Work Text:
"Gue sama Jaemin beneran gak akan kasih ampun ya, Chan. Ini kemauan lo sendiri, harus tanggung jawab sama keputusan yang lo buat hari ini." Ucap Jeno memperingatkan saat ia dan Jaemin sudah memasuki kamar Haechan yang tadi dibuka oleh pemiliknya.
Peringatan itu tidak akan keluar dari mulut Jeno jika lelaki Gemini yang berdiri di hadapan Jeno dan Jaemin itu tidak sibuk merengek meminta keinginan gilanya untuk merasakan threesome bersama kedua teman satu grupnya tersebut untuk mereka kabulkan.
"Even lo nangis mohon-mohon buat break atau berhenti, i swear to god Haechan. We're not gonna stop it until we're finished."
Yang diperingati meneguk kasar salivanya dan menatap bergantian kedua temannya yang kini sudah duduk di kasurnya.
"Masih ada waktu kalo lo berubah pikir—"
Haechan dengan cepat membuka kaos hitamnya sebelum Jeno selesai dengan kalimatnya tadi. Mengekspos tubuh lean Haechan dan ada satu tattoo kecil berbentuk matahari yang terukir di atas pusarnya.
Banyak yang tidak tahu perihal tattoo tersebut karena tiap kali mereka harus tampil, Haechan pasti akan menutupi tattoo tersebut. Dan karena seringnya Haechan menggunakan baju-baju yang berukuran lebih besar dari tubuhnya makanya hanya Jeno dan Jaemin yang mengetahui hal tersebut, karena Jeno dan Jaemin begitu sering melihat (menikmati) Haechan tanpa pakaian sama sekali.
Jeno dan Jaemin menyandarkan punggungnya pada bed board kasur Haechan, mereka tahu pertunjukan akan segera dimulai.
Haechan bersimpuh dengan kedua lututnya yang dilipat rapih, menatap bergantian temannya yang kini memperhatikan tubuhnya seakan banyak hal menarik pada tubuhnya tersebut.
"Fans lo kalo tahu idolanya rela begini, kira-kira apa ya reaksi mereka?" Tanya Jaemin dengan seringai kecil pada ujung bibirnya. Lalu ia melirik Jeno yang terkekeh pelan setelah mendengar pertanyaan tersebut.
"Haechan gak peduli soal itu, sekarang kepalanya udah penuh sama imajinasi joroknya. Iya kan, Chan?"
Mendengar kalimat tersebut pipi Haechan memerah, memang benar apa yang diucapkan Jeno itu. Haechan tidak sempat memikirkan perihal reaksi fans, yang ia tahu saat ini adalah lubang miliknya akan segera dipenuhi dua penis besar sekaligus milik temannya itu.
Haechan merangkak mendekat, kini ia berada di antara Jeno dan Jaemin yang sama-sama menatap wajah cantik Haechan dari dekat. Binar matanya begitu terang di dalam kamarnya yang bercahaya redup, begitupun kilau basah bibir berbentuk hatinya yang dilapisi lip gloss bening hadiah pemberian Jaemin tempo hari.
Jari lentiknya menarik kedua rahang lelaki yang mendamba sentuhan Haechan, ia bawa wajah tegas Jeno dan Jaemin pada leher jenjangnya sebagai permulaan.
Di detik pertama ketika kedua bibir itu mendarat pada kulitnya, tubuh Haechan langsung meremang. Bulu halus pada tubuhnya berdiri serentak, dan ada sensasi panas yang langsung menjalar dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Haechan melenguh pelan berusaha membiarkan tubuhnya untuk rileks dengan bergeraknya kedua tangan kekar Jeno dan Jaemin yang langsung merengkuh posesif pinggulnya.
"Wangi, lo udah prepare banget ya." Ucap Jaemin di sela kegiatannya membubuhi kecupan basah pada leher si Gemini. Yang ditanya hanya mengangguk asal, tangannya tergesa mencari pegangan untuk bisa ia remas sebagai pelampiasan. Hingga akhirnya Haechan memilih meremat erat kaos Jeno dan Jaemin yang masih melapisi rapih tubuh keduanya.
