Actions

Work Header

Pulpen (Bukan buat begituan)

Summary:

"O-Oscar... i-ini nggak kayak yang lo pikirin..."
"Nggak kayak yang aku pikirin? Terus, kamu lagi ngapain? Nyari pulpen yang jatoh di dalam celana?"

Notes:

Hello, jangan tanyain soal tangan kanan atau kirinya gimana puyeng saya. Ini nulisnya sembunyi-sembunyi, emak gue mondar-mandir mulu, siyal :3

Enjoy reading~

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Aseli, nasib jadi omega di dunia F1 tuh kadang ampas banget. Mana harus selalu kelihatan profesional, selalu di bawah sorotan kamera, eh giliran jadwal heat mau dateng, gejalanya nggak kenal tempat.

Hari ini Lando rasanya mau nangis di pojokan. Dia lagi kejebak di ruangan briefing bareng para mekanik dan engineer buat technical meeting yang luar biasa membosankan. Mereka lagi ngebahas data telemetri, degradasi ban, sampai set-up sayap belakang yang dengerinnya aja bikin Lando pengen nenggak oli sambil ngemilin baut kalo dia bisa.

Masalah utamanya ada dua. 

Pertama, Lando lagi masuk fase pre-heat. Badan anget, kepala agak pusing, dan... anunya sensitif banget, alias lagi horny parah. 

Yang satu lagi, dia harus pakai seragam tim lengkap dengan celana jeans. Sialnya, isi lemari Lando tuh jeans-nya nggak ada yang bener—semuanya tipikal skinny jeans yang ngepress body, menjepit area selangkangannya dengan sangat tidak sopan.

Tadi pagi, pas ngerasa clit-nya mulai cenat-cenut kegesek kain, Lando punya ide yang dia kira brilian: pakai panty liner di celana dalemnya biar agak empuk.

Pilih tirai satu atau tirai dua?

TETTTT.

Zonk.

Ganjelan panty liner itu malah bikin area bawahnya makin kebejek dan menciptakan sensasi yang makin intens tiap kali dia geser pantat.

"Anjeng banget emang," umpat Lando dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi nahan erangan.

Di sebelah kanannya duduk sang alpha sekaligus rekan setimnya yang dua tahun lebih muda. Ya siapa lagi kalau bukan...

Oscar Jack Piastri.

Oscar, dengan muka lempeng tanpa dosanya, lagi fokus dengerin penjelasan engineer balap mereka. Cowok asal Australia itu kelihatan tenang, scent-nya yang seger samar-samar kecium sama hidung sensitif Lando. 

Oscar sama sekali nggak tahu kalau di sampingnya, sang senior lagi ngap-ngapan nahan gairah. Oscar juga nggak tahu kalau di dalam kepala Lando yang lagi eror ini, dia sudah dijadikan objek fantasi liar.

"Coba kalau yang ngeganjal di bawah sana bukan panty liner, tapi punya si Oscar...panjang...tebel...ahhh anjerlah!" pikir Lando ngawur, mukanya langsung merah padam.

Lando udah nggak bisa fokus sama grafik di layar proyektor. Pandangannya malah turun ke tangan Oscar yang lagi megang pulpen, lalu beralih ke paha Oscar yang terekspos karena cowok itu hobi banget pakai celana pendek. 

Ya, Oscar tuh anti banget sama jeans panjang. Katanya gerah.

Sayangnya pahanya dia terlalu bagus, bikin pikiran Lando makin traveling gak jelas.

Saking frustrasinya karena area bawahnya makin basah dan berdenyut, tangan Lando yang lagi megang pulpen tim McLaren mulai bergerak tanpa sadar. Di bawah meja, tertutup oleh lipatan kemeja tim, Lando mulai nuntun ujung pulpen itu ke arah sempilan celana jeans-nya.

Sret... sret...

Dia nggesekkin batang pulpen itu pelan-pelan ke titik paling sensitifnya yang kehalang denim ketat.

"Ah..." Lando mendesah pelan, untung suaranya ketutup sama suara bising AC ruangan dan ocehan engineer yang lagi ngejelasin braking zone Tikungan 4.

