
Jiwa ambis Jiung mulai ke-trigger. Apalagi pasangan baru itu gak sungkan pamer kemesraan di depannya. Kalau Jongseob lama bales chat atau gak aktif, pasti Shota bakal ngehubungin Jiung buat nanyain kabar kekasihnya itu. Gitu juga sebaliknya kalau Shota sulit dihubungi, ya Jiung juga yang jadi sasaran Jongseob.
"Tugas aja masih suka liat punya gue, masa gue harus kalah sih dalam urusan beginian?" Dengus Jiung saat ngelihat Jongseb posting foto bareng Shota di feed instagramnya.
Pokoknya gue gak boleh kalah!
Maka besok harinya, Jiung coba untuk nggak buang muka kalau ketemu Keeho.
Berhasil!
Jiung bikin kemajuan besar dengan menyapa Keeho duluan saat bertemu di perpustakaan.
"Tugas Bu Hani, ya?" Jiung nunjuk buku yang dipegang Keeho.
"Iya. Ambil kelas beliau juga lu?"
Jiung ngangguk. Meski seangkatan, dia jarang banget sekelas sama Keeho.
"Udah dapat bahan lu buat tugas minggu depan? Eh sama gak sih tugasnya?" lanjut Keeho yang jadi pembuka obrolan panjang pertama mereka walau hanya seputar tugas kuliah.
Jiung gak bisa berenti senyum sepanjang diskusi. Jantungnya berdebar-debar gak karuan tapi tetap harus fokus sama obrolan biar gak malu-maluin diri sendiri di depan gebetan.
Ada kali sepuluh menit mereka ngobrolin materi tugas, Jiung terpaksa pergi karena ada jadwal kelas. Untuk pertama kalinya terbesit keinginan bolos, tapi cepat teringat hari ini jadwalnya presentasi.
Sepanjang kelas berlangsung, Jiung gak sabar mau cerita kemajuannya ngajak ngobrol Keeho ke the one and only sobat kentelnya si Haku Shota. Niatnya tentu aja mau pamer. Pokoknya seorang Jiung gak boleh kalah, apalagi kalah sama Shota yang perkalian enam ke atas aja kagak hapal.
"Anjing, gercep juga lu!" teriak Shota saat Jiung cerita kejadian di perpus dengan wajah berseri-seri. "Terus gimana?"
"Ya udah, gitu aja. Gak bisa lama-lama ngobrolnya soalnya ada kelas kan."
"Setidaknya lu udah bikin kemajuan. Besok kalau ketemu jangan malah kabur."
"Iya, gak bakal!" Jiung berkata penuh keyakinan. Ternyata benar ya, yang paling susah itu adalah langkah untuk memulai. Kalau sudah begini, Jiung jadi gak sabar buat jalanin trik-trik pdkt yang diajarin Shota padanya.
"Jiung!" Sapa Keeho duluan keesokan harinya waktu mereka papasan di koridor.
"Keeho! Abis kelas lo?" tanya Jiung. Padahal tau banget dia sama jadwal kuliah Keeho selama semester ini.
"Harusnya kelas Bu Hani, tapi dialihin ke seminar di auditorium."
"Lah sama dong. Ni kita lagi otw audit.”
"Haha. Kayaknya semua kelas di jam segini deh. Ayo lah bareng," ajak Keeho. Jiung cepet mangut-mangut kayak pajangan mobil. Di belakangnya, Shota diam-diam ngasih jempol. Mantap juga sobatku ini!
Sesampainya di auditorium, Jiung kebagian duduk di sebelah Keeho. Dada Jiung rasanya mau meledak. Gak dipeduliinnya lagi ledekan usil Shota yang juga duduk di sebelahnya, sibuk live report proses PDKT Jiung ke pacarnya, Jongseob.
"Ki, sebelah lo kosong kan?" tanya Matthew, teman sekelas Keeho yang baru aja datang. Tadi sempat celingukan nyari kursi kosong sampe akhirnya ngelihat kursi kosong di sebelah Keeho yang ditandain pake tasnya.
"Sana tuh kosong," Keeho nunjuk barisan kursi di bagian depan.
"Sini aja lah ngapain di depan-depan," kata Matthew sambil mindahin tas Keeho dari kursi ke pangkuan Keeho.
"Ga bisa, bro. Pacar gue mau duduk disini," Keeho ngebalikin lagi tas di pangkuannya ke atas kursi.
"Tega lu. Buat pacar aja diambilin, buat gue nggak!" ujar Matthew lalu berjalan juga ke barisan kursi yang masih kosong.
Keeho tertawa, tapi tidak dengan Jiung yang mendadak membatu saat mendengar ucapan Keeho barusan.
Pacar gue.
Sejak kapan Keeho punya pacar?
"Pulpen lo nih jatuh," kata Keeho ngebalikin pulpen Jiung yang tergelincir dari tangannya saat mendengar fakta baru yang mengubur semua ekspetasinya.