Jeno mencari tatapan Haechan dengan sengaja bergerak naik menuju daun telinganya. Kini terlihat Haechan yang berusaha keras mempertahankan matanya untuk tetap terbuka namun berkali-kali harus Haechan pejamkan tiap kali Jeno atau Jaemin menyelipkan hisapan pada kulitnya.
Jeno kecupi belakang daun telinga Haechan dan membisikan sesuatu padanya,
"You are crazy for this, Donghyuck."
Haechan langsung menoleh, mempertemukan bibirnya yang terengah dengan bibir basah Jeno yang tadi setia menghiasi kulit lehernya dengan jejak-jejak basah saliva milik Jeno.
Jeno tersenyum sekilas sebelum melumat bibir bawah Haechan. Ada wangi vanila yang mengiasi lumatan Jeno berkat lip gloss yang Haechan kenakan. Haechan membalas sebisanya karena Jeno yang menuntut pada ciuman tersebut.
Sedangkan Jaemin, ia memilih bergerak turun menemukan tiap moles yang menghiasi tubuh Haechan. Sebelum akhirnya puting Haechan mendapatkan gilirannya.
Tubuh Haechan terasa seperti tersengat setrum saat Jaemin menggunakan giginya pada putingnya, dan membuat lumatan Jeno terlepas karena Haechan menghempas kepalanya ke belakang. Jeno langsung menahan tubuh Haechan yang hampir melengkung ke belakang, ditahannya tubuh kecil tersebut untuk kembali ke posisi awal.
"Jaemin..." lenguhnya pelan saat Jaemin tidak sama sekali memedulikan tubuhnya yang sudah bereaksi pada stimulasi yang diberikan lelaki Leo tersebut.
"Kita baru mulai Sayang." Ucap Jeno yang berusaha kembalikan fokus Haechan. "Kalo baru mulai lo udah begini, gimana pas punya gue sama Jaemin masuk, Chan? Bisa pingsan kali ya?" Tambah Jeno sambil terus menatap tajam mata Haechan.
Menyadari Haechan yang sepertinya mulai dikuasai nafsunya, Jaemin menghentikan cumbuan pada putingnya. Ia sama-sama menatap Haechan seperti yang Jeno lakukan, lalu tersenyum sebelum menyampaikan kalimatnya.
"Lagian lo kepikiran apa sih sampe pengen threesome gini?" Tanya Jaemin, "Itu bakal sakit loh, masuk satu aja lo udah sering nangis. Gimana kalo dua?" Lanjut Jaemin.
"I'm just curious Na, it's been in my head since last month. Boleh lanjut gak, please?" Pinta Haechan walaupun baik Jeno atau Jaemin sangat meragukan keinginan Haechan untuk melanjutkan kegiatan mereka saat ini.
"You sure? Kita masih sama-sama pegang kalimat di awal tadi kalo kita gak akan stop sampe kita bener-bener selesai. Lo yakin mau lanjut?" Ucap Jeno memastikan lagi jika Haechan tidak akan menyesali keputusannya ini.
Haechan melirik ke bawah ke arah penisnya sendiri yang mulai mengeras, lalu kembali menatap dua temannya tersebut. Jeno dan Jaemin mengikuti arah tatapan Haechan dan melihat gundukan pada celana dalamnya yang menunjukan penis Haechan yang mengeras.
"Lo beneran masokis ya. Sialan, malah turn on mau dikasarin temennya sendiri." Ucap Jaemin sambil terkekeh.
Haechan mengangguk mengakui omongan Jaemin tersebut, ia memang mendambakan sekali momen ini walaupun kemungkinan tubuhnya akan merasakan sakit yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehnya, tetapi Haechan bersungguh-sungguh sangat ingin sekali impiannya tersebut untuk segera terwujud.
Agar tidak lagi mengundur waktu Haechan berusaha mengembalikan fokusnya, ia kembalikan lagi adrenalinnya dan mengatur nafasnya lagi. Haechan dorong Jeno dan Jaemin untuk kembali bersandar pada bed board kasurnya, lalu menarik kedua sweatpants temannya tersebut hingga kedua penis setengah mengeras yang Haechan idamkan akhirnya terlihat.