Mata Lando merem melek. 

Di otaknya, pulpen plastik murah itu udah berubah wujud jadi milik Oscar yang lagi menggeseknya.

Skin on skin, sesekali kepalanya teasing dikeluar-masukin.

Anjer mesum bangsat.

Setiap gesekan pulpen itu bikin sengatan kesetrum yang enak banget sampai ke ujung kakinya.

Lando ngerasain cairannya sendiri mulai nembus panty liner sialan itu. Dia ngeremes ujung meja pakai tangan kirinya, sementara tangan kanannya makin intens gesekin pulpen di selangkangannya.

"Lando? Are you okay?"

Deg!

Suara berat dan datar khas Oscar tiba-tiba memecah fantasi kotor Lando. Lando tersentak kaget, pulpen laknat di tangannya hampir aja lompat ke lantai. Dia menoleh dengan patah-patah, natap Oscar yang sekarang lagi ngeliatin dia dengan dahi berkerut.

"Muka kamu merah banget. Keringetan lagi. AC-nya kurang dingin kah?" tanya Oscar polos, bener-bener tipikal anak muda polos yang nggak tahu kalau dia baru saja jadi 'bintang utama' di otak mesum rekan setimnya.

Lando buru-buru benerin posisi duduknya yang rada ngangkang, tangannya langsung ditaruh di atas meja seolah-olah nggak terjadi apa-apa.

"H-hah? Ah, iya! Hehehe... panas banget ya hari ini. Iya, AC-nya kayaknya rusak. Gue... gue gapapa kok, Osc! Lanjut, lanjut dengerin... materi bannya... seru banget hmmm," jawab Lando terbata-bata dengan tawa yang dipaksakan.

Oscar cuma kedip-kedip bingung, lalu ngangguk pelan. "Oke. Kalau pusing bilang ya."

"Iya, Osc..." Lando senyum hambar.

Begitu Oscar balik nengok ke depan, Lando jadi lemes terus nyenderin punggungnya ke kursi. Di bawah sana, clit-nya makin tegang dan berdenyut protes karena aktivitasnya barusan diinterupsi. 

Lando cuma bisa meratapi nasibnya, berdoa dalam hati agar technical meeting jahanam ini cepet selesai sebelum dia beneran nekat nerkam Oscar di depan semua kru McLaren.

Tapi ya…

Untung seribu untung, meja briefing mereka tipe yang individual alias misah satu-satu kayak di sekolah. Jadi, paha sampai area selangkangan Lando otomatis ketutup total dari pandangan Oscar di sebelah kanan maupun orang-orang di depannya.

Tapi ya dasar Lando, otaknya yang udah telanjur korslet gara-gara pre-heat bikin dia makin nekat. Alih-alih tobat pasca hampir ketahuan Oscar, dia malah makin frustrasi karena "panggilan alam" di bawah sana makin meronta-ronta. 

Clit-nya cenat-cenut minta dituntaskan.

Sambil pura-pura nunduk ngelihat tablet di atas meja—biar posisinya kelihatan kayak lagi serius nyatet data—tangan kiri Lando turun ke bawah meja. Dengan gerakan pelan dan hati-hati banget, dia nyari kepala risleting jeansnya.

Sreeeeeek...

Suara risleting besi itu kedengaran keras banget di kuping Lando sendiri. Dia ngelirik Oscar lewat sudut matanya. Aman. Oscar masih manggut-manggut dengerin penjelasan soal strategi undercut.

Begitu risletingnya kebuka dan denim ketatnya agak melonggar, Lando mendesah lega. Hhhh, plong banget rasanya.

Tapi perjuangan belum selesai. Lando buru-buru nyelipin tangannya yang masih megang pulpen ke dalam celana jeans-nya, langsung bersentuhan sama lapisan luar celana dalemnya.

Dan bener aja... pas jarinya gak sengaja nyenggol area tengah, kondisinya udah becek parah.

“Thank God gue dobel panty liner!” jerit Lando dalam hati, antara malu tapi juga bersyukur.

