Actions

Work Header

Mendekap Kehadiranmu

Summary:

Karena kegagalannya memenangkan pertarungan dengan sebuah geng yang mengakibatkan anak-anak Furin terluka, Sakura merasa malu dan dipenuhi rasa bersalah hingga menghindari teman-temannya, termasuk Suo yang kini menjadi kekasihnya. Namun Suo berupaya untuk berada di sisi Sakura dalam keadaan apa pun. Cara Suo merawat dan melindunginya membuat Sakura juga ingin memberikan lebih banyak kasih sayang untuknya.

Notes:

Aku kembali dengan fanfic suosaku 😋🥰 Fanfiksi ini ditulis menggunakan latar waktu kelas tiga dan Sakura telah menjadi Pemimpin Furin. Meskipun tidak meninggalkan Red Chanpuru, Suo tetap kembali ke Furin dan melanjutkan sekolahnya.

Work Text:

Anak-anak Furin baru saja mengalami pertarungan dengan sebuah geng besar. Pertarungan ini tidak membawa hasil pihak mana yang menang dan yang kalah. Beberapa siswa mengalami luka yang cukup parah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Selama beberapa hari terakhir, Sakura tidak bisa tidur nyenyak. Dia juga tidak banyak bicara di kelas dan lebih sering menyendiri, bahkan menghindari teman-temannya. Dia berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri karena membuat kelalaian yang membahayakan anak-anak Furin.

Suara ketukan pintu dari apartemen kecil tempat tinggalnya membuyarkan pikiran Sakura. Lelaki itu tahu siapa yang akan memaksa datang pada jam selarut ini. Dia berniat untuk mengabaikannya, tetapi seseorang di luar sana tampaknya memang tak berniat untuk menyerah. Dengan malas, Sakura yang sedang meringkuk di atas futon terpaksa harus beranjak dari balik selimut.

Ketika dia membuka pintu, lelaki yang mengenakan anting dengan rumbai berwarna kuning sedang berdiri bersama secercah senyuman yang tidak asing lagi bagi Sakura. Kedua tangannya dipenuhi dengan kantong belanja.

"Jadi sekarang kamu tahu caranya mengunci pintu?"

"Sudah kubilang jangan mengunjungiku selama beberapa hari. Kita cukup bertemu di sekolah saja."

"Mana mungkin aku akan membiarkanmu sendirian."

"Suo!"

"Sakura-kun. Aku akan selalu menuruti permintaanmu, kecuali permintaan yang akan menyakiti dirimu sendiri."

Suo mendorong pelan tubuh Sakura agar kembali masuk ke dalam rumah. Dan begitu saja lelaki dengan penutup mata itu menerobos masuk rumahnya tanpa persetujuan Sakura. Dia meletakkan satu kantong berisi persediaan makanan di meja dapur Sakura. Ketika lelaki berambut hitam putih itu hendak meringkuk lagi di balik selimut, Suo menahan lengannya.

"Lihat, aku membawa dua pasang piama untuk kita berdua." Suo mengangkat satu kantong tersisa di tangannya dan mengeluarkan isinya.

Dua pasang piama itu sama-sama berwarna kuning dengan motif beruang. Suo lalu menyodorkan sepasang untuk Sakura.

"Aku baru membelinya dan mencucinya serta menyemprotkan aroma parfum kesukaanmu. Ayo ganti bajumu, Sakura-kun. Ini akan membuat tidurmu lebih nyenyak."

"Aku malas mengganti baju."

"Nah, tidak masalah. Aku bisa membantumu untuk mengganti bajumu."

Sakura menyerobot piama yang disodorkan Suo. "Dasar mesum."

Piama milik Sakura berlengan pendek dan satu pasang dengan celana pendek. Suo sengaja memilihnya karena Sakura lebih suka mengenakan pakaian dengan sedikit kain saat tidur. Sedangkan milik Suo tentu saja satu pasang piama berlengan panjang dan celana panjang.

Seusai mereka mengganti baju, Suo melihat Sakura sudah kembali meringkuk di futonnya. Dia kemudian ikut menyelinap masuk ke balik selimut, yang tentu saja mengejutkan Sakura.

"H-hei, apa yang kamu lakukan, Suo?"