"Bisa bawa dua-duanya masuk?" Tanya Jeno sambil menarik seluruh penisnya keluar dari celananya hingga buah zakarnya ikut terlihat oleh Haechan.
Berbeda dengan Jeno yang serius, Jaemin melebarkan senyumannya hingga barisan gigi rapihnya terpampang hingga gigi terpojoknya. Ia juga bawa penisnya hingga seluruhnya keluar seperti Jeno.
"Kalian geser, deketan duduknya biar aku bisa coba masukin dua-duanya." Pinta Haechan hingga kini ia bertumpu di antara kedua kaki Jeno dan Jaemin yang duduk bersebelahan.
Binar mata Haechan kembali. Akhirnya setelah sekian lama ia hanya dapat berimajinasi, dan malam ini semuanya akan menjadi kenyataan.
Haechan raih kedua penis tersebut, ia pijat perlahan sambil terus menatap bergantian mata Jeno dan Jaemin yang sama-sama menatap dalam matanya. Lalu Haechan merunduk ke bawah hingga bokongnya kini lebih tinggi dari posisi kepalanya.
"Fuck!" Umpat Jaemin dengan suara yang hanya dapat didengar olehnya saat ia memperhatikan tubuh Haechan yang semakin turun, dan kini terpaan nafas hangat Haechan menerpa kulit penisnya.
Haechan mulai dengan menjilat kedua ujung penis keduanya, mengantarkan hangat pada tubuh Jeno dan Jaemin di detik lidah basah Haechan menggoda lubang kencing mereka.
Melihat kemungkinan akan sulit untuk Haechan mencakup kedua penis tersebut, Jeno berinisiatif untuk mengubah posisi duduk mereka.
Kini Jeno dan Jaemin duduk berhadapan dengan kedua kaki mereka yang saling menindih, dan penis mereka dapat Haechan genggam bersamaan dengan kedua tangannya.
Haechan mengecup sekilas bibir Jeno dan Jaemin sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah mempermudah dirinya untuk mencakup kedua penis besar tersebut.
"Thank you Babies.." Ucap Haechan dan ia kembali membawa tubuhnya turun seperti tadi.
Haechan mengtur nafasnya untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya ia bawa mulutnya yang tidak bisa terbuka terlalu lebar tersebut untuk memaksa kedua ujung penis yang besar dan kemerahan itu masuk ke dalam mulutnya.
Haechan bergumam kecil "It's too big..", rahangnya sudah ia paksa terbuka lebih lebar lagi namun sulit. Bahkan kedua ujung penis Jeno dan Jaemin saja tidak bisa ia cakup sekaligus.
Melihat mulut kecil Haechan yg berusaha susah payah terbuka lebih lebar Jaemin terkekeh. Kepala Haechan diusap-usap perlahan olehnya.
"Bisa gak, Cantik? Terlalu besar ya?"
"Masukin satu-satu dulu, pelan-pelan aja Sayang."
Jeno dan Jaemin sama-sama meyakinkan Haechan untuk tidak terburu-buru.
"Sini, buka mulutnya." Titah Jeno, sambil perlahan ia dorong masuk dan Jeno arahkan pada pipi kanan Haechan. Lalu giliran Jaemin, sisa sedikit sekali ruang untuk penisnya namun ia akan coba memasukannya juga.
Jaemin mendesis kecil saat penisnya bergesekan dengan gigi Haechan dan ini sudah sangat sempit dan tidak memungkinkan lagi untuk didorong lebih dalam. Mata Haechan sudah memerah dan basah, rasanya sakit sekali rahangnya dipenuhi kedua penis tersebut.
"Nah, bisa kan? Kita yang gerak atau kamu nih?"
Kepala Haechan sudah pasti tidak mungkin untuk bergerak, maka ia memutuskan untuk mengocok sisa penis Jeno dan Jaemin dengan kedua tangannya, dan sedikit-sedikit menggerakan lidahnya yang sudah terhimpit kedua penis besar tersebut.
Jeno menengadahkan kepalanya. Pendengarannya penuh didominasi oleh suara becek saliva Haechan yang meleleh melumuri penisnya dan juga milik Jaemin.