Kalau tadi pagi dia gak berinisiatif pake pengaman tambahan itu, cairan heat-nya pasti udah nembus. Bisa hancur reputasi Lando Norris kalau keluar ruangan dengan noda basah gede di selangkangan. Dikira ngompol nanti.

Nggak mau buang waktu, Lando mulai ngepasin ujung pulpennya tepat di atas permukaan panty liner yang udah basah dan anget itu. Begitu ujung pulpennya nekan pas di titik clit-nya yang tegang...

"Nghhh..."

Lando spontan nggigit bibir dalamnya kuat-kuat demi nahan erangan yang mau lolos. Matanya merem, kepalanya mendongak dikit ke langit-langit ruangan. Sensasinya berkali-kali lipat lebih dahsyat daripada pas digesek dari luar jeans tadi.

Sekarang, hambatan kain denimnya udah gak ada. Tekstur panty liner yang lembap malah bikin gesekan pulpennya jadi makin candu. 

Lando mulai ngegerakin pulpennya maju-mundur, naik-turun, neken-neken ujung tumpul pulpennya di titik paling sensitif.

Pikirannya melayang lagi ke Oscar. Dia ngebayangin tangan Oscar lagi ngeremas panggulnya, sementara "Pulpen" milik Oscar yang asli lagi ngehajar dia tanpa ampun.

Dari belakang kek, depan kek, terserah deh, yang penting dimentokin sampe nangis.

Gara-gara visualisasi di otaknya makin liar, tempo gesekan tangan Lando makin cepet. 

Sret, sret, sret. 

Napasnya mulai memburu dan badannya agak gemeteran nahan orgasme yang udah di ujung tanduk.

"Jadi untuk stint kedua nanti, kita bakal..." Suara yang presentasi di depan sayup-sayup makin gak kedengaran di kuping Lando.

Tinggal dikit lagi. Dikit lagi Lando bakal coming. Jari-jarinya makin nekan pulpen itu kuat-kuat, pinggulnya agak maju kedepan buat nyari tekanan maksimal.

Drrrtt... drrrtt...

Tiba-tiba HP Oscar yang ditaruh di atas meja bergetar, barengan sama Oscar yang tiba-tiba muter kursinya menghadap Lando karena mau ngambil botol minumnya yang ada di dekat siku Lando.

"Lando, sori, bisa oper botol—"

Kalimat Oscar keputus.

Pas dia nengok, dia bisa ngelihat dengan jelas dari celah meja kalau kaos tim Lando agak keangkat, memperlihatkan risleting jeans seniornya yang terbuka lebar, dengan satu tangan Lando yang tenggelam di dalam celana dalam posisi yang... sangat amat mencurigakan.

Dan yang paling parah, bau scent omega Lando yang manis dan pekat menguar sekitar radius duduk Oscar.

Oscar membeku di tempat, botol minumnya terlupakan. Matanya melotot natap tangan Lando yang masih stuck di dalam celana, lalu pelan-pelan naik natap muka Lando yang udah merah padam, keringetan, dengan bibir yang basah abis digigit.

Lando cuma bisa melongo pasrah. 

Mampus gue.

Jantung Lando serasa copot dari tempatnya. 

Mampus, mampus, mampus! 

Batinnya teriak histeris. Dia udah bayangin skenario terburuk. 

Oscar bakal berdiri, ngelaporin dia ke bos tim karena perilaku tidak senonoh, atau yang paling bikin sakit hati—Oscar bakal natap dia dengan tatapan jijik karena ketahuan lagi masturbasi pakai pulpen di tengah briefing.

Lando buru-buru narik tangannya keluar dari balik jeans, pulpen laknat itu ditaro sembarang di meja. Lalu berusaha menutup risletingnya dengan gemetar.

Muka Lando udah kayak kepiting rebus, panas banget sampai ke telinga. Dia nggak berani natap mata Oscar, dia cuma natap lantai sambil nahan napas, nungguin "hukuman" atau omelan yang bakal datang.

Tapi, bukannya ngejauh atau ngomong keras-keras biar satu ruangan denger, Oscar malah ngelakuin hal yang bikin Lando merinding.