"Aku tidak berniat datang kesini hanya untuk mengantar piama, Sakura-kun."

"Aku sudah mengatakan kita bertemu di sekolah saja."

"Ya. Dan aku ingin menginap untuk malam ini."

"Suo! Kenapa kamu keras kepala sekali?"

"Ini cara terbaik untuk menghadapimu yang juga keras kepala."

"Haah… terserahlah." Sakura mendengus kesal, tapi dia tidak sepenuhnya marah. Saat ini, dia sedang sangat enggan untuk berdebat dengan Suo.

Sakura kemudian kembali ke dalam Selimut. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Suo, lalu meringkuk di dadanya. Matanya terpejam dan berusaha mengalihkan pikirannya dengan aroma kehangatan tubuh Suo.

"E-eh? Sakura-kun?" Suo terkejut dengan perubahan Sakura yang tiba-tiba menjadi begitu manja.

"Diam."

Suo tersenyum penuh kemenangan sembari tangan kirinya memeluk punggung Sakura.

"Kenapa kamu begitu ingin menghindariku, Sakura-kun?"

"Aku tidak ingin kamu melihatku saat sedang bersedih. Aku tampak sangat lemah dan tak berguna. Aku bahkan merasa sangat malu sekaligus marah kepada diriku sendiri saat ini."

"Sakura-kun. Aku ingin selalu berada di sisimu bagaimanapun keadaanmu."

"Aku benar-benar tidak layak menjadi pemimpin Furin. Aku tidak pernah sebaik Umemiya. Bagaimana bisa aku justru memberi perintah yang membuat anak-anak terluka? Seharusnya aku meminta kita semua untuk mundur ketika menyadari tidak ada peluang untuk memenangkan pertarungan. Aku justru membuat mereka kewalahan. Seharusnya aku—"

"Haruka." Kedua tangan Suo memegang wajah Sakura dan mereka saling bertatapan. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri dan jangan membandingkan dirimu dengan Umemiya-san. Kali ini kita bertemu lawan yang lebih kuat dan berbahaya. Mereka juga membawa senjata tajam dan itu di luar perkiraan kita. Aku juga membuat kesalahan karena tidak tahu tentang informasi ini. Kamu sudah berusaha sebaik mungkin."

"Suo…"

Lelaki itu mengusap-usap rambut Sakura kemudian mencium keningnya dengan lembut. Tangan kirinya sudah kembali memeluk punggungnya dan dia merapatkan pelukan itu. "Kamu harus tidur nyenyak malam ini, Sakura-kun."


Seminggu kemudian, akhirnya tidak ada lagi anak-anak Furin yang masih harus dirawat di rumah sakit. Setelah berdiskusi dengan Nirei, Sugishita, Momijikawa, dan Azusawa yang kini menjadi Four Heavenly Kings, Sakura mengumpulkan seluruh siswa Furin di atap kelas. Dia secara tulus meminta maaf karena kegagalan di pertarungan kali ini melukai banyak siswa.

"Sakura-san. Apa keadaanmu sekarang sudah lebih baik?"

"Ya, Nirei. Maaf karena sudah membuatmu khawatir."

"Haruka, kamu harus berhenti merasa bersalah sendirian." Ujar Momijikawa.

"Kita semua juga melakukan kelalaian. Aku juga merasa bersalah karena tidak berhasil melindungi timku. Sakura, kamu tidak harus menanggung beban ini sendirian." Azusawa yang duduk di sebelah Sakura menepuk-nepuk punggungnya.

"Jika kamu mengucapkan hal-hal bodoh lagi, aku akan menendang pantatmu."

"S-Sugishita-san…"

Meskipun Nirei berusaha melerai, Sakura dan Sugishita masih berseteru. Sementara Momijikawa dan Azusawa justru melihat pertengkaran mereka sebagai sebuah hiburan. Anak-anak Furin yang lain menghabiskan sore itu dengan bercengkerama sembari menikmati teh, kopi, dan beberapa makanan ringan.

"Nirei. Apa Suo memberitahumu mengapa dia tidak datang hari ini? Maaf, aku seharusnya mengisi daya ponselku semalam. Tapi ternyata aku lupa mencolokkan ke stopkontak. Jadi, karena tadi pagi aku terburu-buru untuk berangkat, aku tidak sadar jika ponselku mati."