Haechan terus meremas, memijat, dan mengocok penis keduanya yang semakin lama semakin membesar tersebut. Hingga beberapa kali ia tersedak setiap ia mencoba menurunkan lagi kepalanya dan memperdalam dorongan penis tersebut ke dalam tenggorokannya.
"Oh, fuck... your mouth feels so fucking good Haechan.." puji Jaemin, ia terus melihat pipi Haechan yang semakin menggembung besar dan penisnya yang basah dengan campuran antara saliva Haechan dan cairan precum miliknya dan Jeno.
Dengan keputusannya ini Haechan sudah menyakiti seluruh bagian mulutnya hingga tenggorokannya, namun di balik semua rasa sakit yang ia rasakan justru nafsu pada dirinya semakin menggila. Ia merasakan sendiri ujung penisnya yang kini semakin basah dan analnya yang berkedut membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan digagahi dua penis besar yang sedang ia kulum tersebut.
"Gerakin lagi lidahnya Cantik, akunya sedikit lagi udah mau keluar..." ucap Jeno yang kini salah satu tangannya bergerak meremas payudara Haechan yang tadi dibuat Jaemin membengkak.
Jeno dan Jaemin sangat dalam mengamati Haechan yang semakin giat menggerakan kepalanya, seakan lelaki tersebut tidak lagi kesulitan untuk memanjakan dua penis secara bersamaan di dalam mulutnya.
"Oh, yes. Just like that Baby, almost there..."
"Mmhm... sedikit lagi Haechan.."
Mereka berdua saling bersautan memberi tahu pelepasan mereka yang sudah semakin dekat.
Samar namun cukup terlihat oleh Jeno air mata Haechan sudah membaur dengan keringat di wajahnya, lelaki cantik tersebut menangis di atas kenikmatannya sendiri yang dibalut rasa yang menyiksa.
Jaemin dengan spermanya yang siap memenuhi mulut Haechan, langsung menahan kepala Haechan untuk menelan sedikit lebih dalam penisnya. Pinggul Jaemin bergerak melesak bergantian dengan Jeno yang ikut melakukannya juga. Sedangkan tangis Haechan semakin menjadi, tenggorokannya sakit, dan pasokan oksigen yang semakin menipis.
Haechan beberapa kali terbatuk ia sepertinya sudah berada di ujung kemampuannya untuk bertahan, hingga akhirnya kedua penis tersebut memuncratkan spermanya dengan begitu banyaknya.
Kental, panas, membasahi, dan memenuhi mulut Haechan yang sudah sangat pegal sekali harus terus terbuka dengan baik untuk kedua penis temannya. Sedangkan Jeno dan Jaemin saat ini terengah, mereka juga menggantikan tangan Haechan yang tadi memijat penis mereka dan kini mereka remas-remas untuk memastikan seluruh sperma mereka memenuhi mulut Haechan.
Jeno angkat perlahan kepala Haechan, melepaskan kuluman hangat mulut kecil tersebut dan kini wajah Haechan berhiaskan begitu banyak cairan. Mulai dari keringat, air mata, salivanya, dan cairan putih hangat yang kini menjuntai panjang membuat untaian dengan kedua penis mereka.
Haechan tersedak sperma saat ia berusaha mengatur nafasnya "Slowly, take a deep breath Haechan." Ucap Jeno berusaha membuat Haechan kembali rileks.
"Gimana rasanya? Suka mulutnya dipenuhin kaya tadi?" Tanya Jaemin sambil bergerak mendekat, ia seka sperma yang menghiasi dagu Haechan dan mendorongnya masuk kembali ke dalam mulut Haechan.
"I love it so much, it's so fucking hurt tapi aku suka.." jawab Haechan dengan suara seraknya. Jawaban tersebut bukan gimmick, Haechan benar-benar menikmati rasa sakitnya tadi. Buktinya ia sampai orgasme 2 kali tanpa sepengetahuan Jeno dan Jaemin karena celana dalam yang digunakannya tidak rembes oleh spermanya.
Jaemin tersenyum, ia mencium dahi Haechan sebelum akhirnya membawa Haechan duduk menghadap dirinya dan bersandar pada Jeno. Jaemin tidak berkata apa-apa namun ia langsung menarik turun celama dalam Haechan yang sudah sangat basah dengan spermanya tersebut. Penis merah mudanya masih sangat sensitif dan berbalut sperma.