"Oh iya... makasih!" Jiung tergagap. Bahkan mulut Shota yang biasanya gak pernah diam pun mendadak bungkam.
"Gue tahu dimana Keeho markirin motornya. Abis ini kita kempesin, ah gak, kita peretelin aja kaca spion sama jok motornya," Shota menawarkan sebuah rencana balas dendam, tapi buat apa?
Jiung terdiam. Air matanya udah numpuk di pelupuk mata.
"Abis absen mau cabut gak?" tawar Shota lagi waktu lihat Jiung nyaris nangis saat pacar Keeho beneran datang.
"Tapi kan harus ngumpulin resume..."
"Ya elah. Gampang itu bisa liat punya anak-anak."
Dan begitu lah. Harapan akan kisah romantis Jiung terpaksa tutup buku tepat di saat ia hendak menorehkan tulisan pertama. Terlebih setelah ia tahu siapa sosok pacar Keeho, senior sekaligus stasiun manager di DirgaTV. Kali ini perasaannya gak kayak waktu tahu Shota jadian sama Jongseob. Gak ada perasaan gak mau kalah saing. Malah lebih ke insecure karena siapa sih yang gak kenal Kak Theo? Aduh Jiung gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama Kak Theo, everyone’s darling-nya FIKOM.
Hari-hari berlalu. Hubungan Shota dan Jongseob getting stonger setiap harinya. Gitu juga dengan Keeho dan Theo kalau dilihat dari postingan mereka di instagram. Jiung belakangan baru tahu kalau mereka udah jalin hubungan selama satu bulan. They kept it private sampai akhirnya make it public tepat setelah seminar di audit selesai. Keduanya posting story lagi ngedate di kafe dekat kampus—Jiung nggak pernah lagi menginjakkan kaki ke kafe itu.
Satu jurusan heboh. Bisa-bisanya si Keeho mahasiswa semester dua jadian sama senior top yang bahkan kating dan teman seangkatan Theo aja masih minder mau ngedeketin cowok itu. Walau ujung-ujungnya pada ngewajarin karena siapa juga yang nggak kenal Keeho? Dari awal OSPEK aja udah kelihatan aura-aura pentolannya.
Bahasan tentang Keeho dan Theo terdengar di tongkrongan mana pun sekitar seminggu, dua minggu, sebulan, lalu mulai redup saat orang-orang mulai terbiasa dengan pasangan itu.
Hanya Jiung yang masih nyesek tiap melihat kemesraan pasangan itu, mau di sosial media ataupun secara langsung. Gimana gak nyesek kalau hampir setiap hari Keeho jemput Theo di studio yang otomatis ada Jiung juga disana. Mana ramah banget nyapa Jiung kayak gak ada kejadian apa-apa.
"Gue cariin cowok aja buat lu gimana, Ji?" Shota menawarkan Jiung beberapa nama kenalannya, baik dari teman sefakultas, fakultas sebelah bahkan lintas kampus lain.
"Gak usah, Sho. Gue mau fokus ke diri gue aja."
Dan begitulah, perlahan Jiung mulai terbiasa. Bayang-bayang akan Keeho mulai redup tergantikan dengan kesibukannya nugas, liputan, dan ikutan kegiatan volunteer. Jiung bener-bener ngerahin semua usahanya buat nggak bisa mikir hal lain di waktu senggang.
Masuk ke semester lima, Jiung yakin sepenuhnya bahwa ia bener-bener move on dari Keeho. Gak ada lagi perasaan nyesek dan keinginan untuk memiliki lelaki itu tiap mereka ketemu. Story Theo dan Keeho gak lagi di-hide, malah beberapa kali menyukai postingan Theo yang kebetulan lewat di timeline.
Jiung juga mulai ada kemajuan dalam hubungan asmara. Mulai membuka hatinya pada cowok yang dikenalin Jongseob padanya. Sempat jalan tiga bulan, tapi ujung-ujungnya pisah karena Intak—nama cowok itu, gak kuat dengan sikap Jiung yang menurutnya terlalu cuek. Intak juga terlalu posesif, menurut Jiung, tapi gak sepenuhnya menyalahi Intak karena ya emang Jiung sendiri sadar kalau dia agak pasif di hubungan mereka. Dari pada malah semakin memburuk, keduanya sepakat untuk pisah.
Walau ada drama pada awalnya, Jiung menganggap hubungan mereka berakhir dengan penjelasan yang jelas. Putus baik-baik lah ceritanya. Makanya Jiung gak terlalu galau sampai fokusnya berantakan kayak waktu ke Keeho dulu atau.... emang sedari awal Jiung emang gak pernah serius sama Intak—Jiung pun gak tahu.
Satu hal yang Jiung tahu pasti, dia gak sendirian di dunia ini yang payah soal asmara. Ada delapan puluh koma tiga miliar jiwa di dunia.... baiklah kita kembali ke paragraf pertama!
***