"Jadi itu sebabnya Suo-san menanyakan apa kamu baik-baik saja hari ini?"

"Dia menghubungimu?"

"Ya. Suo-san meneleponku tadi pagi. Dia hanya mengatakan tidak bisa datang hari ini karena sedang berpatroli sendirian di sekitar Tonpu Market Street. Saat aku menanyakan alasannya, Suo-san tidak memberitahuku dan hanya menyuruhku tidak perlu khawatir."

"Baiklah, aku akan mencarinya. Apa tidak masalah menitipkan anak-anak kepadamu?"

"Tenang saja, Sakura-san. Kamu bisa pergi sekarang."

"Baik. Terima kasih, Nirei."

Belum sampai lima belas menit berlalu ketika Sakura berkeliling di sekitar Tonpu Market Street untuk mencari Suo, tiba-tiba seorang pria tua menghampirinya dengan terengah-engah.

"Hai, anak muda. Apa kamu bersekolah di Furin? Ada seorang pemuda yang mengenakan penutup mata sedang dikepung beberapa orang. Bisakah kamu membantunya?"

"Dia mengenakan penutup mata? Apa kakek tahu lokasi tepatnya di mana?"

"Mereka di jalanan lengang dekat jembatan."

"Terima kasih, kakek."

Sakura bergegas ke lokasi yang disebutkan oleh kakek itu. Dan benar saja, dia melihat tiga orang sedang mengelilingi Suo. Sedangkan Suo sendiri sedang bertekuk lutut dan menundukkan wajahnya. Mengingat kemampuan Suo, tidak mungkin dia kalah begitu saja. Namun Sakura hanya bisa melihat punggungnya, jadi dia tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi.

Tepat ketika salah seorang dari mereka yang berada di belakang Suo mengayunkan sebuah pisau kecil untuk menyerangnya, Sakura dengan tangkas berlari dan menendang lengan seseorang itu hingga pisau tersebut terlepas dari genggamannya.

"Suo, kenapa kamu tidak melawan?" Tanya Sakura saat menghampirinya sembari berjongkok di hadapannya.

Suo mengangkat wajahnya melihat kehadiran Sakura. Dia menutup mata sebelah kanan menggunakan telapak tangannya. "Sakura-kun…"

"Kamu… Penutup matamu terlepas?" Sakura terperanjat karena tidak menduga alasan Suo tidak menyerang mereka karena kehilangan penutup mata yang selalu dia kenakan.

"Sakura-kun. Awas di belakangmu!!" Suo tidak sempat menjawab Sakura karena salah satu dari seseorang yang bertarung dengan Suo hendak menyerang Sakura.

Sakura segera berbalik dan menendang dagu orang itu. Dia kemudian berusaha melumpuhkan ketiga orang itu sembari melindungi Suo. Serangan-serangan mereka tampak tidak asing. Namun Sakura tak berniat memikirkannya karena prioritasnya saat ini adalah segera menyelesaikan pertarungan itu dan membawa Suo ke tempat aman.

Ketiga orang itu terkapar di jalanan tak sadarkan diri. Sakura memungut tiga pisau kecil yang dibawa masing-masing oleh mereka dan membuangnya ke tong sampah. Dia kemudian kembali menghampiri Suo dan menarik lengan kirinya untuk berdiri.

Sakura tidak mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan. Dia terus menggenggam erat telapak tangan Suo seolah-olah tidak berniat melepaskannya. Lelaki itu pun tak berhenti memandang punggung Sakura dengan raut wajah tampak sedikit kebingungan.

"Tunggu di sini sebentar." Ujar Sakura dan menyuruh Suo untuk duduk di sebuah kursi kosong yang terletak di antara trotoar pertokoan.

Suo menuruti perintah itu dan melihat Sakura memasuki sebuah toko pakaian di seberang jalan.

Apa yang dilakukan Sakura-kun? Dia nyaris tidak pernah membeli baju sendiri selain dipaksa Nirei yang akan menemaninya, atau aku yang mengajaknya ke toko.