"Wah, basah banget. Keluar berapa kali, Cantik?"
"Dua kali..."
"Twice? Untouched?" Tanya Jaemin dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Kan aku udah bilang, tadi itu enak dan aku suka.." balas Haechan yang suaranya mengecil di akhir kalimatnya.
Jeno terkekeh sambil ia hujani kepala Haechan dengan kecupan.
"Alright, more pleasure to come Baby." Ucap Jeno sambil membalik tubuh Haechan untuk menghadap dirinya. Jeno langsung mempertemukan bibirnya lagi dengan milik Haechan. Ada sisa-sisa rasa sperma yang tertinggal pada saliva Haechan yang bisa Jeno rasakan. Sedangkan Jaemin mengatur posisi bokong Haechan agar memudahkan Jaemin melakukan fingering pada lubang anal sempit milik Haechan tersebut.
Jaemin meraih botol lube di nakas dan menyimpannya di samping tubuhnya. Jaemin mulai melebarkan bokong sekal milik Haechan, ia lihat lubangnya yang masih begitu tertutup rapat dan langsung menjilatnya membuat Haechan mencengkram keras pundak Jeno dan lenguhan bergiliran keluar dari mulutnya saat Jaemin mendorong lidahnya untuk menerobos lubangnya yang masih sangat ketat tersebut.
"Rapet banget lubang kamu Sayang, padahal udah sering aku pake ya?" Ucap Jaemin yang terkesima dengan anal Haechan yang selalu terlihat seperti tidak pernah terisi penis besarnya. Jaemin kembali membawa lidahnya bergerak ke sana ke mari, menjelajah kulit manis Haechan yang kini menjadi santapannya.
"Now you're getting hard again Haechan. Padahal aku belum bawa masuk jari aku. Kamu horny banget ya malam ini?" Tanya Jaemin yang hanya dibalas anggukan asal oleh Haechan yang bibirnya sibuk dilumat Jeno.
Kembali Jaemin lebarkan bokong Haechan lalu Jaemin bawa lidahnya membasahi buah zakar Haechan, dihisapnya perlahan, lalu kembali naik lagi menggoda lubang Haechan yang masih tertutup rapat tersebut.
Jika Jaemin sibuk dengan urusam bokong Haechan, kini Jeno sibuk mecumbu bibir Haechan sambil memainkan kembali puting Haechan yang kembali mengeras.
"Haechan you're so fucking hot right now.." bisik Jeno di sela ciuman mereka. Jeno suka sekali dengan pemandanganya ini juga Haechan yang berkali-kali kalah dengan lenguhan dan desahannya yang selalu lolos tiap kali lelaki tersebut menahannya.
"Jeno... i can't wait any longer... please fuck me.." rengek Haechan meminta untuk disegerakan analnya terisi dua penis kesukaannya tersebut.
"We need to prep you first Sayang. Your hole is too tight for both of us."
Baru saja Jeno menyelesaikan kalimatnya, tubuh Haechan kembali berjengit ulah Jaemin yang mendorong masuk kedua jarinya masuk ke dalam lubang sempit Haechan.
"There you go, two fingers in Baby!" Ucap Jaemin yang langsung antusias menggerakan jarinya keluar masuk dan melebarkan lubang tersebut.
Haechan tidak lagi mampu melanjutkan ciumannya dengan Jeno, ia hanya menyandarkan dahinya pada pudak Jeno merasakan gerakan jari Jaemin yang semakin lama semakin dalam memasuki lubangnya.
"Tahan ya, ini kan yang kamu mau." Bisik Jeno sambil mengusap pelan punggung Haechan agar otot-otot lelaki yang desahannya semakin menggema tersebut tidak terlalu tegang.
"Hmm, right there Nana... tambahin jarinya please..." pinta Haechan yang langsung dikabulkan Jaemin yang mendorong 4 jarinya kini masuk dan membuat Haechan berteriak dan tubuhnya tersentak.
"AHH!" Pekik Haechan, air matanya kembali menghiasi pipi merahnya.
"Hey, you're fine Sayang, it's just fingers." Ucap Jeno.
