Chapter Text
Bangsat!
Althaea kehabisan sumpah serapah. Dia bahkan belum berhasil mengutarakan segala ungkapan kotor itu ke sang Ibu sebelum dia merasa badannya disentak ke belakang, ditarik paksa seperti perahu tenggelam yang rantai jangkarnya sudah terlebih dulu ditambatkan di dermaga sehingga orang-orang yang bersegera 'menyelamatkan' dirinya hanya perlu menarik paksa rantainya.
Padahal Althaea tidak ingin diselamatkan.
Tahu-tahu Althaea sudah terlentang di pesisir antah berantah dengan pakaian compang-camping seadanya, rambut berantakan, dan siku yang sudah pasti lecet karena bergesekan dengan pasir. Lukanya tidak lagi menunjukkan darah berkilau keemasan khas para dewa-dewi tetapi merah marun seorang mortal. Well, paling tidak dia masih seorang High Elf, jadi dia masih "kekal" asal dia tidak dibunuh saja.
Oh, Demi Lida, pikir Althaea panik, bingung, dan—yang paling utama—marah. I will die here.
Buru-buru Althaea bangkit untuk menunjukkan amarahnya itu, berteriak ke arah lautan megah di hadapannya, menunjuk-nunjuk riak dan gelombang air itu muak.
"Sialaaaaaaan!" pekiknya nyaring, suaranya tidak menggelegar seperti biasanya. Oh, satu hal lagi yang menyebalkan, pikiran tersebut melintas di kepalanya. "Kaya lo ga pernah punya anak sembarangan aja! LIAT TUH SODARA TIRI GUE BERAPA?!"
Althaea menghela napas sambil berkacak pinggang, lidahnya berputar-putar di dalam mulutnya. Dia mulai membuat lingkaran dengan langkahnya. Dia bisa merasakan kalau dirinya tidak memiliki kekuatannya yang biasanya. Jadi tidak ada gunanya kalaupun dia mencoba merapalkan segala mantra yang digunakan untuk memanggil kekuatan sihirnya itu.
Tidak mungkin juga dia menghubungi Asmodeus di Ring of Lust Dunia Bawah—bagaimana mungkin dia bisa bepergian ke Dunia Bawah tanpa kekuatannya? Satu-satunya cara mengakses Dunia Bawah dengan wujud ini adalah dengan mati. Kalaupun dia mati, tidak bisa dipastikan kalau dia akan berakhir di Cincin Nafsu. Bagaimana kalau Althaea berakhir di Ring of Pride? Dia gak kenal Lucifer! Bisa mampus dia disana.
Althaea tidak mau mati. Tidak mau mampus.
Ketika dia sudah merasa benar-benar mentok, tidak bisa memikirkan jalan keluar apapun, Althaea menjatuhkan lututnya—tersungkur di pasir sambil memegang kepalanya dengan tangan.
"Aku harus apa…" isak Althaea, kenyataan akhirnya membentur raganya. Bahkan sekedar acara teriak-teriak di tempat saja berhasil membuatnya lelah. Putri Dewi apa yang bisa merasakan lelah? Betapa lemahnya… Betapa menyedihkannya… Betapa… mortalnya.
Right, ingat Althaea lagi. I'm mortal.
"Aku benci Ibu! I fucking hate, hate, hate you. You selfish bitch!"
Truly, bahkan dalam wujud mortal pun, Althaea masih menyimpan temper yang sama.
"I will END your whole fucking—"
"Princess?"
Althaea mengangkat kepalanya, terkejut dengan suara yang asing yang tiba-tiba muncul di sekitarnya. Kepalanya dia putar untuk melihat ke belakang, menuju sumber suara.
Seorang nereid. Bahkan Althaea tidak perlu lebih dari satu detik untuk mengetahui hal itu. Kulitnya yang seputih buih ombak di pesisir itu, berkilau bagai pantulan garam di air laut siang hari. Cantik. Cantik sekali. Rambutnya panjang, hampir melewati dadanya. Pirang, dengan helai-helai yang tampak merah muda apabila sinar dari matahari jatuh di tempat yang tepat. Ujung rambutnya jatuh persis di atas payudaranya ketika ia berdiri tegak, tadi ketika ia masih membungkuk Althaea pikir rambutnya lebih panjang dari itu.
Sebagian rambutnya di kepang mengitari kepalanya, di telinganya ada sebuah windflower ungu. Land anemones. Simbol Galatea—ibunya.
A priestess.
Her mother's priestess.
Althaea bangkit. Membusungkan dada. Berusaha menunjukkan keagungannya, paling tidak sedikit saja. Paling tidak di depan pemuja ibunya.
"Nereid."
"At your service, Princess."
"Namamu?"
"Isla dari Sylvaire, Yang Mulia."
"Darimana kau tahu aku ada disini?" Althaea berhenti. Betapa besar kepalanya! Siapa bilang nereid ini datang kesini untuk dirinya? Sial. Masa dirinya harus meminta maaf untuk itu? Orang-orang meminta maaf kan kalau bertingkah sombong seperti itu?
"Saya mendengar panggilan Galatea. Saya tidak tahu kalau untuk apa—"
"Galatea membawamu kesini?"
"Yes, Princess."
Althaea memalingkan pandangannya ke arah laut, tahu kalau ibunya pasti merasakan tatapan sinisnya dari dasar laut sekalipun.
"Whore."
"Maaf?"
"Bukan untukmu, nereid—maaf tadi siapa namamu?"
"Isla."
"Isla, right. What was exactly the call that you got?"
"Panggilan Layanan."
Kurang ajar, batin Althaea. That bitch is still trying to help me.