Tak lama kemudian, Sakura keluar dari toko itu dengan sebuah paper bag di tangannya. Dia mengeluarkan sebuah topi dan memakaikannya kepada Suo. Lalu dia menyodorkan sebuah kacamata hitam tanpa melihat ke arah Suo.

"Gunakan ini untuk sementara. Lebih baik orang-orang membicarakanmu mengenakan kacamata hitam daripada penasaran kenapa kamu menutupi matamu seperti itu."

"Sakura-kun…" Suo memandang ke arah Sakura dengan tatapan haru. Meskipun Sakura tidak sedang melihat ke arahnya saat ini. Dia kemudian mengambil kacamata hitam itu dan memakainya.

"Apa yang kamu pikirkan dengan berpatroli sendirian? Dan siapa mereka?"

"Mereka adalah beberapa orang dari geng besar itu, yang bertarung dengan Furin dan menyebabkan teman-teman kita terluka parah. Aku mencurigai mereka mengintai Makochi beberapa hari ini setelah pertarungan. Jadi aku sengaja menemui mereka. Maafkan aku, Sakura-kun. Aku tidak memberitahumu dan berencana menyelesaikannya sendiri karena tidak ingin membuatmu khawatir. Apalagi kamu masih sangat terpuruk saat anak-anak masih dirawat di rumah sakit."

"Suo. Berhenti membuat keputusan sendiri. Setidaknya kamu bisa mendiskusikannya dengan Nirei."

"Aku mengabari Nirei tentang patroli sendirian."

"Tapi kamu tidak memberitahunya jika ada anggota dari geng itu yang masih mengintai Makochi."

"Kamu… marah?"

"Aku mengkhawatirkanmu, Bodoh."

Tidak biasanya Sakura bisa mengungkapkan bentuk kata-kata perhatian seperti itu. Suo tidak menduganya. Dia merasa bersalah, tentu saja, tapi di sisi lain itu membuatnya senang karena Sakura memperhatikannya.

"Aku ingat kamu meninggalkan dua penutup mata di laci mejaku. Jika kamu tidak keberatan, kita pulang ke apartemenku sekalian membersihkan lukamu." Sakura mengalihkan topik pembicaraan agar tidak terlalu canggung sepanjang mereka berjalan beriringan. "Atau jika kamu ingin pulang, aku bisa mengantarmu ke apartemenmu."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Baiklah. Kalau begitu kamu menginap di apartemenku malam ini." Sakura kembali menggandeng tangan Suo tanpa sedikitpun menoleh kepadanya.

"Kamu memang keras kepala, Sakura-kun."

"Ini cara terbaik untuk menghadapimu yang juga keras kepala."

Suo terperangah beberapa saat, lalu dia tertawa lepas mendengar Sakura mengembalikan kata-katanya. "Sakura-kun, kamu tahu? Hari ini kamu sangat romantis."

Sakura berhenti melangkah dan menoleh ke arah Suo sembari mengernyitkan dahinya. "Kamu kehilangan penutup matamu ketika dikepung tiga orang dan bisa-bisanya kamu menganggap itu romantis?"

Suo yang mendengar omelan Sakura justru tertawa kecil mendengar nada kesal dari ucapan lelaki itu. Mereka berdua melanjutkan perjalanan dan Sakura tidak melepaskan tangan Suo hingga mereka sampai di rumahnya.


Sejak menjadi Pemimpin Furin, Sakura kerap kali mengunjungi rooftop sendirian. Dia senang menghabiskan waktu memandangi Makochi dari atas sana. Furin, Makochi dan segala isinya adalah wujud dari kebahagiaan sempurna yang belum pernah dia miliki sepanjang hidupnya. Kini, Sakura menyerahkan hidupnya untuk melindungi kebahagiaan ini.

Dari balik pintu rooftop, Suo melongok dan mengedarkan pandangannya sekeliling, tapi tidak menemukan siapa pun. Ketika dia memutuskan memasuki rooftop dan menutup pintu, dia melihat Sakura berdiri tidak jauh dari tanaman warisan umemiya. Suo berjalan tenang dengan sedikit mengendap-endap. Sakura benar-benar tak menyadari kehadirannya sampai ketika Suo memeluknya dari belakang.