Jaemin menatap ke arah Jeno memberi isyarat jika lubang Haechan sudah siap mereka nikmati bersama.
Jeno ambil 2 bantal untuk menjadi tumpuan tubuhnya, lalu ia merebah membawa Haechan ke dalam pelukannya. Jaemin masih terus menggerakan jarinya sebentar sebelum ia akhirnya membantu kedua kaki Haechan untuk ia bawa bertumpu pada samping tubuh Jeno. Lalu Jaemin tuang kembali lubrikan lebih banyak dan ia baurkan pada lubang Haechan yang kini kemerahan, agar meminimalisir keringnya lubang Haechan saat penis milik Jeno dan Jaemin bergesekan di dalamnya.
Tangan Jeno turun ke bawah menuju penisnya sendiri memijatnya sebentar lalu mengarahkan pada lubang Haechan yang sudah basah dengan lubrikan.
"Aku masuk ya Cantik." Ucap Jeno lalu ia bawa pinggulnya naik hingga kedua kakinya bertumpu pada kasur.
"Hnghh Jeno..." Haechan mendesah saat penis Jeno perlahan masuk memenuhi lubang analnya
"Yes Baby, aku masukin semuanya ya?"
"Mhmm, please... masukin semuanya Jeno..."
Jeno menahan pinggul Haechan dan satu dorongan pelan berhasil membenamkan penisnya tersebut. Jeno langsung menciumi pundak Haechan dan menggerakan perlahan pinggulnya agar lubang Haechan semakin lentur.
"Uhh—hhngh... fuck me Jaemin...", Haechan merengek lagi, ia ingin lubangnya segera diisi oleh milik Jaemin juga.
Jaemin yang berada di belakangnya menyempatkan diri untuk menciumi punggung polos Haechan yang sudah basah dengan keringat, sebelum akhirnya ia memijat sebentar penisnya dan bertumpu pada lututnya.
"I will definitely fuck you my pretty Haechan.." setelah ucapannya tersebut Jaemin melumuri lagi penisnya dengan lubrikan lalu perlahan ia dorong masuk kepala penisnya bergabung bersama milik Jeno.
Pinggul Haechan langsung bergetar. Tentu sesuai prediksinya jika ini akan terasa sangat sakit. Tangis Haechan pun pecah namun jelas Jeno atau Jaemin tidak akan menghentikan ini semua.
"Ahh.. sakit..."
"Of course its gonna hurt Sayang." Ucap Jaemin sambil terus membawa penisnya masuk lebih dalam.
Sensasi gila ini baru ketiganya rasakan kali ini. Rasa yang asing namun begitu mereka nikmati, terutama bagi Haechan yang lubangnya kini dilebarkan paksa di luar kemampuan seharusnya.
Kini Jaemin angkat tubuh Haechan dari pelukan Jeno, sambil mereka berdua mulai menggerakan pinggulnya. Mulut Haechan menganga dengan desahan patah-patah yang mengiringi, kedua tangannya bertumpu pada perut Jeno, dan ia membiarkan tubuhnya dipaksa tegak oleh Jaemin hingga Jeno bisa melihat perut Haechan yang mencetak bentuk penis mereka.
"Kalo kamu punya rahim, mungkin kamu udah hamil berkali-kali sama kita." Ucap Jeno tiba-tiba saat ia fokus memperhatikan gerak penisnya pada perut Haechan.
Dan tanpa disangka akibat ucapan tersebut kini perut Jeno berhiaskan sperma Haechan yang keluar tanpa aba-aba.
"Stop talking about that Jeno.."
"Oh, i guess you're having breeding kink Haechan."
Haechan tidak bisa mengelak lagi, ia membiarkan fakta lain tentang dirinya dikupas habis oleh Jeno ataupun Jaemin di saat-saat seperti ini.
Kini Haechan memegangi perutnya sendiri, ia memejamkan matanya meraskan kedua penis Jeno dan Jaemin yang rasanya masuk semakin dalam.
Gerakan penis keduanya begitu lambat dan menyiksa, kaki Haechan berkali-kali kembali bergetar saat lubangnya terus tergesek.
"Mmhm fuck yes, this is so good.."
"Yeah? So you can move now?" Tanya Jaemin.