Kursi Oscar geser pelan ke arah Lando. Dia malah condongin badannya, nunduk sampai posisi muka mereka deket banget. Scent Oscar secara kurang ajar menyerbu indra penciuman Lando. Nafas hangat Oscar nempel di daun telinga Lando.

"Aku nggak tahu kalau seniorku senakal ini,"

Suara itu... oh my god, itu bukan suara orang yang lagi ilfil. Itu suara orang yang justru lagi tertantang.

Lando menelan ludah, tenggorokannya kerasa kering. Dia ngerasa scent omega-nya justru makin keluar karena dia panik sekaligus turned on denger suara Oscar tepat di telinganya. 

"O-Oscar... i-ini nggak kayak yang lo pikirin..." gagap Lando, padahal jelas-jelas emang kayak yang Oscar pikirin.

Oscar terkekeh pelan. Dia nggak ngejauh, malah tangan kirinya—yang tadinya mau ngambil botol minum—sekarang beralih ke atas meja, tepat di samping tangan Lando yang lagi gemeteran. 

Jari-jari Oscar perlahan menelusuri punggung tangan Lando, ngasih sentuhan nyetrum yang bikin aliran darah Lando berdesir kencang.

"Nggak kayak yang aku pikirin?" bisik Oscar lagi, kali ini nadanya lebih jahil. "Terus, kamu lagi ngapain? Nyari pulpen yang jatoh di dalam celana?"

Lando cuma bisa nutupin mukanya pake tangan kirinya karena tangan kanannya masih dielus Oscar. Dia pengen ngilang aja ke dasar Bumi. "Diem lo, Osc... jangan bikin gue malu," cicit Lando pelan, suaranya kedengeran lebih kayak rintihan daripada perintah.

"Lagi heat, ya?" tanya Oscar lagi, kali ini nadanya berubah jadi lebih deep dan protektif, tapi tetep ada nada menggoda di sana. Dia ngerasa scent manis Lando makin pekat, dan itu jelas tanda kalau omega di depannya ini udah hampir kehilangan kontrol.

Oscar sengaja ngedeketin lagi kursinya sampai paha mereka bersentuhan di bawah meja. Lando tersentak pas ngerasain panas dari paha Oscar yang kekar nempel di pahanya sendiri.

"Kalau mau lanjut," bisik Oscar tepat di depan bibir Lando, bikin napas mereka saling bersinggungan, "mending jangan pake pulpen. Kotor, kakakku."

Tangan Oscar ke bawah meja, dan tanpa aba-aba, dia naruh telapak tangannya di atas paha Lando.

"Tangan aku lebih bisa diandelin daripada pulpen, loh kak," bisik Oscar diiringi seringai tipis. Kalo bisa jerit Lando udah bikin keributan sekarang juga. 

"Gak bisa di sini, tapi... nhh..." cicit Lando panik. Remahan akal sehatnya masih berusaha ngingetin kalau mereka berdua lagi ada di tengah-tengah rapat penting tim McLaren.

"Siapa bilang?" balas Oscar enteng. Suaranya tenang, tipikal Oscar yang selalu cool di lintasan balap, tapi tatapan matanya sekarang tajam kayak predator yang lagi ngelock targetnya.

Oscar malah ngambil pulpennya sendiri yang ada di atas meja. Dengan gerakan mulus tanpa bikin curiga orang di depan, tangan Oscar yang megang pulpen itu menyelinap ke bawah meja, masuk ke balik jeans Lando yang udah terbuka lebar.

Dan ya, ini udah bukan sekadar humping atau gesekan amatir lagi. Di bawah meja rapat yang dingin itu, Lando bener-bener dikocokin langsung pakai pulpen sama rekan setimnya sendiri.

Sret. Sret. Sret.

"Becek banget," bisik Oscar seadanya, nadanya datar tapi kata-katanya bikin otak Lando makin meledak. 

"Ini lebih enakan pake jari beneran, tapi nanti berisik."

"Hnngh! Ngh!" Lando nggigit bibirnya lagi lebih keras kali ini, matanya sampai berair.

Ujung pulpen Oscar secara akurat ngehajar clit Lando yang udah bengkak kebas dari tadi.