"H-hei, Suooo!??? Lepaskan. Kita sedang berada di sekolah."

"Hmmm… Sebentar saja. Aku rindu memelukmu." Jawabnya abai dan menyandarkan dagunya di bahu Sakura.

Sakura lalu membalikkan badannya dan menghadap Suo. Mata mereka saling bertatapan dan Suo tersenyum hangat kepadanya. Dia memegang kedua wajah Suo dan memberi usapan lembut, "Apa kamu sudah lebih baik?"

"Mmm…" Suo mengangguk. "Tentu saja karena Sakura-kun yang merawatku."

Sakura kemudian menarik kerah changshan Suo dan tanpa aba-aba mencium penutup mata milik kekasihnya.

Adegan tidak terduga itu membuat Suo mengedipkan mata beberapa kali.

"Oh, Sakura-kun. Kamu membuatku cemburu."

"Hah?? Kamu cemburu dengan penutup matamu sendiri?"

"Berikan ciuman satu lagi di sini." Suo merajuk dan mengarahkan jari telunjuknya ke bibirnya.

"Sudah kubilang kita sedang berada di sekolah. Jangan meminta hal yang aneh-aneh." Sakura berusaha melepaskan diri dari pelukan Suo, namun lelaki itu justru semakin erat melingkarkan kedua lengannya di pinggang kekasihnya.

"Sakura-kun, ada apa denganmu? Akhir-akhir ini aku merasa kamu memberikan lebih banyak kasih sayang untukku."

"Aku… Kamu selalu merawat dan melindungiku. Kamu selalu memberikan banyak cinta dengan berbagai macam cara. Aku hanya ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan padaku."

"Jangan mengatakan itu. Kamu membuatku salah tingkah."

Sakura tersenyum jahil saat melihat rona merah di wajah Suo. "Maka aku akan lebih banyak mengatakannya agar aku juga bisa lebih sering melihat wajahmu yang memerah."

"Eeh?? Sakura-kun, kamu tahu konsekuensi dari memberikan banyak cinta untukku?"

"Kamu membicarakannya seolah-olah aku melakukan kejahatan."

"Nah, dan ini hukuman untukmu karena membuatku sangat bahagia."

Belum sempat sang kekasih menanggapinya, Suo telah beralih memegang kedua pipi Sakura lalu memberikan ciuman di mana-mana. Dimulai dari hidungnya, kedua pipinya, kedua matanya secara bergantian, hingga ciuman di keningnya. Terakhir, Suo memberikan kecupan lembut di bibir Sakura.

"Apa-apaan ini, Suooo!???" Ciuman bertubi-tubi itu menampakkan semburat merah di wajah Sakura setelah dia berhasil mendorong tubuh Suo menjauh darinya.

Namun dorongan itu sia-sia. Sembari tertawa penuh kemenangan, Suo kembali menarik pinggang Sakura dan membawanya ke dalam pelukan.

"Sakura-kun. Akhir pekan ini aku akan berkunjung ke Bankoku-gai. Apa kamu mau ikut denganku?"

Sakura yang wajahnya masih memerah mengalihkan pandangan dari Suo saat mendengar pertanyaan itu. "Aku tidak ingin bertemu Bacchus dan Rakta."

"Kamu masih cemburu karena aku punya teman akrab selain kamu dan Nirei?"

"Kamu selalu lebih banyak bicara dalam bahasa Mandarin. Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan dengan mereka."

"Aaah… Baiklah. Jika kamu ikut, aku akan lebih banyak bicara dalam bahasa Jepang. Bagaimana?"

"Aku tidak ikut denganmu."

"Hmm… Kamu masih marah karena aku tidak bersedia menjadi salah satu dari Heavenly Kings?"

"Aku tidak marah karena itu." Sakura kembali menatap Suo. Sorot matanya tampak ragu-ragu untuk melanjutkan jawabannya. Dia kemudian memilih bersembunyi dengan merundukkan wajahnya di dada Suo. "Aku hanya merasa… itu sedikit tidak adil. Kamu bisa memilikiku seutuhnya; aku, Furin, dan semua teman-teman kita. Tapi aku, aku merasa aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya. Meskipun kamu kembali ke Furin, sebagian dari dirimu tetap menjadi seorang officer di Red Chanpuru dengan segala kewajiban yang harus kamu lakukan di sana. Aku hanya tidak menyukai fakta bahwa Red Chanpuru beserta orang-orang dan memorinya telah menjadi bagian dari hidupmu sejak lama. Sedangkan aku dan Furin adalah dunia baru di kehidupanmu. Maafkan aku, Suo. Aku jadi lebih serakah, bukan?"

Mendengar itu, Suo sempat terdiam sejenak. Dia sedikit merasa bersalah, namun juga terkesan dengan kejujuran dari kekasihnya. "Sakura-kun. Kamu tidak serakah. Aku senang kamu mengatakan perasaanmu yang sebenarnya. Aku bahagia mengetahui bahwa kamu menginginkanku. Dan aku minta maaf karena membuatmu merasa kamu tidak memilikiku seutuhnya."

"Jangan minta maaf. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Tapi aku harus mengakui, aku belum terbiasa bertemu orang-orang di tempat tinggalmu."

"Meskipun aku akan menciummu sepanjang jalan agar semua orang di Bankoku-gai tahu bahwa Pemimpin Furin adalah kekasihku?"

"Suo, aku sedang berbicara serius." Sakura menarik diri dari dada Suo dan mendongakkan wajahnya.

"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk ikut denganku. Sebagai gantinya, biarkan aku menciummu sekali lagi, Sakura-kun."

Suo mendekatkan wajahnya ke arah Sakura. Sebelum bibir mereka saling bersentuhan, Sakura menahan bibir Suo dengan telapak tangannya.

"Kamu sudah mencium seluruh wajahku. Tidak ada ciuman sekali lagi."

Suo hendak merajuk, ketika sebuah suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka berdua. Dari balik pintu, Suo dan Sakura melihat Momijikawa, Sugishita, dan Azusawa memasang ekspresi terkejut melihat keberadaan mereka.

Nirei menjadi orang paling terakhir yang memergoki Suo sedang melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sakura, dan Sakura sedang menahan bibir Suo dengan telapak tangannya.

"S-Sakura-san, Suo-san?"

Sugishita yang berada di sebelahnya langsung menutup kedua mata Nirei. "Lebih baik kamu tidak melihat adegan tidak senonoh itu, Nirei."

"Oh, Sugishita-kun. Jangan membuatnya dramatis. Aku dan Sakura-kun hanya berpelukan dan bercium—"

Sakura seketika menginjak kaki Suo untuk memaksa dia menghentikan ucapannya.

"Jangan mengatakan aneh-aneh, Sugishita. N-nirei, Aku dan Suo tidak melakukan apa-apa."

"Wajahmu seperti tomat raksasa yang sudah layak dipanen bersama tomat yang ditanam Umemiya-san."

"Hahaha. Sugishita, kamu harus memperhatikan kata-katamu." Momijikawa tak bisa menahan tawanya karena ledekan itu.

"Sakura, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa. Semua anak Furin mengetahui jika kamu berkencan dengan Suo-kun. Yah, tapi lebih baik kalian berhati-hati saat di sekolah jika tidak ingin adik-adik kelas memergoki kalian berdua."

"Azusawa-kun, terima kasih sudah sangat pengertian." Suo telah melepaskan pelukannya ketika Sakura menginjak kakinya. "Kalian ada pertemuan hari ini?"

"Ya, Suo-san. Tapi jika kamu masih ingin bersama Sakura-san kita bisa—"

"Tidak, Nire-kun. Aku bisa menemui Sakura-kun lain kali." Suo mengedarkan pandangan secara bergantian kepada mereka berempat. "Aku senang Sakura-kun memiliki orang-orang hebat seperti kalian. Terima kasih karena sudah mau mendampingi Sakura-kun." Suo membungkukkan badannya di hadapan Four Heavenly Kings sebagai tanda terima kasih dan rasa hormatnya. "Baiklah, aku pergi dulu teman-teman."

Suo kembali menoleh ke arah Sakura untuk berpamitan. Dia menyunggingkan senyumnya dan berbisik pelan di telinga Sakura. "Aku akan menginap lagi malam ini. Sampai jumpa di rumah, Haruka."