Haechan langsung mengambil alih kendali, ia beberapa kali menyesuaikan pinggulnya sebelum akhirnya mulai bergerak.
"Look at my hole Jaemin, is it look pretty getting stuffed by to big cocks?"
"Absolutly pretty Haechan, my cock feels so warm and tight inside you."
Walaupun masih berderai air mata, namun pinggul Haechan mulai bergerak dengan stabil. Jeno memilih memainkan penis Haechan yang lagi-lagi mengeras dan Jaemin meremas lagi payudara Haechan.
Semakin lama lubang anal Haechan terasa semakin sempit menghimpit kedua penis tersebut, membuat Jeno dan Jaemin merasakan pelepasan mereka yang tidak lama lagi akan tiba.
"Hm.. fuck.. fuck.. fuck.. yeah keep moving Cantik."
PLAK!
Jaemin menampar keras bokong Haechan hingga kemerahan.
"Ahh!"
Haechan rasa pinggulnya semakin lama semakin mati rasa. Ia terengah dan tubuhnya hampir ambruk ke depan jika Jaemin tidak memeganginya.
"We need to change the position." Ucap Jaemin.
Jeno bangkit perlahan, ia kecup kedua mata Hechan yang basah dengan air matanya. Jeno tahu walaupun Haechan menikmati keinginannya saat ini tapi tidak bisa dipungkiri jika ini pasti lebih melelahkan untuk Haechan.
"You need to take a rest after this." Ucap Jeno memeluk Haechan, dan Jaemin bergerak perlahan untuk mundur agar mereka bisa turun dari kasur.
Kini posisinya Jaemin sudah berdiri, namun Jeno masih duduk memangku Haechan.
"Aku lepas sebentar ya." Ucap Jaemin sambil perlahan marik penisnya keluar.
Haechan mendesis, rasanya begitu melegakan setelah kedua penis itu seakan seperti akan membelah tubuhnya menjadi dua.
Kini giliran Jeno, ia angkat pinggang Haechan agar lubang anal Haechan yang melepas sendiri penisnya. Haechan kembali meringis, ada tetesan tetesan lubrikan yang menetes dari lubangnya membasahi kasur.
Jaemin menatap lubang anal Haechan yang terbuka lebar dan kulit sekitarnya yang kemerahan, hingga ia bisa melihat begitu dalam isi lubang tersebut. Ia seka lubrikan yang mengalir keluar lalu Jaemin bantu Haechan berdiri dan menghadap dirinya.
Tentu kaki Haechan seperti jelly, ia tidak sanggup berdiri dan Jaemin langsung mengangkat Haechan ke atas gendongannya. Jaemin bawa kaki Haechan untuk melingkar pada pinggulnya sekalian kembali membawa penisnya untuk memasuki lagi lubang Haechan. Jeno langsung bergabung, ia segera berdiri dan menggesekan penisnya sebelum akhirnya ia dorong masuk juga miliknya.
Haechan merintih, ia memeluk erat bahu Jaemin karna di posisi ini penis kedua temannya masuk lebih dalam lagi.
"Ahh.. it's getting deeper.."
Jaemin hanya membalas dengan anggukan, karena ia sudah tidak sabar untuk kembali membawa pinggulnya untuk bergerak.
Suara basah itu kembali terdengar, dan kedua penis itu kini terjepit lagi di dalam lubang anal Haechan. Kali ini menjepitnya bahkan lebih erat, hingga Jeno dan Jaemin harus bergerak bergantian.
"Jaemin, i think i'm gonna cum again.."
"Do it Baby."
Kini giliran perut Jaemin yang menghangat akibat semburan sperma Haechan. Tubuh kecil Haechan bergetar ketika pelepasannya yang entah ke berapa kali tersebut terjadi.
Tumbukan keras kedua penis tersebut membuat Haechan mengetahui hal baru soal dirinya. Haechan tidak tahu jika ia bisa orgasme lebih dari dua kali.
Mereka berdua terus menggerakan penisnya walaupun Haechan masih dalam pelepasannya.
"Ss—stop.. sebenta—ahh..aku mau pipis..!"
"Pipis aja Haechan, itu kan tandanya kamunya nikmatin."
Melihat tubuh Haechan yang menggelinjang Jeno dan Jaemin justru menumbuk penisnya lebih cepat. Menghantam tepat pada prostat Haechan.
"Hmm, begini enak Haechan?"
"Hngmhh—ahh.."
Kini kaki Jeno dan Jaemin basah dengan air seni Haechan, decakan basah di kamar itu pun semakin nyaring berkat Haechan yang pipis.
"Baby now i'm close.." ucap Jeno yang semakin menekan tubuhnya mendekat hingga penisnya benar-benar masuk seluruhnya, dan berkali kali buah zakarnya menampar bokong Haechan.
Jeno dan Jaemin sama-sama hampir tiba pada pelepasannya. Lubang anal Haechan pun seakan merasakannya karena precum sudah memperlicin gerakan kedua penis tersebut.
"Come inside me please..." pintanya dengan suara yang sudah lemas.
"I wanna hear you beg for it like a slut Haechan." Titah Jaemin.
"Please Jeno, Jaemin. I am a good slut today, i deserve to be fully filled with your cum. Make my tummy warm and full, make me cry again, make my hol—ahh..."
Belum selesai Haechan mengemis apa yang ia inginkan, Jeno dan Jaemin sudah lebih dulu mengisi lubang anal Haechan dengan sperma mereka.
"Fuck Haechan, fuck. This is what you want right?" Ucap Jaemin sambil terus menyemburkan sisa-sisa spermanya memenuhi lubang yang sempit itu.
Begitupun Jeno yang mengigit pundak Haechan selama penisnya mengisi penuh lubang Haechan.
"Getting fucked by your group mates like this. Your dream comes true, Haechan."
Haechan mengangguk, impiannya benar-benar terwujud walaupun banyak rasa sakit yang harus ia rasakan untuk akhirnya lubangnya tersebut terisi penuh oleh sperma kedua temannya itu.
Setelah memastikan seluruh sperma mereka keluar dengan sempurna, Jeno dan Jaemin berjalan menuju kamar mandi untuk melepaskan penis mereka.
Kini mereka berdiri di ruang shower dan Jaemin perlahan menarik penisnya keluar begitupun Jeno.
Sperma hangat mereka langsung menetes dan mengalir dari lubang Haechan.
"Oh shit, that's a lot." Ucap Jaemin saat ia melihat ke bawah dan genangan sperma tepat berada di dekat kakinya.
Jeno yang melihatnya juga terkejut, ia tidak tahu lubang Haechan bisa menampung begitu banyak sperma mereka. Jeno menciumi punggung Haechan yang terkulai lemas di atas pelukan Jaemin, ia terus memijat punggung hingga pinggul Haechan yang pasti terasa sangat pegal dan sakit.
Kini Jeno dan Jaemin membantu Haechan membersihkan diri, memastikan tidak ada sperma yang tertinggal di dalam lubangnya, lalu setelahnya Jaemin dengan hati-hati membaurkan pelembab tubuh pada area luar lubang anal Haechan yang mereka takut akan luka jika kulitnya kering.
Haechan kini berada di kamar Jaemin, ia terbaring lemas dengan tubuhnya yang sudah kembali berbalut baju bersih milik Jeno. Tubuhnya direngkuh hangat oleh Jaemin sementara Jeno memijat kaki Haechan karena ia mengeluhkan kakinya yang keram.
"Maaf ya tadi kita udah kasar, pasti badan lo sakit semua ya sekarang?" Tanya Jeno.
"Iya sakit, tapi emang itu kan yang gue mau." Jawab Haechan walaupun suaranya kini hampir habis, untungnya dalam waktu dekat ini Haechan tidak memiliki schedule apapun, sehingga ia bisa beristirahat untuk sementara waktu.
"Lo kapok gak?"
"Engga. Lo berdua gak tau seseneng apa gue hari ini walaupun tadi gue nangis kesakitan."
Mereka bertiga tergelak mendengar jawaban Haechan.
"Berarti, there will be next time dong?"
Haechan menoleh ke arah Jeno yang bertanya lalu tersenyum sebelum menjawabnya,
"I don't know, tunggu aja gue ngerengek lagi minta dipake lo berdua ya."