"Keluarin aja gak usah ditahan nanti sakit, kak"

Badan Lando gemeteran hebat, panggulnya tersentak maju ke arah tangan Oscar saat dia squirt. Lando mati-matian nahan suaranya biar nggak lepas jadi teriakan.

Cairan heat-nya yang bening dan melimpah itu rembes sampe ke luar pantiesnya, bahkan sampai bikin seluruh badan pulpen yang dipegang Oscar ikut basah kuyup.

Oscar senyum puas banget ngelihat seniornya yang biasanya banyak tingkah ini sekarang jinak, keenakan dihumping sama sebatang pulpen.

Sengaja pengen ngasih serangan penutup, Oscar neken pulpennya sekali lagi di titik paling sensitif itu, bikin Lando menggeliat nikmat dengan sisa-sisa kedutan orgasmenya.

"Cantik banget seniorku," puji Oscar pelan, kedengaran tulus tapi juga manipulatif di kuping Lando yang masih berdengung.

Oscar pelan-pelan narik pulpennya keluar dari dalam celana Lando. Dan tahu apa yang dilakukan si alpha muda itu ke pulpen yang kotor nan laknat itu?

Di depan mata Lando yang masih sayu dan nyawanya belum kumpul semua, Oscar ngebawa pulpen yang basah karena cairannya itu ke depan bibirnya sendiri. 

Terus, dengan santainya, pulpen itu diemut. DIEMUT.

Bagian ujungnya yang mengkilap terkena cairan disesap perlahan oleh Oscar tanpa rasa jijik sedikit pun.

Mata Oscar natap intens ke manik mata Lando yang melotot syok.

"Manis," ucap Oscar pendek setelah melepas pulpen itu dari mulutnya, lalu tersenyum tipis—senyuman paling nakal yang pernah Lando lihat seumur hidupnya.

"Oscar jorok anjer!" Lando nutupin mukanya pake kedua tangan, bisikannya kedengaran frustrasi banget. Malunya udah merembet dari muka, leher, sampai ke ubun-ubun.

Rasanya dia pengen ngesot keluar ruangan sekarang juga terus sembunyi di dalam ban cadangan.

Gila aja, cairan pre-heat-nya diemut begitu aja sama juniornya dengan muka lempeng kayak triplek. Terbuat dari apa sih mentalnya si Oscar ini?

"Lah, jorokan kamu, humping pas rapat," bales Oscar santai. Dia ngangkat alisnya sebelah, natap Lando dengan tatapan 'lu-yang-mulai-duluan-ya-bambang' yang bikin Lando makin mati kutu.

"I-itu kan karena jeans gue sempit! Lagian gue tadi pake pulpen gue sendiri!" belit Lando ketus, berusaha membela sisa harga dirinya yang udah tercecer di lantai ruangan briefing.

"Tapi bayanginnya aku, kan?" tembak Oscar telak.

Skakmat.

Dasar anak setan.

Lando kicep. Bibirnya kebuka dikiit tapi gak ada suara yang keluar. Mau ngeles pake alasan apa lagi kalau faktanya dia emang lagi ngebayangin anu-nya Oscar pas lagi gesek-gesek tadi?

Oscar yang ngelihat seniornya diam seribu bahasa cuma bisa nahan tawa. Dia naro pulpen 'bersejarah' itu ke dalam saku kemejanya dengan santai, seolah-olah barang itu adalah jimat keberuntungan baru buat balapan weekend ini. 

Tangan kirinya kembali mendarat di atas paha Lando di bawah meja, kali ini cuma ngusap pelan—ngasih kehangatan yang bikin kedutan pasca-orgasme Lando pelan-pelan reda.

"Benerin dulu itu risletingnya," bisik Oscar lagi, matanya ngelirik ke bawah meja.

Oscar yang masih terlalu dekat itu pelan-pelan nunduk lagi. Bibirnya nyenggol pinggir telinga Lando sekilas, lalu sengaja ngulum pelan daun telinganya yang udah merah panas. 

"...sayang."

The end

Notes:

Thank you for reading~

Series this work belongs to: